Sebuah kamar hotel dipesan atas nama Tora, itu karena Max tak ingin siapa pun mencoba mengorek aibnya suatu hari nanti.
Max juga pergi ke hotel yang hanya berjarak 20 meter dari bangunan Club dengan berjalan kaki, walau dia mabuk tapi dia masih bisa lebih kontrol.
Max merangkul Kanaya sehingga Kanaya tak bisa berontak, apa lagi Tora berkali-kali memperingatkannya untuk tak melakukan perlawanan.
Max masuk ke dalam kamar hotel itu dengan masker dan kacamata hitam, hanya sebagai antisipasi jika ternyata ada mata-mata ayahnya atau siapa pun yang ia kenal di sekitar sana.
'Aku harus bisa pergi! Setelah ini aku harus kabur!' batin Kanaya yang setengah diseret oleh rangkulan tangan Max yang kokoh. Dan mereka sudah sampai di kamar yang di pesan.
Max memasukan anak kunci ke dalam lubang kuncinya dan dia kesulitan untuk memutar kunci pintu kamar hotel itu.
"s**t! Hotel macam apa sih ini?! Sialan lo, Tora! Berani-beraninya menyediakan kamar hotel macam ini buat gue!" Max terus mengerutu, selain karena pintu kamarnya macet, tapi juga karena Max tak tahan ingin segera masuk ke dalamnya.
Kanaya diam saja, no coment, dia takut salah berucap makanya Kanaya memutuskan untuk diam saja.
"Hey, kamu juga diam aja! Lalukan sesuatu! Buka pintunya!" Max makin tempramental, dia membentak Kanaya yang seketika kaget dan takut. Tapi, Kanaya langsung menurut, dia ambil alih kunci itu, "Ba-baik, Bos!"
"Jangan panggil, Bos! Saya bukan bos kamu!"
Kanaya cepat-cepat melakukan perintah Max.
"Laah, terus aku harus panggil dia apa? Jerk???' batin Kanaya kesal dan dia sudah berrhasil membuka pintu dengan mudah. Emang dasar Max saja sedang mabuk berat, oleh sebab itu dia tak bisa melakukan hal kecil sekali pun dengan baik.
"Masuk dan segera lucuti semua pakaianmu!" BRAK! Max semakin kasar, dia menarik tangan Kanaya lalu menghempasnya begitu saja. Untungnya Kanaya mendarat di atas kasur jadi dia tak terlalu terbanting keras.
Deg deg deg, frekuensi detak jantung Kanaya kembali kacau. Dia ingin kabur tadi, tapi belum dapat momen yang pas, dan kini sepertinya sudah tak ada kesempatan lagi bagi Kanaya untuk menyelamatkan diri.
"Sa-saya ...."
"Jangan memohon! Lepas pakaianmu!" sambar Max lalu dia lepaskan satu persatu anak kancing kemejanya. Max benar-benar kalap malam ini.
Kanaya tak ingin pasrah begitu saja, dia pun tak mengindahkan perintah Max. Dia diam saja, diam seperti patung tanpa berani melakukan kontak mata dengan Max.
Max yang sudah setengah telanjang makin naik pitam. Penolakan Kanaya seperti sebuah hinaan untuknya. Max pikir semua perempuan bisa dia beli dengan kesempurnaannya, tapi tidak bagi Kanaya.
Meskipun Kanaya terpesona oleh gagahnya sosok Max, tapi dia masih berpegang teguh pada prinsip dan norma-norma yang membatasi dirinya sebelum melakukan dosa-dosa besar dalam hidupnya.
'Oke, Kanaya! Jangan diam saja sekarang! Lawan saja!' Kanaya mulai memiliki kekuatan. Satu sisi hatinya mendorong untuk mulai melawan arus. Tak peduli dengan apa pun konsekuensinya. Maybe, Max akan melakukan sedikit lebih banyak kekasaran pada Kanaya.
Max berjalan mendekat, semakin dekat ke arah tempat tidur tapi sebelum Max berhasil menguasai tubuh molek Kanaya, Kanaya lebih dulu bangkit dan mendorong tubuh Max yang kekar itu.
"Gak! Saya gak akan melayani kamu!" tegas Kanaya dengan segenap keberanian dari dalam dirinya. Max makin marah, dia sungguh meradang dengan penolakan Kanaya.
"Sial!"
"Jangan berpikir untuk mempermalukan seorang Max Jerome, b***h! Dan kamu sudah benar-benar membuat saya marah!" Gap!
Arrgghhh, Kanaya kaget dan situasinya semakin tegang kalau Max berhasil menarik pinggangnya lalu memenjaranya sehingga Kanaya tak bisa lepas lagi.
"Lepas! Jangan lakukan ini! Saya gak pernah berniat melakukan pekerjaan kotor ini! Saya cuma dijebak dan dipaksa!" Kanaya mencoba berontak tapi itu percuma karena meskipun Max mabuk, dia masih terlalu kuat untuknya.
"Diam dan lakukan saja tugasmu! Saya gak peduli dengan itu!" Lalu Max membawa tubuh yang semakin kuat berontak itu ke atas kasur, Max benar-benar seperti seorang bastard yang melakukan kehendaknya dengan salah kaprah.
Malangnya nasib Kanaya, karena pada akhirnya ia harus menjadi seperti mendiang ibunya walau itu bukan keinginannya.
***
Alana masih belum bisa tidur. Kejadian hari ini telah menyita pikirannya. Lama-lama, Alana mulai menyesali keputusannya memutuskan Max secara sepihak tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Huh, kenapa aku langsung putuskan, Max?! Bahkan dia belum menjelaskan apa-apa!" gumam Alana, tapi Alana juga heran karena sejak sore tadi, Max tak ada menghubunginya lagi.
Akhirnya Alana mengalah dan mencoba menghubungi Kekasihnya itu tapi dia tak akan bisa karena faktanya ponsel Max sudah hancur berkeping-keping, "Nomor yang Anda hubungi, tidak dapat dihubungi ... bla bla bla ...."
Alana heran, dan kemudian merasa cemas. Dia takut kalau Max kenapa-napa.
"Duuh, kok malah gak aktif sih?! Biasanya dia gak pernah mematikan ponselnya!" Alana kian cemas. Ia tatap jam di di dinding kamar dan ini baru saja lewat tengah malah. Jika Alana memaksakan pergi menemui Max ke rumahnya ... "Aaah, mana boleh aku keluar malam-malam, kalau mau juga harusnya dia yang gak nyerah dan mencoba meyakinkan aku lagi! Tapi kok, ponselnya malah mati?! Kamu kemana sih, Max?!" ungkap Alana lagi.
Alana sungguh tak tahu. Suasana hati Max yang kacau karena dirinya telah mendorong Max untuk pergi ke club malam dan akhirnya malah mabuk berat dan tergoda untuk memesan layanan seorang Night club ladies.
Alana tak tahu kalau saat ini Max menggila seperti seorang pecundang yang merenggut keperawanan seorang gadis malang bernama Kanaya.
"Cukup! Cukup ini menyakitkan ...." Kanaya meracau saat Max sudah berhasil menembus pertahanan terakhirnya dan menghentakan miliknya hingga malam ini adalah malam dimana keperawanan Kanaya pecah! Robek! Hancur!
Kanaya merasakan kegetiran itu. Bukan hanya sakit yang ditimbulkan oleh paksaan Max, tapi juga sakit hati karena baru beberapa hari mendarat di Jakarta, dia sudah menghancurkan dirinya sendiri seperti ini.
Apakah Max tak mengerti kalau Kanaya sebenarnya bukanlah p*****r seperti yang ia kira? Sepertinya Max tak peduli dengan hal itu karena dia juga sedang lari dari rasa sakit hatinya.
"Uuuh, you're so wonderfull, b***h! Nikmatnya menghabiskan malam bersama gadis perawan sepertimu!" racau Max yang belum puas dengan genjotannya, padahal Kanaya sudah menangis dan kesakitan. Kanaya hanya mampu meremas kain seprai dan menyembunyikan wajahnya karena malu dan sakit hati.
'Ampuni aku, Tuhan ... Ampuni aku! Sungguh ini bukanlah keinginanku ....' lirih Kanaya dalam hati, dia tak tahu setelah ini ia akan jadi apa, apakah ia akan selalu menjalankan pekerjaan ini setiap malam melayani pelanggan? Oh tidak! Kanaya bersumpah! Setelah nanti Max kelelahan dan lengah, Kanaya akan pergi dari kamar hotel itu dan ia juga tak akan kembali ke club laknat itu.
Beruntung Kanaya membawa serta tas selempang berisi sisa uang dan kalung emas yang Abdi berikan padanya saat di Bandara.
"Sedikit lagi ... sedikit lagi, jangan tutupi wajahmu, b***h! Mendesahlah!!!" Intensitas hentakan Max kian kencang, sepertinya dia sedang menuju klimaksnya dan Kanaya pun merasakan perasaan aneh serasa digelitiki saat permainan berakhir, seketika cairan putih lengket keluar membasahi seluruh areanya.
Max benar-benar keenakan, sunggguh, dia tak pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti yang Kanaya berikan padanya malam ini. Meskipun dia melakukannya secara sepihak, tapi Max puas dan tak merasa bersalah sedikit pun karena dia sudah benar-benar ada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
"You serve it Well! Pantas buat diberi tip!" kata Max dan setelah tetesan terakhir spermnya keluar, dia tarik miliknya dari milik Kanaya dan karena kelelahan Max langsung menjatuhkan diri di samping Kanaya yang segera membali setengah tubuhnya untuk membelakangi Max.
Kanaya menangis, dia menangisi nasib sialnya ini. Tapi demikian, Max malah tertarik lagi untuk melakukan sesi kedua sebentar lagi dengan gaya berbeda. Punggung mulus dan b****g berisi yang ia lihat, begitu menggoda untuk dicoba sekali lagi.
'Gila! Dimana harga diri lo, Max?! Bagaimana bisa lo tergoda sama cewek murahan kayak dia?!' kata Max pada dirinya sendiri.
Sementara itu, sembari menangisi nasibnya, Kanaya juga sedang memikirkan cara agar ia bisa keluar dari lembah hitam ini. Dia bisa saja kabur, tapi kemudian dia harus kabur kemana??? Sementara ini sudah lewat tengah malam.
Bisakah Kanaya lari dari lingkar hitam prostitusi yang telah membelnggunya selama beberapa hari terakhir ini?