'Pria itu kan ...???'
Kanaya mencoba mengingat lagi, Ya! Pria yang ada di hadapannya sekarang adalah pria yang menabrak dan mengomelinya dengan ketus di Bandara. Kanaya sungguh tak menduganya.
"Maju lebih dekat, Kanaya! Perlihatkan pesonamu pada Bos Max!" perintah Tora. Kanaya tetap statis dan tak bergerak. Dia tak ingin terlibat dalam transaksi itu.
"Hey, Kanaya!" Hal itu membuat Tora marah, dan Kanaya tetap diam menundukan kepala. Dengan begitu Max belum bisa melihat wajah manisnya dari angel yang sempurna.
"Dia gak mau nurut! Kenapa? Apa kalian memaksanya?!" tanya Max heran, dia heran kenapa ada Night Club Ladies yang lugu seperti Kanaya, padahal yang lain begitu semangat saat Max datang.
"Dia masih baru, Bos! Biasalah ... masih malu-malu kucing! Dia belum kenal siapa Bos!" kata Tora lalu Tora bangun dari duduknya dan berjalan mendekat pada Kanaya yang berdiri statis seperti patung pajangan.
Malam ini Kanaya memakai mini dress ketat warna merah sehingga lekuk tubuhnya tercetak dengan jelas. Oke, Max akui kalau Kanaya memiliki tubuh ranum yang segar, tapi melihat sikap Kanaya yang enggan, dia pun merasa marah dan kecewa.
"Lakukan atau hidupmu akan berakhir tragis di club malam ini!" bisik Tora mengancam Kanaya dan Kanaya makin gentar. Dia sangat ketakutan malam ini.
"Duduk di sampingnya dan layani dia dengan baik!" bisik Tora lagi lalu menarik tangan Kanaya dan memaksanya untuk duduk di samping kiri Max.
Hati Kanaya makin berdebar-debar. Oke, Kanaya akui kalau Max sangat gagah dan memesona, wangi tubuhnya juga khas banget pantas saja membuat banyai wanita tergila-gila padanya. Tapi, Kanaya benar-benar tak siap dan tak akan pernah siap untuk pekerjaan seperti ini.
"Dia milikmu malam ini, Bos! Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan! Kalau dia membangkang, Bos boleh memberi dia hukuman!" kata Tora sebelum ia beranjak pergi meninggalkan Kanaya dan Max berdua saja disana.
"Heum." Max hanya menukas dengan santai.
"Oke, selamat menikmati, Bos! Kalau perlu apa-apa hubungi saja kami!"
Tora benar-benar pergi meninggalkan Max dan Kanaya berdua saja di dalam ruangan itu. Max terlihat masih santai dan tak antusias, tapi Kanaya sudah dilanda ketakutan dan gugup yang hebat sehingga membuat kedua kakinya gemetar.
Max bisa melihatnya kala paha putih mulus yang tersaji di depan matanya seakan saling beradu karena gemetar.
'Ya Tuhan ... apa yang akan terjadi setelah ini? Meskipun dia seorang pria yang gagah, aku tetap gak mau melayani dia! Aku gak mau orang-orang di kampung sampai tahu hal ini! Kalau mereka sampai tahu, maka mereka akan semakin puas padaku!' batin Kanaya, dia tetap menunduk tak mau menunjukkan wajahnya pada Max yang mulai penasaran.
"Angkat wajahmu!" perintah Max. Kanaya makin takut dan makin enggan untuk mengangkat wajahnya.
Max makin heran, kenapa Kanaya tak menurutinya. Sial memang! Kebanyakan wanita di luar sana malah begitu semangat kala melihat dirinya tapi kenapa Kanaya diam saja dan seperti tak antusias dengan Max.
'Sok jual mahal juga nih p*****r! Sial!' rutuk Max dalam hati. Dia merasa diabaikan oleh Kanaya.
"Hey!" Gap!!! Max menarik dagu lancip Kanaya sehingga akhirnya Kanaya mendongakan kepala dengan paksaan Max.
Akhirnya Max bisa melihat wajah manisnya yang tengah ketakutan itu. Diam-diam Max menikmatinya. Garis wajah yang lembut dan manis yang dipadukan dengan ekspresi ketakutan yang malah membuat Max cukup tertarik untuk menjahili Kanaya.
"Berani-beraninya kamu menolak kehadiran seorang Max Jerome?!" desis Max dengan senyum seringai ciri khasnya, Aaah, tampan sekali dia! Akui Kanaya, tapi yang paling kentara Kanaya rasakan saat ini tetaplah rasa takutnya.
"Ma-maaf ... Bos ...." Kanaya begitu gugup.
Kini Max bisa sedikit percaya kalau Kanaya memanglah seorang gadis perawan. Itu bisa dilihat dari situasi yang terjadi saat ini. Max melihat ketakutan dan nervous yang luar biasa di diri Kanaya, demikian dia menyimpulkan kalau Kanaya memang belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
'Sebenarnya gue gak mau melakukan ini, tapi kenapa perempuan ini membuat gue sangat penasaran?!' batin Max, dan tampaknya dia juga sudah mulai mabuk.
"Tuang minumannya ke dalam gelas, sayang!" bisik Max dengan suara rendah yang sexi, Kanaya hampir terbuai tapi dia sadar kalau dia jangan sampai terjebak lebih dalam lagi dalam lingkar prostitusi ini.
Kanaya tak boleh jadi seperti mendiang ibunya di masa lalu. Yang sudah terjadi biarlah berlalu dengan angin, yang penting sekarang Kanaya menguatkan hatinya untuk mempertahankan kehormatannya, walau pada kenyataannya saat ini kehormatannya hampir ia gadaikan sepenuhnya oleh rasa takutnya.
"Ba-baik, Tuan ...." Kalau untuk sekedar menuang minuman ke dalam sloki, Kanaya mampu melakukannya.
Cuuur, Kanaya menuang wine dalam botol ke dalam sloki masih dengan tangan yang gemetaran sampai hampir dia mengisinya terlalu penuh.
Max minum banyak sekali sampai dia benar-benar mabuk pada akhirnya. Sesungguhnya yang paling menguasai otaknya saat ini adalah masalahnya bersama Alana saat ini.
Sudah jadi kebiasaan buruk Max, jika ia merasa patah hati, maka ia akan lari pada minuman-minuman beralkohol. Max pikir, dengan mabuk, dia bisa mengkonversi rasa sakit hatinya dan itu salah besar.
Jika saja dia tak bisa kontrol, maka itu malah akan membuat masalah kian pelik dan rumit.
'Pantas saja Deasy sama Amaya tergila-gila sama pria ini, dia memang tampan dan gagah dan pasti kaya raya! Tapi dia memiliki kebiasaan buruk begini! Dia pasti bukan pria baik-baik!' Diam-diam Kanaya memperhatikan Max.
Sementara itu Max masih fokus melamunkan kandasnya hubungan cinta dengan Alana. Keputusan yang singkat itu membuat Max patah hati apa lagi Alana dan ayahnya langsung menghakimi dia salah tanpa memberi kesempatan pada Max untuk menjelaskan semuanya.
'Alana ....' lirih Max dalam hati, Max begitu mencintai Alana sialnya Alana termakan oleh fitnah keji mantan kekasih Max yang saat ini menetap di Australia.
"Lagi!" Max menyodorkan lagi slokinya untuk Kanaya isi, tapi Kanaya mulai cemas karena Max sudah menghabiskan cukup banyak.
"La-lagi, Tuan? Anda sudah menghabiskan hampir dua botol anggur ...." Kanaya meragu.
Max memicingkan matanya ke arah Kanaya lagi, tatapan mata yang tajam itu begitu mengintimidasi.
"Kalau gitu berikan saya hiburan agar supaya saya gak terus-terusan minum! Itu kan tugasmu sekarang!" kata Max sudah mulai meracau. Kanaya diam saja.
Oke, sekarang Max semakin tak kontrol. Libido juga tiba-tiba naik setelah berulang kali Max memindai tubuh Kanaya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Mungkin akan menyenangkan mencicipi Kanaya yang katanya perawan itu.
Max menghubungi seseorang ....
"Iya, ada apa, Bos? Ada yang bisa kami bantu?" Tora menyapa Max dengan sigap begitu telponnya tersambung.
"Ya! Siapkan kamar hotel!"
Kanaya terbelalak, jadi benar kalau Max ingin menuntaskan malam ini di sebuah kamar hotel? Kanaya kira dia tak perlu melakukan sesi itu, Kanaya kira Max tak akan melakukannya ....