Selepas dari butik Alana, Max segera pulang ke rumahnya. Dia memiliki sebuah hunian nyaman di sebuah real estate yang dikelola oleh keluarganya juga.
Royal Paradise Grup, itu lah nama perusahaan keluarga Max. Perusahaan itu bergerak di banyak bidang bisnis, di antaranya bergerak sebagai perusahaan manufactur yang menaungi banyak Pabrik-pabrik sandang hingga pangan. RPG; demikian orang-orang menyebutnya, juga bergerak di bisnis properti dan broadcasting.
Itu lah sebab kenapa Max begitu digilai banyak perempuan. Dia memiliki semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi pria sempurna.
Karena cukup lelah setelah menjalani perjalanan udara dari luar kota dan langsung menemui sang kekasih, Max pun segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang luas dan nyaman itu.
Matanya terpejam perlahan, mungkin istirahat satu sampai dua jam akan memulihkan kembali staminanya.
Drrddd ... drddd ....
Tapi baru saja beberapa menit, suara getaran ponsel yang ia letakan di atas nakas kembali mengganggu. Max ingin abai saja, karena dia sendiri pun butuh istirahat.
Drrddd ... drddd ....
Tapi ponselnya terus bergetar, "Eugghh! Siapa sih? Gak tahu kalau gue juga butuh istirahat!" gerutunya kesal.
Max meraih ponselnya itu dengan tangannya yang panjang dan mendapati Alana yang menghubunginya. Dia pun tak bisa menolak. Alana adalah pengecualian.
"Halo sayang, ada apa? Aku baru sampai di rumah!" sapa Max segera menyingkirkan rasa lelahnya begitu tahu kalau yang menelponnya saat ini adalah Alana.
"Kamu jahat!!!"
Max hanya mengerutkan kening, ada apa? Kenapa Alana bicara seperti itu?! Walaupun Max tak melihat wajah Alana, tapi dari cara Alana bicara saja Max bisa menyimpulkan kalau Alana sedang marah.
"Ada apa? Aku jahat? Jahat kenapa, sayang?" tanya Max menuntut penjelasan.
"Aku kecewa! Aku bener-bener kecewa sama kamu! Aku gak bisa meneruskan ini! Kita putus aja!"
Bagai tersambar petir di siang bolong, Max stuck kala Alana mengatakan kata-kata yang lebih sadis lagi.
Ada apa sebenarnya? Ada apa dengan Alana? Padahal setengah jam yang lalu dia baik-baik saja dan masih bersikap manis.
Max yakin kalau ada yang tidak beres! Pasti ada pihak yang ingin menghasud hubungan harmonisnya dengan Alana karena begitu banyak pihak yang ingin mereka putus.
"I hate you, Max!"
Itu lah kalimat terakhir yang Alana katakan sebelum dia mengakhiri obrolan singkat yang menyesakan d**a itu.
Kombinasi kelelahan dan tuduhan sepihak serta kata putus dari Alana sukses membuat Max stres dalam waktu singkat, Arrggghhh s**t!!! Rutuknya lalu dia melempar ponselnya ke dinding sampai hancur, BRAAK! Pyaaaaar!
Max lelah dan tak mengerti dengan apa yang terjadi. Padahal setelah resmi menjalin hubungan serius dengan Alana, Max telah menunjukkan banyak perubahan positif di dalam dirinya.
Dia yang dulunya dikenal bastard, berangsur menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab, dan setia pastinya. Yaa, walau Max kadang masih suka bermain-main di meja judi, tapi itu hanya ia lakukan sebagai selingan saja.
Tapi, tuduhan telak tak berdasar yang Alana lontarkan padanya sore ini sangatlah membuatnya marah dan kecewa. Padahal beberapa saat lalu dia masih bersikap biasa-biasa. Ada apa sebenarnya? Siapa yang tega melakukan ini semua???
***
Alana menangis sendiri di Kantor bangunan butiknya yang baru yang bahkan belum selesai direnovasi. Setelah membuat keputusan singkat dengan mengatakan 'putus' pada Max, dia pun tak kuasa menahan luapan emosinya. Entah apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku kira kamu udah berubah ... aku kira kita akan berakhir di dalam sebuah ikatan pernikahan!" lirih Alana, dia mencoba menahan tangisnya tapi itu malah terasa semakin membuat hatinya sesak.
Ada apa sebenarnya? Apa dan siapa yang mempengaruhi Alana?
Jawabannya adalah ketika seseorang menelpon Alana dan mengatas namakan 'Dewi'. Dewi adalah salah satu mantan kekasih yang lama menjalin kasih dengan Max sebelum Max berpacaran dengan Alana.
Dewi mengaku hamil anak Max saat ini. Hal itu membuat Alana patah hati seketika tanpa mencari tahu dulu kebenarannya dan tanpa banyak aba-aba langsung memutuskan Max.
Padahal, selama setahun terakhir ini, Max benar-benar tak pernah bertemu Dewi lagi yang saat ini ada di Australia. Sepertinya Alana memang termakan oleh tuduhan Dewi tanpa mencari tahu faktanya terlebih dahulu.
"Jangan-jangan, selama ini kamu sering melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau ke luar negeri adalah untuk menemui mantanmu itu? Arrrrgggghhh! b******k kamu, Max!" BRAAAK! Alana makin histeris lalu menyapu apa pun yang ada di atas meja kerjanya sehingga berserakan di atas lantai.
Alana benar-benar patah hati, kecewa dan terluka. Terluka sedalam-dalamnya.
Apakah hubungan mereka akan membaik? Apakah mereka akan menemukan titik terang dari fitnah yang berhasil menghancurkan keharmonisan mereka ini?
***
Karena ponsel Max sudah hancur, Max pun tak bisa mengklarifikasi kabar ini.
Setelah emosinya mereda, Max memutuskan untuk menemui Alana lagi, karena masalah tak akan selesai tanpa klarifikasi.
Setelah mencari di butik 1 dan butuk 2, Max tak menemukan keberadaan Alana. Para pekerja bilang, Alana pergi dengan berderai air mata. Hal itu membuat Max makin cemas, Max yakin kalau ada pengacau di dalam hubungannya ini.
"s**t! Siapa yang melakukan ini? Tunggu disana, jerk! Gue gak akan tinggal diam!" Max begitu marah pada pihak yang telah mengacaukan hubungannya dengan Alana ini.
Setelah mencari ke beberapa tempat, Max akhirnya bermuara ke kediaman Alana. Pasti Alana pulang ke rumahnya. Tapi, sebelum bisa masuk melewati pagar tinggi kediaman Pranoto itu, Max dihadang oleh Pranoto sendiri.
Pranoto adalah ayah dari Alana. Dia menyambut Max dengan tatapan jijik dan benci. Max makin tak enak hati, sebenarnya apa yang membuat Alana seperti ini, Max benar-benar tak mengerti.
"Om!" sapa Max penuh hormat.
"Pergi! Jangan temui putriku lagi!" tegas Pranoto tanpa kompromi.
"Saya benar-benar gak tahu apa yang terjadi, Om! Saya gak ngerti kenapa Alana berubah secepat kilat?! Satu jam yang lalu kami masih bertemu dan dia baik-baik saja!" Max tak tahu harus bilang apa.
"Tanyakan itu pada mantan kekasihmu!"
Max mengerutkan lagi dahinya dan tak mengerti, kenapa Pranoto membawa nama mantan Max? Ini pasti masalahnya bersumber dari sana. Dewi! Pasti Dewi! Max yakin kalau dia pelakunya karena selama ini Dewi memang selalu mengganggu hidupnya, padahal mereka sudah lama putus.
"Sungguh Om, saya gak pernah berhubungan apa pun lagi dengan mantan saya, bahkan berkomunikasi via telpon pun gak pernah sama sekali! Kecuali jika dia memakai nomor baru untuk menjebak saya!" tegas Max.
"Kamu gak perlu menjelaskan apa-apa, Max! Pergilah! Jangan ganggu Alana lagi!" kata Pranoto dan dia benar-benar menutup kesempatan bagi Max untuk menjelaskan pembelaannya.
"Om ...."
"Pergi! Dan ingat! Jangan temui Alana lagi!"
Pranoto pergi dan memerintahkan petugas keamanan di rumahnya itu untuk menutup gerbang itu untuk Max.
Max meradang dan hanya bisa memendam semuanya. Rasanya percuma juga jika Max bersikeras memberi pengertian pada Alana mau pun pada Pranoto. Sepertinya untuk saat ini, hati mereka sudah tertutup rapat.
Siapa yang melakukan ini? Sudah pasti mantan kekasih Max yang sepertinya gagal move on setelah putus dari Max.
***
Dan sebagai alternatif untuk mengkonversi rasa sesak di dadanya, Max pun memutuskan untuk pergi ke Club Diamond. Club milik Tora.
Dia adalah sosok tamu yang paling ditunggu-tunggu di Kelab malam itu. Max adalah sosok yang royal dan magnet kuat bagi para perempuan.
"Bos Max akhirnya datang!"
"Ya! Dia datang! Heum ... dia makin makin makin ganteng saja!"
Amaya dan Deasy begitu sibuk membicarakan kedatangan Max dan Kanaya yang sudah mulai diturunkan ke dalam club malam ini sedikit penasaran dan ingin tahu sosok lelaki yang akan menjadi pembeli pertamanya itu.
'Walaupun dia keren, aku tetap gak mau melayani dia! Dia pasti lelaki gak bener makanya selalu pergi ke kelab seperti ini!' batin Kanaya dan dia masih pada pendiriannya.
Jika mungkin untuk melawan, Kanaya akan melakukan perlawanan andai kata nanti Max benar-benar membeli jasa layanannya pada Tora.
Max duduk di tempat favoritnya, salah satu ruangan privat yang khusus disediakan untuk para tamu istimewa sepertinya. Ruangan itu terhindar dari hingar bingar ruang utama club yang ramai di lantai bawah sana.
"Halo, Bos! Lama kali kita gak ketemu, Bos! Apa kabar?" sapa Tora begitu welcome terhadap Max.
"Lo tahu kan, kalau gue datang kesini, berarti gue lagi dalam suasana hati yang buruk!" jawab Max ketus, dia bahkan sudah menghabiskan dua sloki wine favoritnya.
"Oke oke, saya ngerti, Bos! Pasti suasana hatimu lagi kacau kan Bos?! I know i know!" Tora tetap bersikap santai pada Max.
"Berikan gue hiburan kecil! Atau minuman langka yang kalian punya!" pinta Max.
"Ada Bos! Kami menyiapkan amunisi terbaik untuk menemani kamu malam ini! Dia masih fresh! Fresh dari desa! Masih pure belum terjamah oleh siapa pun!"
"Heh, dari mana lo tahu dia masih pure? Lo memeriksanya sendiri?" tanya Max dengan sinis.
"Tentu saja nggak bos! Tapi dari ribuan perempuan yang pernah saya temui, dia ini sedikit berbeda! Ambil saja, Bos! Jika dia tak bisa memuaskan kamu, kamu boleh mendapatkan layanannya secara cuma-cuma, tapi kalau bos puas ... boleh lah beri kami tip 200 juta saja!" Tora mulai melakukan transaksi dan penawaran.
"Hey Tora, lo tahu kan kalau gue gak pernah make layanan kayak gini? Karena gue takut dia bekas orang lain, gue gak mau bekas orang lain!"
"Jangan cemas, Bos! Yang ini bukan Bekas siapa-siapa! Saya bisa jamin itu! Percayalah! Mungkin dia akan sedikit lugu, mungkin belum bisa bermain dengan baik, tapi yakinlah Bos, gadis perawan itu legit rasanya! Dia akan memberikanmu pengalaman tak terlupakan!" goda dan rayu Tora sehingga itu mulai mempengaruhi pendirian Max.
"Oke lah, panggil dia kesini!" Putuskan Max, dia pun sepertinya akan menilik terlebih dulu gadis yang akan dibelinya itu.
"Yes! Segera Bos! Tunggu sebentar ya!" Tora senang bukan main. Tora segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa Kanaya ke dalam ruangan Max.
"Bawa barang baru itu kemari! Ke ruangan Royal nomor 1!" Perintah Tora. Dan Max menunggu dengan beberapa botol minuman yang berjejer rapi di mejanya.
Hubungannya yang hancur tanpa sebab yang jelas membuat Max gelap mata dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke club malam ini bahkan dia memesan satu layanan Night Club Ladies, satu hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.
Setelah beberapa lama, Kanaya berhasil diseret paksa ke dalam ruangan Max. Sekuat hati, Kanaya masih mencoba melawan walau tamparan dan kekasaran dia terima berkali-kali ....
"Itu dia barangnya, Bos!" tunjuk Tora saat Kanaya muncul dari ambang pintu ruangan itu. Max menatapnya dengan dingin dan Kanaya malah terdiam dan berhenti berontak karena dia masih ingat kalau Max adalah lelaki yang bertabrakan dengannya di Bandara hari itu ....
'Pria itu ....'