Apakah seorang Max Jerome adalah lelaki tua seperti yang ada dalam bayangan Kanaya? Tapi anehnya, tadi Amaya dan kawan-kawannya mendeskripsikan sosok itu sebagai sosok yang gagah sampai-sampai Amaya dan Deasy rela menjajakan diri mereka secara gratis pada pria misterius itu.
Ternyata, pria misterius itu adalah pria yang tadi siang bertabrakan dengan Kanaya di Bandara sampai membuat ponsel Kanaya hancur.
Ya! Dia lah Max, nama lengkapnya Maxime Jerome. Dia adalah lelaki 26 tahun yang sudah menyandang jabatan penting di perusahaan keluarganya.
Pantas saja Amaya dan yang lainnya berfantasi liar dengan sosok Max. Fisikly, Max adalah pria alpha besar dengan wajah menawan bak dewa yunani.
Lebar kening, sepasang alis cukup tebal, sepasang mata hazel yang membius, hidung mancung, bibir tipis dan jawline yang tegas. Dia seperti lelaki titisan surga, semua perempuan yang bertemu maka akan mengaguminya.
Tapi pada hakikatnya, memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Max memang memiliki fisik dan rupa yang nyaris sempurna, tapi saat ia penat dengan pekerjaan dan masalah pribadinya, maka Max akan lari ke Club malam. Menghabiskan uang di meja judi, atau menenggak berbagai jenis bir favoritnya.
Tapi, satu lagi nilai plus dari seorang Max, yakni dia tak sembarangan bermain dengan para Night Club Ladies atau dengan p*****r mana pun. Dia masih menjaga reputasinya itu dan menjaga kesetiaannya pada sang kekasih.
***
"Terima kasih atas kunjungan Anda, Tuan! Kedatangan Anda adalah motivasi, kami akan terus meningkatkan produktivitas kami!"
Seorang lelaki paruh baya bicara dengan sangat takzim pada Max yang berdiri di depan sebuah pabrik tekstil di Kota Surabaya. Itu adalah salah satu pabrik yang ada di bawah naungan perusahaan Omega Grup, perusahaan milik keluarga besar Jerome.
"Ya! Permintaan dari Negeri tetangga semakin banyak! Usahakan tingkatkan target produksi setiap bulannya!" kata Max sambil mengamati bangunan pabrik seluas 4 hektar itu.
Itu adalah salah satu pabrik tekstil terbesar di Provinsi yang memasok kebutuhan kain di kota itu dan kota-kota tetangga, bahkan sampai ke negeri tetangga.
"Baik, Tuan! Kami akan memaksimalkan sumber daya yang ada dan kami juga sedang membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran!"
"Bagus!"
Max sudah cape, dia ingin segera menepi ke kamar hotelnya. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya dan menelpon sang kekasih yang sepanjang hari ini terus mencoba menghubunginya, tapi sejak take off dari Jakarta sampai Landing di Bandara di Surabaya ini, Max belum merubah mode pesawat di Ponselnya.
Max ingin fokus dengan tugas dari ayahnya ini, dan baru akan mengaktifkan nomornya lagi setelah nanti ia sampai di kamar hotel.
"Oke, kunjungan saya selesai! Jalankan tugas kalian masing-masing dengan baik ya!" kata Max pada jajaran penting yang mengurusi pabrik besarnya itu.
"Baik, Tuan ...." jawab mereka dengan serempak sembari membungkukan badan pada Max. Setelah itu Max masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke hotel tempat dia istirahat malam ini.
Sesampainya di kamar hotel Presidential suit itu, Max pergi ke kamar mandi dan berendam di dalam Jacuzi yang sudah diberi wewangian aroma teraphy yang menenangkan jiwa.
Segelas wine di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Max sedang mencoba melakukan video call dengan kekasihnya.
"Heum ...." Sesosok perempuan cantik muncul di layar ponselnya. Dia tampak cemberut, tapi meskipun begitu, dia tetap terlihat mempesona sampai membuat Max semakin gemas.
Namanya Alana, dia adalah perempuan yang merajai hati pria impian itu. Dia memang pantas mendapat tempat spesial di hati Max, karena Alana memang perempuan cantik yang memiliki karir cemerlang di bidang Fashion. Dia adalah seorang designer muda berbakat.
"Please jangan manyun begitu, sayang! Aku gak akan tahan melihatnya!" goda Max.
"Gak tahan? Gak tahan kenapa?" tanya Alana dengan ketus, dia benar-benar merajuk.
"Gak tahan pengen gigit!"
"Idiiih, main gigit aja! Itu semua bohong! Aku curiga kalau kamu main-main sama gadis-gadis cantik disana! Makanya kamu gak mengaktifkan nomor kamu sejak kamu berangkat tadi siang!" cibir Alana.
"Iya iya, Maaf soal itu! Tapi soal tuduhan kamu tentang gadis-gadis cantik, itu fitnah! Mana mungkin aku bermain dengan mereka sementara kekasih hatiku sendiri adalah wanita yang sangat sempurna!" Max masih menggoda kekasihnya itu.
"Heh, gombal!" Alana agak tersipu walau mencoba bersikap ketus pada kekasihnya itu, tapi Alana tak bisa lama-lama marah pada Max, karena Alana juga begitu mencintai Max.
"Udah! Udahan ngambeknya yaa? Besok, begitu aku sampai di Jakarta, orang yang pertama aku temui adalah kamu!" Max masih membujuk.
"Serius? Jangan bohong!"
"Iya lah, kapan aku bohong sama kamu, sayang!"
"Ya sudah! Besok siang aku akan ke bangunan baru buat boutiq baruku, sayang! Besok kamu langsung kesana yaa, jangan ke butik yang lama!"
"Oke, noted!"
"I miss you! Even, cuma sehari saja gak ketemu, aku benci karena aku selalu merindukan kamu!" Akhirnya Alana tak bisa membohongi perasaannya lagi. Memang begitu lah dia, dia mudah marah karena dia begitu mencintai Max, dia tak ingin kehilangan Max.
"I miss you more ...." balas Max, sebuah balasan yang membuat Alana merasa senang.
Mereka memang baru satu Tahun jadian, dan mereka sedang ada dalam masa-masa kasmaran lagi setelah dikhinati oleh pasangan mereka masing-masing sebelumnya.
***
Itu lah alasan kenapa Max paling sulit dibujuk untuk menghabiskan satu jam saja dengan seorang night club ladies meskipun Tora selalu menyediakan perempuan terbaik untuk Max.
Max ingin mencoba setia pada Alana. Sebelumnya dia memang bukanlah kekasih yang baik, bahkan sering melakukan hubungan intim dengan mantannya, tapi dengan Alana, Max sangat menghormati prinsip Alana yang ingin menjaga kesucian cintanya sampai mereka resmi menikah nanti.
Bersama Alana pula, Max berangsur membaik. Di masa remaja sampai menjelang masa transisinya, Max adalah remaja nakal yang sulit dikendalikan oleh keluarga. Tapi sejak kenal dengan Alana, dia mulai menjadi pria yang baik yaa walaupun kebiasaan judi dan mabuk masih cukup sulit ia hilangkan.
Sesuai janjinya, siang ini begitu Max landing di Bandara Soekarno-Hatta, Max langsung meluncur menuju bangunan butik baru yang sedang direnovasi oleh Alana.
Max datang dengan sebucket tulip kuning yang cantik sekali. Dia tahu betul kalau Alana paling suka diberi sebucket bunga.
"Saya mau sudut yang sebelah sana diberi gradasi yang halus saja yaaa, biar kesannya tetap soft dan kalem!" Alana sedang sibuk mengarahkan para pekerja yang sedang merenovasi butiknya yang baru itu.
"Baik, Non!"
"Dan tambahkan sedikit ornamen bunga di sudut sebelah sana!"
"Baik, Non!"
"I love you!" Max mengagetkan dengan berjalan pelan dan begitu sampai di belakang Alana yang sedang sibuk, dia langsung membisikkan seuntai kata cinta sehingga Alana terkaget.
"Sayaaang ...." Tapi dia tampak sangat bahagia, apa lagi Max mau repot-repot membawakannya bunga.
"Aku menepati janji!"
"Iya iya, aku tahu kalau kamu gak mungkin ingkar! Waah, bunga tulip ... aku suka banget!" Alana langsung mengambil alih bunga yang Max bawakan untuknya itu.
Max juga merasa sangat bahagia melihat Alana tersenyum rekah seperti itu. Bahkan senyumnya mengalahkan indahnya bunga-bunga yang tengah ia ciumi itu.
"So ... apa konsepnya akan sama seperti butik yang disana?" tanya Max membangun topik yang lain.
"Beda dong! Butik yang ini adalah transisiku dari masa remaja yang cheerful, menjadi perempuan dewasa yang lebih calm!" jawab Alana dengan lugas.
"Yaa i see! Butik kamu yang pertama didominasi dengan warna-warna ceria, dan sekarang aku melihat banyak perubahan!"
"Iya lah, ini adalah gambaran aku yang baru!"
"Kamu yang semakin dewasa yang udah siap untuk jadi Nyonya Jerome, kan?" bisik Max lagi-lagi sambil menggoda. Embusan nafasnya begitu nakal membangkitkan bulu kuduk Alana.
Ya! Alana memang gadis yang berprinsip untuk menjaga kesuciannya, tapi dia pun tak munafik kalau kadang Max juga seringkali membangkitkan gairah seksualnya.
"Tunggu beberapa tahun lagi yaa!" kata Alana.
"Aaah, itu pasti akan sangat lama!" Max mendengus kesal.
"Tolong beri aku waktu dan kesempatan buat mengexplore lebih passionku ini, sayang! Aku masih ingin mengembangkan bakatku!" jawab Alana dengan manja.
"Kamu masih bisa menjalankannya setelah kita menikah nanti!"
"Iyaaa, tapi kan ... kalau aku udah jadi istri kamu, kamu akan jadi prioritas aku! Aku pikir aku masih butuh waktu sebelum aku memiliki prioritas itu! Kamu ngerti kan, sayang???" Alana masih begitu manja dan memberi Max pengertian.
Dan siapa pula yang akan tahan dengan sikap manja gadis 23 tahun itu. Max pun tak bisa lama-lama protes padanya.
"Oke."
"Oke doang???" tanya Alana.
"Apa lagi?"
"Sayangnya ketinggalan tauuu!"
"Iyaa, oke sayaaaang!" Max mengulangi sahutannya dan itu kembali membuat Alana tersenyum bahagia.
"Ututu, makin sayang deh sama kamuuuu!"
"Heum!"
Ya, Max juga semakin sayang dengan Alana. Alana adalah gadis yang baik dan tak mungkin Max akan mengkhianatinya.
***
Di tempat lainnya ....
Kanaya bisa bernafas lega untuk sejenak. Semalam dia diberi waktu untuk beristirahat karena lelaki yang akan Tora proyeksikan untuk dilayani oleh Kanaya sedang ada di luar kota.
Kanaya belum tahu kalau lelaki itu adalah sosok lekaki yang membuatnya silau saat di Bandar kemarin siang.
"Makan!" Braak! Amaya melempar sebuah mie instan dalam cup ke arah Kanaya.
Ya, saat makan siang, mereka hanya diberi jatah makanan instan. Dan nanti malam, mereka bisa makan enak andai kata pelanggan mau mengajak makan malam di restauran mahal.
"Terima kasih, Queen!" kata Kanaya dan Kanaya mensyukuri apa pun yang ia dapat saat ini.
Kanaya membuka kemasannya dan akan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser yang ada di pojok ruangan.
"Kanaya! Sudah cukup santai-santainya! Malam ini kamu akan benar-benar tahu bagaimana dunia malam kita yang sebenarnya!" seru Amaya pada Kanaya.
Ya! Kanaya tak bisa mengelak, entah lah! Entah apa yang akan terjadinya malam ini? Apakah malam ini dunia Kanaya akan berakhir atau justru akan menjadi awal dari kehidupan barunya sebagai seorang perempuan pemuas hasrat?
'Lindungi aku lagi, Tuhan ....' lirihnya penuh harap.