Arra masih melayangkan senyuman nya Ketika ia mengingat Kembali bagaimana pertemuan awal dirinya dan juga sanggara di tepi sungai.
Ia memandang sejenak lukisan yang tak jauh dari tempatnya sekarang , lukisan yang dimana menunjukkan tempat hilir sungai itu berada.
Lukisan yang juga menampilkan gambaran air terjun dan beberapa orang yang sedang terlihat berlalu Lalang melewati sungai tersebut.
Tempat dimana sanggara juga menjumpai arra untuk pertama kalinya tepat di tepi hilir sungai itu , dan seketika pandangan Netra mereka bertemu satu sama lainnya dalam seperkian detik.
Tatapan sanggara saat itu seperti mengisyaratkan sesuatu hal yang entah mengapa membuat arra dan juga sanggara merasa ada penampakkan kehidupan masa depan aneh dalam kehidupan mereka nantinya yang memang sudah terjadi saat ini.
Arra sendiri juga menyadari jika apa yang di alaminya kali ini pun sudah pernah ia lihat di dalam kelopak matanya.
Dan karena adanya sesuatu hal yang membuat sanggara sendiri tak bisa mengingat apa saja yang sudah pernah ia alami di kehidupan sebelumnya Bersama dengan arra.
Kemudian perlahan arra berjalan mendekati lukisan itu dan jemari tangan nya pun menelusuri setiap inci lukisan itu hingga akhirnya jarinya terhenti pada satu titik yang dimana di dalam lukisan itu terdapat gambar satu pohon akasia yang begitu rindang sekali.
Dedaunan nya yang lebat dan warna hijau nya yang semakin membuatnya semakin terlihat begitu asri.
Bahkan arra dapat melihat adanya dua orang insan yang sedang saling memadu kasih , kenyataan yang dapat arra terima saat ini adalah siapa sanggara sebenarnya.
Namun semua itu seakan tak mengurangi sama sekali perasaan cinta arra yang selama ini sudah di pendamnya untuk menanti kehadiran Kembali dari sanggara.
Walaupun arra sendiri tau dan menyadari jika mereka adalah makhluk yang berbeda pastinya dan begitu pula dengan sanggara yang dulu menerima segala kekurangan dan kelebihan arra sebagai seorang manusia seutuhnya.
Akasia adalah bukti nyata kisah sanggara dan juga arra ,
Tempat yang selalu menjadi suatu titik dalam pertemuan cinta mereka.
Suatu Ketika di saat erlang mengetahui apa yang menjadi kelemahan terbesar dari seorang sanggara , ia pun berencana untuk menghancurkan kehidupan abadi sanggara dengan menggunakan target tersebut.
Sebelumnya pun uraga sudah sering memperingatkan sanggara agar lebih bisa berpikir jernih dan tidak lagi membawa manusia itu ke dalam dunia mereka , tapi sanggara seakan tak memperdulikannya dan memilih untuk terus menjalin hubungan Bersama dengan arra.
Uraga sendiri juga sudah menjelaskan dengan begitu detailnya jika arra akan menjadi sebuah kefatalan terhebat dalam hidup sanggara.
Dan erlang bukan lah orang yang akan segera menyerang langsung , ia akan terus Menyusun siasat yang sangat bisa dengan hanya sekali lemparan saja semua musuhnya akan hancur bagai debu,
Erlang pun juga masih terus menimbulkan kesalahpahaman antara uraga dan juga sanggara agar mereka akan terus menyalahkan satu sama lainnya.
Rasanya seperti ada beban yang begitu besar sekali saat ini dalam pikiran arra Ketika ia mulai mengingat kejadian yang dimana membuat nya kehilangan seseorang yang begitu di cintainya.
Orang yang telah mau memberikan kehidupan abadinya untuk arra , dan memilih untuk meleburkan dirinya sendiri menjadi sesuatu yang tak akan mungkin dapat di lihat Kembali.
Namun sebelum kepergian sanggara saat itu ia sudah pernah berkata dan mengutarakan suatu janji yang dimana ia akan terus beringkarnasi dan menemui arra dimana pun dirinya berada.
Hingga tak terasa arra pun menetaskan airmatanya dan kemudian terasa ada beberapa lembar tissue yang menyeka airmatanya itu.
“ gara… “
Ucap arra terkejut disaat mendapati adanya gara yang sudah ada di sampingnya.
Dan tatapan apa ini yang sontak membuat arra begitu sangat kelu dengan hanya sekedar untuk mengarahkan pandangan nya pada Netra gara saat ini.
Di dalam pikirannya saat ini hanya bisa menampung semua kenangan yang pernah ia lakukan bersamaan dengan sanggara pada waktu dulu ,
Waktu yang dimana Ketika itu gara masih menjadi sosok sanggara yang begitu sangat berwibawa.
Fakta yang begitu nyata sedang berdiri di hadapan arra sekarang , tak ada perbedaan sama sekali antara sanggara ataupun gara sebab mereka begitu terlihat begitu sama.
Hanya saja ingatan merekalah yang membedakan nya , gara yang ia kenal seakan tak mengenal siapa jati diri sesungguhnya.
Namun arra mampu merasakan ketulusan dari seorang sanggara di dalam diri gara , dan terkadang arra pun mengingat jika gara yang ia kenal saat ini pun juga sangat sering merasa jika ia merasakan keanehan pada dirinya sendiri.
Bagi arra mungkin itu seperti suatu panggilan dari dalam dirinya yang ingin menunjukkan Kembali siapa dia sebenarnya.
Senyum gara pun seketika mengembang dan kemudian ia pun segera mengarahkan tangan nya untuk mengusap pipi arra perlahan.
“ apa yang membuat mu menangis? “
Tanya gara di sela senyuman nya dan kemudian arra sendiri hanya membalas gara dengan gelengan kepalanya saja untuk menjawabi pertanyaan gara.
“ mau pergi jalan-jalan? “
Ajak gara lagi yang sontak membuat arra langsung menyetujui ajakan gara , ia segera mengambil tasnya yang ada di dalam kamarnya dan kemudian berjalan kearah gara lagi yang ternyata sudah berada di luar rumahnya dan kini sedang berada di dalam mobilnya.
Arra pun bergegas masuk ke dalam mobil gara namun seketika ia di kejutkan dengan satu benda yang baru saja ia sadari jika benda itu tergantung di dalam mobil gara.
“ ini… “
Kata arra sambil menunjuk benda yang sedang tergantung di dalam mobil gara dan sang empunya pun hanya tersenyum kembali ,
Tatapan nya kali ini seperti mengulang suatu ingatan yang masih tertanam jelas dalam otak arra.
Dan dapat arra lihat jelas dalam pandangan Netra gara dari seperkian detik disaat mata mereka bertemu tanpa gara meninggalkan senyuman nya.
“ ya , raa.
Ini dari seorang perempuan di masalalu ku.
Dan aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang kini sedang menimpa ku.
Namun satu hal yang masih aku ingat raa , dimana ia berkata jika dirinya akan segera menemuiku Kembali. “
Jelas gara yang sontak membuat arra terdiam sejenak ,
Ia Kembali mengingat sesuatu yang sepertinya memang sudah tak ingin teringat lagi olehnya.
Sebab yang arra tau jika benda yang ada di dalam mobil gara saat ini telah hilang bersamaan dengan sanggara.
Benda yang selalu di kalungkan pada leher sanggara itu seakan ikut hancur lebur , arra sanngat tak bisa memutar otak nya Kembali untuk berpikir bagaimana bisa gara mendapatkan benda itu.
“ raa… “
Panggil gara membuyarkan lamunan arra.
“ masuklah ,
Kita akan segera berangkat bukan. “
lanjut kata gara yang semakin membuat arra bertanya-tanya di dalam harinya sendiri.
Apakah yang di katakan oleh gara saat ini adalah suatu kebenaran yang memang sudah ia miliki dari ingatan masalalunya.
Atau hanya sekedar imajinasi dan khayalan arra saja atas kerinduan nya yang mungkin sudah beribu tahun ia pendam.
***