Setelah melajukan mobilnya menuju ke tempat yang sudah di inginkan nya , perlahan gara Kembali menyembunyikan senyuman nya Kembali.
Arra sendiri tau jika benda yang ada di dalam mobil gara saat ini adalah benda yang ia berikan kepada sanggara Ketika mereka berada di bawah teduhnya akasia yang rindang.
Di sepanjang perjalanan antara gara dan arra sama sekali tak melempar pertanyaan satu sama lainnya , mereka seakan di sibukkan dengan pemikiran mereka masing-masing.
Namun entah mengapa seketika arra merasa jika ada sesuatu hal yang sedang mengintai mereka hingga mengganggu perasaan arra saat ini.
Tapi arra begitu terkejut Ketika mendapati perasaan nya yang semakin takut saat melihat gara yang hanya terlihat biasa saja dan tidak seperti orang yang sedang terancam.
“ gaa , apakah kamu merasa jika ada sesuatu hal yang aneh? “
Tanya arra yang sudah terlihat begitu sangat khawatir dan bukannya menjawab pertanyaan arra , gara malah melantangkan kekehannya yang sontak membuat arra mengalihkan pandangan nya langsung kearah gara yang masih tak berhenti tertawa.
Dan tiba-tiba saja gara merubah wujudnya menjadi sosok berjubah hitam dan kemudian jalan yang mereka tempuh saat ini berubah menjadi padang pasir yang sangat luas.
Namun di sekelilingnya pun masih tumbuh beberapa tumbuhan kering yang masih berusaha berdiri tegak di atas batangnya.
“ siapa kau? “
gertak arra yang saat ini sudah mendapati dirinya sedang berada di atas padang pasir tersebut.
“ inarra , kau sungguh begitu sangat istimewa.
Bertahan sampai detik ini hanya untuk menantikan kelahiran Kembali dari sanggara.
Ujar sosok itu yang kemudian melepas jubah penutup yang ada di atas kepalanya.
“ laksa… “
Pungkas arra yang begitu terkejut dengan sosok apa yang ada di hadapan nya sekarang ini , ia adalah sosok yang menyamar menjadi gara untuk mengelabui arra agar ia mau ikut bersamanya.
Seketika laksa menggenggam tangan arra dan membawa nya Kembali ke hutan al-Girdas tempat dimana uraga dan erlang bertarung di dalam goa yang menjadi tempat tinggal sanggara dulu.
“ ternyata kau masih mengenal ku , inarra.
Aku pikir kau akan lupa dengan kehidupan mu dulu. “
Ujar laksa yang sudah membawa arra jauh dari dunianya sekarang.
Perlahan laksa melangkah kan kakinya menuju kearah arra yang semakin memundurkan Langkah nya , sebab ia sangat memahami jika laksa adalah sosok yang sangat berbahaya.
“ tak perlu takut inarra. “
“ tapi bagaimana kau bisa… “
Seketika perkataan arra terhenti Ketika ia merasakan adanya keanehan yang berlalu menghampirinya , terlihat dari banyaknya dedaunan yang terbang berhamburan terbawa oleh angin tersebut.
Dan tak lama kemudian ada satu sosok yang datang dari atas langit dengan menembus beberapa daun dan ranting yang masih melekat di batang pohon yang kuat.
“ shyam. “
Kata arra dan laksa bersamaan Ketika melihat siapa yang baru saja datang di hadapan mereka ,
Bukan hanya arra saja yang terkejut bahkan laksa pun juga begitu terkejut dengan Ketika melihat shyam datang ke hutan al-Girdas dan sepertinya ia pun juga akan mengagalkan yang sudah terencanakan oleh laksa yang akan membawa arra Kembali ke tempat masalalu mereka.
“ dia bukan tandingan mu , laksa.
Hadapi aku saja… ! “
Gertak shyam dan dengan cepat mereka pun saling mengeluarkan jurus mereka masing-masing untuk menghadapi lawannya.
Laksa pun menyadari jika shyam bukanlah tandingan nya , hingga akhirnya laksa memilih untuk mundur dan mengakui kekalahan nya hingga kemudian ia memilih untuk pergi dari hadapan shyam dan arra.
Setelah itu shyam pun menghampiri arra dan kemudian menggenggam erat tangan arra tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“ tunggu ,
Kamu mau membawa ku kemana? “
Arra sendiri masih terlihat begitu takut denga napa yang baru saja terjadi menimpanya dan semua itu seakan malah membuat arra tak yakin dengan pertolongan shyam kali ini kepadanya.
“ aku akan mengembalikan mu kepada sanggara , sebab tugas mu sendiri belum sepenuhnya selesai inarra. “
Ujar shyam lagi yang kemudian membawa arra untuk meninggalkan hutan al-Girdas ,
Seketika dalam kedipan mata saja shyam sudah berhasil mengantarkan arra tepat di halaman rumah gara.
“ masuklah ,
Sanggara sudah menanti mu di dalam. “
Setelah itu shyam pun segera menghilang dari dari hadapan arra sebab tugasnya untuk menghantarkan arra pulang sudah di kerjakannya.
Dengan segera arra memasuki rumah gara dan sontak ia pun menemukan san empu rumah sedang berdiri menatap lukisan yang sama seperti apa yang juga di lakukan arra tadi.
Namun entah mengapa tatapan gara saat ini malah semakin membuat arra bertanya-tanya dengan beberapa hal yang ada di dalam pikiran gara saat ini hingga membuatnya sering mengerutkan keningnya.
Perlahan arra menghampiri keberadaan gara dan kemudian ia membuyarkan gara dari imajinasinya saat ini.
“ gaa ,
Apa yang sedang kamu pikirkan? “
“ tidak raa ,
Hanya saja sepertinya aku pernah berada di hutan ini dan air terjun ini raa.
Semua nya serasa tak asing untuk ku , tapi aku tak tau kapan aku berada disana. “
Jelas gara yang masih tak melepaskan pandangan nya dari lukisan yang sedang ia pandangi saat ini , bahkan saat ini gara merasa jika hutan ini seperti tertanam di dalam hatinya.
Apalagi dengan pohon akasia yang rindang itu ,
Membuat perasaan nya benar-benar begitu Bahagia Ketika ia memandang akasia itu , entah mengapa rasanya sangat begitu damai bagi gara di saat ia memandang akasia tersebut.
“ apa kau tau , raa.
Aku tak mengerti mengapa aku merasa begitu sangat Bahagia Ketika memandang akasia ini saja.
Rasanya itu seperti bertaburan bunga yang begitu banyaknya dan juga harum. “
Dan bukannya menjawab ,
Arra malah melayangkan senyuman nya saja dan kemudian ia pun megarahkan pandangan nya juga kearah akasia itu.
“ andai kamu juga ingat gaa ,
Bagaimana kisah cinta kita di mulai tepat di bawah pohon tersebut dan bagaimana besarnya pengorbanan mu untuk membuat ku hidup lebih lama dari yang selalu aku pikirkan dulu.
Rasanya memang begitu aneh sekali gaa ,
Harus menutupi sebua kejujuran besar kepada mu sampai kamu sendiri yang mengingat tentang siapa aku dan juga siapa dirimu sebenarnya.
Aku selalu berharap waktu itu tidak akan lama lagi gaa ,semoga secepatnya gaa.
Jujur saja aku begitu Lelah harus terus menerus membohongi mu gaa , padahal kamu selalu tulus untuk membantu ku. “
Gumam arra Panjang lebar di dalam hatimya yang sesekali mencoba mencuri-curi pandangan untuk menatap gara yang masih terlihat melantangkan senyuman nya sambil melihat lukisan indah tersebut.
***