Kisah Sanggara - 54

1085 Kata
Setelah memasuki rumah besar milik edward , Saat ini luna segera bergegas untuk memasuki kamarnya dan kemudian ia ingin membersihkan diri karena ia begitu sangat merasakan lengket pada tubuhnya. Ketika luna sudah memasuki kamarnya dan berjalan kearah kamar mandi ia melihat ada nya sesuatu yang begitu mencurigakan dari arah balkon kamarnya , Seperti ada sepasang netra yang sedang mengawasinya , namun luna mengenyahkan apa yang ada di dalam pikiran nya saat ini. Walaupun di nalar sekalipun tak akan ada yang bisa mencapai kedalam kamarnya jika tidak masuk melalui pintu kamarnya , Apalagi sampai terlihat jika orang tersebut ada di balkon kamar nya , bukan kah itu hal yqng mustahil sebab kamar luna masih terkunci rapat sebelum luna membukanya tadi. Tanpa berpikir yang aneh-aneh lagi , luna pun bergegas memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi saja. “ Kau begitu sempurna wahai wanita setengah serigala. “ Ujar satu sosok yang sedang berdiri di balik jendela yang tak jquh dari balkon kamar luna sekarang. Ia ingin sekali menunggu kemunculan luna kembali namun ada yang seketika mengganggu penciuman nya saat ini yang dimana ia harus segera pergi dari tempatnya sekarang jika tidak semua nya akan berakhir saat ini juga. Dan dapat ia pastikan jika edward tidak akan membiarkan nya berdiam diri di area kekuasaannya. Tanpa mengetuk pintu kamar luna , Edward segera masuk ke kamarnya dan ia pun segera menuju kearah balkon dan bahkan dengan cepat edward menggeser jendela kamar luna. Hingga membuat sang empu kamar merasa terkejut atas apa yang di lakukan edward saat ini , Luna tak mengerti dengan yang sedang di lakukan oleh edward yang seperti mencari seseorang di balkon kamar luna. Dan setelah nya luna melihat edward membalikkan badannya kemudian berjalan masuk menuju kearah luna. “ Ada apa edd? “ Dengan keberanian nya saat ini luna memanggil edward dengan panggilan akrabnya dan tidak lagi memanggilnya dengan sebutan pak seperti biasanya. “ Tumben. “ Ujar nya membuat kening luna mengerut seketika. “ tumben kenapa? “ “ Kau memanggil ku dengan nama ku dan bukan pak lagi. “ Senyum simpul pun tersemat pada salah satu bibir edward sekarang dan begitu pula dengan edward. “ apa kau tak merasa ada seseorang di luar kamar mu tadi? “ Seketika luna merasa begitu terkejut dengan perkataan edward sebab yang ia rasakan tadi sama persis dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh edward. “ tadi aku juga merasakan ada sesuatu hal yang mengganjal tapi aku sama sekali tak menaruh curiga jika memang ada yang sedang berada di balkon. “ – “ Memang ada siapa edd? “ “ Entah lun , aku baru saja ingin mencarinya tapi ternyata ia sudah tidak ada. “ “ tapi bagaimana kamu tau edd? “ “ Emh , tadi aku ingin mengajak mu untuk makan malam. Aku masuk dan seketika aku melihat ada bayangan yang berjalan dari arah balkon. “ Jelas edward mengungkapkan alibinya. Dan luna sendiri pun hanya mengangguk-angguk saja untuk alasan yang berikan oleh edward saat ini , edward masih selalu berharap jika luna tidak akan pernah tau siapa dirinya sebenarnya sebab jujur saja ada rasa ketakutan tersendiri di dalam diri edward jika sampai luna mengetahui semuanya. Apalagi dengan beberapa siluman serigala yang masih meraja lela di alam manusia ini untuk bertahan hidup , jika mereka menemukan luna pastinya akan terjadi suatu tragedi persembahan yang sudah hampir ratusan tahun tidak pernah di lakukan itu. “ Sebaiknya kita turun untuk makan malam dulu. Sebab belin sudah menyiapkan nya. “ Lanjut ucap edward lagi yang kemudian ia pun memutuskan untuk berlenggang dari kamar luna dan tak selang lama luna pun juga berjalan mengikuti langkah edward yang saat ini berada di depannya. “ Siapa tadi. Kenapa aku tidak bisa melacak aromanya. Apakah kekuatan nya memang melebihi aku hingga aku tidak bisa mengetahui aroma dan juga jejaknya. “ Pungkas edward dalam hatinya yang masih meninggalkan perasaan penasaran tentang asal usul sosok misterius yang tak bisa ia ketahui siapa dirinya. * Gara masih berdiri memandang lukisan air terjun itu lagi yang dimana tanpa sengaja ia juga sering melayangkan beberapa helai senyuman nya ketika mengingat suatu peristiwa yang begitu indah dalam kehidupan nya. Namun entah mengapa ia masih tak bisa melupakan ucapan kalingga , dan kali ini pun gara bisa memandangi lukisan tersebut karena arra sudah tertidur di dalam kamarnya. Rasanya memang seperti tak bisa untuk berjalan maju ataupun mundur bagi gara , karena ia masih harus segera menemukan jati dirinya dari jimat yang uraga berikan kepada catra. Tapi gara sendiri sama sekali tak bisa menemukan sinyal keberadaan jimat tersebut , sepertinya uraga memang sengaja menyembunyikan nya dengan hati-hati. Karena jika jimat itu jatuh ke tangan yang salah pasti semua akan sia-sia dan bahkan gara tak akan bisa mendapatkan jati dirinya kembali. Setidaknya gara merasa begitu sangat bersyukur karena ia masih bisa mendapatkan kekuatan nya juga ingatan nya kembali. Apalagi yang paling spesial saat ini adalah disaat ia mendapatkan arra kembali di dalam kehidupannya tanpa harus mengulang semua peristiwa ataupun mengulang kisah mereka dari awal lagi. Memang bisa di bilang jika saat ini gara begitu sangat naif karena masih tak mau mengatakan semuanya kepada arra , tapi memang semua itu ada alasan nya tersendiri untuk gara. Bahkan mereka pun sampai saat ini masih tak mengutarakan apapun , hanya sekedar menawarkan makan malah saja tadi dan setelahnya pun arra memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan tertidur. Apakah nantinya arra sendiri akan bisa menerima kenyataan ini yang dimana gara yang ia tunggu-tunggu ternyata sudah kembali dengan segala ingatan nya. Dan apakah nantinya gara akan sanggup menjalani apa yang pernah di katakan kalingga , yang dimana arra akan memberikan mustika keabadian nya kembali kepada gara di saat peristiwa itu terjadi. Peristiwa dimana gara menyelamatkan uraga dan bertarung kembali dengan sosok erlang yang masih tak bisa menerima suatu kekalahan nya. Jujur saja gara masih selalu memikirkan perkataan itu , seakan tak pernah mau berpindah dari otaknya saat ini dan bahkan perkataan kalingga pun sudah menjadi gendang yang selalh menggema dalam telinganya. Apa gara akan sanggup melepaskan orang yang sangat ia cintai dan bahkan orang yang mampu bertahan dengan waktu yang begitu lamanya untuk tetap setia menunggu kehadiran gara kembali ke dunia yang fana ini. Ia sama sekali tak pernah mengeluh untuk banyaknya waktu yang sudah ia lalui sampai saat ini , kesabaran nya sudah begitu sangat membuat gara percaya jika cinta arra sangatlah besar kepadanya. Dan seharusnya pun gara tak mendiamkan arra seperti saat ini , ia harus menjelaskan semuanya kepada arra dan juga berterimakasih kepadanya atas apa yang sudah ia lakukan selama ini untuk tetap menjaga mustika keabadian nya tersebut. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN