Kisah Sanggara - 23

1336 Kata
Kegelisahan hati sanggara semakin begitu memuncak. Ketika ia dengan tiba-tiba memimpikan perempuan yang selama ini begitu di kaguminya itu. Keterkejutan nya sampai membuat bulir keringat bercucuran keluar dari pori-pori tubuhnya. Ia sangat tak paham  memgapa dirinya sampai bisa bermimpi seperti itu. Perempuan yang begitu ia kasihi menghembuskan nafasnya untuk menyelamatkan sanggara. Perasaan nya sangat hancur sekarang ini , Sanggara pun berpikir apakah mimpinya itu juga pertanda jika ia memang seharusnya tidak boleh menemui perempuan itu. Sebab apa yang akan mungkin ia impikan itu bisa terjadi suatu saat nanti , apalagi sekarang sedang menjadi incaran erlang. Sosok kejam yang akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Uraga yang baru saja masuk ke dalam goa dan melihat wajah sanggara yang nampak seperti cemas , Akhirnya membuat uraga menghampiri sanggara. “ ada apa? “ “ aku mimpi buruk. Aku takut jika mimpi itu jadi kenyataan. “ “ mimpi? Apa yang kamu lihat dari mimpi itu? “ Sanggara mengarahkan pandangan nya ke salah satu sudut ruangan yang terlihat sama , Ia seakan tak percaya jika hal buruk akan terjadi kepada perempuan itu dan pikirannya pun masih belum bisa terarahkan pada pokok masalah di dalam hatinya. “ perempuan itu , Dia mengarahkan tubuhnya untuk menangkis bola api yang mau menghantamku. Dan seketika tubuhnya mulai hancur dalam pelukan ku. “ Jelas sanggara , Yang sontak membuat uraga merasa terkejut dengan apa yang di katakan oleh sanggara. Uraga sama sekali tak pernah berpikiri jika sanggara akan mendapatkan mimpi yang begitu aneh. Bagi uraga sendiri , Bisa jadi itu juga menjadi pertanda untuk nya agar sanggara bisa lebih berhati-hati lagi jika mau melangkah maju ke tempat yang memang ingin ia tuju. Bukan suatu hal yang kebetulan , tapi apa yang di alami sanggara saat ini pun juga pernah di alami beberapa sosok yang dengan berani dan lancang menaruh hati kepada manusia. Dan bahkan mereka pun hampir menjalani hubungan yang terbilang sakral. Uraga sangat memahami ke khawatiran sanggara saat ini , kemudian uraga menepuk pelan pundak sanggara seperti memberikannya kekuatan. “ nak , ketahuilah. Dulu pernah ada sosok yang sering masuk keluar khayangan ke bumi untuk menemui seorang yang sangat di cintainya. Dan mereka menjalin hubungan dengan begitu sempurna nya sampai mereka hampir melakukan suatu pernikahan. Sikapnya itu sangat di tentang oleh dewa langit , hingga pada akhirnya ia di usir dari khayangan dan tak memiliki kekuatan sama sekali. Setelah ia berada di bumi hampir selama satu tahun , Khayangan di gemparkan oleh kabar kematiannya , sosok itu adalah putri tunggal dari dewa langit dan juga dewi khayangan. “ Pungkas uraga menceritakan kisah yang mungkin sudah sangat lama tersembunyi dari penerus seperti sanggara. Uraga mengambil nafas lalu membuang nya perlahan , ia melihat lagi sorot mata sang putra yang nampak gelisah. Uraga sendiri paham jika saat ini mereka sedang berada di dalam ancaman dari erlang yang begitu tak bisa melihat mereka hidup dengan damai. Apalagi sanggara sendiri juga sudah begitu paham apa yang menjadi alasan erlang mengincar kehidupannya dan juga sang ayah. Sanggara begitu paham sekarang , Mengapa uraga sering berkata jika jangan sampai sanggara lepas kendali untuk sekedar bertarung dengan erlang ataupun kepada perempuan itu. Ternyata hukum langit pun masih begitu ketat , Bahkan dewa langit sendiri pun tetap menghukum putrinya darah dagingnya dengan hukuman yang sudah menjadi ketentuan langit. Namun saat ini sanggara masih begitu takut , Jika apa yang di mimpikan nya akan menjadi suatu kenyataan yang dimana ia sendiri tidak sama sekali mendekati perempuan yang di mimpinya. “ ayah.. “ “ ya nak. “ “ aku hanya takut jika erlang menjadilan nya umpan untuk menggiring kita yah. Dan apa yang menjadi mimpiku akan tetap menjadi sebuah kenyataan. Ayah mengerti maksud aku kan. “ Ujar sanggara yang memang ada benar nya , Dan wajar saja jika saat ini ia begitu sangat merasa ketakutan dengan apa yang menjadi bunga tidurnya. Seperti tak akan bisa menyanggupi kenyataan yang dimana perempuan itu hanya di jadikan mangsa saja. Sanggara begitu khawatir dengan pikiran licik erlang yang pernah uraga ceritakan kepadanya waktu itu. Dan sanggara sangat begitu yakin , Jika erlang memang akan mencari informasi apapun tentang sanggara sebab erlang juga sangat memahami jika pewaris terakhir mustika itu adalah sanggara. “ ayah paham nak. Jika itu memang yang menjadi ke khawatiran mu. Ayah akan mengirimkan sesuatu untuk menjaga nya , bukan hanya di rumah saja tapi dimana pun ia pergi. Dan saran ayah , Kamu memang harus menemui perempuan itu dan memberikan kalung ini untuk nya sebagai perlindungan atas dirinya sendiri. Ini restu ayah , sanggara. “ Kata uraga yang sontak membuat sanggara begitu terkejut , sebab uraga sering mencegah sanggara untuk menemui perempuan itu dengan alasan yang sama. Sanggara lagi-lagi di buat bingung dengan apa yang di ucapkan oleh uraga , Namun sembirat senyum terpancar pada bibir uraga seperti memberikan tanda jika apa yang menjadi keputusan nya sudah ia pikirkan matang-matang. Sanggara menerima kalung tersebut dan segera melangkahkan kakinya menuju kearah hilir sungai. Yang dimana menjadi tempat perempuan itu beraktifitas di setiap paginya. Setelah sampai pada tempat tersebut , Sanggara memilih menunggu di tepi sungai seperti orang yang sedang menantikan kedatangan kekasih nya. Ia mengarahkan pandangan nya pada air yang mengalir begitu deras nya dari tebing tinggi pada ujung sungai tersebut. Dan tak selang lama terdengar suara kaki yang melangkah kearahnya sekarang dengan segera ia merubah wujudnya menjadi manusia biasa. Tatapan mereka seketika bertemu seperkian detik. Yang dimana ternyata saat ini hanya ada perempuan pujaan nya saja dan juga sanggara. Pandangan mereka masih bertemu satu sama lainnya dan tak satu pun dari mereka yang mengacuhkan sorot pandang dari masing-masing. Sanggara memberanikan diri untuk mendekat kearahnya , Dengan sembirat senyuman nya sanggara mengulurkan tangan kanan nya untuk berjabat dengan perempuan cantik yang ada di hadapan nya ini. Tak ada penolakan sama sekali dari perempuan tersebut , dan ia malah membulatkan senyuman manisnya kepada sanggara. “ sanggara.. “ “ inarra. “ Seketika suara petir bergemuruh hebat seakan membuyarkan tatapan mereka berdua , Dan sontak membuat satu orang yang terbangun dari tidur panjangnya. “ sanggara? Inarra? Siapa mereka , kenapa aku memimpikan mereka? Dan bukan kah itu nama ku , sanggara...“ Gumam gara yang terbangun dari tidur nya , Yang dimana ia juga memimpikan sesuatu hal yang membuat dirinya tak mengerti dengan mimpi tersebut. Ia seperti berada di suatu tempat yang sangat asing. Lalu siapa pria yang begitu akrab dengan nya di dalam mimpi tersebut dan siapa pria yang begitu membuat dirinya sangat murka. Bahkan gara kembali mengingat jika dari tangan sendiri ia bisa mengeluarkan semburan api yang bisa di pastikan begitu sangat panas. Kepalanya begitu terasa sangat pusing , Semenjak kejadian kecelakaan waktu itu gara sering sekali memimpikan hal aneh. Namun ia selalu hadir di tempat yang sama , goa itu. Tapi kali ini seperti ada sesuatu yang memang memberikan petunjuk tersendiri untuk gara. Yang dimana ia semakin mendapatkan titik temu untuk persoalan yang sedang di carinya ini. Gara segera beranjak dari tempat tidurnya dan kemudian mengambil buku kecil yang ada di atas nakas dan kemudian ia juga menarik bolpoin dari tempatnya. Ia menuliskan beberapa nama yang masih sangat di hapalnya pada lembar kertas buku itu. Lama kelamaan otak gara semakin di buat tak tahan dengan pemikiran nya sendiri. Lalu ia di kejutkan dengan suara ketukan pintu kamar nya. “ kamu gak kerja? Udah jam segini gaa. “ Ucap arra yang ada di depan pintu , Gara belum memberikan jawaban sama sekali tapi ia masih menatap nyalang wajah arra yang merasa bingung dengan apa yang di lakukan gara. “ inarra... “ Pungkas gara yang juga bisa terdengar oleh arra , Perlahan arra melangkahkan kakinya mendekat kearah gara lalu memilih duduk di samping gara. Dengan pandangan yang juga sama-sama saling kebingungan , arra mengarahkan tangan nya untuk mengusap pipi gara. Mereka terdiam sejenak dengan posisi yang masih termenung dengan pemikiran nya masing-masing. “ sanggara... “ balas arra yang membuat gara semakin membelalakan matanya. Ia sangat tak bisa berpikir bagaimana bisa arra menyebutkan nama yang juga ia miliki di waktu yang berbeda. Dulu dan sekarang dengan satu nama yang sama , sanggara.   ◖Bersambung◗  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN