Part 18

1707 Kata
Seperti biasa, setelah menunaikan kewajiban sebagai umat muslim, Fitri, Tio, dan juga Bella, merasakan perasaan tenang yang tak terdefinisikan. Semua masalah, cobaan hidup, dan beban berat lainnya yang mereka bertiga pikul di pundak seakan meringan tanpa sebab. Memang benar kata para alim ulama bahwa Allah lah sebaik-baik tempat mengadu. Seberat apa pun masalah, cobaan hidup, dan beban berat lainnya akan terasa ringan jika kita menyandarkan semuanya hanya kepada Allah, melibatkan setiap langkah dan pilihan kita hanya kepada Allah, Sang Maha Memiliki Segalanya, Sang Pemberi Solusi Terbaik. Sesuai dengan janji Fitri tadi, di saat mereka bertiga jalan bersama menuju masjid. Fitri akan mengajak mereka untuk membeli gorengan, untuk mengganjal perut mereka sebelum memulai aktivitas rutin setiap harinya. Dipandu oleh Tio yang sudah hafal di mana letak pedagang gorengan yang enak tapi murah berjualan, Fitri pun mengikuti langkah Tio dari belakang seraya menggandeng tangan Bella di sebelah kanannya. Suasana pagi yang sejuk dan menenangkan, kicauan burung-burung yang merdu, serta langit pagi yang sangat indah membuat ketiganya semakin semangat dalam menjalani hari. Lokasi daerah mereka yang sangat strategis membuat ketiganya tidak membutuhkan banyak waktu untuk bisa segera sampai di pasar, tempat jual beli yang harganya relatif miring dibandingkan dengan mall yang kebanyakan harganya selangit. Fitri dan dua anak kecil itu melangkahkan kaki mereka ke tempat jajanan pasar. Di sana dijual berbagai macam jajanan tradisional dan non tradisional yang dibandrol dengan harga murah, namun tak usah diragukan lagi rasa dan kualitasnya. Karena meskipun harganya relatif murah, namun rasa dan kualitasnya tetap wah dan mewah, sesuai dengan julukan yang biasa didengar jika kata pasar diucapkan. Murah meriah. Fitri menatap wajah Tio dan Bella bergantian. “Kalian mau beli apa jadinya? Di sini ada macam-macam jajanan ternyata, silakan kalian pilih! Berhubung uang Kakak cuma lima ribu rupiah, jadi masing-masing Kakak kasih jatah dua ribu lima ratus rupiah ya,” mendengar itu Tio dan Bella saling berbisik seperti sedang berdiskusi. “kita beli gorengan aja, Kak, biar dapet banyak dan cukup untuk dimakan bertiga. Harganya sekitar dua ribu rupiah untuk tiga buah gorengan, jadi kalau kita punya uang lima ribu rupiah kita bisa dapet ...,” ucap Tio kemudian menunjuk jari-jarinya seperti sedang menghitung. Hening beberapa detik. “Sekitar tujuh atau delapan buah gorengan, Kak,” Ucap Bella riang seraya memperlihatkan hasil hitungannya dengan menunjukkan ketujuh jarinya ke hadapan Fitri dan Tio. Tio mengusap kepala Bella bangga, mendengar Adik kesayangannya itu pandai berhitung di usianya yang baru menginjak lima tahun. “Pinter banget sih Adik Kakak yang cantik ini,” Bella tersenyum malu seraya menundukkan pandangannya ke bawah. “Lucu sekali sih kamu, Bel, gemes pengin Kakak cubit pipinya,” ucap Fitri, seraya menggerakkan tangannya gemas melihat tingkah Bella yang malu-malu kucing itu. “ya sudah sekarang kalian pilih mau gorengannya apa saja,” sambungnya. “Mau beli gorengan yang mana saja, Dek? Ada bakwan, cireng, tahu isi, ubi goreng, pisang goreng dan tempe goreng,” ucap Ibu penjual gorengan menawarkan gorengannya dengan nada ramah disertai dengan senyuman hangatnya. “Lima ribu rupiah dapet berapa gorengan, Bu?” tanya Tio sebelum menyebutkan pilihannya. “Untuk kalian nggak apa-apa lima ribu Ibu kasih sembilan gorengan. Kebetulan hari ini dagangan Ibu laku banyak,” ucap Ibu penjual gorengan itu dengan senyuman hangat yang masih setia bertengger di bibirnya sejak tadi, menghiasi wajah keriputnya. “Wah, terima kasih banyak ya, Bu. Semoga Allah balas kebaikan hati Ibu dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin,” Ibu penjual gorengan, Tio, juga Bella turut mengamini doa yang Fitri lantunkan. “ayo sekarang kalian pilih mau gorengan apa? Kakak ikut aja maunya kalian.” Tio menerbitkan senyuman lebarnya sebelum menyebutkan pilihannya. “Kami mau bakwannya tiga, cirengnya tiga, dan pisang gorengnya juga tiga, Bu.” Ibu penjual gorengan itu mengangguk kemudian memasukkan gorengan yang Tio sebutkan tadi ke dalam kantong plastik kecil berwarna hitam. Setelah memasukkan semua gorengan yang Tio pesan, Ibu penjual gorengan itu pun menyerahkan plastik bungkusannya. “Makasih banyak ya, Bu, ini uangnya.” Fitri memberikan uang lima ribu rupiah itu, kemudian pamit dan berlalu meninggalkan area pasar yang mulai padat oleh para pembeli yang baru saja datang. Jalanan yang mulai padat karena waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, membuat ketiganya buru-buru mencari tempat kosong untuk memakan gorengan tersebut, kemudian bersiap-siap ke tempat pangkalan mereka mengamen. Jalan raya yang dipadati oleh mobil-mobil yang berjejer rapi, menunggu lampu merah berubah menjadi warna hijau. Ya, tempat mereka biasa mengamen adalah di sekitaran lampu merah, tempat yang sangat strategis bagi mereka untuk mengamen, menjual tisu dan lain sebagainya. Fitri memilih untuk mencari pekerjaan halal lainnya selain mengamen, karena ia pikir ia mempunyai keahlian lain yang bisa mendatangkan rezeki selain mengamen. Bukan, bukan berarti Fitri tak suka dengan profesi mengamen itu, tapi baginya selagi ia memiliki potensi lain kenapa ia harus mengamen? Untuk Tio dan Bella, Fitri sedikit mewajarkan mereka, karena ia tahu kedua anak itu masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan berat seperti yang orang-orang dewasa lakukan pada umumnya. Sebenarnya fitri sempat merasa galau hari ini. Ia bingung harus memilih apa. Pulang kembali ke kampung halamannya dengan membawa kabar buruk bahwa ia sebenarnya tak jadi mengikuti casting dan menceritakan kisahnya yang sempat diculik oleh dua pria asing, atau tetap merantau di ibu kota, berharap kenekatannya itu untuk berjuang dari nol di tanah rantau ini dapat membawanya untuk bisa menggapai mimpi-mimpinya. Setelah menimbang-nimbang pilihan mana yang hendak ia pilih, Fitri memutuskan untuk tetap berjuang di tempat ini, mencari pekerjaan halal untuk membiayai kehidupannya selama berada di sini, serta mencoba untuk kembali mendaftarkan dirinya ke berbegai management untuk mengikuti casting. Fitri berjalan menyusuri trotoar jalan raya yang mulai padat dengan berbagai macam kendaraan seperti mobil, truk, bus, motor dan yang lainnya. Seraya terus berjalan, pikirannya melanglang buana ke mana-mana, memikirkan berbagai macam hal yang terus bercokol di benaknya. Sesekali ia juga mengerutkan keningnya saat apa yang dipikirkannya tak kunjung jua menemukan jalan keluar. “Duh, mau nyari kerja di mana coba? Orang ijazah dan yang lainnya ada di rumah. Lagipula lulusan SMA kayak aku ini walaupun ada ijazah tetep aja bakal susah buat nyari kerja di sini, wong yang sarjana aja banyak yang jadi pengangguran sekarang. Tapi aku harus kerja! Mau makan apa aku kalau nggak punya kerjaan? Makan angin? Mana kenyang! Yang ada malah masuk angin lagi, nasib, nasib. Nyari kerja susah amat ya. Apalagi nyari jodoh? Duh, kok malah jadi mikirin jodoh sih,” ucap Fitri kepada dirinya sendiri diakhiri dengan gerakkan tangannya yang memukul pelan keningnya berkali-kali kala pikirannya berbelok untuk mengingat perihal mencari jodoh, melenceng dari niat awalnya untuk memikirkan perihal mencari pekerjaan. “fokus ,Fitri! Fokus! Yang penting sekarang kamu punya uang dulu buat makan, baru nanti mikirin jodoh. Dasar aku!” Sedang asyik mendumen tidak jelas pada dirinya sendiri, tatapannya tak sengaja menatap plang bercat putih dengan warna tulisannya yang merah menyala bertuliskan, Warung Makan Murah Harga murah, makanan mewah. Rasa pas, anda puas. Perut anda kenyang, kami pun senang. “Itu kan warung makan murah tempat aku makan kemarin.” Mata Fitri berbinar ketika mengingat fakta penting tentang warung makan murah itu. “yang penjualnya baik banget itu kan?” “Ya Allah, apakah ini petunjuk dari-Mu? Petuntuk agar aku mendapatkan pekerjaan lewat penjual warung makan murah yang baik hati itu? Terima kasih ya Allah,” ucap Fitri penuh syukur kemudian mulai memantapkan hatinya. “baiklah, wahai Fitri yang selalu semangat dan pantang menyerah! Marilah kita berjuang! Menghadapi penjual warung makan murah itu, mencoba melamar pekerjaan dengan hanya bermodalkan tekad yang kuat dan harapan yang tinggi. Bismillah.” Setelah beberapa kali meyakinkan hatinya, Fitri pun mulai melangkahkan kakinya menuju warung makan murah itu. Pertama kali yang ia lihat saat menginjakkan kakinya di dalam warung makan tersebut adalah seorang pelayan, yang menyapanya dengan ramah. Menyambut kedatangannya. “Selamat datang di warung makan murah, Kakak mau pesan apa?” ucap sang pelayan warung makan tersebut disertai dengan senyuman manisnya yang bertengger cantik di bibirnya yang merah dengan lipstik itu. “Saya boleh bertemu dengan pemilik warung makan murah ini?” “Kalau boleh tau ada keperluan apa, ya?” “Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada beliau.” Pelayan itu menganggukkan kepalanya pelan, sebagai tanda mengerti, kemudian mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, mencari keberadaan Ibu pemilik warung. “baiklah, biasanya Ibu ada di meja kasir. Tapi sepertinya beliau sedang ada pekerjaan di ruangannya, mari saya antar ke rungan khusus beliau.” Fitri mengikuti pelayan itu dari belakang. Ruangan khusus beliau? Wah ternyata warung makan murah ini tak seperti namanya. Memang benar makanan-makanan di warung makan ini murah-murah, tapi rasa dan semua yang ada di warung makan ini tidak terlihat murahan, justru terkesan mewah. Apalagi sang pemilik warung mempunyai ruangan khusus, seperti di cafe-cafe saja bukan? Mungkin kalau Fitri boleh usul, ia akan mengusulkan untuk menambah beberapa kata pada nama warung makan ini seperti, Warung Makan Murah, Kualitas Mewah. Itu terdengar lebih cocok bukan? Dilihat dari segi kualitas rasa dan pelayanan yang tidak main-main. Sangat memanjakan para pembelinya dengan rasa dan pelayanan yang terbaik. Ya, meskipun di plang yang bertengger cantik di depan warung sana sudah banyak embel-embel jargonnya, menerima usulan Fitri untuk menambahkan dua kata agar lebih menarik minat pembeli, bukan hal yang salah bukan? “Lho, lho, lho. Kok udah mulai berani sih, Fit? Belum juga keterima udah mikir jauh ke mana-mana. Sekarang fokus dulu ambil hati pemiliknya supaya kamu bisa diterima kerja di tempat ini, baru setelah itu kamu fokus buat ambil hati pemiliknya supaya kamu bisa diterima jadi menantunya. Lho? Kok malah ngawur lagi. Fitri, Fitri. Sepertinya kamu sudah kebelet nikah ya? sampai-sampai pikirannya dari tadi isinya jodoh lagi, jodoh lagi. Tenang, Fit! Jodoh kamu udah Allah siapkan, tinggal kamu-nya yang memperbaiki diri dulu,” ucap Fitri mendebat dirinya sendiri di dalam hati. “Kak, Kak. Katanya mau ketemu sama Ibu? Kok jadi malah melamun di situ sih? Ayo sini, ruangan Ibu di sebelah sini,” tegur si Mbak pelayan ketika dilihatnya Fitri bukannya mengikutinya sampai ke pintu rungan Ibu pemilik warung, malah berhenti di tengah jalan. Melamun lagi? Yang benar saja! “Eh, iya, Mbak. Oke, saya ke sana,” jawab Fitri malu, kemudian menghampiri Mbak pelayan itu dengan sedikit berlari. Fitri,Fitri. Baru mau melamar kerja saja sudah buat malu diri sendiri. Ada-ada saja! Apakah Fitri akan diterima kerja di warung makan murah itu? Ataukah justru ditolak, karena modal nekat?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN