Fitri melangkahkah kakinya menghampiri si Mbak-Mbak pelayan, dengan wajahnya yang memerah karena malu kepergok melamun tadi oleh si Mbak- Mbak pelayan itu.
Seraya menunggu kedatangan Fitri yang tinggal beberapa langkah lagi akan segera sampai di hadapannya, si Mbak pelayan itu pun mulai membalikkan tubuhnya, mengetuk pelan pintu berwarna abu-abu itu beberapa kali.
Tok, tok, tok.
“Masuk.” Terdengar suara mempersilakan mereka untuk masuk dari dalam ruangan tersebut.
Mendengar suara dingin dan datar dari dalam ruangan itu, entah kenapa perasaan Fitri saat ini menjadi dag dig dug campur aduk. Perasaannya menjadi tak karuan. Keyakinannya tadi bahwa ia pasti akan diterima oleh sang pemilik warung makan ini hilang entah ke mana. “Perasaan kemarin si Ibu pemilik warung makan ini ramah dan baiknya minta ampun, tapi kok kenapa sekarang suaranya terdengar datar dan dingin ya? Oh i see, sepertinya beliau sedang sibuk saat ini dan merasa terganggu dengan ketukan pintu itu yang menandakan akan ada orang yang akan mengambil waktu berharganya, menganggu kesibukkannya. Wah, alamat bisa ditolak ini.” ucap Fitri dalam hati.
“Yuk, masuk,” kata si Mbak pelayan itu yang hanya dibalas Fitri dengan anggukkan pelan.
Kedua gadis berbeda usia itu pun mulai memasuki ruangan sang pemilik warung makan, membuat seorang wanita paruh baya yang sedang serius dengan laptop dan beberapa kertas yang berserakan di depannya mendongakan kepalanya.
“Fitri ya? Ibu kira siapa tadi,” ucap Ibu pemilik warung itu dengan ramahnya, membuat kegugupan yang sempat melanda Fitri sedikit mencair. Fitri hanya menganggukkan kepalanya pelan disertai dengan senyuman manisnya sebagai jawaban.
“Maaf mengganggu pekerjaan Ibu sebentar, tadi Fitri bilang sama saya katanya ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Ibu, makanya saya bawa Fitri langsung ke sini,” kata si Mbak pelayan itu menjelaskan maksud dan tujuannya dengan Fitri masuk ke ruangan itu.
Ibu pemilik warung itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. “Baiklah, ada apa, Fitri?” tanyanya seraya menatap Fitri dengan tatapan hangatnya.
“Kalau begitu saya permisi ke depan, Bu,” pamit si Mbak pelayan itu, memberikan privasi kepada Fitri dan Ibu pemilik warung makan untuk berbicara berdua.
“Ada apa, Fitri? Ada yang bisa saya bantu?” kata Ibu pemilik warung makan itu, mengulang pertanyaannya yang tadi, yang belum sempat terjawab oleh Fitri.
Fitri memilin ujung bajunya, pandangannya menunduk, bibirnya sedikit bergetar saat akan mengucapkan sesuatu. Oh, ayolah ini pengalaman pertama Fitri melamar pekerjaan. Wajar saja kalau dia terlihat sangat gugup sekarang ini.
Mana Fitri yang tadi menyombongkan dirinya akan diterima dengan mudahnya di warung makan itu?
Mana Fitri yang selalu optimis dan pantang menyerah?
Kenapa Fitri menjadi sangat gugup saat ini?
Kemana perginya kepercayaan diri Fitri yang sangat membara itu?
Stop it! Fitri hanya manusia biasa, ia juga pernah merasa gugup, takut, sakit, dan terluka. Sekuat apa pun manusia, setangguh apa pun dia, dia hanya manusia biasa yang juga mempunyai titik lemah.
“Mmm, saya.. Saya ingin melamar pekerjaan di sini, Bu. Tapi maaf, jika Ibu bos menginginkan surat lamaran, surat kelakuan baik, dan lain sebagainya saya tidak bisa menunjukkannya. Saya spontan ke sini tadi, saat teringat ingin mencari pekerjaan,” kata Fitri yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya, seakan apa yang ia lihat di bawah, lebih menarik dari pada seseorang yang kini sedang menatapnya.
“Tak usah panggil saya seperti itu, Fitri. Kamu tak lupa kan nama asli saya?” Fitri menganggukan kepalanya, tanda bahwa ia tahu nama asli sang pemilik warung makan. Namanya Fitri kan? Sama seperti namanya juga, jelas Fitri tak akan melupakan nama itu dengan mudahnya, bahkan ia selalu berusaha untuk mengingatnya. Ia terlampau senang ada seorang wanita hebat yang bernama Fitri juga. Fitri harap, semoga nama Fitri memang memberikan efek baik bagi si empunya nama, dan bukan hanya sang pemilik warung makan saja yang menjadi orang sukses, tapi juga dirinya. Menjadi orang sukses dan bisa menjadi seseorang yang ia inginkan sedari dulu. Tak perlu disebutkan pasti sudah bisa ditebak bukan, apa impiannya?
“Panggil saya Ibu saja, sama seperti yang lain oke?” Fitri kembali menganggukkan kepalanya. “apakah saya terlihat sangat menakutkan, Fitri? Apakah wajah saya terlihat menyeramkan? Apakah keramik berwarna putih itu lebih menarik dari pada saya?” Fitri yang sejak tadi menundukkan kepalanya pun mau tak mau mendongakkan kepalanya, menatap Ibu pemilik warung makan itu dengan tatapan tak enak hati, merasa bersalah, takut-takut sang pemilik warung makan itu tersinggung dengan kelakuannya. Fitri bukan takut, sang pemilik warung makan itu juga tidak terlihat menakutkan dan menyeramkan seperti yang beliau bilang barusan. Bukan, bukan karena itu semua Fitri bersikap aneh saat ini, tapi Fitri hanya merasa gugup saja. Gugup dan takut jika ia tak diterima untuk bekerja di warung makan ini.
“Eh? Bu-bukan seperti itu, Bu. Saya hanya merasa gugup saja, ini pengalaman pertama saya melamar pekerjaan secara langsung. Ibu dan wajah Ibu tidak terlihat menakutkan atau menyeramkan sama sekali. Sungguh! Bahkan Ibu sangat terlihat cantik dan awet muda bagi saya.”
“Ah, kamu bisa saja, Fitri. Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu ingin melamar pekerjaan di tempat ini? Kamu tidak kuliah?” tanya Ibu Fitri, sang pemilik warung makan itu dengan tatapan penuh penasarannya menatap Fitri.
Tidak mungkin bukan jika Fitri menjawab bahwa ia rasa peluangnya untuk bisa diterima dan bekerja di tempa ini sangat tinggi baginya dibanding tempat lain? Mengingat bagaimana baiknya sang pemilik warung makan ini kepadanya kemarin, dengan Fitri yang pada saat itu hanya orang asing, orang yang tak dikenalnya sama sekali.
Katakan saja Fitri terlalu percaya diri jika ia benar-benar memilih kata-kata itu sebagai jawaban.
“Mmm, saya orang kampung biasa yang dengan nekatnya berani merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Tapi ternyata mencari pekerjaan di sini tak semudah yang saya bayangkan sedari dulu, ternyata mencari pekerjaan di sini sangat susah. Saya butuh uang saat ini, Bu, untuk makan dan membeli kebutuhan lainnya, bahkan jika saya ingin meyerah dan memilih untuk pulang ke kampung halaman saja rasanya terasa sulit. Selain karena saya tiidak memiliki ongkos untuk pulang, saya juga tak ingin membuat keluarga saya di rumah kecewa terhadap saya, melihat saya menjadi orang yang pulang kampung karena gagal, bukan karena ingin menunjukkan kesuksesan saya selama di ibu kota. Dan entah kenapa warung makan Ibu ini yang saya ingat ketika saya bingung harus mencari pekerjaan di mana,” ucap Fitri yang akhirnya mulai berani menceritakan semuanya, meski ada beberapa kisah yang tak ia ceritakan seperti, alasan sebenarnya ia pergi ke Jakarta untuk mengikuti casting,dan kejadian penculikan itu.
“Baiklah, saya mengerti sekarang. Perlu kamu ketahui, Fitri. Saya juga pernah berada di posisi kamu saat ini, dan kesuksesan yang saya dapatkan sekarang tak semudah seperti apa yang orang bayangkan. Mungkin mereka pikir saya bisa sukses seperti ini hanya karena saya membuka warung makan murah, lalu banyak orang yang tertarik untuk makan di sini, dan lama kelamaan saya menjadi orang sukses. Bukan seperti, bukan! Dulu saya kelimpungan mencari pekerjaan hanya dengan berbekal ijazah SMA.”
“Kamu pasti tahu betapa susahnya itu, mengingat orang-orang yang sudah bergelar sarjana saja masih banyak yang kesusahan mencari pekerjaan. Masih banyak yang menganggur. Kemudian saya dengan nekatnya membuka warung makan yang sangat sederhana di tempat ini. Dulu tempat ini tak seperti yang kamu lihat sekarang, dulu hanya gubuk kecil. Namun setelah saya melalui jatuh bangun setelah itu, melewati banyak kerikil tajam yang tak mungkin saya ceritakan semua ke kamu saat ini, saking banyaknya. Mungkin lain kali. Dan jadilah saya seperti saat ini.” ucap Ibu Fitri panjang lebar.
“Kok saya jadi curhat ya tadi?” Fitri menggelengkan kepalanya. “tidak apa-apa, Bu. Cerita Ibu justru sangat menginspirasi bagi saya. Saya mengerti sekarang, bahwa kesuksesan itu tak semudah itu bisa kita dapatkan. Harus melalui jatuh bangun, melewati banyak kerikil tajam, dan lain sebagainya terlebih dahulu,” kata Fitri seraya tersenyum manis kepada Ibu Fitri.
“Oke, Fitri! Kamu saya terima, dan kamu bisa mulai kerja hari ini,” ucap Ibu Fitri kemudian berdiri, melangkahkan kakinya mengambil sesuatu di dalam lemari, dan memberikannya kepada Fitri. “ini seragamnya, silakan kamu ganti baju di toilet, kemudian ikut saya ke depan. Saya akan memperkenalkan kamu kepada teman-teman baru kamu.”
Fitri terseyum dengan sangat lebar, wajahnya terlihat cerah, dan matanya yang sangat berbinar-binar, menunjukkan bahwa dirinya sangat-sangat senang saat ini. “Terima kasih banyak, Bu. Saya tidak tahu lagi harus mengatakan apa saking senangnya. Perlakuan Ibu sejak kemarin sangat berarti bagi saya. Sangat membantu saya,” ucap Fitri yang tanpa sadar kini sudah mulai menitikkan air matanya karena terharu.
“Sudah, sudah, kok malah jadi melow begini, hehe. Sekarang kamu ganti baju! Saya tunggu di sini ya,”
Tak ingin membuang-buang waktu, Fitri pun menganggukkan kepalanya pelan, kemudian melangkahkan kakinya menuju toilet, mengganti bajunya dengan seragam pelayan yang Ibu Fitri berikan tadi.
Fitri menatap pantulan dirinya di cermin toilet itu, mengangkat kepalan tangannya ke atas. “Bismillah, kamu pasti bisa, Fitri! Semangat!”
“Bu, saya sudah siap sekarang.” Ibu Fitri yang sedang seruis dengan laptopnya itu mendongakan kepalanya. “wah, meski memakai baju pelayan seperti itu kamu tetap cantik, Fitri. Wah, bisa-bisa warung makan ini akan bertambah ramai dengan kehadiran kamu di sini,” kata Ibu Fitri, memuji kecantikan Fitri yang tetap terpancar, meskipun ia memakai seragam pelayan. Orang cantik mah beda, bukan? Hiya,hiya, hiya.
“Hehe, Ibu bisa saja. Itu terlalu berlebihan, Bu, bagi saya.”
“Ya sudah, yuk kita ke depan. Saya akan memperkenalkan kamu kepada mereka.”
Ibu Fitri melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu, disusul Fitri yang berjalan di belakangnya. Tak lama dari itu, setelah Ibu Fitri dan Fitri menginjakkan kakinya di depan tiga orang perempuan, dan dua orang laki-laki yang berpakaian sama dengan Fitri, sang pemilik warung makan pun mulai memperkenalkan Fitri di hadapan kelima orang itu.
“Oke, langsung saja ya. Saya tidak ingin berlama-lama mengganggu pekerjaan kalian. Saya di sini ingin memperkenalkan Fitri, partner kerja baru kalian. Silakan Fitri, perkenalkan diri kamu. Tidak usah takut! Mereka orang-orang yang baik kok, dia tidak akan memakan kamu.” Semua orang tertawa mendengar gurauan receh dari sang pemilik toko itu. “bercanda, bercada! Silakan Fitri!”
Fitri menganggukkan kepalanya pelan, kemudian mulai memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan nama saya Fitri, umur saya sekarang baru dua puluh tahun, dan saya berasal dari kampung terpencil di daerah Jawa Barat.”
“Hai, Fitri. Namanya sama ya, kayak Ibu bos. Semoga kecipratan suksesnya ya, hehe. Nama gue Wati, gue nggak usah sebut umur ya? Yang jelas umur gue sekarang lebih tua dari lo, hehe. Semoga lo betah ya kerja di sini. Jangan sungkan kalau butuh bantuan. Langsung bilang aja ya ke kita-kita.” Fitri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.
“Hai, gue Haris. Senang berkenalan dengan lo.”
“Gue, Roy. Semuga lo betah kerja di sini.”
“Gue, Siska. Salam kenal.”
“Gue Jenny, N nya dua, huruf akhirnya Y ya, bukan I. Bukan apa, gue hanya nggak suka aja kalau ada yang salah kira ejaan nama gue kayak gimana. Gue bawel ya? hehe, yang jelas salam kenal dan seperti yang lain, semoga lo betah ya kerja di sini.”
Setelah perkenalan singkat itu, mereka berlima mulai berpencar sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ada yang bertugas melayani pembeli secara langsung, menyiapkan lauk, dan mengurus pekerjaan dapur entah itu memasak atau mencuci piring. Sedangkan Fitri, ia bertugas melayani pembeli secara langsung, setelah ia diberi arahan singkat namun padat dan jelas mengenai jobdesk-nya sebagai pelayan.
Di ruangan dapur, terlihat dua perempuan yang sedang mencuci piring sambil mengobrol santai.
“Ibu bos kenapa harus nerima si Fitri-Fitri itu sih? Padahal kita berlima aja udah cukup tau,” ucap Siska tak terima.
“Iya, ya. Mungkin karena namanya sama kali sama Ibu bos,” jawab Jenny yang sedang membilas piring cuciannya.
“Ya kali, Jen. Kalau gitu mungkin semua pegawai yang kerja di sini namanya Fitri semua dong.”
“Eh, bener juga ya? Kan bingung nanti kalau ada apa-apa manggil Fitri jadi nengok semuanya. Mungkin bakal ada penyebutan Fitri satu, Fitri dua, Fitri tiga, Fitri empat dan selanjutnya. Nggak kebayang sih gue gimana lucunya kalau begitu, haha.”
“Ye, lu, Jen. Nggak usah dibayangin lah kan emang nggak mungkin. Lagian menurut gue ada yang aneh deh dari si Fitri itu. Masa kemarin pas dia makan di sini, makanannya digratisin sama Ibu bos, terus sampe gue diminta si bos untuk bungkusin makanan lagi buat dia bawa pulang. Ya kalau cuma tempe oreg, dan tahu goreng sih gue biasa aja ya, lha kemarin si Ibu bos mintanya dibungkusin daging rendang sama ayam goreng. Banyak lagi porsinya. Kan jiwa misquen dan iri gue meronta-ronta ya? Secara gue nggak pernah tuh seumur-umur kerja di sini dikasih gretongan kayak gitu. Lha dia, baru juga pertama kali muncul udah di istimewain kayak gitu. Gimana nanti coba?”
“Masa sih, Sis?” Siska menganggukkan kepalanya berkali-kali. “seriusan gue, Jen.”
“Ya kalau gitu beneran kata, lo, tadi. Dia bakal di istimewakan sama Bu bos. Wah, pasti dia bakal jadi anak emas Ibu bos dong.”
“Gue nggak terima! Liat aja, hari ini juga gue bakal ngerjain dia habis-habisan sampai langsung dikeluarin hari ini juga kalau bisa. Duh jadi kasihan gue, hari pertama kerja udah harus didepak. Baru mau jadi anak emas Ibu bos, udah harus terhempas, hahah,” ucap Siska marah diakhiri dengan tawanya yang entah kenapa terdengar mengerikan di telinga Jenny yang sedari tadi membilas piring di sampingnya. “rasain lu, Fitri! Siap- siap aja lu harus terpaksa pulang kampung karena nggak kuat hidup di sini.” Lanjut Siska setelah berhasil meredakan tawa mengerikannya.
Jenny yang mendengar ocehan panjang Siska tadi, bergidik ngeri melihat Siska di sampingnya yang sedang meremas spons pencuci piring kuat-kuat. “Kejam kali kau, Siska! Tak ku sangka kucing yang menggemaskan seperti kau bisa berubah menjadi macan yang menyeramkan saat ini.” Ucap Jenny dengan logat bataknya yang mulai keluar karena ngeri mendengar ocehan Siska tadi.
“Gue kayak kucing biar Ibu bos sayang sama gue! Kalau tau posisi gue bakal terhempas oleh anak kampung itu ya gue nggak bisa tinggal diem dong. Gue harus bertindak sebelum akhirnya gue yang terhempas.”
“Terserah, lu, deh, Sis. Tapi jangan bawa-bawa gue ya kalau rencana lo yang entah apa itu kebongkar sama Ibu bos. Gue nggak mau dipecat soalnya.” Ucap Jenny yang tak ingin ikut terlibat, karena bekerja di warung makan ini adalah mata pencaharian utamanya. Dia tak ingin dipecat! Baginya tak apa ia tak menjadi anak emas Ibu bos seperti yang diidam-idamkan teman seperjuangannya, Siska. Karena baginya bisa makan dengan cukup, dan bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan memakai uang sendiri sudah lebih dari cukup.