Sejak awal Siska memang terkenal dengan sifatnya yang ambisius. Apa yang ia inginkan sebisa mungkin ia akan mengusahakannya. Apa pun itu, sekeras dan sesulit apa pun jalan yang akan ia lewati, seterjal apa pun rintangan yang harus ia taklukan, ia akan berusaha untuk mewujudkannya. Bahkan suatu hal yang mungkin menurut orang-orang adalah hal sepele, Siska akan berusaha untuk mewujudkannya jika ia memang menginginkannya.
Pernah pada saat itu, ketika ia masih berada di bangku SMA, teman-teman satu gengnya menantangnya yang tak suka dengan rasa pedas itu, untuk menghabiskan satu magkok bakso dengan kuah yang sudah teman-temannya taruh belasan sendok makan sambal ijo Mang Ipul, sambal yang terkenal dengan tingkat kepedesannya yang tingkat tinggi hingga ke seantero sekolah. Sambal yang walaupun hanya satu dua sendok makan saja ditaruh ke kuah bakso seseorang, orang itu akan merasakan dahsyatnya rasa pedas sambal ijo Mang Ipul itu.
Siska menerima tantangan itu hanya dengan diiming-imingi voucher pulsa seharga dua puluh lima ribu rupiah. Hal sepele bukan? Ketika orang-orang lebih menyayangi lambung dan perutnya daripada voucher pulsa itu, Siska justru lebih memilih voucher pulsa yang tak seberapa itu dan lebih merelakan kesehatan lambung dan juga perutnya. Terbukti dengan berhasilnya dia memenangkan tantangan itu dan tentunya dapat mengantongi voucher pulsa seharga dua puluh lima ribu rupiah, dengan resiko yang harus ia tanggung karena pilihannya itu, ia terpaksa izin untuk tidak masuk sekolah karena penyakit diare dan asam lambung yang ia derita. Kalau kalian lebih pilih mana, Guys? Hehe.
Hal yang bisa dibilang sangat sepele saja Siska seriusi meski harus mengorbankan dirinya sendiri, apalagi hal besar yang menyangkut ketenangan dirinya? Hal besar yang sejak ia menginjakkan kakinya di warung makan itu untuk bekerja di sana, selalu ia perjuangkan setiap harinya. Pasti ia akan sangat serius menjalaninya, bukan? Dan sekarang, hal yang selama ini ia seriusi untuk ia gapai itu, harus rela ia lepaskan karena kehadiran Fitri yang bahkan belum genap satu hari gadis cantik itu bekerja, sudah berhasil membuat gadis cantik itu berada satu langkah lebih dekat dengan sang Ibu bos, dibandingkan dengan Siska yang bulan ini genap bekerja selama satu tahun di warung makan itu. Siska benar-benar tak bisa terima dengan fakta itu. Big no, yeah!
Sejak menginjakkan kakinya di warung makan itu untuk bekerja, Siska sudah bertekad ingin menjadi pegawai kesayangan sang Ibu bos, atau sebutan yang biasa Siska dan teman-teman kerjanya bilang adalah anak emas sang Ibu bos. Mengingat perlakuan Ibu bos mereka yang selalu baik kepada semua orang, apalagi terhadap anak kesayangannya, bukan? Selain itu, tekadnya bertambah kuat saat dirinya bertemu dengan anak kesayangan sang Ibu bos yang bernama Dipta.
Dipta, laki-laki bertubuh tinggi dan tegap, memiliki paras yang menawan dengan kulitnya yang berwarna eksotis, khas warna laki-laki Asia, membuat Siska jatuh hati padanya bahkan di pertemuan pertama mereka. Jangankan Siska, gadis-gadis lain pun akan terpikat dengan pesona seorang Dipta, ditambah laki-laki itu merupakan anak dari Ibu bos, pemilik warung makan murah yang cabangnya sudah tersebar diberbagai kota di seluruh Indonesia. Siapa yang tak mau coba untuk menjadi menantu sang Ibu bos?
Semua itu membuat Siska semakin bersemangat dalam merebut hati sang Ibu bos. Maka di saat Fitri muncul dan dengan sekali kepakan sayapnya gadis kampung itu berhasil membuat sang Ibu bos mulai takluk, Siska tak terima. Ia tak ingin hanya tinggal diam di tempat membiarkan Fitri menggagalkan mimpi besarnya, menghancurkan bangunan yang sudah lama ia bangun dari nol. Dan karena semua hal tadi, rencana jahatnya pun mulai tersusun rapi untuk mendepak Fitri dari warung makan itu, menjauhkan Fitri dari jangkauan sang Ibu bos.
Sesuai dengan niat awalnya tadi yang ia sampaikan pada Jenny, Siska akan memulai aksinya yang pertama untuk membuat Fitri dikeluarkan dari warung makan ini atau Fitri yang tak betah dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Dan ia sudah mempersiapkan semuanya matang-matang, dengan hanya seorang diri.
Saat ini Fitri sedang berdiri di salah satu pojok ruangan, menanyai pembeli yang memilih untuk memakan pesanannya di tempat, dengan Fitri yang tak hentinya memegang buku kecil tempatnya untuk mencatat semua pesanan makanan, berikut pulpen uniknya karena dihiasi dengan miniatur mini mickey mouse yang berada di kepala pulpen. Pulpen yang selalu bertengger cantik di saku kemeja seragamnya.
“Selamat siang, Pak. Bapak mau pesan untuk dibawa pulang atau untuk dimakan di sini, Pak?” ucap Fitri dengan senyuman manis yang selalu terbit di bibirnya yang merah alami itu, kepada pria berusia sekitar empat puluh tahunan yang sedari tadi selalu fokus dengan benda pintar di tangannya.
“Oh iya, selamat siang, Mbak. Saya mau pesan untuk dimakan di sini saja, Mbak,” ucap pembeli itu dengan matanya yang sesekali menatap benda pintarnya saat berbicara.
“Oke, baik. Mau pesan apa, Pak? Di sini menyediakan banyak menu enak dan mewah, dengan harganya yang relatif murah. Ada daging rendang, ayam goreng dan ayam bakar, opor ayam, telur balado, ikan gurame bakar dan ikan gurame goreng, cumi saus lada hitam, cumi saus tiram, cumi saus teriyaki dan berbagai menu enak dan mewah lainnya.”
“Oh ya, tidak hanya menu enak dan mewah, warung makan murah ini pun menyediakan berbagai menu sederhana dengan rasanya yang tak kalah enak dan mewah lainnya. Bapak bisa melihat bagaimana menggiurkannya semua menu kami dari etalase kaca yang bertengger cantik di depan sana,” ucap Fitri panjang lebar, dengan ritme pengucapan yang relatif sedang menuju cepat, tapi masih tetap bisa didengar oleh pembeli dengan jelas, mengingat suara Fitri yang tergolong kencang dan sedikit cempreng. Fitri sepertinya sudah mulai hafal semua dialog yang harus ia ucapkan kepada para pembeli, padahal hari ini adalah hari pertamanya bekerja.
“Maaf, Mbak, suara Mbak tadi saya akui kencang dan sedikit cempreng, tapi mohon maaf sepertinya saya tadi terlalu fokus dengan handphone, jadi saya lupa tadi menunya ada apa saja ya? Bisa tolong diulangi, Mbak?” ucap pembeli itu, dengan nada menyesal yang sepertinya hanya dibuat-buat, karena nada suara itu berbanding terbalik dengan ekpresinya saat ini. Tak terlihat raut penyesalan sama sekali.
“hellow, gimana nggak lupa coba kalau dari tadi situ kerjaanya fokus terus sama ponsel pintarnya? Mau aku ulang-ulang sampai ratusan kali, sampai mulutku berbusa sekalipun situ nggak bakalan inget kalo situ dan ponsel pintarnya sangat fokus bercengkrama seakan dunia hanya milik berdua. Astaghfirullah,sabar, Fitri, sabar! Hari ini hari pertama kamu kerja, jangan sampai kamu dipecat hanya karena kamu tak bisa menahan emosi,” ucap Fitri dalam hati.
Ya, hanya dalam hati, karena jika Fitri berani mengucapkannya secara langsung, bisa-bisa ia dianggap pelayan yang tak memiliki sopan santun, kemudian masalah ini pria itu bawa ke hadapan Ibu bos, dan Ibu bos marah karena ia sudah berani berulah bahkan di hari pertamanya mulai bekerja, kemudian Fitri dipecat dan terpaksa harus pulang ke kampung halaman karena kesulitan mendapatkan pekerjaan lain. “Oh no! Ucapan tentang alasanku yang lebih memilih mendumel tak jelas dalam hati itu lebih pantas disebut sebagai cerita minpi buruk yang tak seharusnya aku ucapkan, walau hanya dalam hati!”
“Baik, Pak, saya akan ulangi tapi saya mohon Bapak perhatikan saya sebentar ya?” ucap Fitri seraya memaksakan dirinya untuk tepat tersenyum. Mendengar itu pembeli yang sedang asyik dengan benda pintarnya pun mau tak mau mendongak, menganggukkan kepalanya singkat sebagai tanda setuju bahwa ia akan diam mendengarkan Fitri menyebutkan beberapa menunya, yang sebenarnya bisa ia lihat sendiri dengan melihat langsung ke etalase kaca yang bertengger cantik di depan sana.
Malas, atau istilah keren zaman sekarang yang sering terdengar untuk mengungkapkan rasa itu adalah mager. Ya, karena alasan itu pria yang tak pernah lepas dari benda pintarnya itu lebih memilih untuk kembali mendengarkan Fitri mengulang ucapannya, menyembutkan menu-menu andalan rumah makan murah tersebut, daripada harus berdiri dan melangkahkan kakinya ke depan sana, melihat secara langsung menu-menu menggiurkan yang tersedia lewat etalase kaca yang bertengger cantik dan megah di depan ruangan. Yeah, mager! Hanya karena mager.
“Saya ulangi ya, Pak, di sini menyediakan banyak menu enak dan mewah, dengan harganya yang relatif murah. Ada daging rendang, ayam goreng dan ayam bakar, opor ayam, telur balado, ikan gurame bakar dan ikan gurame goreng, cumi saus lada hitam, cumi saus tiram, cumi saus teriyaki dan berbagai menu enak dan mewah lainnya. Tidak hanya menu enak dan mewah, warung makan murah ini pun menyediakan berbagai menu sederhana dengan rasanya yang tak kalah enak dan mewah lainnya. Bapak bisa melihat bagaimana menggiurkannya semua menu kami dari etalase kaca yang bertengger cantik di depan sana,” Fitri pun mengulangi ucapannya, meski ada beberapa kata yang ia skip karena ingin mempersingkat ucapannya.
“Hmm, beragam juga ya menu makanannya. Kalau gitu saya pesan nasi satu posi, lauknya daging rendang dan telur balado.”
“Baik, pesanannya sudah saya catat. Minumnya mau apa, Pak? Ada es jeruk, teh hangat dan es teh, wedang jahe dan yang lainnya.”
“Saya pesan es jeruk saja, Mbak.”
“Baik, ditunggu sebentar ya, Pak? Saya siapkan dulu pesanannya,” ucap Fitri yang hanya dibalas dengan anggukan pelan saja, karena pria itu sudah kembali fokus dengan benda pintarnya.
Tak butuh waktu lama untuk Fitri menyiapkan semua pesanan Bapak-Bapak itu, karena semua menu sudah tersedia di etalase kaca. Dan jika stok menu yang tersedia sudah menipis, barulah yang bertugas sebagai koki akan menambah stok makanannya. Jadi tugas Fitri hanya menyiapkan makanan, kemudian mengantarkannya ke pembeli.
Fitri melangkahkan kakinya hati-hati dengan kedua tangannya memegang erat sebuah nampan berisi sepiring nasi, daging rendang, dan telor balado. Tak lupa juga segelas es jeruk berukuran sedang untuk ia antarkan ke pembeli yang berada di salah satu pojok ruangan.
“Permisi, Pak, ini makanannya.” Tak ada sahutan suara dari pembeli itu, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban “iya” karena setelahnya ia kembali fokus dengan benda pintarnya itu. Bagaimana dengan Fitri? Tentu dia hanya diam saja, dan memaksakan dirinya untuk tetep tersenyum ramah menanggapi pembeli rese itu. Ya, julukan yang paling pas untuk Fitri sematkan kepada pembeli itu ada pembeli rese. Tapi bagaimana jika kita menanyai kondisinya secara spesifik? Bagaimana dengan hatinya saat ini? Jangan ditanya! Tak perlu diragukan lagi! Cukup ditebak saja Fitri sudah yakin jawabannya pasti sama, karena sudah dipastikan berbagai macam makian serta hujatan sudah ia lontarkan puluhan kali.
Katakan Fitri lebay saat ini, tapi sesabar-sabarnya manusia pasti ada batasnya juga bukan? Fitri sudah berusaha untuk tenang dan tetep tersenyum ramah di saat pertama kali mereka berbicara, tapi jika sampai akhir si pembeli itu tetap setia dengan kereseannya, Fitri bisa apa? Ya, di mana-mana pembeli itu punya karakter yang berbeda-beda, dan tugasnya sebagai pelayan harus bisa menerima semua karakter itu dengan baik. Memang tugasnya! Baiklah, sepertinya Fitri harus banyak berguru kepada Wati agar ia bisa menghadapi berbagai macam karakter pembeli dengan tetap sabar dan bijak.
Di dapur, seorang perempuan yang sedang mengintip kejadian itu menerbitkan senyum jahatnya .
“Fitri,permainan kita akan segera di mulai!” ucapnya dengan suara pelan, datar, dan dingin, namun sarat akan amarah dan keseriusan, membuat siapa saja yang mendengarnya secara langsung akan bergidik ngeri karena ketakutan.