Part 21

2261 Kata
Fitri kembali ke tempatnya untuk menyambut pembeli baru, meninggalkan si pembeli rese itu yang bukannya mulai memakan makanannya, justru masih tetap asyik dengan benda pintarnya. Manusia zaman sekarang! Benda pintar seakan benda paling penting yang tak bisa dilupakan bahkan ditinggalkan barang sejenak. Bangun tidur, langsung pegang gadget, makan dan minum tetap ada gadget ditangan atau disekitarnya, hingga sampai malam, di saat mata sudah ingin dipejamkan, gadget adalah benda terakhir yang dilihat, bahkan ada saja yang ke kamar mandi pun membawa gadget-nya untuk dimainkan. Sejak membuka mata, bangun tidur pagi hari hingga kembali memejamkan mata untuk tidur di malam hari, gadget adalah benda yang tak pernah lepas dari jangkauan pemiliknya. Adakah yang seperti itu? Ada, pasti ada! Gadget holic? Melihat Fitri yang sudah pergi meninggalkan pembeli itu, seorang gadis yang sejak tadi mengamati kegiatan Fitri dari jauh mulai menjalankan misinya. Ia melangkahkan kakinya diam-diam ke depan, melihat keadaan sekitar,kemudian mulai mendekati pembeli yang Fitri layani tadi. Dari yang gadis itu lihat, pria itu masih tetap fokus dengan benda ponselnya. Setelah dirasa semuanya aman, Fitri dan teman-temannya yang lain sedang fokus pada tugasnya, para pembeli yang entah memang kebetulan dan keberuntungan baginya atau apa mendadak sepi, hanya ada lima pembeli di ruangan itu dengan keempatnya yang sedang asyik menikmati makanan mereka, dan satu pria yang tersisa yang merupakan target utama gadis itu, masih fokus dengan gadget-nya. Gadis itu yang kini sudah berada sangat dekat dengan meja pria itu,mengeluarkan sesuatu dari sebuah plastik, kemudian menaruhnya di piring pria itu, dan sebelum semuanya sadar dan melihat keberadaannya, gadis yang kini sedang tersenyum jahat itu pun kembali melangkahkan kakinya menuju dapur, tempatnya harus bertugas saat ini. “Rasain, lo, Fitri!” ucapnya saat melihat Fitri sedang tersenyum ramah kepada pembeli yang baru saja datang. “sekarang lo bisa tersenyum dengan sangat ramah dan manisnya seperti itu, tapi nanti jangan harap! Karena yang akan terjadi adalah lo yang akan menangis tersedu-sedu,” lanjutnya dengan suara yang sangat-sangat pelan, ketika ia telah sampai di dapur. Brak Terdengar suara meja yang dipukul dengan sangat kerasnya, membuat semua pasang mata memusatkan pandangannya ke tempat asal suara itu. Di sana seorang pria sedang berdiri dengan mukanya yang sangat merah karena amarah telah menguasainya. “Apa-apaan ini! Pantas saja nama tempatnya warung makan murah, tapi buat apa kalau kualitasnya nol? Saya lebih baik bayar mahal dengan kualitas bagus daripada bayar murah tapi disuguhi dengan kualitas yang buruk seperti ini.” Teriak pria itu yang berhasil menyita perhatian banyak orang. “Lihat semuanya! Warung makan apa ini yang tidak menjaga kebersihan, memberikan makanan yang tidak higenis kepada para pembelinya? Lihat apa itu!” teriaknya kembali seraya menunjukkan jari telunjuknya ke piring makannya yang sama sekali belum ia sentuh. “Ada apa ya, Pak? Kenapa anda harus teriak-teriak, mengganggu kenyamanan pembeli lain? Dan lagi apakah anda tidak bisa menjaga mulut anda untuk tidak berbicara asal apalagi menjelek-jelekkan warung makan kami yang tak usah diragukan lagi tingkat kebersihan juga kehigenisan makanannya? Karena makanan-makanan di tempat kami sudah terkenal sejak dulu dengan harganya yang murah, tapi tetap memberikan kualitas yang wah dan mewah untuk para pembelinya. Jadi, jangan asal biacara anda!” ucap Haris yang dengan cepat langsung melangkahkan kakinya menuju asal suara gaduh itu, ketika ia mendengar suara teriakan pria yang sangat mengganggu itu. Hanya satu hal yang berada di pikirannya saat itu, ia tak ingin kenyamanan para pembelinya terganggu. Setelah Haris mengucapkan itu, semua pekerja lain mulai berdatangan menghampiri mereka. Mulai dari Roy, Wati, Jenny, Fitri, juga Siska. Semuanya terkejut dengan kejadian ini, kecuali Siska yang sejak suara gaduh itu terdengar ia masih terlihat asyik-asyik saja dengan senyumannya yang tak pernah luntur dari bibir merahnya, dengan sesekali menyenandungkan satu buah lagu bertemakan kebahagiaan. Dasar Siska orang..... tetttt! Isi sendiri titik-titiknya. “Ada apa kamu bilang? Kenapa harus teriak-teriak? Mengganggu kenyamanan pembeli lain? Warung makan yang tak usah diragukan lagi tingkat kebersihan juga kehigenisan makanannya? Dan satu lagi, jangan asal bicara?” pria itu menyebutkan inti ucapan yang Haris ucapkan padanya, kemudian tertawa dengan sangat kencangnya. “hahaha, lucu sekali! Omongan bulshit apa itu? Semua itu tak seharusnya kamu ucapkan sebelum kamu melihat ini! Lihat apa ini!” ucapnya kemudian kembali menunjukkan jari telunjuknya ke piring makan yang ada di mejanya. Melihat apa yang ada dipiring itu, Haris membelalakkan matanya lebar. Ia terkejut. Kini pikirannya berisi dengan berbagai macam pertanyaan yang inti kalimatnya sama, bagaimana kesalahan yang bisa dibilang fatal ini bisa terjadi? Kok bisa? Pria yang melihat keterkejutan yang nampak jelas di wajah Haris, menaikkan sebelah sudut bibirnya ke atas. “Bagaimana, Tuan? Anda masih tak terima dengan semua perlakuan saya tadi?” Melihat Haris yang kini mengunci mulutnya, tidak mengeluarkan sepatah kata pun setelah melihat sesuatu yang ada di piring itu karena masih berusaha untuk mengontrol keterkejutannya, mungkin? Wati kini angkat bicara. “Mohon maaf, Pak. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Biar saya ganti dengan yang baru ya, Pak?” ucap Wati dengan ramah dan sopan. “Kesalahpahaman apa maksud anda ini? Jelas-jelas ini merupakan keteledoran kalian! Kalian tidak benar-benar serius dalam menjaga kualitas makanan kalian sehingga hal ini wajar saja bisa terjadi. Oh, i know sekarang, ini mungkin bukan keteledoran tapi kesengajaan! Kamu!” Pria itu kini menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fitri. “kamu pasti kan? Yang menaruh cicak itu di piring saya? Ayoo ngaku kamu sekarang!” Semua orang kini menatap Fitri yang sejak tadi diam. “Kenapa anda jadi menuduh saya, sekarang? Untuk apa coba saya menaruh cicak itu di piring Bapak? Nggak ada untungnya sama sekali buat saya.” “Iya, Bapak jangan asal menuduh! Saya percaya sama teman saya,” ucap Wati yang tak terima, Fitri, teman barunya kini dituduh macam-macam oleh pria itu. “Ada apa ini?” ucap seorang perempuan dari arah belakang mereka, membuatnya kini ditatap dengan intensnya oleh pria itu. “Anda, siapa?” “Saya Fitri, pemilik warung makan murah ini.” Pria itu kini tersenyum puas saat ini. “baguslah, jadi saya tidak perlu repot-repot memanggil anda untuk datang ke sini.” Ibu Fitri yang sering disebut Ibu bos itu mengernyitkan kening heran mendengar ucapan pria itu. “Ya? Apa maksud dari ucapan anda? Ada yang bisa saya bantu?” “Saya ingin dia.” Pria itu kini kembali menunjukkan jari telunjuknya ke arah Fitri. “saya ingin dia dipecat saat ini juga!” ucap pria itu yang berhasil menerbitkan senyum penuh kepuasan seseorang. “Kenapa saya harus memecat dia? Saya pemilik warung makan murah ini, dan anda bukan siapa-siapa! Anda tidak berhak memerintah saya untuk memecat seseorang,” ucap Ibu bos, yang kini sudah mulai tersulut emosinya. “Ya, anda memang benar! Anda pemilik warung makan murah ini, dan saya bukan siapa-siapa. Saya hanya orang asing kan?” Ibu bos menganggukkan kepalanya mantap, membuat pria itu gemas dan tak menunggu waktu lebih lama lagi untuknya melanjutkan kata-katanya. “saya memang orang asing di hidup anda, tapi sepertinya anda lupa siapa saya di sini. Saya pembeli, dan bukannya pembeli itu adalah raja?” Ibu bos hanya diam saja, tak merespon apa pun setelah mendengar ucapan itu. Fakta satu itu memang benar adanya. Ya, dia paham akan hal itu. Dia lebih memilih menunggu ucapan pria itu lebih lanjut. “Sepertinya sekarang anda sudah paham dengan maksud saya. Jadi, sebagai pemilik warung makan yang baik tentunya harus mengedepankan kepuasan dan kenyamanan pembeli, bukan? Semuanya sudah jelas, gadis itu membuat saya sangat-sangat tidak nyaman dengan perbuatannya menaruh cicak itu dengan sengaja di piring saya. Saya tidak terima! Dan saya ingin dia dipecat sekarang juga! Di hadapan saya dan semua orang yang melihat kejadian ini,” ucap pria itu final. Fitri tak terima, apa yang dituduhkan pria itu semuanya salah. Dia tidak menaruh cicak itu dengan sengaja di piring itu. Bagaimana bisa dia menaruh cicak di piring itu, kalau faktanya saja dia tak suka cicak. Melihatnya saja membuat dia kegelian, apalagi memengangnya dengan tangannya sendiri kemudian menaruhnya di piring itu? Yang benar saja. “Bu, saya tidak melakukannya, Bu. Itu fitnah! Apa untungnya coba saya menaruh cicak di piring Bapak itu? Saya sendiri saja tidak suka cicak. Lagi pula hari ini adalah hari pertama saya bekerja di sini, dan Ibu sangat tahu betapa saya ingin bekerja di tempat ini. Tak mungkin jika saya malah bertindak bodoh dengan berlaku usil seperti itu yang bisa saja membuat saya dipecat. Saya mohon, Bu, tolong dipertimbangkan lagi. Jangan pecat saya, saya yakin ini pasti hanya salah paham,” ucap Fitri dengan nada memohonnya. “Udah deh, kamu jangan banyak omong! Sekali salah tetap salah. Nggak usah cari-cari alasan. Saya tau kamu dari awal ketemu saya tadi udah nggak suka, kan? Gara-gara saya terlalu fokus dengan gadget, membuat waktu kamu terbuang karena harus mengulang lagi memberitahu saya ada menu apa aja. Stok kesabaran kamu habis gara-gara meladeni saya yang terkadang lebih asyik melihat gadget daripada mendengarkan kamu ngomong, makanya kamu balas dendam dengan menaruh cicak itu di piring saya, kan? Ngaku aja kamu! Rencana kamu udah saya bongkar.” “Bapak laki-laki bibirnya kayak perempuan ya? Cerewet! Bapak yang bilang sendiri lho, kalau Bapak terlalu fokus sama gadget-nya dari tadi. Ya bisa aja kan itu cicak jatuh dari atas, atau datang dari mana, terus nemplok di piring Bapak? Kalo Bapak nggak terlalu fokus sama tu benda pintar kayaknya tu cicak juga mikir-mikir mau nemplok di piring Bapak. Wong muka Bapak nyeremin seperti itu, hahaha,” ucap Wati yang berhasil mengundang tawa para pengunjung lain. “Kamu!” Pria itu menunjuk Wati. “jangan asal bicara kamu!” “Pak, dari awal saya keja di sini, saya belum pernah tuh ngalamin kejadian kayak begini. Kami, para pegawai selalu memprioritaskan kenyamanan pembeli, termasuk kebersihan dan kehigenis-an semua makanannya. Coba Bapak tanyakan kepada para pembeli kami yang lain, bagaimana kami menomorsatukan kepuasan para pembeli! Benar kata Bapak, pembeli adalah raja. Oleh karena itu tak mungkin kami melakukan semua itu. Bener kan Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?” Wati kembali berucap, sambil sesekali memperhatikan ekspresi di sekitarnya. “Iya, seumur-umur saya makan di tempat ini, semua pelayanan selalu baik, kebersihannya juga selalu terjaga.” “Iya, saya juga merasakan seperti itu, Mbak yang Bapak tuduh juga tadi ramah banget melayani kami, saya nggak percaya kalau dia seperti yang Bapak tuduhkan.” “Mungkin memang benar, Pak. Cicak itu jatuh dari atas, terus karena Bapak terlalu fokus sama gadget-nya itu cicak jadinya merayap ke piring Bapak, kali.” “Eh, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, siapa tau Bapak ini adalah orang suruhannya pesaing Bu Fitri lagi, secara Bu Fitri ini kan warung makannya udah tersebar di mana-mana. Jadi bisa aja itu cicak si Bapak itu yang bawa dari luar, terus ditaro di piringnya sendiri. Buat drama deh ujung-ujungnya. Sorry ya, Pak. Kita para pelanggan setia warung makan murah ini nggak percaya sama drama murahan Bapak.” “Iya kali, ada yang syirik itu mah, sabar ya, Bu Fitri.” “Cukup, cukup! Kok jadi malah saya yang disalahin sekarang. Apa-apaan ini!” ucap pria itu tak terima, mendengar para pelanggan yang lain justru lebih memihak sang pemilik warung, dan gadis itu. Padahal kan dia yang jadi korban! “Begini saja, Pak. Saya tidak akan menuduh Bapak macam-macam. Ya, walaupun ucapan Ibu tadi cukup masuk akal juga, mengingat pesaing saya cukup banyak di luaran sana. Bisa aja lho, Pak, saya bawa masalah ini ke pengadilan dengan tuduhan pencemaran nama baik, mengingat Bapak sendiri tidak punya cukup bukti. Bisa saja ini memang keteledoran Bapak atau bahkan mungkin memang ada unsur kesengajaan di sini, seperti yang Ibu itu katakan. Bagaimana kalau saya ganti dengan menu yang baru?” Pria itu kini diam seribu bahasa. Kenapa malah dia yang sekarang terancam akan dipenjarakan? Jika memang si pemilik warung akan membawa masalah ini ke jalur hukum. “Iya, nggak apa-apa kita ganti dengan yang baru. Asal langsung dimakan ya, Pak? Jangan fokus terus sama gadget-nya hahaha. Bukan apa, takut ada cicak nemplok lagi soalnya,” ucap Wati yang kembali membuat semua orang yang ada di sana ikut tertawa mendengar ocehannya. “Iya, jangan kan cicak, Pak, yang nemplok di piringnya. Kebakaran, barang bawaan Bapak dicuri, dan hal buruk lainnya bisa aja terjadi kalau Bapak terlalu asyik sama gadget-nya. Main apa sih, Pak? Sampai serius banget kayak gitu. Itu yaa games online yang lagi hits itu? Kurang-kurangin, Pak! Kasihan nanti istrinya dicuekin terus, hahaha,” ucap Ibu-ibu yang sedari tadi nyinyir, membuat semuanya kembali tertawa. “Nggak usah diganti! Saya pergi saja dari sini. Rasa laper saya juga udah hilang,” ucap pria itu kemudian berlalu pergi, meninggalkan orang-orang yang masih setia berkomentar nyinyir terhadapnya. “Pasti malu banget tuh, si Bapak itu.” “Ya gimana nggak malu, orang niat awalnya nyerang eh malah ujung-ujungnya diserang abis-abisan.” “Tapi ya, terlepas dari semua motif yang ada dibalik masalah ini, gue kasihan tau sama bininya. Pasti dicuekin terus tuh di rumah.” “Iya, ya. Apa jangan-jangan istrinya juga nggak terlalu peduli lagi sama dia?” “Bisa jadi sih, bisa jadi.” “Sudah ya, Bapak-bapak, Ibu-Ibu. Jangan dilanjut lagi! Ini sama saja kita ghibahin orang lho, nggak baik! Ibaratnya kita seperti makan bangkai saudara lho kalo ghibah.” Mendengar celotehan Ibu pemilik warung, orang-orang yang sedari tadi tak henti-hentinya berkomentar nyinyir di belakang itu pun kini bergidik ngeri seraya berkata. “ihhhhhhh.” “Iya, jadi lebih baik distop aja! Banyakin istighfar, minta ampun sama Allah! Silakan dilanjut lagi makan siangnya.” Setelah itu semuanya kembali ke aktivitas mereka masing-masing. “Sial, rencana gue gagal. Oke tenang, baru rencana pertama yang gagal. Tunggu rencana gue selanjutnya!” ucap seseorang seraya melihat Fitri dari jauh. “kali ini, lho boleh selamat, Fit. Tapi lihat besok-besok. Apakah keberuntungan masih berpihak sama lo? Kita lihat nanti!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN