Perlahan tapi pasti, setelah mendengar ceramahan singkat dari Ibu bos, semua orang yang sedari tadi berkumpul itu mulai kembali ke tempatnya semula. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang kegiatan makannya sempat tertunda tadi, mulai melanjutkan kegiatan makannya kembali, begitu pula dengan para pegawai di warung makan itu. Semuanya mulai bubar, kembali menjalankan tugasnya masing-masing.
Fitri kini sedang duduk di salah satu kursi kosong, pandangannya menatap kosong obyek yang ada di depannya, pikirannya melanglang buana, entah memikirkan apa. Tentang kejadian tadi? Mungkin saja iya, karena sedari tadi, sejak kejadian itu terjadi, Fitri diam seribu bahasa. Kecuali, ketika ada pembeli yang datang, ia harus bersikap profesional sebagai seorang pelayan warung makan, melayani semua pembeli dengan ramah dan sopan, tak peduli ia sedang memiliki banyak masalah sekali pun.
Dor,
Tepukan di bahu yang datang secara tiba-tiba, membuat Fitri yang sedang melamun itu pun berjengit kaget. Ia pun melafalkan kalimat istighfar setelah kesadarannya kembali. “Astaghfirullah Al-‘adzim.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Fitri pun mulai mengedarkan matanya, mencari pelaku tak bertanggung jawab yang berhasil membuatnya kaget luar biasa.
Fitri menatap ke depannya tapi kosong, ia tak menemukan siapa-siapa. Kemudian mulai mengedarkan pandangan matanya ke samping kanan dan samping kirinya, tapi hasilnya tetap sama. Nihil! Hanya satu kemungkinan terbesar di mana si pelaku itu berada, di belakangnya. Kalau ternyata tidak ada juga bagaimana? Jangan-jangan yang menepuk bahunya adalah hantu. Oh tidak, memikirkannya saja membuat Fitri jadi merinding saat ini, apalagi jika ia harus melihatnya? Bisa-bisa Fitri langsung pingsan saat itu juga.
Fitri mulai membalikkan tubuhnya takut-takut ke arah belakang, dengan matanya yang terpejam kuat, dan bibirnya yang bergumam, mulai menghitung dari angka satu sampai tiga, kemudian ia akan membuka matanya saat ia telah mengucapkan kata tiga.
“Satu, dua, tiga,” Fitri mulai membuka matanya perlahan, kemudian memelototkan matanya saat tahu siapa yang telah berhasil mengagetkannya itu. “Wati! Jahat banget sih kamu! Aku takut banget lho tadi pas nengok depan, kanan, kiri, ternyata nggak ada orang sama sekali. Aku kira siapa gitu.”
“Kamu ngiranya hantu ya? hahaha, Fitri, Fitri. Hari gini masih takut aja sama hantu. Lagi pula mana ada hantu yang nongol di saat matahari masih bersinar? Ada-ada aja kamu! Kenapa sih? Kok aku perhatiin dari tadi kamu kerjaannya melamun terus, karena soal tadi? Kan udah clear,Fit. Nggak usah dipikirin lagi lah buang-buang waktu aja.”
“Atau kamu punya masalah lain, kayak pacar gitu? Cerita aja sama aku! Ups, atau jangan-jangan kamu masih jomblo ya? gara-gara itu? Kamu tenang aja kalau soal itu, aku punya temen laki-laki lumayan banyak lho, adalah beberapa yang oke bahkan cocok banget deh kalo sama kamu. Mau nggak aku bantu deketin kamu sama mereka?” ucap Wati panjang lebar, karena rasa penasarannya yang teramat besar itu.
“Pelan-pelan dong, Wat, kalau ngomong. Kayak kereta api aja tau nggak? Panjang banget. Nafas apa nafas!” Mendengar komentar Fitri, Wati hanya bisa memamerkan deretan giginya yang putih bersih itu. “bukan apa-apa, aku cuma kepikiran aja soal tadi. Emang sih masalahnya udah beres, tapi aka ngerasa nggak enak aja sama Ibu bos. Gara-gara aku semuanya jadi ribut, warung makannya hampir aja tercemar. Untung aja nggak ada yang ngerekam kejadian tadi, kalo ada behhh masalah ini aku yakin deh bakal viral. Terus kenapa ya sekarang si Ibu bos kayak yang ngediemin aku setelah kejadian tadi, nyesel kali ya udah nerima aku kerja di sini?”
“Udah, biasa aja! Dalam berbisnis itu emang ada-ada aja cobaannya, apalagi kalau banyak pesaingnya beh pasti bakal ribet terus deh. Oh ya, ngomong-ngomong soal Ibu bos, beliau emang kayak gitu kalau lagi ada banyak pikiran, lebih memilih untuk diam. Mungkin lagi mikirin siapa pesaingnya yang tega berbuat seperti itu kali.”
“Semoga saja memang bukan karena menyesal udah nerima aku kerja deh, asli aku nggak enak banget sama Ibu bos, beliau udah banyak bantu aku soalnya. Tapi kamu yakin, Wat? Itu semua ulah pesaingnya Ibu bos? Bukan karena yang lain?”
“Ya nggak tau juga sih, tapi itu kemungkinan paling besar sih menurut aku. Udah ah, aku mau balik ke tempat aku lagi, nanti Ibu bos bener-bener marah lagi ngeliat kita ngobrol-ngobrol santai begini bukannya kerja. Bye,” ucap Wati mengakhiri percakapan mereka, kemudian keduanya kembali fokus terhadap pekerjaannya. Wati yang kembali stand by di dekat etalase, dan Fitri yang kembali fokus terhadap tugasnya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu.
Di lain tempat, di dapur yang cukup luas itu, terlihat dua orang perempuan yang sedang asyik dengan tugasnya, memasak menu yang sudah hampir habis di etalase depan sama.
“Eh, Sis. Jangan-jangan kejadian tadi itu ulah kamu ya?” ucap Jenny seraya menatap wajah Siska penasaran, yang ditatap hanya menatapnya sekilas. “sesuai dengan dugaan kamu, Jen.”
Mendengar jawaban itu, Jenny langsung menghela nafasnya kasar, kemudiam kembali melanjutkan percakapan mereka. “Kalau saran gue lo mendingan stop aja deh, Sis, ngejalani rencana jahat lo itu! Nggak main-main lho ternyata Ibu bos nanggepinnya, sampai mau bawa-bawa polisi lagi, untung aja nggak jadi, bisa panjang tuh ceritanya,” ucap Jenny, berusaha menasehati dan juga mengingatkan Siska untuk berhenti dengan tanpa terkesan menggurui, sebelum rencana jahat Siska semakin jauh dan melebar.
Sebenarnya Jenny hanya kasihan saja terhadap Siska, ia takut rencana jahat Siska itu justru malah jadi mala petaka buat diri Siska sendiri, bukannya berhasil membuat Fitri dipecat, malah nanti ujungnya Siska lagi yang dipecat. Kan nggak lucu ya? Kalau kata orang, kemakan omongan sendiri. Dia yang ngerencanain itu semua matang-matang, malah dia yang kena getahnya. Sangat-sangat tidak lucu, bukan?
“Nggak usah ikut campur urusan orang! Gue udah pikirin ini mateng-mateng, tekad gue juga udah bulet buat si Fitri itu keluar dari sini. Kalo lo nggak mau bantuin gue ya udah, lo mending diem aja! Nggak usah ikut campur! Dan jangan berani cari gara-gara! Lo orang pertama yang bakal gue cari kalo rencana gue ini terbongkar ya,” ucap Siska pelan, namun sarat akan keseriusannya, membuat Jenny yang sedari tadi mendengar ucapannya hanya berani menganggukkan kepalanya. Jenny mulai takut terhadap Siska saat ini. Tapi tidak sepenuhnya karena Jenny yakin, teman dekatnya itu hanya dikuasai oleh amarah. Jenny percaya Siskanya lambat laun akan kembali seperti dulu, Siska yang selalu baik terhadap semua orang, Siska teman terbaiknya dalam segala hal.
“Ya udah, terserah lo aja, yang penting gue udah berusaha buat ngingetin lo,” ucap Jenny pasrah seraya menepuk pelan pundak Siska, kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan depan, karena masakan yang ia buat telah selesai, dan siap untuk dihidangkan di etalase kaca, di depan sana.
**********
Fitri benar-benar mengikuti ucapan Wati sore tadi, ucapan yang lebih Fitri artikan sebagai sebuah saran, bukan hanya sebuah bualan belaka. Ya, setelah obrolan singkatnya dengan Wati, Fitri tak lagi mengambil pusing kejadian tadi siang, kejadian yang membuat dirinya merasa bersalah kepada sang Ibu bos. Menurutnya, mungkin memang benar ada pesaing Ibu bos yang dengan tega ingin mencemarkan nama baik warung makan murah itu dengan jalan mengutus pria itu untuk membuat kegaduhan di warung makan, melalui rencana cicak yang nemplok di piringnya.
Taktik yang sangat sepele tapi bisa berimbas besar jika tak disikapi dengan baik. Seperti nama warung makan murah akan tercemar, pelanggan kabur, warung makan murah akan gulung tikar berikut dengan para pegawainya yang kehilangan mata pencaharian, dan kejadian itu mendadak viral. Mengerikan sekali, bukan? Untunglah Wati dan Ibu bos berhasil mengatasi kejadian itu dengan baik, dibantu oleh para pelanggan nyinyir yang sangat mempercayai kualitas pelayanan warung makan murah itu, kegaduhan yang awalnya akan berimbas buruk pun dapat teratasi dengan baik.
Fitri yang selalu tersenyum kembali hadir, ia kembali melayani para pembeli dengan ramah dan sopan sesuai dengan tugasnya, tanpa diganggu lagi oleh segala pemikiran buruk yang memenuhi pikirannya, yang bisa membuat mood baiknya berubah drastis menjadi buruk.
Tepat pukul sembilan malam warung makan murah itu tutup. Para pegawai mulai meninggalkan warung makan itu, berikut juga Fitri yang kini tersenyum dengan sangat lebar dan cerahnya meinggalkan area warung makan. Pasalnya, ia berniat untuk membuat kesepakatan dengan Ibu bos, berhubung dia tidak memiliki uang sepeser pun, Fitri ingin meminta Ibu bos untuk membayar gajinya perhari saja, karena Fitri tak punya simpanan uang untuk biaya makannya sehari-hari. Tapi mengetahui fakta bahwa semua pegawai di warung makan itu selalu dibekali dengan makanan setiap pulang kerjanya oleh sang Ibu bos, Fitri pun mengurungkan niat awalnya. Biarlah gajinya ia terima perbulan saja, yang terpenting baginya setiap harinya dia bisa makan.
Sesuai dengan kesepakatan Fitri dengan Tio dan Bella tadi pagi, mereka bertiga akan kembali bertemu di daerah pertokoan yang telah tutup itu, tempat ketiganya juga anak-anak jalanan lain mengistirahatkan tubuhnya semalaman. Dari jarak sekian meter, Fitri bisa melihat ekspresi bahagia Tio dan Bella yang sangat bahagia dengan senyuman lebar mereka ketika melihat kemunculan Fitri. Fitri tebak, sepertinya sedari tadi mereka berdua ini sudah menunggu kedatangan Fitri.
“Hai, kalian pasti udah nunggu lama, ya?” ucap Fitri setelah sampai di hadapan mereka seraya mengusap puncak kepala Tio dan Bella bergantian.
“He’em. Kakak kok lamat banget sih, dari mana aja seharian ini?” ucap Bella dengan nada merajuknya yang membuat Fitri gemas.
“Hehehe, maaf ya udah buat kalian jadi nunggu lama. Kakak hari ini mulai kerja di warung makan, jadi jam segini baru pulang deh, nih liat Kakak bawa apa?” ucap Fitri kemudian memperlihatkan kantong kresek berwarna hitam di hadapan Tio dan Bella. “makanan enak.”
“Yey, hari ini kita bisa makan enak lagi, padahal Tio mau ajak Kakak cari makan lho sekarang, Tio dapet uang banyak hari ini.”
“Wah, bagus dong. Nggak apa-apa uangnya kamu simpen aja buat besok kita sarapan, sama buat simpanan kamu untuk keperluan mendesak. Oh ya, In syaa Allah setiap pulang kerja Kakak akan bawa makanan buat makan malam kita, jadi mulai hari ini sampai besok-besok kita nggak harus beli makan malam lagi.”
“Kalo gitu Kakak aja ya yang pegang? Kalo sama Tio takut hilang.”
“Bukan takut hilang, Kak. Tapi takut dipakai jajan es ya? Hahaha.”
“Kamu ini! Kalo kakak jajan es juga kamu minta, malah godain Kakak sekarang. Oh ya, Kak, kok bisa gitu sih? Kakak digajinya per hari?”
“Bukan, tapi setiap pulang kerja kita dibekali makanan yang masih sisa di etalasi oleh Ibu bos, karena kan setiap harinya kita masak baru untuk kepuasan pelanggan. Ya, meskipun nanti dapetnya bakal nggak tentu ya, mengikuti stok makanan yang tersedia, yang kadang bisa jadi aja kita nggak dapet jatah kalau makanannya udah ludes semua. Tapi ya disyukuri aja karena bisa dapet makanan gratis, hehe. Yuk kita cuci tangan dulu, abis itu makan deh. Pasti udah pada lapar kan?” Tio dan Bella pun mengangguk penuh antusias, kemudian mulai menjalankan perintah dari Fitri dengan senang hati.