Part 23

1787 Kata
Sudah menjadi rutinitas rutin bagi Fitri, Tio, dan Bella, untuk bangun pagi-pagi, melangkahkan kaki mereka menuju masjid terdekat untuk menunaikan kewajiban mereka bertiga sebagai umat muslim, melaksanakan ibadah shalat subuh. Fitri dan dua orang Kakak beradik itu mulai melangkahkan kaki mereka keluar dari pelataran masjid dengan keadaan yang lebih segar dari sebelumnya, setelah ketiganya tadi menumpang sebentar di kamar mandi masjid untuk membersihkan diri. “Seger ya, airnya dingin banget kayak air es,” celoteh Bella seraya melirik Fitri dan Tio di sebelah kanan dan di sebelah kirinya. “Iya, seger banget. Tapi besok-besok kalo kita udah punya uang yang lumayan banyak kita mandinya di kamar mandi umum aja ya? Yang bayar itu. Emang nggak dimarahin sih sama pihak masjidnya kalo kita membersihkan diri di masjid, tapi nggak enak aja kalo harus numpang setiap hari,” ucap Fitri seraya tersenyum hangat ke arah mereka berdua. “Iya, Kak. Aku juga kadang nggak enak kalo harus setiap hari. Kan sekarang kita udah punya simpenan uang nih dikit-dikit, jadi bisa lah kalo buat mandi di kamar mandi umum, ntar aku minta sama Abang penjaganya buat dimurahin deh hehe, kebetulah Tio deket sih sama Abangnya, dulu juga Abangnya pernah bilang kalo mau mandi nggak apa-apa di sana aja, gratis, tapi ya Tio ya nggak enak lah kan kita sama-sama butuh uang. Kalo minta korting mah nggak apa-apa kali ya? Hehe.” “Tio, Tio. Kamu ada-ada aja! Iya, nggak apa-apa, setidaknya kita masih ngasih uang sama dia, nggak bener-bener gratis, hehe. Sebagai orang yang sama-sama butuh uang, kita juga harus memikirkan mereka, ya walaupun dia sendiri yang menawarkan gratis tapi tetep aja, kita juga punya hati. Kita susah karena nggak ada uang, dia juga sama. Jadi harus sama-sama saling bantu dan menghargai.” “Wah, Kakak bijak sekali.” Bella menatap Fitri dengan mata berbinarnya, kemudian mengacungkan kedua jempolnya. “betul, betul, betul,” ucap Bella menirukan suara dan dialog kartun favoritnya sejak kecil, membuat Fitri dan Tio pun tertawa melihat tingkah lucu Bella yang sangat menggemaskan itu. Fitri, Tio, dan Bella, memiliki pola didikan yang sama dari orang tua mereka masing-masing sejak mereka bertiga masih kecil. Ketiganya sama-sama dididik oleh orang tua mereka untuk tidak bermental pengemis, walau keadaan mereka pun bisa dibilang orang yang sangat membutuhkan juga. Kata orang tua mereka, lebih baik bekerja keras sampai keringat bercucuran, daripada mengemis, meminta belas kasihan kepada orang lain, padahal sebenarnya masih mampu untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Akan lebih terasa berkahnya, dan lebih membahagiakan serta lebih nikmat rasanya saat mendapatkannya, karena perjuangan besar yang dilalui untuk mendapatkan hasilnya. Bukan berarti Fitri, Tio, Bella, dan kedua orang tua mereka masing-masing menganggap yang tidak-tidak soal pengemis. Tidak! Bukan seperti itu! Bagi mereka mengemis juga pekerjaan yang baik, selama cara mendapatkan uangnya benar dan halal. Tidak menipu, berbohong, dan memaksa. Semua orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing, semua orang berhak memilih pekerjaan sesuka hati mereka, selama masih di dalam jalur yang positif. Halal, dan tidak merugikan orang lain. Mereka bertiga juga dididik untuk selalu menghargai orang lain dan saling membantu terhadap sesama, tidak peduli mereka yang lebih tua ataupun yang lebih muda, karena semuanya adalah sama. Jadi ketika mereka mengetahui ada orang yang sama kekurangannya dengan mereka tapi tetap memberinya bantuan walau keadaan aslinya juga sulit, mereka dengan senang hati akan balik membantu mereka juga. “Makan apa kita hari ini?” tanya Fitri seraya melirik kanan kirinya yang mulai tampak berpikir keras. “Hm, gorengan lagi aja deh, Kak. Kita kan harus hemat,” jawab Tio seraya tersenyum manis ke arah Fitri, lalu Fitri pun mengusap rambut Tio yang masih tampak basah itu. “Anak pinter. Semoga nanti malam Kakak dapat bekalnya makanan enak ya supaya malam ini kita bisa ngerasain lagi makanan yang enak.” “Aamiin. Let’s go!” mereka pun kembali melangkahkan kaki mereka menuju penjual gorengan murah di pasar terdekat. Pukul enam lewat tiga puluh menit, Fitri melangkahkan kakinya menuju warung makan murah, tempatnya untuk bekerja, sesuai dengan yang dijeskan Wati kemarin pagi kepadanya, mengenai kapan ia harus sudah sampai di warung makan itu. Hal pertama yang Fitri lakukan saat pertama kali datang di warung makan adalah mengganti bajunya dengan seragam pelayan, kemudian berbagi tugas dengan para pekerja lainnya. Siska dan Jenny yang paling berbakat di antara mereka soal memasak, bertugas untuk memasak dan mengurus urusan dapur lainnya di dapur. Sedangkan Fitri, Wati, dan dua orang pekerja lain yang merupakan laki-laki, bertugas untuk menyapu, mengepel, membersihkan etalase, meja-meja dan kursi-kursi, serta merapikan ruangan yang cukup besar itu untuk menjamu para pembeli. Bagi mereka semua, kepuasan juga kenyamanan para pembeli dan pelanggan setia adalah nomor satu, sebagaimana orang-orang sering berkata bahwa pembeli adalah raja. Tepat pukul delapan pagi, warung makan murah itu telah siap untuk dibuka, dan mereka pun sangat siap untuk menyambut kedatangan para pembeli dan pelanggan setia. Satu per satu kursi kayu yang kuat lagi antik itu mulai diduduki oleh para pembeli yang lebih memilih untuk memakan pesanan makanannya di tempat, ketimbang dibungkus untuk dibawa ke tempat mereka bekerja. Kebanyakan para pembeli dan pelanggan setia warung makan murah tempat Fitri bekerja berasal dari para buruh harian yang sedang menyelesaikan proyek pembangunan, para pekerja kantoran yang tak sempat menyiapkan bekal, juga para mahasiswa dan mahasiswi yang tak sempat untuk sarapan pagi di rumah atau di kost-an mereka. Selain harga, rasa, juga kualitas pelayanan, tempat yang strategis dan mudah dijangkau karena lokasinya yang berada di pinggir jalan, membuat warung makan murah itu selalu ramai setiap harinya, terlebih di hari-hari kerja seperti hari ini. Bunyi decitan pintu yang menandakan datangnya pembeli baru, membuat Fitri yang sedang duduk beristirahat itu pun bergegas berdiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju sang pembeli. “Selamat pagi, Bu. Selamat datang di warung makan murah. Harga murah, makanan mewah. Rasa pas, anda puas. Perut anda kenyang, kami pun senang. Mau pesan apa, Bu?” ucap Fitri, menyapa pembelinya dengan sangat ramah dan sopan, lengkap dengan menyebutkan jargon warung makan murah yang sangat panjang itu. Sepertinya mood-nya sedang sangat-sangat baik hari ini, terlihat dari senyumannya yang sangat manis dan memesona, serta pembawaannya yang terlihat sangat ceria hari ini. Semoga saja tidak ada yang berniat buruk untuk menghancurkan mood baik Fitri. Semoga saja! Ibu-ibu yang disapa dengan sangat ramah dan sopannya itu oleh Fitri, mendongakan kepalanya menatap lekat ke arah Fitri, kemudian memberikan senyuman terbaiknya. “Cantik,” gumamnya tanpa sadar. Fitri mengeryitkan keningnya heran, ditanya mau pesan apa kenapa jawabannya malah cantik? Fitri pikir, apakah cantik itu menu makanan yang ia tidak ketahui di warung makan ini? Tak ingin membuat Ibu itu menunggu lebih lama, Fitri pun kembali bertanya. “Maaf, Bu, tadi Ibu pesan apa ya? Saya sepertinya tadi salah dengar.” Ibu itu tersenyum. “Tidak, tidak. Saya tadi memang belum sempat menyebutkan pesanan saya. Ucapan saya barusan itu memang benar, kamu tidak salah dengar. Hmm, menunya ada apa saja ya? Saya baru pertama kali ke sini soalnya.” Mendengarkan penjelasan Ibu itu, wajah Fitri bersemu merah. “Jadi Ibu itu tadi beneran muji aku? Aku cantik? Oh my God, Ibu itu orang pertama yang bilang aku cantik selain keluargaku,” ucap Fitri dalam hati. “Ekhem, menunya beragam, Bu. Ada daging rendang, ayam goreng dan ayam bakar, opor ayam, telur balado, ikan gurame bakar dan ikan gurame goreng, cumi saus lada hitam, cumi saus tiram, cumi saus teriyaki dan berbagai menu enak dan mewah lainnya. Oh ya, tidak hanya menu enak dan mewah, warung makan murah ini pun menyediakan berbagai menu sederhana dengan rasanya yang tak kalah enak dan mewah lainnya. Ibu bisa melihat bagaimana menggiurkannya semua menu kami dari etalase kaca yang bertengger cantik di depan sana.” ucap Fitri panjak lebar, kemudian diakhiri dengan gerakan jempolnya, menunjuk sopan etalase kaca yang bertengger cantik di depan sana. “Banyak juga ya ternyata menunya, sepertinya rasanya juga enak-enak. Saya pesan ikan gurame bakar, tempe goreng sama tahu goreng ya. sambalnya juga ada kan?” “Ada, Bu. Lalapan juga ada, mau pesan sekalian, Bu?” Ibu itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. “Baik, saya catat ya, minumnya mau apa, Bu?” “Jus alpukat, ada?” “Ada, Bu. Kalau begitu saya siapkan pesanan Ibu dulu ya, mohon ditunggu sebentar.” Fitri pun pamit undur diri dari hadapan Ibu itu, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang menu, menunggu pesanan pembelinya disiapkan oleh Wati. Di dapur... Siska sedang mondar-mandir tak jelas, seraya menunggu kukusannya matang. “Sis, daripada mondar-mandir nggak jelas gitu mending ke pasar gih! Disuruh Ibu bos beli daging segar tambahan buat pesanan Ibu-Ibu arisan, stok di sini udah mau abis soalnya,” ucap Jenny yang baru saja datang dari ruangan Ibu bos. Siska melirik tak suka ke arah Jenny, lalu menghela nafasnya kasar. Harus dia banget, ya? “Lu aja deh, Jen! Nggak liat apa? Gue sekarang lagi nunggu kukusan mateng?” Jenny berjalan menghampiri Siska, seraya merogoh beberapa lembar uang seratus ribuan dari saku celananya. “Nggak bisa, Siska! Gue udah dapet tugas baru dari Ibu bos. Harus lu yang beli pokoknya! Tenang, kukusan itu biar gue aja yang jagain. Udah sana pergi! Sebelum Ibu bos marah lho.” Mendengar itu Siska menghentak-hentakkan kakinya ke lantai beberapa kali. Lupa kah Jenny bahwa Siska sedang menjalankan misinya untuk mendepak Fitri dari warung makan ini? Kalau ia harus ke pasar, bagaimana bisa ia menjalankan misinya itu? Tak ingin membuang-buang waktu, Siska pun dengan segera mengambil uang itu, kemudian berjalan meninggalkan dapur dengan wajah masamnya. Ia kesal! Fix sudah, rencananya untuk menjalankan misi itu harus ia tunda saat ini. “Ini, Bu, pesanannya. Selamat menikmati,” ucap Fitri lembut, mempersilakan Ibu pembeli itu untuk memulai kegiatan makannya. Ibu itu pun mengangguk. “Wah, kelihatannya enak sekali ini. Warung makan ala restoran mewah ya ceritanya?” Fitri menganggukkan kepalanya tanda setuju. Meskipun namanya warung makan murah, tapi dari segi rasa, penyajian di piring atau yang lebih dikenal dengan seni platting, dan dari segi kualitas, warung makan ini bisa diadukan dengan restoran-restoran mewah sana yang bahkan harga satu menunya saja bisa menguras isi dompet. “Terima kasih, gadis cantik,” ucapnya seraya menatap Fitri dengan tatapan hangatnya, yang berhasil menerbitkan semu merah kembali di wajah cantik Fitri. “Cantik, cantik. Cantik dari mananya coba? Wajah polos nggak di make up kayak gadis kampungan gitu dibilang cantik. Gue nih yang dandan ala-ala gadis Korea yang harusnya dibilang cantik. Emang aneh itu Ibu-Ibu,” ucap Siska mendumel tak jelas, dengan wajahnya yang semakin terlihat masam, yang secara kebetulan mendengar pujian Ibu pembeli itu ketika dirinya berjalan ke arah luar untuk pergi ke pasar. “Lo saat ini masih boleh tersenyum manis dengan semu merah di pipi yang sangat menggelikkan itu, Fitri! Tapi nanti, jangan harap! Tunggu misi gue selanjutnya!” lanjutnya, yang kini benar-benar telah menginjakkan kakinya di halaman depan warung makan. Kira-kira apa ya misi Siska selanjutnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN