Tak terasa hari ini adalah hari ketiga Fitri bekerja sebagai pelayan di warung makan murah. Warung makan yang menurutnya lebih cocok disebut sebagai cafe atau restoran daripada warung makan. Dilihat dari banyaknya menu makanan, rasanya yang juara, penyajian di piring yang sangat berkelas, pelayanan yang memuaskan, serta ruangannya yang cukup luas. Semua itu sangat jauh dari kesan warung makan, dan mungkin saja orang-orang yang pertama kali datang, dan tidak tahu nama tempat makan itu yang sebenarnya, mereka akan menganggapnya sebagai cafe atau restoran, ketimbang menganggapnya sebagai warung makan.
Pernah suatu waktu, ketika waktu istirahat tiba, Fitri berbincang-bincang dengan Wati, seraya membersihkan meja dan kursi-kursi di ruangan itu. Fitri bertanya kenapa Ibu bos menamai tempat makan ini dengan nama warung makan murah. Lebih memilih nama itu dari pada cafe atau restoran. Katanya, Ibu bos menginginkan nama yang sederhana dan merakyat, namun tetap menyuguhkan hasil yang mewah dan berkualitas. Mungkin istilah yang sering kita sebutkan untuk tempat-tempat seperti warung makan murah ini adalah nama tempat kaki lima, namun kualitas bintang lima. Ya, bisa dibilang seperti itu, walau sebenarnya tempatnya juga tak kalah bedanya dengan cafe atau restoran yang berdesain unik dan klasik.
Selain itu, latar belakang Ibu bos yang memang berasal dari kalangan menengah ke bawah, membuatnya bercita-cita untuk membangun rumah makan yang berkelas, dengan varian menu yang beragam dan lengkap, namun menyajikannya dengan harga yang relatif murah. Harapannya tidak banyak, Ibu bos ingin agar semua orang, semua kalangan, dapat mencicipi menu rumah makan-nya. Tidak terbatas untuk kalangan atas saja, tapi mereka-mereka yang berada di kalangan bawah pun dapat merasakan beragam menu enak dan mewah, merasakan bagaimana rasanya makan seoalah-olah mereka sedang berada di cafe atau restoran, mengingat semua kualitas dan pelayanan yang disuguhkan, tapi dengan harga yang pas di kantong. Dan terpilihlah nama warung makan murah untuk menjadi nama tempat makan ini.
Sedang asyik membersihkan meja-meja dan kursi-kursi di area tempat makan seraya menyenandungkan sebuah lagu, kedatangan Ibu bos yang tak biasa seperti sedang dilanda kepanikan yang luar biasa, membuat kegiatan Fitri saat ini terusik.
Penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang Ibu bos, Fitri memanggilnya cukup lantang, sebelum sang Ibu bos masuk ke ruangannya. “Ibu bos? Ada apa? Kenapa Ibu terlihat seperti sedang panik saat ini?” tanyanya hati-hati.
“Fitri? Saya kira tidak ada orang di sini.” Tuh kan, benar! Ibu bos sepertinya sedang memikirkan banyak hal sehingga keberadaan Fitri di ruangan itu tak disadari oleh beliau.
“Saya sejak tadi berada di sini, Bu,” cicit Fitri pelan, seraya tersenyum manis.
“Yang lain pada di mana, Fit?”
“Ada apa, Ibu bos? Kenapa kalian seperti orang yang sedang kebingungan? Ada yang bisa saya bantu?” Belum sempat Fitri menjawab, Roy yang tiba-tiba datang dari arah luar, menghampiri mereka berdua yang sepertinya sedang berada dalam kebingungan, kemudian langsung mengutarakan pertanyaan yang tiba-tiba hadir di benaknya. Ada apa?
“Duh, Roy. Kamu mah nggak peka jadi orang! Dasar laki-laki! Bukan kebingungan lagi ini mah! Saya benar-benar sedang panik saat ini. Bagaimana ini ya? Aduh, suka mendadak sih kalau bikin acara,” ucap Ibu bos marah-marah tak jelas, membuat dua orang di depannya saat ini semakin dilanda kebingungan. Apalagi Roy yang baru saja muncul, langsung mendapatkan cibiran dengan kata-kata tidak peka.
“Memangnya kita adalah sepasang kekasih, Ibu bos? Sehingga saya harus peka sama Ibu bos? Pake nyalahin golongan laki-laki lagi. Gue yakin Fitri yang perempuan aja bingung sama tingkah Ibu bos saat ini yang bisa dibilang cukup aneh. Sabar, Roy! Perempuan, apalagi udah jadi Ibu bos mah bebas. Yang cuma remahan rengginang mah nurut aja deh daripada dipecat. Hiya hiya hiya,” ucap Roy dalam hati.
“Memangnya ada apa, Bu? Apa yang terjadi?”
“Tuh, Roy! Jadi orang tuh yang peka kayak Fitri. Nanyain ada apa? Apa yang terjadi? Dasar ya laki-laki! Emang nggak ada peka-pekanya!” Mendengar itu Roy hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, tanda mengerti. “Lah, perasaan tadi gue juga nanya ada apa dah? Kenapa malah disemprot nggak peka? Oke, oke. Iyain aja dah biar seneng. Bos mah emang bebas! Remahan rengginang kayak gue bisa apa sih? Harus nurut, kan?,” batin Roy kembali berucap.
“Ibu tuh bingung sekarang, temen-temen arisan Ibu pengen ngadain arisannya di tempat ini. Padahal niat awalnya di rumah Ibu Weni. Gimana ya? mana menunya request lagi. Pusing ibu jadinya. Mau nolak nggak bisa, mereka maksa-maksa terus. Diterima ya bikin ribet dan pusing jadinya. Dasar ya emak-emak emang banyak maunya, suka aneh!” Fitri dan Roy saling bertatapan mendengar ocehan itu.
“Tuh, kan. Tadi nyalahin laki-laki katanya nggak peka. Sekarang nyalahin emak-emak katanya banyak maunya. Wkwk, iya, Ibu bos juga banyak maunya, suka aneh juga. Wkwk, Ibu bos, Ibu bos. Padahal Ibu bos sendiri juga udah masuk itungan emak-emak. Hehehe,” Roy kembali berucap dalam hati.
“Memangnya acara arisannya kapan, Bu?” tanya Fitri mencoba mencari solusi. Lebih baik cari solusi Daripada rempong tidak jelas, bukan?
“Hari ini jam sepuluh pagi.”
“Berapa orang, Bu?”
“Cukup banyak sih, sekitar lima belas orang. Dan pesanannya itu lho, aneh-aneh. Bingung deh, menu makanan di warung makan kita udah bejibun masih aja cari yang nggak ada, padahal tinggal milih doang.”
“Jam sepuluh pagi? Lima belas orang dan pesanan yang aneh-aneh? Perpaduan macam apa itu? Sekarang udah mau jam delapan pagi, Bu. Kalau acara jam sepuluh, setidaknya jam setengah sepuluh makanan harus sudah ready, jadi nanti tinggal penyajian di piring aja. Tapi emang bisa? Belum lagi harus beli bahan makanannya, kan? Karena kan pesanannya nggak ada di menu,” cerocos Roy panjang lebar, yang sepertinya sedang lupa daratan. Sudah tahu sedari tadi sang Ibu bos tingkat emosinya tak beraturan. Labil seperti remaja yang baru saja puber! Kenapa memilih kalimat-kalimat itu untuk diucapkan? Kenapa tidak seperti Fitri yang selalu pandai dalam merangkai kata? Kenapa tidak memilih kalimat-kalimat yang singkat dan enak didengar saja?
“Nggak kamu jelasin juga saya udah tau, Roy. Bikin saya tambah pusing aja kamu! Yang saya butuhin sekarang itu solusi, ide, kamu tahu kan solusi dan ide itu maksudnya apa?” Roy menganggukkan kepalanya beberapa kali. Solusi? Ide? Roy jelas tahu lah! Memangnya dia masih anak TK? Sudah cocok punya anak begini masa belum paham arti solusi dan ide, Ibu bos memang suka bercanda ya?
“Bagus. Kalau kamu sudah paham apa itu solusi dan ide tunggu apalagi?” Roy mengernyitkan keningnya heran. “maksudnya apa, Bu?”
“Kasih saya solusi dong! Malah nanya lagi, dasar laki-laki tuh ya, emang nggak ada yang peka!” gerutu Ibu bos seraya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
“Ibu masih punya suami, kan? Nggak lagi sendiri?” Ibu bos menaruh kedua tangannya di pinggang kemudian menatap Roy dengan tatapan menantangnya. “maksud kamu apa ngomong kayak gitu? Nyumpahin saya? Nyumpahin suami saya? Saya ya masih punya suami lah! Emang kamu? Jomblo menahun!”
Jleb
“Si Ibu bos kalo ngomong suka bener ya. Tapi ya nggak usah dideklarasiin bisa kali? Nggak ngerti deh gue, dari tadi perasaan hobinya nyinyirin gue terus,” dumel Roy dalam hati.
“bu-bukan gitu, Bu, maksud saya. Lagian si Ibu, dari tadi nyalahin laki-laki terus. Bilangnya laki-laki nggak peka! Nggak peka! Kayak yang benci gitu sama yang namanya laki-laki. Padahal kan suami Ibu juga laki-laki,” cicit Roy pelan, seraya menundukkan kepalanya, hanya berani menatap putihnya warna keramik yang ia injak, tak berani menatap wajah sang Ibu bos yang sudah ia pastikan sedang menatapnya dengan tatapan tergarangnya.
“Kamu itu! Udah, udah. Saya bukan pengangguran! Saya nggak punya waktu buat terus ngeladenin kamu. Bisa-bisa tekanan darah saya naik ini kalau terus ngeladenin kamu. Sekarang kamu kumpulin semua pegawai di ruangan saya! Satu lagi, tutup pintu masuk dan ganti papan pengumuman di depan jadi tutup untuk sementara. Dalam tujuh menit semua pegawai nggak kumpul diruangan saya, gaji kamu saya potong!” ucap Ibu bos tanpa ingin dibantah, terlihat dari langkah kakinya yang mulai meninggalkan Fitri dan Roy menuju ruangannya.
“Fit, hari ini gue kenapa ya?” Fitri mengangkat sebelah alisnya ke atas. “maksud kamu, Roy?”
“Gue bener-bener bingung deh. Ada apa dengan hari ini? Kenapa gue ngerasa sial banget ya? Masa baru pagi-pagi begini udah kena semprot Ibu bos, gimana ntar siang atau sore? Apes banget dah gue,” ucap Roy seraya mengusapkan tangan kanannya ke wajahnya.
“Udah sana! Kumpulin pegawai ke ruangan Ibu bos! Waktu terus berjalan lho, soal pintu dan papan pengumuman biar aku aja yang urus.” Ucap Fitri seraya menggerakkan kedua tangannya ke arah Roy, mengusir laki-laki itu agar segera menjalankan tugasnya.
“Ah, lu sweet banget deh, Fit, sama gue. Jangan keseringan ya!” Fitri kembali mengangkat sebelah alisnya. “kenapa emangnya?”
“Udah, jangan keseringan deh pokoknya! Takut gue jadi baper soalnya.” Ucap Roy seraya senyum-senyum tak jelas ke arah Fitri.
Mendengar ucapan itu, kedua alis Fitri terangkat. “Ih, geli tau, Roy. Udah sana! Tinggal dua menit lagi tau.”
“Dah, kocak! Orang mah dibilang gitu sama laki-laki jadi baper, lu malah geli, Fit. Lebay lu! Palingan juga baru dua menit, gue masih punya waktu lima menit tau. Bye! Thanks ya,” ucap Roy diakhiri dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Fitri, kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah dapur, mencari keberadaan para pegawai yang lain.