Part 29

1975 Kata
Fitri melangkahkan kakinya menuju warung makan murah, tempatnya mencari rezeki, dengan perasaan riang dan gembira. Bagaimana tidak? Hari ini ia berangkat kerja dengan menggunakan pakaian baru. Kaos panjang bermotif floral yang dipadupadankan dengan celana katun berwarna hitam. Penampilan baru Fitri yang sangat memukau dibandingkan dengan hari-hari biasanya yang hanya memakai kaos panjang kebesaran dan celana lusuh, atau kaos pendek dengan rok selutut yang entah punya siapa karena ia dapatkan baju-baju itu dari Tio. Katanya sih anak kecil itu dapatkan saat ada pembagian baju-baju bekas di pinggir jalan kepada para pemulung dan anak-anak jalanan. Tio sengaja memintakan baju, celana, dan rok itu khusus untuknya. So sweet sekali kan anak kecil itu kepadanya? Di saat ‘ku terjatuh, semua menghilang Di saat ‘ku terluka, kamu di mana? Oh Di saat ‘ku bahagia, semua mendekat Di saat ‘ku berada, kamu setia Menangis-nangis sendiri tak ada yang menemani ‘Ku coba bangkit sendiri, sakit pun tetap sendiri Biarkan orang tertawa, mencaci juga menghina ‘Ku akan terus ‘kan terbang menggapai bintang Biarkan aku ‘kan terbang, melayang-layang di awan Menuju langit yang indah, istana bintang Istana bintang, istana bintang Uh-oh’ Menangis-nangis sendiri tak ada yang menemani ‘Ku coba bangkit sendiri, sakit pun tetap sendiri Biarkan orang tertawa, mencaci juga menghina ‘Ku akan terus ‘kan terbang, menggapai bintang Biarkan aku ‘kan terbang, melayang-layang di awan Menuju langit yang indah, istana bintang Biarkan orang tertawa, mencaci juga menghina ‘Ku akan terus ‘kan terbang, menggapai bintang Biarkan aku ‘kan terbang, melayang-layang di awan Menuju langit yang indah, istana bintang Istana bintang, istana bintang Menggapai bintang, istana bintang Istana bintang, oh, oh Istana bintang – Setia Band Seraya terus berjalan Fitri menyenandungkan satu buah lagu favoritnya, lagu yang menurutnya sangat sesuai dengan kondisinya yang sedari kecil sering dianggap remeh, direndahkan, dicaci dan juga dihina oleh teman-temannya, saat mereka tahu bahwa cita-cita Fitri sangatlah mustahil bagi Fitri gapai yang notabenenya adalah anak dari seorang pedagang di pasar. Lagu yang berhasil membuatnya kembali bangkit saat ia merasa terpuruk. Ya, lirik lagu itu benar. Biarlah orang tertawa, mencaci dan juga menghinanya, tapi ia pastikan ia akan terus bangkit dan tegar untuk menggapai semua mimpinya. “Akhirnya sampai juga. Hai teman-teman, tumben udah pada datang? Biasanya juga pada datang mepet-mepet jam kerja,” ucap Fitri ketika dirinya sudah sampai di ruangan pegawai. “Sekali-kali dong berangkat agak pagian, hehe. Siapa tahu nanti dapet bonus kayak lo kalau gue rajin berangkat pagi. Kayaknya sih yang bikin lo bisa dapet bonus selain karena kerjaan lo kemarin, lo juga orangnya rajin banget kalau berangkat kerja. Biasanya kan para pegawai lain juga dari dulu kalau berangkat lebih sering mepet-mepet waktu mulai. Sekarang gue tau senjata lo, Fit, untuk mengambil hati Ibu bos buat bisa dapet bonus, hehehe, ” jawab Roy dengan entengnya, tak sadar kalau perkataannya sedikit menyentil hati Fitri yang terkadang menjadi sensitif. Biasa, perempuan. Mengambil hati Ibu bos? Senjata Fitri agar bisa mendapatkan bonus? Hellow, mengetahui bahwa di tempat kerjanya sang Ibu bos suka memberi bonus saja Fitri tidak tahu. Jadi buat apa ia harus memiliki senjata yang Roy maksud? Dan lagi, jadi Roy tidak benar-benar mengakui kehebatan Fitri kemarin? Jadi laki-laki itu tak melihat ketulusannya dalam bekerja di tempat ini? Menganggap semua hal baik yang Fitri lakukan di tempat kerjanya baik kebiasaanya untuk berangkat pagi, ketelatenannya dalam bekerja, keramahan dan kesopanannya dalam melayani tamu, totalitasnya dalam mengabdikan diri di tempat kerjanya itu hanya sebagai salah satu senjata Fitri agar ia bisa mendapatkan bonus? Ternyata Roy tak sebaik yang ia kira. Ia orang yang picik. Ataukah ucapannya tadi hanya sebuah gurauan Roy saja? Mengingat ia memang suka bergurau? Entahlah, biarkan hati Fitri yang mendadak sensitif itu saja yang menilai sendiri. “Iya deh, aku aminin. Semoga secepatnya kamu juga dapat bonus,” Jawab Fitri sekenanya. “Apa sih, Roy? Nggak ada hubungannya itu. Orang Ibu bos nggak tau siapa di antara kita yang datang awalan sama yang datang pas mepet-mepet jam kerja. Ibu bos nggak peduli, yang penting pas jam kerja kita semua udah pada datang. Gitu! Kalo lo mau dapet bonus ya kerjaan lo harus bagus, rajin, pokoknya harus ngebuat Ibu bos bangga sama lo. Ngomong-ngomong, ada yang ganti penampilan baru nih ceritanya,” ucap Wati yang langsung mengerti akan suasana hati Fitri yang mendadak datar itu, Ia pun mencoba mencairkan suasana, karena ia tahu sebenarnya Roy tak ada maksud apa-apa ketika mengucapkan itu. Laki-laki itu hanya bercanda saja menurutnya. “Siapa? Oh iya, ada yang sedang berbunga-bunga nih saat ini. Cantik bener sih kamu, Fit. Pake kaos yang berbunga-bunga seperti itu bikin kamu tambah memukau, sesuai dengan penampilan kamu. Oh ya, sepertinya baju kamu itu ada mantra ajaibnya deh, Fit, bisa buat aku jadi berbunga-bunga kalo kelamaan liatin kamu, hehehe,” goda Roy, yang berhasil membuat pipi Fitri jadi bersemu merah. Mendengar ocehan Roy saat ini membuat Fitri sadar bahwa sepertinya tadi ia terlalu sensitif. Roy memang suka sekali bergurau, sama seperti tadi dan saat ini. “Yee, lu kain pelan! Pagi-pagi begini udah ngegombalin anak orang. Sana ganti seragam! Sebentar lagi kita udah harus beres-beres ruangan ini tau,” Wati melirik Fitri ramah, “yuk, Fit, kita ganti seragam. Biarin si kain pelan itu ngehalu pagi-pagi begini. Kayaknya dia lupa minum obat deh sebelum berangkat ke sini, hehehe.” Fitri pun hanya ikut terkekeh dan menanggapinya dengan anggukkan kepala saja. “Heh, Wati! Maksud lo apa bilang gue lupa minum obat? Lo kira gue orang gila apa? Yang kalau nggak minum obat jadi konslet. Pedes banget tuh mulut pagi-pagi begini! Sarapan sambel satu ember ya, lo?” ucap Roy tak terima seraya melangkahkan kakinya mengejar Wati dan Fitri yang kini masih saja terkekeh sambil berjalan menuju kamar mandi terdekat, untuk mengganti baju mereka dengan seragam. Mengetahui tujuan Wati dan Fitri yang ternyata menuju kamar mandi wanita, Roy pun membelokkan kakinya ke arah kamar mandi pria. Ia lupa, ia juga harus mengganti bajunya dengan seragam saat ini. Hari ini warung makan murah sangat ramai pembeli. Ada yang memilih untuk langsung dibawa pulang, dan ada juga yang memilih untuk langsung dimakan di tempat. Ada yang memilih untuk datang sendiri, dan ada juga yang memilih datang secara berkelompok. Baik anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan yang memasuki usia paruh baya, berkumpul menjadi satu di warung makan murah ini. “Eh, Fit, mereka datang lagi nih hari ini. Lu aja ya yang layanin mereka? Gue males. Salah satu di antara mereka rewel banget, cerewet lagi. Lu tau kan kalau laki-laki itu kadang cepet emosian? Gue takut kelepasan kalau lama-lama nggeladenin dia. Jaminannya bisa dipecat kalau gue berani bikin masalah sama mereka,” ucap Haris yang kini berdiri di sebelah kanan Fitri, di tempat jaga mereka sebelum datang menghampiri para pembeli dengan membawa pulpen dan buku catatan. “Emangnya mereka siapa, Ris?” tanya Fitri penasaran, terlihat dari raut wajahnya yang sangat kentara. “Oh iya, lu orang baru. Bagus deh, mending lo aja kalau gitu yang ngelayanin mereka. Apalagi lo kan orangnya ramah dan sopan, jadi gue yakin lo nggak akan kena masalah. Mereka ini saudara-saudaranya Ibu bos. Pelanggan VIP kita lah intinya. Tapi jangan kaget, kelakuan salah satu di antara mereka beda banget soalnya sama Ibu bos. Itulah yang bikin kita-kita agak takut kalau mereka datang ke tempat ini. Udah ah, lo buruan ke sana deh, Fit, keburu disembur lho sama dia kalau nggak buru-buru dilayanin. Udah sana! Semangat yaa,” ucap Haris menjelaskan alasannya menyuruh Fitri, kemudian diakhiri dengan mendorong tubuh Fitri pelan, agar gadis itu dengan segera menghampiri mereka. “Ih, si Haris jahat banget deh. Kok aku yang jadi korban sih sekarang? Duh, semoga aku bisa melayani mereka dengan baik deh. Kalau bener bakal dipecat gara-gara bikin masalah sama mereka aku nggak mau,” ucap Fitri dalam hati, seraya berjalan menghampiri mereka dengan degup jantung yang entah kenapa kini berdetak lebih cepat daripada biasanya. “Lama banget sih! Ketiduran kamu? Atau sibuk mainin handphone? Sampai-sampai kami datang nggak langsung dilayani. Kamu nggak tau kita ini siapa? Kita ini pelanggan VIP warung makan ini lho. Kamu jangan cari gara-gara ya sama kami. Mau dipecat kamu? Udah bosen kerja di sini?” omel salah seorang di antara mereka, seraya menatap tajam ke arah Fitri. Sekarang Fitri paham kenapa Haris enggan melayani pembeli ini. Benar! Dia sangat rewel dan cerewet. Bahkan hanya satu kesalahan saja, ia tidak dilayani dengan segera, omelannya bisa sangat panjang seperti ucapannya tadi. Panjang, sepanjang rel kereta api. Tak ada cara lain. Bagi Fitri solusinya hanya satu saat ini. Ia harus mengalah dan mengaku salah. Jika tidak? Mungkin sampai jam warung makan ini tutup pun Ibu-Ibu itu tidak akan berhenti mengomelinya. “Maaf, Bu, tadi ada keperluan sebentar di belakang. Sekali lagi saya minta maaf ya, Bu,” ucap Fitri akhirnya, dengan nada dan gerakan sopan, membungkukkan tubuhnya sesekali ke arah wanita paruh baya itu. “Alah, jangan banyak alasan kamu! Ada keperluan apa memangnya? Main handphone kan keperluannya? Dasar anak zaman sekarang! Mainannya sama handphone terus sampe lupa waktu.” Tuh, kan! Bahkan di saat dirinya sudah meminta maaf, Ibu-Ibu itu tetap saja mencecar dirinya. Sabar, Fitri, kamu harus sabar! “Sudah, Mel! Dia kan sudah meminta maaf. Kenapa harus kamu marahi lagi? yang penting kan dia sudah ada di sini. Lagipula kita juga nggak lama-lama banget duduk di sini. Sudah, sudah! Maafin Istri saya ya, Mbak,” ucap seorang laki-laki yang sepertinya adalah suami dari Ibu-Ibu itu. Luar biasa! Sifat suaminya sangat berkebalikan dengan sang Istri. Fitri menganggukkan kepalanya sopan. “Iya, Pak. Tidak apa-apa, saya juga memang salah di sini. Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak mau pesan apa? Biar saya catat dan saya proses dengan segera.” “Saya pesan nasi seporsi, ikan gurame bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya, sama minumnya jus jeruk.” “Saya samakan saja dengan Suami saya ya, Mbak.” “Aku pesan nasi seporsi, lele goreng lengkap dengan sambal dan lalapannya, sama minumnya jus alpukat ya, Mbak. Papah mau pesan apa? Samain aja sama, Mamah?” Orang yang dipanggil Papah itu pun mengangguk. “oke, berarti pesan satu lagi persis seperti pesanan saya ya, Mbak.” “Mel, kamu mau pesan apa? Katanya tadi pengen buru-buru dilayani? Tapi sekarang kok malah diam? Buruan pesan! Kasian si Mbaknya nunggu lama.” Orang yang dipanggil Mel itu memanyunkan bibirnya beberapa senti. “Mmm, aku pesan nasi seporsi, ayam bakar lengkap dengan lalapannya, telor balado, cumi saus lada hitam, sama minumnya jus mangga. Satu lagi, sambalnya dua porsi ya, yang pedes!” ucapnya malas, menyebutkan makanan dan minuman yang ingin ia pesan. “Mel, jangan banyak-banyak sambalnya! Nanti asam lambung kamu naik lho. Kalau saya nasi seporsi, cumi saus tiram, sama minumnya jus jeruk.” “Biarin, Mas. Yang ngerasain juga aku ini, bukan, Mas.” Fitri hanya bisa mengusap d**a melihat dan mendengarnya. “Bahkan terhadap Suaminya sendiri Ibu-Ibu itu bersikap tak menyenangkan. Pantas saja kesukaannya sambal. Mulutnya pedes banget kayak cabai!” ucap Fitri dalam hati. “Baik, saya siapkan dulu ya, pesanannya. Mohon untuk ditunggu sebentar,” ucap Fitri kemudian pamit undur diri dari hadapan mereka. Sepuluh menit berselang, pesanan pelanggan yang disebut-sebut sebagai pelanggan VIP pun telah selesai dihidangkan di piring, telah siap untuk dibawa ke meja para pelanggan. “Fit, pesanan buat pelanggan VIP itu banyak banget kan?” Fitri menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. “kalau gitu gue bantuin bawa, ya? Daripada lo bolak-balik ke sini, lagipula pegawai lain juga lagi pada sibuk sekarang,” ucap Siska yang entah datang dari mana, kini tiba-tiba muncul di dekat Fitri, menawarkan bantuan kepada Fitri. “Wah, boleh banget, Sis. Makasih banyak ya.” “Hahaha, makasih banyak? Sekarang lo bilang makasih banyak sama gue. Tapi setelah lo tau apa yang bakal gue lakuin sekarang, apakah lo akan narik kembali ucapan makasih banyak lo itu? Hahaha,” ucap Siska dalam hati, seraya memindahkan beberapa makanan itu ke atas nampan besar. Kira-kira apa ya yang akan Siska lakukan nanti?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN