Part 28

1767 Kata
Fitri melangkahkan kakinya keluar dari warung makan murah, tempatnya mencari pundi-pundi rupiah, dengan perasaan suka cita. Meski tak bisa dipungkiri bahwa seharian ini tenaganya hampir terkuras habis, tapi rasa senang dan bahagia yang ia rasakan saat ini mampu mengobati rasa lelahnya. Kalau Fitri boleh jujur, baginya hari ini ia serasa sedang bermimpi. Memimpikan kisah yang sangat indah dan membahagiakan, sampai-sampai ia tak ingin bangun rasanya dari mimpi itu saking indahnya. Ia takut, di saat dia membuka mata nanti, mimpinya telah hilang dan berganti. Tapi ternyata ia salah, semua itu bukanlah sebuah mimpi. Kisah yang menurutnya sangat indah dan membahagiakan itu adalah sebuah kenyataan. Rasanya Fitri ingin terus mengulang semua moment-moment indah yang terjadi hari ini. Di mana ia bisa bebas memasak, menyalurkan salah satu hobinya sejak kecil, merasakan bagaimana senangnya hasil masakan dipuji oleh banyak orang, banyak yang mengakui kehebatannya, dan yang terakhir dia mendapatkan bonus dari sang Ibu bos. Sungguh hari yang sangat indah. Dalam perjalanan menuju daerah pertokoan yang sudah tutup, tempatnya untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya, terdengar bunyi deringan ponsel yang berasal dari saku celananya. Membuat langkah Fitri menuju tempat tujuan terhenti sebentar. Tak ingin membuat sang penelepon menunggu lama, Fitri pun dengan segera merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel pintar dan melihat siapa gerangan yang menelponya malam-malam seperti ini. Tertera di sana tulisan ‘ Ibuku tercinta’ , membuat Fitri menerbitkan senyuman manisnya tanpa sadar. “Assalamu’alaikum, Bu,” ucap Fitri mengawali pembicaraan mereka di telepon, dengan seulas senyuman yang masih bertengger cantik di bibir alaminya itu. Fitri sangat senang sekali bisa kembali bercengkrama dengan sang Ibu, meski hanya melalui telepon. “Wa’alaikumussalam, Nak. Kamu apa kabar?” “Alhamdulillah kabar Fitri baik, Bu. Sangat-sangat baik. Ibu dan keluarga di rumah bagaimana kabarnya? Baik juga, kan?” “Ibu senang dengarnya. Dari suara kamu saja Ibu sudah tahu kalau kamu saat ini dalam keadaan baik. Kamu jangan khawatir, Ibu dan keluarga juga di sini keadaanya baik. Semuanya sehat. Oh ya, ada kabar bahagia apa nih? Sampai-sampai suara kamu ceria seperti ini, kamu lulus casting ya?” Senyuman yang sedari tadi terulas indah, hilang seketika di saat pertanyaan terakhir dari sang Ibu ia dengar. Bagaimana dirinya bisa lulus casting? Jika ia sendiri saja tak bisa untuk mengikuti casting saat itu, karena insiden penculikan yang ia alami. Dengan sangat terpaksa, Fitri harus kembali membohongi sang Ibu, daripada membuat sang Ibu merasa kecewa dan khawatir jika ia harus menceritakan kisahnya saat itu dengan jujur. Ia pikir lebih baik ia kembali berbohong saja sebagai jalan keluarnya. Berbohong demi kebaikan tak apa, bukan? Fitri hanya bisa berharap, semoga Allah mengampuninya karena memilih untuk kembali membohongi sang Ibu, dan semoga sang Ibu dan keluarganya tak marah jika di lain waktu mereka tiba-tiba tahu soal fakta ini. Semoga saja. “Ibu memang paling tahu soal Fitri, hehe. Alhamdulillah kalau Ibu dan keluarga ternyata baik-baik saja dan dalam keadaan sehat. Fitri senang mendengarnya. Soal casting masih belum ada kabar, Bu, sampai sekarang. Ibu doakan saja ya semoga apa pun hasilnya, diterima atau pun tidak, itu yang terbaik bagi Fitri. Oh iya, soal Fitri kenapa sangat ceria sekali hari ini, Fitri udah berhasil dapet bonus di hari ketiga Fitri mulai bekerja, Bu. Padahal yang lain yang udah berbulan-bulan belum, hehehe. Alhamdulillah, rezeki di sini cukup lancar. Terima kasih ya, Bu, semua ini berkat doa-doa Ibu.” Hanya itu yang bisa Fitri jelaskan kepada sang Ibu. “Wah, kamu udah kerja, Nak? Kerja di mana? Ibu ikut senang mendengarnya. Ibu bangga sama kamu, Nak! Pasti Bapak dan Adik-adik kamu juga ikut seneng deh pas Ibu kasih tau nanti.” Respon positif yang ia terima dari sang Ibu, membuat Fitri menjadi tambah bersemangat dalam menjalani hari-hari selanjutnya. “Hehehe, Iya, Bu. Fitri lupa mau ngasih tau Ibu kalau Fitri udah dapet kerjaan di sini. Alhamdulillah, Fitri udah mulai bekerja di warung makan sejak dua hari yang lalu. Dan hari ini adalah hari ketiga Fitri bekerja, Bu. Tempat kerjanya enak, Ibu bosnya baik, teman-teman kerja Fitri juga baik-baik dan ramah. Fitri udah mulai betah di sini. Soal cita-cita Fitri yang sesungguhnya, Ibu doakan saja ya? Fitri akan terus berusaha menggapai cita-cita itu meskipun sekarang Fitri sudah bekerja. Sesekali Fitri akan mendaftarkan diri lagi kalau ada lowongan casting. Fitri nggak akan menyerah, Bu. Doakan Fitri selalu ya, Bu,” Fitri memberitahu sang Ibu tentang dirinya yang sudah mendapatkan pekerjaan dan membahas sedikit tentang kelanjutan kisahnya mengenai cita-citanya sejak kecil dengan nada riang dan gembira. “Pokoknya Ibu senang, Nak, mendengarnya. Apa pun keputusan kamu Ibu selalu dukung, Sayang. Dan soal doa, kamu nggak perlu khawatir. Tanpa kamu minta pun Ibu akan terus dan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. Yang penting kamu harus selalu semangat dan optimis, ya? Kamu harus selalu bersungguh-sungguh karena orang yang selalu bersungguh dalam mengerjakan sesuatu, pasti ia akan mendapatkan hasilnya.” “Oke, Ibu. Pasti! Pasti Fitri akan selalu semangat, optimis, dan bersungguh-sungguh sesuai dengan apa yang Ibu bilang tadi. Oh iya, Bu, nanti lagi ya teleponannya? Fitri masih di jalan soalnya. Fitri titip salam ya untuk Bapak, Tio, dan Ayu. Salam rindu dari Fitri.” “Oke, Nak. Hati-hati di sana ya, Ibu kota terkadang keras. Kamu harus selalu berhati-hati di mana pun kamu berada. Tenang, nanti Ibu sampaikan salam kamu sama mereka. Mereka juga pasti sudah sangat rindu sama kamu.” “Siap, Ibu ratu. Fitri akan selalu berhati-hati di sini. Dah, Bu, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, Nak.” Mereka berdua mengakhiri obrolan mereka dengan perasaan senang luar biasa. Tentunya hanya doa yang menjadi pelepas kerinduan di antara mereka, di saat keduanya hanya bisa berhubungan melalui telepon, tak bisa bertatap muka secara langsung. Fitri kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tujuan. Jarak yang semakin dekat dengan daerah pertokoan yang sudah tutup itu, membuatnya semakin tak sabar untuk segera sampai di sana. Ia juga semakin tak sabar untuk berbagi kisah bahagianya dengan Tio dan juga Bella. Bahkan Fitri juga berniat, ia ingin membagi sebagian rezekinya yang ia dapat tadi kepada Tio dan juga Bella, keluarga barunya di tanah rantau ini. “Kak, Fitri.. kak, Fitri..” Suara teriakan yang cukup kencang dan cempreng yang terdengar jelas di telingi Fitri, membuatnya semakin menajamkan penglihatannya ke segala penjuru. Mencari siapa gerangan pemilik suara itu. Minimnya pencahayaan di tempatnya kini berdiri, membuat Fitri harus benar-benar menajamkan penglihatannya. Di sana, se arah dengan posisinya kini berdiri, Fitri melihat dua anak kecil sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Tahu betul siapa mereka sebenarnya, Fitri pun dengan segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka. “Pasti Bella ya yang tadi teriak-teriak?” tanya Fitri ketika dirinya sudah sampai di hadapan mereka. “Bukan! Itu Kak Tio.” Bella menunjukkan jari telunjuknya ke arah Tio, dengan raut wajahnya yang sangat lucu. “Lho, kok nunjuk-nunjuk Kakak sih? Orang kamu juga. Bukan aku, Kak. Nih orangnya yang tadi teriak-teriak. Lempar batu sembunyi tangan lagi,” ucap Tio seraya mengikuti tingkah Adiknya, menunjukkan jari telunjuknya ke arah Bella. “Bella, Bella. Kamu itu nggak bisa bohong tau sama Kakak. Kakak tau kalo kamu lagi bohong, wajah kamu itu nggak bisa diajak komprompi. Jadi pasti bakal ketahuan juga sama Kakak ujung-ujungnya. Lagipula Tio nggak mungkin suaranya secempreng itu, dia kan cowok banget suaranya.” Bella memanyunkan bibirnya. Ia cemberut. “Jadi menurut Kakak suara Bella cempreng gitu?” Fitri terkekeh pelan melihat ekspresi yang Bella tunjukkan saat ini kepadanya. Gadis kecil itu sedang merajuk sekarang. Lucu sekali, pikirnya. “Hehehe, jangan ngambek gitu dong. Kan perempuan suaranya cempreng itu hal yang biasa, Bell. Kalau Tio yang suaranya cempreng baru yang nggak biasa. Senyum lagi dong! Kamu lebih cantik kalau lagi senyum, Bella,” ucap Fitri seraya menoel-noel dagu Bella. Fitri berusaha menggoda gadis kecil itu. “Oh iya, Kakak punya kabar bahagia lho sekarang. Kalian tebak dong, apa kabar bahagianya.” “Hmm, Kakak bawa makanan enak?” tebak Tio dengan tatapan berbinarnya. “Benar juga sih sekarang Kakak bawa makanan enak, tapi bukan itu kabar bahagia yang Kakak maksud.” “Mmm, apa dong kabar bahagianya? Kakak udah punya pacar?” tanya Bella semakin penasaran. “Bukan! Kakak belum kepikiran malah soal itu. Ayo! Tebak lagi, tebak lagi.” “Aku nyerah aja deh, Kak. Nggak tau mau nebak apa lagi soalnya,” ucap Tio menyerah. “Iya, Bella juga nyerah deh. Jadi apa, Kak, kabar bahagianya?” “Alhamdulillah, Kakak dapat bonus dari Ibu bos Kakak. Bonusnya uang yang lumayan banyak. Kebetulan kan Kakak nggak punya baju ya, karena tas Kakak ketinggalan di tempat Kakak disekap waktu itu. Kalian juga nggak punya banyak baju, kan? Kita beli baju mau nggak? Tapi Kakak nggak tau tempat jualan baju yang murah di daerah sini di mana.” “Yey, asyik.. Bella mau beli baju baru,” ucap Bella dengan riangnya. “Wah, selamat ya, Kak. Tapi Kakak aja deh yang beli bajunya. Kita mah nggak usah. Kan itu hasil kerja keras Kakak selama bekerja. Nanti kita yang antar ke toko baju murahnya, kebetulan di daerah sini ada pasar malam yang isinya juga ada yang jualan baju-baju murah.” “Nggak apa-apa, Tio. Anggap saja ini hadiah buat kalian berdua karena udah mau jadi keluarga baru Kakak di sini. Kalian juga beli, ya?” ucap Fitri seraya tersenyum manis menatap anak laki-laki itu. “Oke deh kalau gitu. Padahal ya, Kak, kita yang harusnya bilang terima kasih sama Kakak. Kakak udah mau hidup bareng kita di sini, dan Kakak udah mau jadi keluarga baru kita di tempat ini. Karena seperti yang Kakak tahu, kita kan udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini,” ucap Tio dengan nada suara yang mulai berubah. Ia sepertinya sangat terharu saat ini. “Duh, kok malah jadi sedih-sedih gini ya? Padahal kan niat Kakak awalnya mau bikin kalian seneng. Ya udah yuk kita ke pasar malam sekarang. Udahan dulu ya sedih-sedihnya,” ucap Fitri tak enak hati, seraya tersenyum hangat ke arah keduanya. Mereka pun kembali tersenyum riang, kemudian mulai melangkahkan kaki mereka menuju pasar malam. Di lain tempat... Seorang gadis sedang serius dengan kegiatannya, berjalan mondar-mandir dari arah kanan ke arah kiri di dalam kamarnya, seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. “Duh, pokoknya gue nggak mau tau. Besok gadis kampung itu harus dipecat sama Ibu bos! Kalau ternyata nggak bisa juga dia dipecat, gadis itu harus ngerasa nggak betah kerja di sana, dan dia memilih untuk mengundurkan diri. Iya benar, hanya itu pilihannya. Dia dipecat atau dia mengundurkan diri,” ucapnya di tengah-tengah kegiatan mondar-mandirnya. “Oh, I know, gue tau misi apa yang harus gue lakuin besok untuk gadis kampung itu. Fitri! Mari kita lihat besok! Apakah kamu masih tetap beruntung?” ucapnya dengan nada suara yang terdengar cukup mengerikan. Siapakah orang itu? Dan apakah misi-nya besok?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN