Sesuai dengan apa yang telah diperkirakan sang Ibu bos saat briefing (rapat) tadi pagi, acara arisan itu pun telah selesai tepat pukul dua belas siang tadi. Dan kini, semua pegawai warung makan itu sedang beristirahat, sebelum akhirnya warung makan itu akan kembali dibuka pada pukul satu siang nanti.
Suara pintu ruangan yang dibuka dengan cara yang tidak sabaran, membuat semua orang yang kini sedang bergulat dengan ponsel pintarnya, mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Di sana, sang Ibu bos sedang berdiri di ambang pintu, dengan wajah awet mudanya yang berseri-seri. Fix, sang Ibu bos kini sedang berada dalam kesanangan yang hakiki.
“Ekhem, Fitri! Ke ruangan saya ya sekarang!” ucap Ibu bos yang langsung dianggukki oleh Fitri, kemudian ia kembali ke dalam ruangannya, setelah menutup pintunya dengan gerakan yang lebih anggun dari sebelumnya.
“Cie, Fitri. Mau dikasih bonus tuh kayaknya sama Ibu bos. Selamat ya, jangan lupa traktirannya, hehehe,” ucap Wati, menggoda Fitri yang kini tersenyum malu-malu.
“Ada yang mau dikasih bonus nih sama Ibu bos. Selamat, Fit. Lu emang pantes dapetin itu. Ya walaupun gue sedikit iri sih sama lo, tapi nggak apa-apa. Gue ikhlas kok. Gue rela.” Fitri mengernyitkan keningnya heran mendengar celotehan lebay Roy. “kenapa kamu harus iri sama aku?” tanya Fitri, dengan ekspresi wajah kebingungan yang sangat kentara.
“Ya iri lah, lo anak baru kemarin yang kerja di warung makan ini, tapi debut lo udah mantap betul. Di hari ketiga lo masuk kerja, lo udah dapet banyak pujian dari Ibu bos dan teman-temannya, ditambah lagi lo sekarang bakalan dapet bonus dari Ibu bos. Jarang-jarang lho, Fit, Ibu bos ngasih bonus sama pegawainya. Palingan juga setahun sekali. Gue yakin sih, yang iri bukan cuma gue aja, tapi yang lain pun juga pasti ngerasain hal yang sama. Tapi lo tenang aja, Fit, gue juga yakin semuanya pasti bisa nerima dengan lapang d**a kok, karena lo emang berhak untuk dapet semua itu. Lo emang hebat, Fit!” ucap Roy, menjelaskan alasan kenapa dirinya begitu iri terhadap Fitri.
“Omongan Roy barusan emang bener, Fit. Lo tenang aja! Meski kita sempet iri sama lo, kita sekarang udah biasa aja kok. Lo emang hebat! Lo berhak untuk dapet pujian dan bonus itu. Selamat, Fit,” ucapan selamat kini datang dari Haris, yang dibalas Fitri dengan anggukkan kepala, juga senyuman manisnya.
“Selamat ya, Fit. Lain kali ajarin gue masak yang kayak gituan ya?” ucap Jenny, yang tentu saja Fitri anggukki dengan senang hati. Mengajari orang sesuatu yang bermanfaat, menambah pahala bukan? Tentu saja Fitri tak akan menolak.
“Kenapa pada baik bener sih sama si gadis kampungan itu? Ngakunya iri tapi tetep aja pada baik-baik. Ngucapin selamet, muji-muji, nggak ngerti gue sama pola pikir mereka! Ya kalau iri harusnya kayak gue dong ambil sikap. Biar gadis kampung itu takut, nggak semena-mena, dan lama-lama out deh dari tempat ini. Setelah itu? Kita bersaing secara sehat buat bisa kayak si gadis kampungan itu yang jadi anak emas. Bukan malah dibaik-baikkin kayak gini! Yang ada si gadis kampung itu malah terbang, dan lupa daratan. Ntar jadi sombong lagi,” ucap Siska dalam hati, seraya menatap tak suka ke arah Fitri.
Fitri mengalihkan pandangannya ke arah Siska, menunggu gadis itu mengeluarkan suaranya. Tapi beberapa detik ia menunggu, Siska tak kunjung juga mengeluarkan suaranya, justru yang ia terima dari gadis jutek itu adalah tatapan tak sukanya. Ada apa ini? Apakah benar, Siska tak suka kepada dirinya? Tapi kenapa? Apa salahnya?
“Fit, nungguin apa sih? Udah, sana ke ruangan Ibu bos! Ntar dibatalin lho bonusnya kalo lo nggak buru-buru ke sana. Asal lo tau, Ibu bos paling nggak suka nunggu lama-lama. Sukanya ditungguin, hehehe,” ucap Wati, yang langsung Fitri patuhi. Terlihat dari gerakannya yang mulai berdiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan Ibu bos.
Sebelum membuka pintu ruangan sang Ibu bos, Fitri mengetukkan kepalan tangannya beberapa kali ke pintu, kemudian menunggu balasan dari dalam ruangan itu.
Tok, tok, tok.
“Masuk!” mendengar perintah itu dari dalam ruangan, Fitri pun mulai membuka pintunya, kemudian melangkahkan kakinya menghadap sang Ibu bos, yang kini sedang duduk seraya memainkan ponsel pintarnya.
“Ada apa ya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?” ucap Fitri mengawali obrolannya dengan sang Ibu bos. Terdengar basa-basi memang, tapi ia tak ingin dinilai kepedean oleh sang Ibu bos. Bonus? Ia tak ingin terlalu berharap, meskipun teman-temannya tadi sudah sangat yakin bahwa sang Ibu bos akan memberinya bonus itu.
“Coba dong tebak, kenapa saya panggil kamu ke ruangan ini, sementara yang lain tidak,” ucap Ibu bos mengajak Fitri untuk bermain tebak-tebakkan.
“Ibu, harus banget ya ngajak aku main tebak-tebakkan? Biasa aja nggak sih kalo aku jawab, Ibu manggil saya pasti mau ngasih bonus kan? Ah, nggak-nggak. Itu bukan kamu banget, Fitri!” ucap Fitri dalam hati.
“Saya nggak jago main tebak-tebakkan, Bu. Saya nyerah aja deh,” ucap Fitri seraya menampilkan cengirannya di hadapan sang Ibu bos.
“Yah, kamu mah nggak seru, Fit. Ya udah deh, Ibu langsung to the point aja kalau gitu. Saya manggil kamu karena ada tiga hal yang ingin saya katakan ke kamu sekarang.” Fitri mengangkat sebelah alisnya ke atas. Tiga hal? Banyak banget. Apa aja kira-kira? Fitri menunggu sang Ibu bos melanjutkan kata-katanya dengan perasaan was-was, dag dig dug, campur aduk.
“Pertama, saya nggak nyangka kamu bisa memasak menu pesanan yang lumayan sulit itu, bahkan temen-temen kamu yang lain pun nggak ada yang bisa. Kedua, kamu berhasil menjalankan semua tugas kamu tadi dengan sangat-sangat baik, Fitri. Terbukti dari banyaknya pujian yang kamu dapatkan dari saya, dan teman-teman arisan saya, mengenai masakan kamu yang telah berhasil menggoyang lidah saya dan teman-teman arisan saya. Dan yang ketiga, karena dua hal tadi, seperti janji saya sebelumnya, saya akan memberi kamu bonus. Tidak banyak memang, cuma lima ratus ribu rupiah. Tapi saya harap semoga uang itu bisa bermanfaat buat kamu,” ucap Ibu bos, seraya tersenyum hangat ke arah Fitri, membuat Fitri yang mendengar semua itu dan melihat tatapan itu, merasa sangat-sangat bahagia saat ini.
Lima ratus ribu rupiah? Tidak banyak? Kalimat macam apa itu. Ibu bosnya memang suka merendah. Karena bagi Fitri, uang segitu sudah sangat berarti. Itu sudah terhitung sangat banyak, bagi Fitri yang biasanya mengantongi uang recehan. Pasti akan sangat berguna dan bermanfaat. Fitri jamin itu!
“Wah, terima kasih banyak, Bu. Sebenarnya semua ini terlalu berlebihan untuk saya, Bu, mengingat semua yang saya lakukan dan upayakan tadi adalah bagian dari tugas saya. Tapi sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena segala bentuk apresiasi yang Ibu berikan kepada saya, baik berupa pujian atau bonus, sangat-sangat berarti bagi saya. Terima kasih banyak, Bu,” ucap Fitri seraya tersenyum lebar, juga diselingi dengan gerakan kepalanya yang sesekali menganggukkan kepalanya pelan dan sopan, sebagai tanda hormat saat ia mengucapkan kalimat terima kasih.
“Tak apa, Fit. Itu bukan sesuatu yang berlebihan bagi saya. Memang sudah sepantasnya bagi saya untuk melakukan semua itu. Mengapresiasi para pegawai yang beprestasi memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai bos di sini. Ambilah!” ucap Ibu bos, seraya menyodorkan amplop putih berisikan uang bonus di meja, di hadapan Fitri.
Fitri pun mengambil amplop putih itu dengan malu-malu. “Sekali lagi terima kasih, Bu.”
“Hehehe, sebenarnya cukup satu kali saja, Fitri. Justru terlalu berlebihan mendengar kamu mengucapkan terima kasih berkali-kali seperti itu. Kamu boleh kembali ke tempat kamu, Fit. Waktu istirahat sebentar lagi selesai. Sebaiknya kamu nikmati waktu istirahat yang tinggal sebentar itu.” Fitri menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, kemudian pamit undur dari dari hadapan sang Ibu bos, dengan senyuman manis yang tercetak jelas di bibir merah alaminya.
Di lain tempat...
Siska berdiri di hadapan teman-temannya yang lain, mengedarkan pandangannya menatap tajam ke arah mereka, membuat mereka yang merasa risih ditatap seperti itu pun mulai mendongakkan kepalanya, membalas tatapan Siska dengan tatapan heran mereka.
“Kenapa?” tanya Wati heran.
“Gue butuh perhatian kalian saat ini,” jawab Siska dengan nada bicara dan ekpresi wajah sarat akan keseriusan.
“Sudah gue duga. Cari pacar aja sana! Biar lo ada yang merhatiin,” ucap Roy, kemudian mengusulkan ide briliannya.
Siska mendengus kesal mendengar ide yang Roy usulkan kepadanya. Bahkan teman-temannya yang lain pun melakukan hal yang sama dengannya. Mendengus kesal. “Bukan itu maksud gue! Gue minta kalian simpen dulu ponsel pintarnya di saku seragam kalian, kemudian gue minta kalian buat fokus merhatiin apa yang bakal gue omongin.” Tak ingin banyak berdebat, mereka pun mengiyakan saja ucapan Siska tadi. Menaruh ponsel pintar ke dalam saku seragam, kemudian fokus menatap Siska.
“Oke, gue mulai sekarang. Pertama, gue nggak suka sama sikap kalian yang pura-pura baik sama gadis kampungan itu. Kalau kalian nggak suka, ya tunjukkin aja sikap nggak suka kalian. Jangan pura-pura baik! Kedua, soal iri sama apa yang gadis kampungan itu dapetin sekarang, nggak usah lah sampe bilang kita udah ikhlas, udah nerima, muji-muji dia hebat, dia berhak dapetin semua itu, sampai ngasih selamat sama dia, nggak usah! Yang ada bikin dia tambah terbang dan sombong. Kalian ngomong kayak gitu supaya kecipratan uang bonusannya? Jangan ngimpi! Dia nggak sebaik itu, yang ada mungkin dia akan pamer-pamer nggak jelas. Ketiga, gue lagi ngerencanain misi buat ngedepak gadis kampung itu dari warung makan ini. Kalian mau gabung kan? Makin banyak personil, gue yakin rencana kita akan cepet berhasil. Gimana-gimana?” ucap Siska panjang lebar, mengutarakan tiga poin yang sudah ia pikirkan matang-matang sedari tadi, kemudian kembali mengedarkan pandangannya, melihat respon mereka mendengar ocehan panjang lebarnya.
Terkejut, jengah, datar, dan dingin. Hanya empat ekpresi itu yang Siska dapat dari wajah mereka. Tak ada wajah berbinar seakan mendapatkan teman untuk sama-sama menghancurkan gadis kampungan itu. Bener-bener tak ada sama sekali!
“Yang lo maksud dengan gadis kampungan itu siapa?” tanya Wati.
“Siapa? Ya Fitri lah, siapa lagi!” jawab Siska dengan tatapan tak mengertinya. Jangan bilang mereka-mereka ini tak tahu lagi siapa orang yang sedari tadi dia maksud?
“lo gila, Sis!” komentar Wati, seraya menatap kesal ke arah Siska.
“Asli, gue nggak nyangka lo bisa berubah jadi jahat saat ini,” komentar Roy, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Siska.
“Gue kira lu orang yang baik, Sis, tapi ternyata gue salah! Lo orang jahat!” kali ini Haris yang berkomentar.
“Awalnya gue kira lo cuma bercanda saat lo dulu bilang, lo berencana buat bikin Fitri dikeluarin dari warung makan ini. Tapi ternyata ucapan yang menurut gue cuma omong kosong itu adalah keseriusan lo. Gue tau lo orangnya sangat-sangat ambisius, Sis. Tapi buat Fitri dipecat itu bukan tindakan yang sehat. Itu salah besar! Kalo lo mau jadi kebanggaan warung makan ini, tunjukkin prestasi lo! Buktikan sama semuanya kalo lo itu hebat! Bukan kayak gini caranya, Sis. Lo tau? Lo itu pengecut! Gue kecewa sama lo, Siska,” ucap Jenny seraya menatap Siska dengan tatapan kecewanya.
Ceklek..
Suara pintu ruangan yang dibuka pelan, membuat semua orang yang sempat beradu mulut itu kini diam membisu, membuat Fitri yang baru saja kembali bergabung, menatap heran ke arah mereka.
“Ekhem, teman-teman. Alhamdulillah, seperti yang kalian bilang tadi, aku sekarang dapat bonus dari Ibu bos. Mumpung masih ada waktu istrirahat, ke tukang bakso yuk? Aku traktir deh, itung-itung syukuran. Hehehe,” ucap Fitri dengan raut wajah cerianya.
Mendengar ajakan itu, Wati, Roy, Haris, juga Jenny, seketika mengalihkan pandangan mereka ke arah Siska. Menatapnya tajam, seraya mengangkat kedua alis mereka ke atas, seolah berkata ‘see? Dugaan lo salah! Fitri justru kini mengajak kita untuk makan bakso bersama. Fitri mentraktir kita!’
“Gu—gue, gue nggak ikut,” ucap Siska, kemudian melangkahkan kakinya ke arah dapur.
“Dih! Geer banget. Emang lu diajak? Wkwk,” ucap Roy sebal, seraya menatap Siska yang sudah berbalik menuju dapur.
“Kalian pada kenapa sih? Kok aneh banget,” ucap Fitri, dengan raut wajahnya yang terlihat keheranan.
Wati menghampiri Fitri, kemudian mengapit tangan kanan Fitri. “Udah, nggak usah dipikirin! Yuk ke tukang bakso! Gue udah laper banget nih.”
Dan kelima orang itu pun mulai berlalu menuju ke tukang bakso terdekat, meninggalkan seorang perempuan yang sedang dirundung amarah di ruang dapur.
Kira-kira, apa yang akan dilakukan oleh Siska setelah ini? Ia akan insyaf untuk tidak membuat masalah dengan Fitri, atau justru semakin menjadi-jadi?