“Siska? Lo mau ngapain itu?” tanya seseorang yang kini sedang berdiri di sebelah kanan Siska, menatap tajam ke arahnya, menunggu kalimat penjelasan yang akan Siska lontarkan kepadanya.
“Sial! Kenapa lo harus muncul sih? Gagal rencana gue,” ucap Siska dalam hati, seraya menatap tajam lawan bicaranya. Rencananya untuk membuat hasil masakan Fitri tak layak dimakan karena keasinan, gagal sudah. Siska menyesal, kenapa pergerakannya tadi begitu lambat? Andai saja tadi, ia langsung menaburkan beberasa sendok garam ke masakan itu. Pasti rencananya sudah berhasil sekarang. Dan andai saja seseorang yang kini sedang menatapnya tajam tak muncul di hadapannya untuk beberapa saat, rencananya juga pasti akan tetap berhasil walau pergerakannya tadi sempat lambat. Sudahlah! Berandai-andai tak ada gunanya untuk saat ini, yang ada hanya akan menambah rasa penyesalan yang masih membungbung tinggi ini.
“Jawab gue sekarang, Siska! Apa yang mau lo lakuin dengan wadah kecil berisi garam itu? Lo mau ngerusak rasa masakan Fitri? Lo mau buat warung makan ini jadi bahan olok-olokkan temen-temen arisan Ibu bos karena bikin masakan keasinan? Lo mau buat Ibu bos kehilangan citra di hadapan temen-temen arisannya? Lo mau Ibu bos marah lagi sama kita-kita? Jawab Siska! Jangan diam aja!” ucap seseorang itu yang terus menerus mencecar Siska habis-habisan.
“Udah, Wat, jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Kita bicarain hal ini secara baik-baik aja. Gue takut Ibu bos ke sini dan marah-marah kalau tau soal ini,” ucap Jenny menenangkan Wati, seraya mengelus-elus lengan Wati, yang kini sedang diliputi amarah itu.
Ya, seseorang yang memergoki perbuatan jahil Siska tadi adalah Wati. Melihat gelagat Siska yang tampak aneh sedari Fitri pergi ke kamar mandi tadi membuat Wati merasa curiga kepadanya. Apalagi ketika Wati melihat dari sudut matanya, Siska sesekali melirik ke arahnya dan Jenny yang sedang serius menjalankan tugasnya. Rasa curiganya semakin tinggi. Siska seakan ingin melakukan sesuatu secara diam-diam. Dan benar saja, beberapa detik setelah itu, gadis itu mulai mengambil wadah kecil berisi garam dan sepertinya akan menuangkannya ke dalam masakan Fitri. Tak ingin hanya tinggal diam, membiarkan aksi nakal yang dilakukan Siska, Wati pun langsung mencegah aksi nakal itu terjadi.
“Kenapa suasananya mendadak tegang sekarang? Ada apa? Ibu bos ngasih tugas tambahan ya sama kita?” tanya Fitri, yang baru saja datang dari kamar mandi dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat penasaran dan tegang. Tegang karena takut mendengar kabar kalau mungkin sang Ibu bos memberikan mereka tugas tambahan dengan waktu yang hanya tersisa tinggal beberapa menit lagi.
“Nggak, nggak ada apa-apa, Fit. Cuma ini nih, ada yang mau ngerecokin masakan lo. Ada yang mau buat masakan lo jadi keasinan,” ucap Wati datar seraya menatap tajam ke arah Siska.
“Masa sih? Siapa emangnya yang mau ngerecokin hasil masakan aku?” tanya Fitri dengan wajah kebingungannya. Pasalnya dia memasak juga bukan untuk eksistensi dirinya sendiri. Tapi untuk eksistensi nama warung makan murah ini juga. Karena kalau hasil masakannya enak, warung makan murah ini, Ibu bos, dan juga para pegawainya akan mendapatkan pujian dari teman-teman arisan sang Ibu bos. Tapi sebaliknya, kalau hasil masakannya tidak enak (keasinan misalnya), yang akan terkena imbasnya bukan hanya Fitri saja sebagai sang pembuat masakan itu, tapi semuanya. Nama warung makan murah ini, citra sang Ibu bos di depan teman-teman arisannya, juga nama para pegawai lainnya pun akan dipertaruhkan juga.
Fitri pikir, ada ya? orang yang ingin menghancurkan dirinya sendiri seperti itu. Atau jangan-jangan orang yang tega ingin membuat hasil masakannya hancur adalah orang yang tidak waras? Memikirkan kesenangan sendiri tanpa peduli bagaimana nasib dirinya sendiri, nasib teman-temannya, nasib sang Ibu bos, dan nasib nama baik warung makan murah ini?
Fitri bukan lebay, dia tidak berlebihan. Tapi memang kenyataannya seperti itu. Teman-teman arisan sang Ibu bos bukanlah orang biasa. Kebanyakan dari mereka merupakan istri para pejabat, istri para pebisnis terkenal, dan lain sebagainya. Mereka-mereka ini adalah Ibu-Ibu dari kalangan sosialita. Memberikan pelayanan yang buruk kepada mereka, entah itu dari segi rasa masakan, penyajian, dan fasilitas, akan membuat mereka merasa terhina, tidak dihargai dan dianggap remeh. Dan ketika mereka merasa tak terima, bisa saja mereka membayar media untuk memviralkan kejadian itu, membuat nama baik warung makan itu menjadi tercoreng, membuat banyaknya pelanggan tetap menjadi berkurang, dan yang paling parah, mungkin saja mereka akan menutup atau bisa juga menuntut warung makan murah itu, mengingat tingginya kekuasaan yang ada di tangan mereka.
Ya,hal kecil dapat berakhir dengan semengerikan itu jika berhubungan dengan para pemegang kuasa.
“Itu, orang yang kamu mintai tolong buat ngejagain masakan kamu,” ucap Wati, yang masih saja menjaga kedataran suaranya, juga menatap Siska dengan tatapan tertajamnya.
“Siska? Yang kamu maksud itu, Siska, Wat?” tanya Fitri, dengan ekspresi kaget yang tak bisa ditutup-tutupi saking sangat terkejutnya.
“Iyalah, siapa lagi? Gue tadi liat sendiri kok.”
“Tadi gue kira belum lo kasih garam, itu masakan. Makanya gue niatnya mau masukkin garam tadi,” alibi Siska, menjelaskan niatnya.
“Alibi lo, Sis! Kayak yang iya aja, gue tau itu cuma alesan lo aja!”
“Terserah lo! Mau percaya sama gue apa nggak,” jawab Siska datar, seraya melangkahkan kakinya keluar dari dapur.
“Itu anak, udah ketahuan masih aja nggak mau ngaku. Tebel banget ya itu mukanya. Nggak tau malu!”
“Udah, udah. Mungkin Siska tadi lupa waktu aku bilang sama dia masakannya udah aku kasih bumbu, tinggal diaduk-aduk aja sesekali. Udah biarin! Yuk, bantuian aku buat penyajian yang menarik di piring. Sebentar lagi temen-temen arisannya Ibu bos udah mau datang.” Tak ingin mengambil pusing, dan membuat tekanan darahnya kembali tinggi, Wati pun menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban ‘iya’ atas penjelasan dan ajakan Fitri itu.
Ternyata benar dugaan Fitri tadi. Tak lama setelah semua menu makanan telah tertata rapi di meja, satu per satu teman-teman arisan sang Ibu bos mulai berdatangan. Fitri dan para pegawai lainnya pun mulai berjejer rapi menyambut kedatangan mereka, dan telah siap melayani segala kebutuhan mereka.
Acara arisan pun dimulai dengan berbincang-bincang singkat, saling menanyakan kabar dan kesibukkan masing-masing anggota arisan, membahas barang-barang branded yang sedang terkenal akhir-akhir ini, membahas cerita liburan mereka yang berkelana di luar negri, hingga membahas siapa di antara mereka yang koleksi berliannya paling banyak. Mendengar semua itu, Fitri dan pegawai lainnya hanya bisa memamerkan satu ekspresi mereka yang terus menerus hadir di wajah mereka. Ekspresi terkejut dan terperangah, apalagi?
“Para sultan mah beda bahasannya sama kite-kite. Barang-barang branded, liburan ke luar negri, koleksi berlian, dan yang wow lainnya. Lah kite? Rakyat jelata mah bisa apa? Cuma bisa gigit jari aja pas denger cerita mereka,” dumel Roy dalam hati, seraya mengontrol kembali ekspresinya agar tak terlihat begitu terkejut. Membicarakan hal yang mewah dan berkilau bagi orang-orang yang berada di kalangan atas adalah hal yang wajar mereka lakukan, bukan? Kenapa dirinya harus terkejut?
Acara makan pun dimulai, sebelum pengumuman pemenang arisan kali ini akan diumumkan. Mereka sengaja menaruh kegiatan mengundi siapa pemenangnya diakhir acara, agar ketegangan semakin meningkat setiap moment-nya.
“Wah, Ibu Fitri, ini gudeg nangkanya enak banget lho.” puji teman arisan Ibu bos, seraya menatap gudeg nangkanya dengan tatapan berbinar.
“Iya, ini tumis genjernya juga enak banget. Bumbunya pas banget di lidah saya,” puji teman arisan Ibu bos yang lain, dengan pendar mata sama berbinarnya dengan yang lain.
“Aku kira tututnya bakal aneh lho pas dimakan, tapi ternyata enak banget! Pinter nih yang ngolahnya, bumbunya juga meresap sempurna sampai ke dalem-dalem.”
“Iya, Jeng. Aku juga awalnya takut-takut pas nyobain ini semua. Bukan apa! Takut nggak cocok di lidah saya, tapi pas dicicipi enak juga lho, Jeng, ternyata.”
“Terima kasih, terima kasih. Lagian aku heran sama kalian, lidah terbiasa makan masakan mewah kenapa sekarang pengin nyobain masakan kampung? Saya sempet pusing lho gimana ngabulinnya. Permintaan kalian suka aneh-aneh!” ucap Ibu bos, seraya menatap teman-teman arisannya dengan wajah berseri. Sepertinya Ibu bos sangat senang sekali mendapatkan banyak pujian dari teman-teman arisannya itu.
“Hehehe, bosen lah, Jeng, kalau makan yang itu-itu aja. Kita juga pengin ngerasain masakan yang sederhana juga. Aku tuh bisa tau nama menu-menu itu dari i********: lho. Ada yang ngeposting abis nyobain gudeg nangka, tumis genjer, sama olahan tutut, pas dia lagi liburan ke kampung. Kelihatannya enak dan menggiurkan. Ya gitu deh, jadi BM pengin nyobain juga,” ucap salah satu teman arisan Ibu bos yang lain, mengutarakan alasannya kenapa me-request menu-menu itu.
“Alhamdulillah ya, kesampaian juga,” ucap Ibu bos menanggapi.
“Oh iya, Bu. Kasih bonus dong sama yang bikin. Hebat banget lho bisa bikin lidah kita bergoyang kayak gini,” usul Ibu-Ibu, yang duduk tepat di samping kanan Ibu bos.
Mendengar itu membuat Ibu bos dan teman-teman yang lainnya tertawa. “Lidah bergoyang? Ada-ada saja kamu, Jeng. Soal bonus mah gampang, udah aku siapin buat dia. Fitri! Ke sini sebentar.” Fitri dengan segera menghampiri sang Ibu bos.
“Nih, Jeng, kokinya. Namanya Fitri, dia memang berasal dari kampung, makanya bisa jago mengolah semua masakan ini. Tapi kerennya dia pegawai baru saya lho, Jeng. Baru beberapa hari bekerja tapi perkembangannya udah pesat banget. Pelayanannya sama pembeli bagus, ramah banget, eh ternyata hasil masakannya juga juara. Saya emang harus ngasih bonus banyak sih buat dia,” ucap Ibu bos, memuji Fitri di hadapan teman-teman arisannya, membuat Fitri kini berdiri dan tersenyum canggung dengan semu merah di pipi yang terlihat sangat menggemaskan.
“Oh, yang ini toh kokinya. Fitri, nama yang cantik secantik orangnya. Masakan kamu enak banget lho! Aku yakin kamu tuh calon istri idaman! Cantik, ramah, dan pinter masak. Pasti banyak laki-laki yang ngejar kamu ini.”
Fitri semakin melebarkan senyuman manisnya itu, ketika mendengar pujian manis yang kembali dilontarkan salah satu teman arisan sang Ibu bos. “Terima kasih, Bu. Ibu bisa aja,”
“Pada lebay banget sih, heran gue! Masakan kampungan kayak gitu kok dipuji-puji. Makin terbang tuh gadis kampung dipuji-puji terus kayak gitu. Mana mau dapet bonus lagi dari Ibu bos, gue aja yang udah kerja setahun di sini belum pernah tuh ngerasain dapet bonus. Bener-bener ya si Fitri. Berani banget ngerebut semua itu dari gue. Gue yang seharusnya mendapatkan semua itu, Fitri! Bukan lo!” ucap Siska dalam hati, seraya menatap tajam ke arah Fitri, dengan tangannya yang mengepal kuat, sarat akan amarah yang memuncak dan membara.