Mendapat perlakuan mendadak dari Dewa, yaitu dipeluk, membuat Fitri menegang selama beberapa detik. Dan seolah kesadarannya sudah kembali, Fitri pun dengan segera melepas pelukan Dewa. “Kamu kenapa ke sini?” Dewa mengangkat sebelah alisnya ke atas. Memangnya salah kalau ia datang menemui Fitri? “Mm, aku ingin membawamu pulang ke rumah.” “Itu bukan rumahku.” “Siapa bilang? Kamu sudah lumayan lama tinggal di sana. Kamu udah aku anggap sebagai salah satu penghuni rumah itu. Jadi, rumah itu adalah rumah kamu juga sekarang. Kita pulang, ya? Lagi pula kamu akan tinggal di mana kalau tidak di rumahku? Di jalanan? Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu itu perempuan, Fitri. Bahaya jika harus tidur dan berkeliaran di sembarang tempat. Kalau ada orang jahat, bagaimana?” “Dewa..

