Jose POV
Aku mengangguk dan berlalu pergi mengambil jaket yang tergeletak diruang tamu. Aku menyusuri jalan setapak secara perlahan menikmati malam yang dingin. Langit begitu cerah. Bintang-bintang terlihat dengan sangat jelas. Aku berjalan menuju mobil milikku. Sampai saat ini Karno belum mengetahui keberadaannya. Aku hanya ingin memastikan tidak ada satu orangpun yang terlibat dengan masa laluku yang penuh darah dan luka. Mereka semua adalah orang-orang yang baik. Aku tak ingin mereka terluka. Mobil ini terparkir pada sebuah rumah dan aku membayar sewanya selama menggunakan halaman belakang rumah si pemilik. Setelah tiba, aku memilih duduk dibangku belakang kemudi. Aku mengambil alat komunikasi yang selama ini aku sembunyikan.
Aku juga mengakses info terupdate termasuk perkembangan kelompok Andra yang kini menduduki kursi ketua baru setelah bos wafat. Jika kembali mengingat itu, tentu saja aku menjadi gusar. Aku hampir mati ditangannya dan dia juga merebut orang-orang yang tulus menyayangiku sebagai keluarga.
BUUUK!
Tangan kiriku yang terkepal memukur setir mobil keras meluapkan kekesalan. Aku menarik napas panjang meredakan emosi. Suara serangga malam membantuku menenangkan diri. Puas melihat dan mengakses berita terbaru, aku kembali menyimpan alat itu ditempat persembunyiannya. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Aku kembali berjalan pulang bersama semilir angin yang keras berhembus membuatku merapatkan jaket hangat.
***
Vanilla POV
PLAAAAAK!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Panasnya menjalar bahkan membuatku pusing. Sosok wanita di hadapanku ini masih terlihat marah. Tangan kanannya kembali terangkat ingin memukulku tetapi terhenti diudara. “Anak tidak tahu diri. Sudah untung aku melahirkanmu dan merawatmu. Ini balasanmu?!” Yep! Wanita ini ibuku. Jemari tangan kanannya yang berhiaskan berlian dan cincin emas lainnya menarik rambutku kasar.
Aku terseret bagai karung tak bernilai. Aku sudah tidak memiliki suara mengaduh ataupun sekedar bergerak. Kakiku yang tertatih hanya dapat pasrah mengikuti. Jikalau rambutku harus tercabut dari kulit kepalaku semuanya, aku tidak masalah. Lebih tepatnya aku tidak peduli lagi. Aku lelah.
Sebuah kamar lembab dan gelap menjadi hunian paling nyaman yang bisa kudapatkan jika dia sedang dalam ‘kondisi’ ini. Entah ibuku sedang dalam mood baik atau buruk. Aku tidak bisa menebak dengan tepat. Tubuhku terhempas masuk kedalam dengan suatu bunyi berdebam yang keras. Pintu terbanting tertutup kemudian.
Aku masih dalam posisi terbaring dilantai yang berdebu. Aku bersyukur tempat ini tidak terlalu dingin saat malam. Tubuhku terlentang menatap langit-langit kamar pilu. Cahaya rembulan memasuki sela-sela ventilasi membuat penglihatanku lebih baik. Tubuhku terasa sangat remuk.
Aku tidak ingin memikirkan apapun juga. Aku hanya ingin tertidur berharap esok aku sudah meninggalkan dunia ini. Setidaknya itu adalah harapan kecilku yang tidak akan merugikan siapapun. Kantuk menyelimutiku seketika. Setetes air mataku mengalir membasahi pipiku yang lebam. Ini bukanlah tangisan, hanya air yang kebetulan mengalir keluar dari kedua mataku. Tubuhku meringkuk meratapi yang terjadi hari ini.
“Vanilla! Vanilla! VANILLA!” Sebuah suara mengangetkanku. Mataku mengerjap secara perlahan dan melihat wajah pelayan pribadiku, Letta penuh air mata. Letta membantuku bangkit duduk dan menyelimutiku dengan sebuah kain. “Bangkitlah.”
Aku mengangguk dan berusaha bangkit melangkah meninggalkan kamar penjara itu. Letta membawaku menuju kamarku dan menyiapkan air hangat dalam bathtub. Tubuhku yang lemas hanya diam pasrah saat Letta dan dua pelayan yang lain membersihkan tubuhku. Begitu selesai, Letta menyelimutiku dengan handuk dan membantuku mengenakan pajama towel.
Letta meminta dua pelayan itu pergi sehingga hanya kami berdua di dalam ruangan itu. Letta menghela napas panjang dan mulai mengobati luka lebamku. Sebuah kotak P3K tergeletak di sebelah kananku. “Auh!” aku meringis nyeri saat alkohol itu menyentuh luka baret dilenganku.
“Tenanglah.” Pinta Letta.
“Mami kemana?”
“Kerja.” Jawabnya pelan. Aku menghela napas panjang. Letta adalah sahabat baikku sejak kecil. Kedua orangtuanya sudah lama melayani keluargaku. Usianya lebih tua 5 tahun dibanding diriku. Saat ini aku sudah berusia 21 tahun. Kehidupanku hanya berlalu seperti ini.
Aku terlahir secara tidak diinginkan. Ibuku adalah seorang script writer sukses yang banyak memenangkan Oscar berkat kecerdasannya dalam menulis kisah dan menciptakan klimaks sebuah alur cerita. Aku tidak pernah mengetahui siapa ayahku yang sebenarnya. Ibuku tidak pernah ingin membahasnya.
Karena kehadiranku, ibuku terpaksa melepaskan mimpinya untuk menjadi seorang aktris dan akhirnya hanya bisa bekerja dibalik layar. Meskipun saat ini kemasyuran sudah berada digenggamannya, ibuku masih tidak puas dan selalu menyalahkanku belasan tahun lamanya.
Ibuku terlahir dari keluarga mapan kaya raya. Namun saat menginjak usia 15 tahun, kakek dan nenekku meninggal karena kecelakaan mobil tragis. Itulah mengapa ibuku sempat dilanda depresi dikala merintis kariernya didunia perfilman. Kehidupan malamnya yang glamor membuatnya lupa diri dan akhirnya hamil diluar pernikahan.
Janin didalam rahimnya adalah aku yang sangat dibencinya. Oleh karenanya, ibuku berkubang dalam skandal kelam itu dan mendapat blacklist. Selama bertahun-tahun, ibuku berjuang melawan penghakiman dan cacian itu.
Awalnya dia terus menerus berusaha menggugurkanku tetapi aku bertahan hingga lahir 8 bulan kemudian dalam keadaan premature. Ibuku tidak pernah ingin melihatku dan hanya menitipkan kepada orangtua Letta. Hingga pada saat usia 15 tahun, ibuku mengambilku dan aku mulai tinggal bersamanya.
Ternyata hidup tidak semulus apa yang aku inginkan, ibuku memiliki gangguan bipolar. Sering kali jika episode gangguan moodnya tiba, dia akan melampiaskannya kepadaku dengan brutal. Memukul dan menganiayaku adalah salah satu jalan terbaik untuk membuatnya tenang.
Tidak ada satupun pelayan di mansion ini yang berani melerai jika ibuku sedang memukulku. Letta hanya dapat menunggu disudut ruangan sambil menangis. Aku sudah terbiasa. Mengapa aku tidak berpikir melarikan diri? Sejujurnya aku ingin, tetapi aku tidak bisa mengabaikan ibu kandungku sendiri. Bagaimanapun, dia tetaplah wanita yang bertaruh nyawa saat melahirkanku. Aku menyayanginya sepenuh hatiku.
“Aku sudah menyiapkan makanan.” Letta meraih kotak P3K dan kembali meletakkannya disudut kamarku.
“Aku tidak lapar.” Aku memilih berbaring.
“Kamu belum makan sejak malam, Vanie.” Letta selalu memanggilku Vanie dibandingkan Vanilla.
“Aku ingin istirahat.” Aku menarik selimut pelan dan mulai memejamkan mata.
Letta menghela napas dan beranjak keluar. Tak lama dia kembali dengan baki yang berisi semangkuk bubur dan segelas jus jeruk. “Makanlah. Kamu kelihatan kurus sekali.” Aku hanya mengangguk pelan. “Nyonya benar-benar keterlaluan. Bagaimana jika kamu mati?”
Aku tertawa kecil. “Mami tidak akan membunuhku. Aku mungkin terluka parah tetapi dia tidak akan rela kehilanganku.” Bisikku datar.
“Kamu gila. Semakin bertambah usiamu, aku semakin tidak mengerti.”
“Mami ingin menikah lagi dan aku menghalanginya.” Ungkapku pelan. Ibuku sudah pernah menikah dengan salah satu sutradara terkenal namun hanya bertahan dua tahun dan bercerai tanpa anak. Ayah tiriku tersebut juga berusaha memperkosaku berulang kali. Tetapi lagi-lagi aku selalu beruntung Letta dan pelayan lain berada disana melindungiku. Fakta itu tidak pernah terkuak kehadapan ibuku karena beliau tidak akan pernah mempercayainya.