Vanilla POV
“Mantan suaminya yang lalu selalu melecehkanmu.” Letta terang terdengar jengkel. “Beliau selalu melampiaskannya kepadamu. Lalu apalagi kali ini?”
“Mami mengatakan dia single tanpa anak dan calon suaminya mengetahui jika dia sudah memiliki aku.”
“Lalu dia memukulmu begitu?” Letta duduk di king bedku dan menatapku kesal. “Nyonya sudah sangat kaya raya. Lihat semua ini.” Letta mengarahkan kedua tangannya kesekeliling kamarku. “Bahkan artis terkenalpun tidak memiliki kemewahan ini. Nyonya adalah script writer sukses, untuk apalagi mengejar suami kaya.”
“Entahlah. Posisi? Tahtah?” Aku kembali memejamkan mata. “Aku benar-benar lelah. Bisakah kamu meninggalkanku? Akan kuhabiskan bubur itu nanti.”
“Oke. Tekan tombol ini jika kamu membutuhkanku.”
Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. Sepeninggal Letta, aku terbaring menatap langit-langit kamarku. Harta ini? Memang benar aku dikelilingi kemewahan yang hanya bisa menjadi mimpi orang lain, tetapi mereka tidak mengetahui sengsara yang aku lewati sehari-hari.
Mataku terpejam secara perlahan, kantuk menyelimutiku beberapa waktu kemudian. Aku terbangun beberapa jam setelahnya. Aku melirik bubur yang kini sudah terganti oleh bubur panas. Belum sempat aku memakannya, Letta sudah menggantinya dengan yang baru.
Tanganku yang bergetar meraih mangkuknya dan mulai menyantap perlahan. Butuh 30 menit hingga aku berhasil menghabiskannya. Pintu terbuka kemudian, Letta membawakan secangkir teh herbal untukku. “Bagaimana perasaanmu?”
“Lebih baik.” Aku bangkit menuju kamar ganti. “Aku ingin mencari udara segar.”
Letta mengangguk dan membantuku mengenakan syal dan pakaian hangat. Tak menunggu lama, aku sudah duduk di taman dengan secangkir teh hangat beserta biscuit. Angin yang bertiup semilir terasa dingin tetapi membuat tubuhku rileks.
Aku terduduk diam sembari membaca buku. Matahari terbenam tanpa terasa. Seseorang menghampiriku dari belakang. Aku menoleh dan segera bangkit. “Join Mami makan malam.” katanya dengan datar. Wajahnya yang cantik tidak terlihat jika dia sudah berusia nyaris 40 tahun.
“Iya, Mami.” Jawabku dengan patuh.
“Letta sudah menunggu di kamarmu bersama seorang designer.” Setelah mengatakan itu, langkahnya menjauh meninggalkanku ke dalam.
Aku mengenakan dress berwarna pastel yang menutupi seluruh lengan dan kakiku. Ibuku tahu benar cara menutupi tubuhku yang lebam. Aku terdiam bagai patung yang hanya bisa menurut dan patuh.
Designer wanita di hadapanku berdiskusi panjang lebar bersama dua asistennya. Sementara Letta menyiapkan perlengkapan make-up. Butuh 2 jam untuk mempersiapkanku dan mendandaniku. Letta menatapku dengan takjub. “Well… kamu terlihat seperti puteri kerajaan.” Designer itu juga turut mengangguk sepaham.
Aku tersenyum kecil. Sebenarnya dalam hati aku tidak merasakan apapun. Sejak kecil orang-orang mengatakan jika wajahku cantik, begitupula tinggi tubuhku yang di atas rata-rata. Namun apalah artinya semua itu jika aku tidak bisa mendapatkan perlakuan layaknya seorang anak dari ibu kandungku sendiri?
Aku berlalu menuju pintu tanpa ingin bercermin, jujur saja… aku muak dengan wajah ini. Aku terduduk elegan di hadapan meja makan sembari menunggu ibuku yang masih bersiap. Tak lama, suara heels yang beradu dengan lantai marmer menyadarkanku. Aku menoleh dan menemukan ibuku mengenakan dress berwarna hijau tua membuat kulitnya yang putih bersih semakin bersinar.
Belahan dadanya yang rendah semakin menambah keseksiannya. Dress itu membuatnya terlihat semakin muda. Make-upnya yang selalu tebal mengenakan lipstick merah menyala menjadi ketertarikan tersendiri. Matanya yang tajam menatap penampilanku secara teliti dan kemudian mengangguk. Asisten pribadinya, Diya menarik kursi dan membantunya duduk. Matanya masih menatapku menusuk.
“Calon suamiku akan makan malam bersama kita.” Cetusnya kemudian.
“Ya, Mami.” Jawabku patuh. Diya menghampiri ibuku kemudian dan membisikkan sesuatu. Ibuku mengangguk sebagai jawaban.
“Dia di sini. Jaga sikapmu dengan baik.” Pesannya tajam. Aku mengangguk patuh.
Pria dengan mengenakan tuxedo tiga lapis rancangan Giorgio Arman* melangkah dengan percaya diri. Sepatu kulit mengkilat rancangan T*d’s membuat penampilannya terlihat semakin mewah. Ibuku langsung merubah raut wajahnya menjadi manja dan bangkit menyambut.
“Babe.” Ibuku memeluknya seketika.
“Kamu lama menunggu?” tanyanya dan menatapku sambil tersenyum.
“Tentu saja tidak. Ah… kamu terlihat tampan sekali.” Ibuku mengelus dasi kupu-kupu pria itu, warnanya senada dengan tuxedo yang dikenakannya.
“Kamu terlihat sangat cantik.” Sebuah kecupan mesra mendarat dipundak tangan ibuku yang gemulai. Ibuku tertawa manja dan mempersilahkan duduk. “Ah… kamu pasti Vanilla?” tanyanya dengan suara bariton berkharisma. Ibuku menatapku tajam sebagai peringatan untuk bersikap manis. ‘Jangan mengacaukannya.’ Setidaknya itu maksud tersembunyi ibuku.
“Selamat malam.” jawabku sesopan mungkin. Senyuman kecil seperlunya terukir diwajahku. Malam ini haruslah ibuku yang menjadi bintangnya.
“Santai saja. Kamu terlalu kaku, Nak.” Pungkasnya dengan tertawa renyah. Ibuku ikut tertawa untuk menghidupkan suasana.
“Wera, kamu memiliki puteri yang manis dan sopan.” Akunya dengan mengangguk-angguk. “Well… aku belum memperkenalkan diri, bagaimanapun kita akan menjadi satu keluarga.” Pria itu berdehem sejenak. “Maximus, aku bekerja sebagai sutradara dan memiliki rumah produksi sendiri.” Terangnya.
Aku melirik ibuku yang terus menatapku tajam. Sutradara? Lagi-lagi profesi itu. “Senang berkenalan dengan anda.” Ucapku sedatar mungkin.
Maximus kembali tertawa. “Kamu bisa mulai memanggilku Papi. Benar begitu, Sayang?”
“Babe, tentu saja.” Wera tertawa manja kemudian. Sepertinya makan malam ini berjalan lancar. Aku tidak melihat posisiku menganggu kedekatan mereka. Makan malam terhidang kemudian. Aku mendengarkan rencana pernikahan mereka yang akan diselenggarakan secara besar-besaran bulan depan.
Terang sekali ibuku sangat menginginkan posisi itu. Maximus memiliki rumah produksi besar dengan sokongan dana melimpah. Pastilah berada sebagai nyonya dalam keluarganya akan memberinya akses mudah.
“Oh ya, Vanilla… Papi akan membawa Jordyn dan Jocelyn untuk pertemuan kita selanjutnya.”
“Jordyn? Jocelyn?” tanyaku setelah meneguk air mineral.
“Puteri kembar Papi. Kalian pasti akan akur, mereka hanya dua tahun di atasmu.”
“Baik.” Jawabku dengan mengangguk pelan. Ah… saudari tiri. Dalam hati aku kembali menangis. Belum cukupkah ibuku yang kejam? Sekarang Jordyn dan Jocelyn juga menjadi saudari tiriku.
Aku mengenal Jordyn dan Jocelyn disebuah pergelaran Golden Globe Awards. Meski aku tidak berbicara secara langsung, mereka bersikap sangat angkuh dan menyebalkan. Mungkin karena pengaruh besar dari Maximus sendiri. Siapa yang tidak mengenal ayah mereka yang berkuasa?
Makan malam itu berlanjut di taman sembari menikmati champagne. Aku memilih mengundurkan diri. Ibuku juga terlihat sudah ingin mengusirku, dirinya harus menghabiskan waktu berdua untuk menguatkan hubungan mereka. Aku paham benar itu. Tubuhku terhempas lelah di atas king bed. Letta sedang mengurus gaun yang kukenakan sebelumnya.
“Kamu ingin teh herbal?” tanya Letta dan duduk di hadapanku.