Seojin dan ketiga temannya itu telah sampai di apartemen Seojin yang terbilang cukup luas itu. Sam yang baru pertama kali melihat apartemen Soejin pun terlihat takjub dengan ruangan yang rapi itu, kemudian berlari ke dalam dan menghempaskan dirinya di atas sofa yang berbentuk seperti kasur kecil itu.
“Jadi ini tempat tinggalmu?” Tanya Yeongju pada Seojin. Lelaki itu mengangguk seraya menggantung tas dan jaket miliknya pada gantungan jaket yang ada di dekat pintu keluar.
Yeongju yang juga mengenakan jaket panjang itu membuka dan menggantungnya di samping jaket Seojin, sementara Eunjoon dan Sam tidak membuka jaket milik mereka dan langsung masuk ke dalam apartemen milik Seojin untuk merebahkan diri mereka.
“Buka jaket kalian!” Seru Seojin pada kedua temannya itu, tetapi mereka seakan tidak ingin mendengar dan memilih untuk mengabaikan ucapan Seojin yang merupakan sebuah teguran itu.
“Mereka tetaplah mereka di manapun mereka berada!” Ujar Yeongju yang menepuk bahu Seojin, seakan menyuruh Seojin agar lebih bersabar dengan sikap kedua teman mereka itu. Seojin hanya bisa mengangguk dan menaruh kotak makanan itu ke dalam kulkas, membuka kainnya dan menyimpan kain itu di atas meja. Kemudian ia berjalan ke dalam kamar untuk mengambil perlengkapan tidur untuk dia dan teman-temannya yang akan tidur di ruang tengah. Memang ada tiga kamar di sana, tetapi dua dari kamar tersebut adalah milik orang tua Seojin yang sengaja tidak di tempati oleh Seojin dan satu lainnya adalah ruang kerja milik ayahnya yang sekarang berubah alih menjadi gudang itu.
Bruk! Seojin melemparkan seluruh bantal, guling, spray dan selimut ke atas sofa di mana Sam dan Eunjoon sedang merebahkan diri mereka. “Setidaknya bersihkan tubuh kalian sebelum pergi tidur! Kalian penuh dengan keringat!” Ucapn Seojin yang langsung memberikan tiga buah handuk pada Yeongju yang berdiri di belakangnya.
Lelaki yang menerima handuk itu pun terlihat kebingungan saat Seojin memberikan handuk tersebut padanya. “Kau memiliki handuk sebanyak ini? Untuk apa?” Tanya Yeongju yang tidak mengerti mengapa Seojin memiliki banyak handuk padahal dirinya hanya tinggal sendiri di apartemen itu.
Seojin menoleh pada Yeongju dan menunjuk handuk yang paling atas, “Satu milik Jeonsu hyung, satu milik Haemin hyung dan satu nya milik Jihoon hyung! Mereka selalu kemari saat mereka memiliki masalah di rumah mereka, dan membeli handuk untuk mereka sendiri! Tapi tenanglah, aku sudah mencucinya!” Seojin memberikan penjelasan mengapa di apartemennya itu tersedia banyak handuk.
“Oh… Ku kira kau menggunakan semua handuk ini karena kau selalu menggantinya setiap dua hari sekali!” Yeongju pun memberitahu Seojin apa yang sebenarnya ia pikirkan tadi jika Seojin tidak menjelaskan yang sebenarnya pada mereka. Sam tertawa dengan keras mendengar hal itu kemudian bangkit dari posisi terlentangnya.
“Hahaha tidak mungkin hyung! Seojin hyung akan merasa malas untuk mencucinya setiap dua hari sekali.” Ucap Sam seraya berdiri dan mengambil salah satu handuk yang ia pilihi warnanya itu.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yeongju saat Sam berusaha mengambil handuk yang ada di tengah, kemudian Sam kembali menaruh handuk yang sebelumnya di posisi paling atas itu.
“Memilih warna ini, karena ini warna yang aku suka!” Jawabnya seraya mengangkat handuk berwarna kuning yang ia pilih itu dan berjalan ke arah kamar mandi.
“Hyung aku meminjam sikat gigimu ya!” Ucap Sam berteriak pada Seojin yang kini berada di dalam kamarnya.
“Ani!” Jawaban itu terdengar begitu keras di telinga mereka bertiga. “Aku menyimpan sikat gigi yang berasal dari hotel di dalam laci di dapur! Lihatlah jika itu masih ada!” Ucap Seojin kembali, sehingga Sam pun berjalan ke dapur dan membuka satu persatu laci untuk
*Ani
Adalah ungkapan untuk mengatakan tidak, tetapi kata ini di kataan saat tidak formal. Sedangkan bentuk formalnya adalah Ani-yo.
“Ah, ada!” Ujar Sam seraya mengangkat tiga buah sikat gigi yang ada di dalam bungkusan ke atas, membuat Eunjoon dan Yeongju dapat melihatnya. Sam dengan cepat melempar dua buah sikat gigi itu ke arah Yeongju yang segera menangkapnya kemudian ia berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar, Seojin yang telah menyiapkan baju-baju untuk ketiga temannya yang akan ia pinjamkan itu memilih untuk membuka surat pemberian Ajumma yang sebelumnya ia simpan ke dalam tasnya tersebut.
Seojin pun duduk di atas kasur dan mulai membaca isi surat yang ternyata sebuah tulisan tangan.
2 juni 2004, anakku lahir dengan kondisi yang normal. Saat itu sedang musim panas di korea sehingga, kami merasa cukup kesulitan, meski kesulitan itu hilang karena rasa bahagia kami. Semua hidup kami berjalan dengan normal, aku dan suamiku membesarkannya menjadi anak yang pintar dan baik! Kami tidak menginginkan apapun lagi kecuali kebahagiaannya.
Dia yang pandai sekali memasak dan suara nyanyiannya yang sangat merdu di pagi hari itu sangat aku rindukan saat ini.
Seojin terdiam saat ia membaca sepenggal cerita dari Ajumma mengenai anaknya yang sekolah di Seoul itu. Sebuah senyuman samar terukir di wajah Seojin saat ia bisa merasakan adanya kebahagiaan yang di tuliskan oleh Ajumma di surat itu.
Tok! Tok! Tok! Seojin segera menyimpan surat itu ke dalam laci miliknya, kemudian mengambil tiga buah baju serta celana yang ia siapkan untuk ketiga temannya itu. Ia berjalan dan membukakan pintu untuk menatap Eunjoon yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
“Hyung boleh kah…” Eunjoon tidak melanjutkan ucapannya saat Seojin sudah terlebih dahulu memberikan baju itu padanya, seolah ia mengerti bahwa Eunjoon mengetuk pintu kamar nya untuk meminjam baju padanya.
“Gomawo!” Ucap Eunjoon kemudian dan mengambil salah satu baju itu untuk ia berikan pada Sam yang sudah berada di kamar mandi. Seojin berjalan ke arah dapur dan membuat empat gelas s**u hangat, untuknya serta ketiga temannya tersebut. Ia berpikir pasti ketiga temannya itu cukup lelah setelah jalan kaki.
“Tempatmu ini cukup nyaman!” Yeongju menghampiri Seojin yang ada di dalam dapur dan duduk di meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur berukuran cukup tersebut. Seojin menoleh dan tersenyum pada Yeongju, kemudian ia membawa gelas-gelas itu ke atas meja makan dan duduk di hadapan sahabat dekatnya tersebut.
“Ya… Hanya inilah peninggalan mereka yang aku punya.” Jawab Seojin. Keduanya saling membalas senyum seraya meminum s**u hangat tersebut, meskipun Seojin memiliki soda dan beberapa botol soju di dalam kulkasnya. Tetapi ia tidak berani untuk minum minuman yang di beli oleh ketiga hyungnya tersebut, karena ia sadar bahwa dirinya belum memiliki umur yang cukup untuk meminum alkohol-alkohol tersebut. Sekali lagi, Seojin memang seorang namja yang nakal, tetapi ia tidak se-nakal itu untuk berani meminum alkohol dan merokok.
*Namja
Adalah arti dari kata sebutan untuk Laki-laki.
To be continued