Bab 2

1492 Kata
ISTRI RAHASIA CEO Bag 2 ** Kini Wildan sudah duduk di depan Ana. Perempuan yang menggunakan hijab itu tersenyum kecil sesekali melirik lelaki di depannya, bagaimana tidak Wildan adalah laki-laki yang dikagumi Ana ketika SMA dulu. Wildan kakak kelasnya. Tetapi Wildan tidak mengenal Ana. Soalnya Ana hanyalah murid biasa. Sedangkan Wildan murid berprestasi dan juga murid populer di sekolah. Banyak wanita yang mengejarnya ketika SMA dulu. Dia cerdas, pemain basket serta tampan. Karena itulah Wildan memiliki banyak teman dan juga banyak orang yang mengaguminya. Termasuk juga Ana, mengaguminya secara diam-diam ketika Wildan kelas XII SMA dan Ana di kelas X. Ana hanya bisa mengaguminya secara rahasia. Ana juga sadar, terdapat perbedaan kasta yang mencolok. Ana murid biasa yang miskin dan juga tidak populer, tidak terkenal jadi Ana cukup menerima saja hanya mengagumi Wildan sekedar suka-suka biasa aja. Tidak berani berharap terlalu tinggi. Tidak mungkin juga Wildan mau melirik wanita seperti Ana. Ketika kelas XII Wildan juga punya kekasih. Saat itu Wildan berpacaran dengan gadis populer juga pada zaman SMA. Ana sempat patah hati tapi ya sudahlah. Dia tak mungkin bersama Wildan. Ana menganggap tak hanya dia yang patah hati tapi banyak wanita. Ana berdoa semoga Wildan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya dan dia juga bisa bahagia dengan kehidupannya. "Kenapa kamu mau datang ke sini?" tanya Wildan dingin. Ana tersentak saat Wildan berkata seperti itu. Ana tersadar dari lamunannya. Dia datang ke sini atas permintaan orang tuanya Wildan. Orang tua Wildan datang ke rumah untuk meminang Ana buat jadi istri anaknya. "Pak Fuad dan Bu Farida yang memintaku untuk datang," kata Ana. "Kau tahu aku sama sekali tidak tertarik kepadamu. Sehingga kumohon kepadamu bilang kepada orang tuaku kalau aku tidak mau menikah denganmu," kata Wildan. Ana terkejut saat Wildan berkata demikian. Iya, Ana cukup sadar diri kalau Wildan memang tidak menyukainya. Ana juga tidak tahu kalau lelaki yang akan meminangnya itu Wildan dan dia berpikir lelaki lain. Orang tuanya Wildan hanya menyuruh bertemu di Kafe saja dan Ana tak tahu kalau pria yang akan di jodohkan itu Wildan, pria yang Ana kagumi. Sejenak Ana merasa senang, akan menikah dengan Wildan. Tapi mendengar ucapan dari lelaki yang ada di hadapannya, Ana kembali sedih. Namun begitulah adanya. Lelaki yang duduk sambil menyilangkan tangannya dan menatap jijik dirinya tidak menyukainya dan dia tidak bisa memaksa. Anak hanya diam mematung. Tidak berani berkata-kata bahkan menatap laki-laki di depannya saja dia tidak berani. "Kamu tahu sebenarnya kamu sudah membuang waktuku. Aku sudah datang, sudah melihatmu dan aku mengatakan tidak tertarik. Kalau begitu aku permisi dulu, banyak hal yang lebih utama untuk ku kerjakan daripada berada di sini. Katakan pada orang tuaku. Kamu juga tak mau menikah denganku agar semua ini selesai!" katanya Wildan sarkas. Wildan berlalu begitu saja dari Ana. Ana menghela napas panjang. Dia berusaha tersenyum saat Wildan berkata itu. Beberapa saat Ana mengambil tas dan pergi juga dari Kafe tersebut. Sepertinya memang dia tidak berjodoh dengan Wildan. Ana pulang ke rumah sederhananya. Di sinilah dia biasanya hidup dengan ayahnya serta ibunya. Ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Kini, Ana harus hidup sendiri, setelah ayahnya juga meninggalkannya baru beberapa bulan yang lalu. Ana dua bersaudara, dia dan Mbak-nya, Nia. Mbaknya sudah menikah dan tinggal merantau ikut suaminya yang seorang abdi negara. Di rumah ini, Ana tak adalagi teman, hanya seorang diri. Ana baru tahu kalau ternyata ayahnya Wildan dan ayahnya adalah teman lama. Pertemuan itu juga sangat singkat. Pak Fuad terkejut saat temannya sekarat dan menjumpai di Rumah Sakit. Saat sedang sakit keras, ayah Ana berpesan agar Ana menerima lamaran Pak Fuad untuk putranya. Pak Fuad mau menikahkan Ana dengan anaknya. Ana hanya menyetujui saja ketika itu soalnya kondisi ayahnya juga memprihatinkan. Ana juga heran, Pak Fuad yang orang kaya mau menerima dia sebagai menantu. Pasti ayahnya dan Pak Fuad sangat akrab atau ada hal lainnya. Entahlah! Setelah pertemuan dengan Wildan. Ana akan mengubur impian kedua orang tuanya agar menikahkan mereka. Wildan juga tidak setuju memperistri dirinya. Ana akan mengatakan agar mereka tidak perlu menikah. Ini juga keinginan Wildan. Kayaknya, Ana mengatakan lewat pesan saja, tidak apa-apa sepertinya. Kalau bertemu langsung Ana kasihan dengan Pak Fuad yang harus meluangkan waktu berharganya untuk dirinya sementara Wildan juga tidak mau memperistri dia. [Assalamualaikum. Bapak Fuad dan Ibu Farida. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maafkan saya kalau tidak mengatakan secara langsung. Saya tahu kalau Bapak dan Ibu sangat sibuk. Bersamaan dengan pesan ini, saya sampaikan beribu maaf sekali lagi. Untuk bertemu langsung agaknya takut mengganggu waktu Bapak dan Ibu. Saya sampaikan saja kalau saya tidak bisa menerima lamaran dari Bapak untuk saya menikah dengan anak Bapak Fuad dan Ibu Farida yang bernama Wildan. Insya Allah Mas Wildan akan menemukan wanita yang cocok dan di cintainya buat menjadi pendamping hidupnya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Bapak dan Ibu dapat menerima. Semoga Bapak dan Ibu selalu sehat dan dalam lindungan Allah.] Lega rasanya hati Ana setelah menulis pesan dan mengirimnya. Walau dia kecewa tak bisa memenuhi amanat Bapaknya. Tak apalah, jodoh tak bisa di paksa. . . Berapa hari berlalu begitu saja dan Ana kembali melakukan aktivitasnya mengajar sebagai guru TK. Dia menerima telepon dari Bu Farida. "Assalamualaikum, Bu," kata Ana agak takut. Kenapa lagi Bu Farida mengubunginya? Ana juga dengan sangat halus sudah menolak Wildan seperti ingin lelaki itu. Seharusnya masalah sudah selesai. "Waalaikumsalam, Sayang. Kamu ada waktu? Bisa datang ke Rumah Sakit karena ada hal penting yang akan Tante sampaikan bersama Om juga," kata Bu Farida. "Siapa yang sakit, Bu?" tanya Ana sopan. Walau Farida menyuruhnya memanggil Tante. Ana tetap berkata sopan dengan panggilan Ibu dan Bapak. "Bapak, Ana. Please, kamu datang ya," kata suara wanita paruh baya itu dengan lembut. Farida menghargai Ana dengan menyebut Bapak untuk lebih hormat. "Baik, Bu. Semoga Bapak cepat sembuh. Saya doakan," kata Ana sebelum penutup panggilan telepon. Farida mengirimkan alamat Rumah Sakit di mana Pak Fuad dirawat. Ana menghela panjangnya di suruh datang ke Rumah Sakit. Dia memang harus pergi untuk menjenguk Pak Fuad. Semoga saja pak Fuad bisa menerima kalau Ana tidak bisa menikah dengan Wildan. Walau ada rasa bersalah juga ketika Ana harus menulis pesan penolakan, mau bagaimana lagi. Bukankah cinta tidak bisa dipaksa, walaupun Ana ada rasa kagum ke Wildan. Tetapi laki-laki itu tidak ada rasa sedikitpun dengan dirinya. Ana berusaha membesarkan hatinya setelah pulang dari mengajar anak-anak TK. Dia pun mampir ke rumah sakit untuk melihat kondisi dengan membawa buah-buahan. Ana membeli apel dan anggur di supermarket. Berharap semoga Pak Fuad suka. Alhamdulillah, harganya juga terjangkau. Memberi ke orang sakit, dia harus membawa yang terbaik, begitulah yang diajarkan orangtuanya padanya. Begitu sampai di ruang perawatan Fuad. Ana mengetuk pintu. Ana berjalan perlahan untuk masuk ke ruang perawatan tersebut setelah Bu Farida menyuruhnya untuk masuk. Mereka sama-sama masuk menemui Pak Fuad yang sedang terbaring lemah. Ana berjalan sambil membawa buah-buahan yang dia beli tadi di Supermarket. Setelah sampai di ruang Pak Fuad. Lelaki paruh baya sedang berbaring lemah. Ana sedikit terkejut melihat ada sosok Wildan yang juga berada di ruang perawatan papanya. Dia hanya meringis merasa gak enak, datang di waktu yang salah. Sebelumnya, Ana memberikan buah yang diberinya ke Farida, mamanya Wildan. Farida sangat senang menerima buah tangan yang diberikan Ana. Dia menaruhnya di nakas. Tetapi Wildan hanya menatap Ana dengan wajah datar saja. Wajah yang sulit diartikan. Melihat Wildan, Ana merasa malu, merasa tidak pantas. Ana lebih banyak menundukkan wajahnya dan kembali diam. Ana dipersilahkan duduk oleh Farida. Dia pun duduk, berpikir berkunjung sebentar saja. Sebentar lagi Ana juga pulang. Setelah berbahasa-basi dan meminta maaf sebesar-besarnya karena penolakan yang dilakukan. Penolakan itu juga keinginan Wildan yang tidak bisa dipaksa. Ana masih diam dengan pikirannya sendiri yang sudah tak betah di ruang perawatan Fuad, papanya Wildan. "Terima kasih Ana sudah mau mengunjungi Bapak di sini." Fuad buka suara. Dia lebih sopan memanggil dirinya Bapak ke Ana. Fuad sangat ingin menjadikan Ana menantunya, menikah dengan Wildan anaknya. "Iya, Pak. Cepat sembuh ya. Semoga Allah angkat penyakitnya dan diganti dengan kesehatan," kata Ana. Jujur Ana sangat tak nyaman. Wildan menatapnya jijik dan tak suka. Ana bisa merasakannya. "Ana, apakah kamu menolak Wildan jadi suami kamu?" tanya Pak Fuad dengan suara lemah. "Oh, itu ... iya, Pak. Saya tidak bisa menerima Kak Wildan." Ana menjawab sambil tertunduk. Berkata Mas saja dia tak kuat, Ana menggantinya dengan sebutan kakak agar Wildan tidak marah. Panggilan wajar seorang adik kelas pada kakak kelas, begitulah Ana berpikir. Kalau panggilan Mas nanti Wildan tidak senang padanya. Ana tau Wildan jijik padanya. "Apa alasannya, Ana?" tanya Fuad lagi. "Saya ..." Ana melirik Wildan takut. Dia gugup tapi, harus di selesaikan sekarang. "Kami tidak cocok, Pak. Saya tak bisa menikah dengan Kak Wildan. Mohon maaf," kata Ana. Dia tahu Fuad kecewa, apalagi ini juga kemauan ayahnya. Tak apa, namanya tidak jodoh. "Wildan sudah setuju Ana. Dia mau menikahi kamu," kata Fuad lemah. Ana terkejut mendengar ucapan Pak Fuad. Setuju dari mana, beberapa hari bertemu saja Wildan marah. Dia tak suka dengan perjodohan ini. Bagaimana sekarang bisa setuju? "Ya, saya setuju menikahi kamu," kata Wildan. Ana sungguh terkejut. Bagaimana bisa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN