Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Maria Ivanovna Fedorova—nama lengkap gadis yang akrab disapa Maria itu—dibesarkan di sebuah panti asuhan. Begitu lulus sekolah, ia memberanikan diri merantau ke kota besar, bertekad bekerja keras demi membantu Ibu Panti membiayai adik-adiknya. Bagi Maria, seluruh anak di panti itu adalah keluarga kandungnya sendiri.
Di dalam panti, ia adalah kakak teladan yang disayangi semua orang. Namun di luar sana, nasibnya sungguh berbeda. Maria kerap dianggap gadis pembawa sial, sering diejek teman sekolah, dan tak jarang menjadi sasaran perundungan.
Meski begitu, ia tak pernah sekalipun mengeluh atau menceritakan semuanya pada Ibu Panti. Maria tumbuh menjadi gadis yang tangguh, dan itulah yang membuat Ibu Panti serta adik-adiknya begitu bangga padanya.
Pagi ini, Maria kembali menjalani rutinitasnya. Ia bekerja di salah satu hotel termewah di kota itu.
Ia menatap jalanan yang biasanya ia lalui, kini padat merayap. Kerumunan orang dan kemacetan panjang membuatnya yakin akan terlambat sampai di tempat kerja.
"Aduh... kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri semua ya?" gumamnya sambil melirik waspada ke kanan dan kiri.
Jalanan itu terasa begitu sunyi. Memang jalur ini jarang dilewati siapa pun, karena di sekelilingnya hanya tertutup hutan lebat. Tak ada satu pun rumah penduduk, hanya deretan pepohonan yang menjulang tinggi sepanjang jalan.
"Benar juga ya, hari sial itu memang tak pernah tertulis di kalender," gumamnya pelan, napasnya mulai memburu di tengah keheningan yang mencekam itu.
Saat ia hendak membelokkan motornya, tiba-tiba sesosok tubuh muncul dengan cepat dari balik rimbunnya pepohonan.
"Awas!" serunya panik, tangan segera menekan tuas rem sekuat tenaga.
Ban motor terpeleset, tubuhnya terhuyung tak terkendali, sebelum akhirnya terhempas tepat di depan sosok pria itu. Jantungnya berdegup liar seolah mau copot.
Brak!
"Aduh!"
Maria langsung tersadar: ia baru saja hampir menabrak seseorang. Rasa takut dan curiga langsung menyergap pikirannya. Kenapa ada orang yang muncul tiba-tiba di tempat terpencil seperti ini? Sepertinya, hari sialnya belum usai.
Matanya terpaku pada pria yang kini tergeletak tak bergerak di depan motornya. Pakaian pria itu basah kuyup, dan darah segar mulai menggenangi aspal di sekeliling tubuhnya—darah yang pasti berasal dari pria itu.
"Astaga... Aku menabrak orang," batinnya, d**a tiba-tiba terasa sesak menahan panik.
Hatinya bergetar hebat, diliputi kepanikan yang bercampur rasa bersalah yang memuncak. Tanpa mempedulikan lututnya yang terluka, Maria langsung berlari menghampiri pria itu.
"Hei... Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan suara bergetar, berharap ada jawaban—tanda bahwa pria itu masih bernyawa.
Namun keheningan tetap menyelimuti, terasa begitu mencekam. "Apakah dia sudah meninggal?" batinnya, sekuat tenaga menolak kenyataan yang perlahan mencekiknya.
Napasnya terasa sesak, setiap detik yang berlalu seolah menyeretnya ke dalam jurang ketakutan yang semakin dalam.
"Aku harus melakukan sesuatu... tapi apa yang bisa kulakukan sekarang?!"
Dengan jantung yang berpacu liar, Maria memberanikan diri mengecek kondisi pria itu. Ia mendekatkan jari ke pangkal hidungnya.
"Syukurlah... dia masih hidup." Rasa lega sedikit menyelinap di d**a Maria saat merasakan hembusan napas lemah dari sana.
Ia segera merogoh ponsel untuk menghubungi ambulans. Namun tepat saat ia hendak menekan nomor darurat, tiba-tiba tangan besar pria itu menahan pergerakannya.
"J—jangan bawa aku ke rumah sakit... Bawa aku ke rumahmu," ucapnya dengan suara parau dan lemah.
Maria terbelalak kaget hingga ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh ke aspal.
Pikirannya berputar cepat. Ia menatap pria itu dengan curiga—bisa saja ini hanya modus, atau pria ini adalah penjahat seperti begal yang menunggu korbannya lengah.
"Kau cuma cari alasan, kan?" Maria mundur beberapa langkah menjaga jarak. "Jangan harap aku percaya pada penipu murahan sepertimu!"
Namun pria itu justru menahan pergelangan tangannya dengan sisa tenaga yang ada. "T—tolong... selamatkan aku," lirihnya lemah. Satu tangannya menekan kuat perutnya yang terluka, sementara darah terus merembes membasahi jas hitam yang ia kenakan.
Hati Maria seolah tercubit perih melihat kondisi pria itu yang begitu menderita. Kewaspadaan yang sempat ia pasang tinggi perlahan luntur, berganti rasa iba melihat luka yang tampak cukup parah.
Dor!
"Aaaaaa!" Maria reflek menutup telinganya sendiri.
"Cepat pergi dari sini, atau kita berdua akan mati di tempat ini!"
"Kau siapa sebenarnya? Apa kau buronan?" celetuk Maria tak kalah kaget.
"Jangan banyak bicara—mereka akan segera menemukan kita kalau begini!"
Dengan perasaan kalut, Maria segera menegakkan motornya dan mengajak pria itu pergi dari sana. Entah situasi apa yang baru saja ia hadapi. Hari ini benar-benar sialnya tak berkesudahan.
"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini?" keluhnya dalam hati, matanya tak lepas menatap pria yang terluka parah di belakangnya.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa bisa dikejar sampai ke tempat sepi begini?" pikirannya mulai liar tak terkendali.
"Jangan-jangan... dia PSIKOPAT?"
Gumamannya terputus saat ia menekan rem mendadak—hampir saja membuat pria itu terjatuh ke jalan.
"Sialan!" seru pria itu sambil mengusap kepalanya yang terbentur keras.
Suaranya tajam, membuat emosi Maria ikut terpancing. "Bisa duduk yang benar nggak di belakang?!"
Maria menatapnya kesal, lalu membalas, "Sudah aku berbaik hati mau menolongmu, masa kau sendiri tak bisa bekerja sama?!"
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar dentuman mesin mobil yang makin lama makin dekat.
"Astaga, gila! Mereka masih mengejar kita!" batinnya panik.
Maria mengintip ke kiri dan kanan, mencari tempat bersembunyi. Matanya tertuju pada semak belukar yang sangat rimbun tak jauh dari situ. Tanpa pikir panjang, ia segera mengarahkan motor masuk ke balik pepohonan agar tak terlihat dari jalan raya.
Di dalam hatinya, ia berusaha tenang, namun rasa takut dan curiga tetap saja menggerogoti pikirannya.
"Siapa sebenarnya pria ini? Dan bisakah aku benar-benar mempercayainya?"
Maria menggeleng cepat. Semakin ia pikirkan, semakin pusing rasanya. Ia memilih menyingkirkan pertanyaan itu dulu. Sekarang yang terpenting adalah keselamatan mereka berdua—sisanya bisa dipikirkan nanti.
Benar saja. Tak lama kemudian, sepuluh buah mobil melesat melewati jalan itu dengan kecepatan tinggi, menunjukkan betapa gentingnya situasi saat ini.
Maria menatap pria yang kini ia sandarkan di batang pohon besar. Ia tak tahu siapa orang yang baru saja ia selamatkan ini.
"Maria, Maria... Hidupmu saja sudah berat, malah kau tambah beban baru lagi." keluhnya pelan.
"Mimpi apa aku semalam? Kenapa hari ini sial sekali begini?"
Ia kembali mengawasi keadaan di luar persembunyiannya. Sayangnya, satu mobil justru berhenti tepat di depan semak tempat mereka bersembunyi. Dua pria berjas hitam turun dari mobil, dengan senjata api yang tergantung jelas di pinggang mereka.
Maria segera menutup mulutnya rapat-rapat, lalu melirik pria itu seolah bertanya: "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Sepertinya mereka sudah tahu posisi persembunyian ini.
"Hei... jangan tidur!" Maria menepuk pelan pipi pria itu. "Astaga... kau benar-benar menyusahkan!" geramnya tertahan.
Saat ia kembali melirik ke arah jalan, benar saja—kedua orang itu mulai berjalan mendekat ke arah semak.
"Ya Tuhan... jangan-jangan mereka sudah tahu kita di sini." Jantungnya berdegup kencang seolah mau meloncat keluar d**a. Melihat senjata di tangan mereka, bahaya itu terasa begitu nyata.
"Aku belum siap mati..." batinnya panik. "Ibu Panti dan adik-adik masih butuh aku. Aku tak boleh menyerah sekarang!"
Suara langkah kaki makin dekat, kepanikan merayapi seluruh tubuhnya tanpa ampun.
Secara naluriah, tanpa sadar Maria menjatuhkan tubuh pria itu ke tanah, lalu menindihnya. Ia pun melonggarkan jas kerjanya, sehingga bagian atas tubuhnya kini hanya tertutup kaos dalam ketat yang mulai basah oleh keringat dingin.
"Apa yang kau lakukan?!" suara pria itu terdengar penuh kaget dan kebingungan.
"Diam saja!" sahutnya cepat.
"Ini darurat!" batinnya berteriak, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kamu pasti bisa, Maria. Ini demi keselamatanmu."
Maria memejamkan mata rapat-rapat saat suara langkah itu berhenti persis di dekat mereka.
Lalu...
Cup!
Kedua pria itu berdiri terpaku sejenak, sebelum wajah mereka berubah muram dan enggan menatap lebih lama.
"Sialan... Anak muda zaman sekarang benar-benar tak tahu aturan. Berani-beraninya berbuat begitu di tengah hutan begini, padahal di kota sana hotel berjajar rapi," gerutu salah satu dari mereka dengan nada penuh cela.
Temannya menyahut sinis, "Mungkin mereka lebih suka yang begini."
"Cih, cuma mau enaknya sendiri," timpal yang pertama, seolah sangat terganggu melihat pemandangan itu.
Maria mendengarnya dalam diam, sampai tak sengaja menggeleng pelan. "Selain kejam, mereka juga suka mengurusi hidup orang lain," batinnya kesal.
"Pemandangan ini benar-benar merusak pandangan kita," timpal temannya lagi dengan nada jijik.
"Sudahlah, ayo pergi."
Mereka pun segera berbalik badan dan melangkah pergi, tak ingin berlama-lama di sana, membiarkan dua orang yang mereka kira sedang bermesraan itu.
Saat suara mobil mereka akhirnya menghilang di kejauhan, Maria baru bisa menghela napas panjang yang terasa sangat lega.
"Selamat... kita selamat," gumamnya pelan sambil mengelus dadanya yang masih berdegup kencang.
Ia pun bangkit perlahan dari atas tubuh pria itu, lalu kembali merapikan jas kerjanya yang tadi ia singkap. Tanpa sadar, jemarinya terangkat dan menyentuh bibirnya sendiri.
"Ciuman pertamaku... malah diambil oleh orang asing begini," batinnya, perasaan campur aduk memenuhi d**a—antara kaget, kesal, dan sesuatu yang lain yang sulit ia sebutkan.
Baru saja ia menoleh ke arah pria itu dengan cemas, ia menyadari bahwa pria itu kini sudah tak sadarkan diri.
"Hei... bangun! Jangan tidur dulu!" Ia berusaha membangunkannya sambil menepuk-nepuk pelan wajah pria itu, berharap ada reaksi.
Namun tubuh pria itu tetap lemas dan tak bergerak sama sekali. "Sial, dia pingsan," batinnya frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Benar-benar menyusahkan," gerutunya pelan.
Meski begitu, ia sadar mereka tak bisa berlama-lama di sini. Bisa jadi orang-orang itu belum pergi sepenuhnya dan masih terus mencari pria ini.
Maria menarik napas panjang, lalu dengan susah payah berusaha memapah dan mengangkat tubuh pria itu ke atas motor.
"Ya ampun... berat sekali. Apa kau makan batu ya?" gumamnya pelan sambil mengerahkan seluruh tenaga. Tubuhnya sudah terasa sangat lelah, tapi ia tak boleh menyerah.
Setelah berhasil mendudukkan pria itu di belakang, Maria segera menyalakan mesin motor dan melesat meninggalkan tempat itu, berharap pria itu segera sadar dan semuanya akan baik-baik saja nanti.