“Yaiyalah saya harus nurutin apa perintah bapak, kan bapak bosnya. Asal gak melanggar agama mah saya nurut kok pak.” Jawab Jingga asal.
“Kupegang janjimu yaa. Mulai minggu depan karena sudah gak lagi PPKM, jam delapan pagi tepat kamu sudah di kantor. Siapkan kopi yang enak dan kalau ada business trip keluar kota, kamu ikut.” Titah Reino. Dia merasa cukup bagi Jingga mengikuti ritme kerjanya dan sudah saatnya terjun ke kolam yang sebenarnya. Selama ini masih dia yang mengatur sebagian besar pekerjaannya karena takut Jingga kaget dan tidak betah padahal dia butuh seorang asisten.
“Siap pak. Oiya terima kasih sudah diantar dan traktirannya tadi ya. Gak akan potong gaji kan pak?” Mata Jingga memohon pada Reino, lelaki tampan itu tidak menjawab hanya tersenyum dan segera membawa jeepnya meninggalkan Jingga.
Usai mandi, Jingga merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Mumpung besok hari Jumat dan dia ingat kalau si bos bilang akan ke rumah mamanya dulu jadi dia bisa datang siang.
Jumat pagi jam sembilan, wajah semringah Jingga karena hari itu dia terima gaji, membuatnya bekerja sambil bersenandung kecil. Biasanya setelah sholat Jumat, Reino dan Abdi akan datang sambil membawa makan siang enak untuknya.
Enak juga kerja di sini, banyak makan gratisnya! Batin Jingga bersorak karena duo lelaki tampan itu datang sambil membawa makan siang untuknya.
“Asiiik dapat dua. Makasih Mas Abdi, makasih bos. Saya sampai lapar banget loh nungguin kalian kapan datang.” Jingga bersorak melihat makanan itu. Senyum manisnya membuat Abdi tidak tahan untuk tidak mengacak rambut hitamnya yang tergerai.
“Kamu kaya anak kecil aja sih dek, kaya habis dibeliin es krim.” Kata Abdi.
“Iih apa sih Mas Abdi? Jangan acak rambutku dong.” Jingga bersungut dan menyisir rambut dengan tangannya. Tapi Abdi malah semakin semangat menggoda Jingga. Interaksi itu tidak lepas dari pengamatan Reino. Seketika ada rasa iri melihat Abdi yang bisa dengan natural menggoda Jingga.
Tapi dia dulu pernah seperti itu. Menggoda seorang perempuan cantik, mengusap kepala gadis itu bahkan mencium keningnya. Semua pernah dia lakukan kok. Hanya saja sayangnya….
“Ehem!!” Deheman Reino membuat Abdi dan Jingga menoleh ke arahnya yang menyandar di tembok sambil menegak air mineral dingin.
“Bapak kenapa? Keselek ya?” Tanya Jingga polos.
“Buru balik kerja lagi, besok kan akhir pekan jadi hari ini semua pekerjaan harus beres.” Jawab Reino sambil beranjak ke ruangannya. Dia hanya tidak suka melihat Abdi yang semakin dekat dengan Jingga.
Jingga makan terburu-buru, melihat raut wajah si bos yang muram tampaknya harinya mendadak memburuk. Lebih baik dia segera menyelesaikan tugas-tugasnya agar bisa pulang tepat waktu. Kadangan Jingga ingin tidur saja di rumah itu saat akhir pekan. Agar bisa menikmati kolam renang yang terletak di sebelah rumah kecil di samping rumah ini. Menikmati indahnya matahari pagi dengan duduk di taman, serta mengagumi lembayung senja di kursi ayun.
“Santai aja makannya dek, si Reino mah lagi kesel doang kali. Aku ngerokok dulu yaa.” Abdi menepuk pundak Jingga dan segera meninggalkan gadis itu.
Jelang jam lima sore tiba-tiba ponsel Jingga berdering nyaring. Keningnya berkerut karena yang menelpon adalah induk semang pemilik kos. Ibu kos tidak pernah menelponnya karena dia selalu bayar kos tepat waktu.
“Assalamualaikum ya bu, tumben nelpon. Ada apa?” Jingga menjawab panggilan telpon itu, tapi kemudian dia malah menjerit, menangis dan meraung. Membuat Reino dan Abdi tergopoh mendatanginya.
“Ada apa dek? Kamu kenapa?” Tanya Abdi yang langsung saja memeluk Jingga karena tidak menjawab tapi hanya menunjuk ponsel pintarnya. Reino yang tanggap - dan karena dia tidak memeluk Jingga - akhirnya yang melanjutkan panggilan telpon itu.
“Halo, maaf dengan siapa ini?” Reino mendengarkan dengan seksama. Matanya membola dan melihat ke arah Jingga yang masih saja menangis. Wajah Abdi seperti bertanya ada apa? Menuntut jawaban. Reino malah mengangkat tangan dan memintanya untuk menunggu hingga dia selesai menerima telepon itu.
“Ada apa sih? Kok wajah lu ikutan pucat gitu?” Tanya Abdi saat Reino selesai bercakap-cakap dengan entah siapapun itu.
“Lu udah pernah anterin Jingga sampai kos dia kan?” Tanya Reino. Abdi mengangguk, mengiyakan.
“Iya. Kenapa?”
“Tetangga sebelah kos dia kebakaran, itu titik awal mulanya. Dan sekarang sudah menjalar ke lantai satu di kos Jingga. Sayangnya si jago merah melahap habis kamarnya karena ada di lantai satu, jadi yaah hanya beberapa dokumen dan laptop yang bisa diselamatkan dari kamar Jingga.”
“Ya Tuhan... Tenang dek tenang.” Tutur Abdi membuat Jingga malah semakin histeris.
“Huwaa, gimana mau tenang? Semua barang saya di kamar itu. Laptop juga. Buku tabungan juga huwaaa… Untung ijzah sarjana kemarin belum diambil.”
Abdi mengelus rambut Jingga dengan lembutnya sambil memberikan penyemangat untuk gadis itu.
“Gak usah nangis. Aku antar kamu ke kos, kamu bisa ambil barang-barang yang tersisa kalau ada.” Tangan Reino terulur pada Jingga yang masih tersedu. Jingga melihat dengan ragu namun saat Abdi mengangguk, Jingga mengulurkan tangannya membalas Reino. Segera Reino menggenggam erat tangan Jingga yang gemetar. Sungguh dia ingin memeluk gadis itu, hanya saja dia tidak mau memanfaatkan situasi.
“Lu pakai motor kan bro? Jangan lupa jaket buat Jingga.” Abdi mengingatkan.
“Beres.”
"Pakai jaketku sama helm. Aku mau ngebut biar cepat sampai ke kosmu." Reino memberikan jaket kulit miliknya untuk dipakai Jingga. Dia juga yang memakaikan helm ke kepala Jingga.
Di motor sport dengan posisi yang menguntungkan Reino, Jingga yang awalnya canggung bertanya masih dengan isak tangis.
“Pak, ini kan motor sport, saya boleh peluk bapak? Kepala saya pusing nih, boleh ya?” Tanya Jingga yang memang merasakan sakit kepala mendadak.
“Boleh asal ingusmu gak kena bajuku.”
"Mana bisa sih pak, kan saya pakai helm full face gini. Bapak ikhlas gak sih bantuin?"
Sebenarnya jantung Reino berdetak lebih cepat saat akhirnya Jingga memeluknya erat dari belakang dan menyenderkan tubuhnya ke punggung kokoh itu.
Istighfar Reino, istighfar... Anak perawan ini, jangan kamu punya pikiran aneh-aneh. Fokus dengan jalanan di depan dan abaikan apa yang terasa mengganjal di punggungmu!
Reino berusaha mensinkronkan otak dan tubuhnya agar tidak punya pikiran macam-macam karena merasakan bongkahan kenyal di punggungnya. Diabaikannya saja pelukan Jingga yang terasa sungguh erat melingkari pinggangnya.
Semoga nih bocah gak ketiduran terus tiba-tiba tangannya megang bagian lain! Entah sisi mana dari otaknya yang punya pikiran seperti itu.
Huss! Fokus Reino, fokus! Ingat kamu lagi bawa motor! Beruntung ada sisi satu lagi yang tetap berpikir positif.
Iya Reino, kamu harus fokus dan abaikan telor ceplok yang ada di punggungmu itu!
Hah?! Apaa?? Telor ceplok?? Reino mengerem mendadak karena lampu merah, membuat Jingga melepaskan pelukannya.
"Bapak ngerem jangan mendadak dong! Saya kan jadi kaget." Bentak gadis itu.
"Ini gara-gara telor ceplok nih." Jawab Reino spontan.
"Haa? Telor ceplok? Di mana? Mana ada telor ceplok di tengah jalan gini?"