Reino menyesap kopi yang dibuat Jingga sambil mengamati asistennya itu. Entah sudah percobaan keberapa kali dia merayu Jingga tapi selalu saja gagal. Gadis itu malah mendelik ke arahnya, mengomel habis-habisan dan berakhir dengan dibawakannya air zam-zam untuk meruqyahnya. Mungkin saja sifat galak dan nekat Jingga keturunan dari ayahnya. Dia membayangkan anak perempuannya kelak merupakan perpaduan dirinya dan Jingga. Fisik tinggi dan ramping, berhidung mancung dan pintar sepertinya, dan juga cantik, galak sekaligus tangguh seperti Jingga. Bibir Reino menampilkan senyum yang hanya dia sendiri yang tahu itu senyum apa. “Kamu kenapa senyam-senyum sendiri bro? Gak kesambet pohon kamboja depan kan?” Suara Abdi mengagetkannya, tidak hanya suara karena tiba-tiba saja wajah Abdi berada tepat di d

