Maura yang sudah sampai, di SG, segera bersiap untuk menemui seseorang yang sudah menerornya sejak 2 minggu lalu, karena terlalu sibuk mengurus ini dan itu dia lupa untuk bertemu.
Sementara itu, Andra bersiap ke luar kota, untuk meninjau tempat pembangunan perumahan baru, yang menjadi salah satu proyek terbesarnya tahun ini,
“Dra, kamu yakin, nanti siapa yang jagain kamu di sana?”
“Mah, aku udah dewasa,”
“Tapi, kamu sudah bilang Maura?”
“Justru karena Maura lagi ke SG, makanya aku pergi mah, kalau dia tahu bisa-bisa aku dimarahin, dia bawel banget kan, serem deh kalau marah,” ucap Andra sambil tersenyum, membayangkan istrinya itu marah-marah.
“Kalau kamu gak bilang, justru akan membuat dia menjadi marah,”
“Tenang aja Mah, Maura gak akan tahu, kalau Mamah gak kasih tahu,”
“Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa minum obatnya.”
Andra hanya menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke mobil dan pergi.
Sementara Maura sudah selesai dengan pertemuannya, tapi dirinya harus tetap stay di sini, sampai beberapa waktu kedepan. Ada rasa bersalah dalam hatinya, jika Andra sampai mengetahui kebohongannya ini, dirinya pasti orang pertama yang harus disalahkan.
Pagi tadi, sewaktu di pesawat Maura minum kopi, tapi sepertinya efeknya baru dirasakan sekarang. Dia sangat amat mual dan juga pusing. Secara bersamaan.
Berjalan dengan sempoyongan, sampai akhirnya dia menabrak seseorang dan pandangannya sudah kabur.
“Sejak kapan dok?” tanya laki-laki yang menuntut penjelasan dari lelaki berpakaian jas putih.
“Maaf, kami tidak bisa memberitahukan data pasien kami, sementara anda bukan keluarga pasien,” ucapnya tetap tenang. Walaupun suasana sedang tegang. Karena lelaki di hadapannya seperti menahan amarah yang cukup besar.
“Saya hanya ingin tahu sejak kapan!” lelaki itu terus saja mendesak dokter yang ada dihadapannya, tidak peduli jika ada seseorang yang sedang terbaring lemah.
“Mohon maaf, pasien yang meminta untuk tidak diberitahukan pada siapapun,” Bintang mengacak rambutnya prustasi, kaget dan juga sakit menggerogoti relung hatinya, bagaimana bisa Maura menyembunyikan ini dari semua orang.
“Eung, Bintang,” lirih Maura,
“Maura jujur sama aku, Maura ini semua bohong kan? Bilang apa yang dibilang dokter itu bohong, kamu sehat aja kan Maura.” Maura segera bangkit dari tidurnya, tapi rasa sakit yang dia rasakan, di area perutnya membuatnya kembali terbaring.
“Bintang, aku mohon, kamu jangan kasih tahu ini sama siapun, tolong aku,” ucap Maura lemah. Berharap Bintang mengerti. Jika kondisinya saat ini tidak mungkin untuk menjelaskan yang sebenarnya.
“Enggak!” lelaki itu sedikit berteriak.
“Tolong kasih aku waktu untuk istirahat, nanti aku jelasin semuanya sama kamu,” Maura kembali menutup matanya, dia butuh banyak energy, terutama untuk menghadapi Bintang yang sangat keras kepala.
Bintang yang masih terlihat sangat khawatir itu hanya bisa terduduk di samping Maura, dia menggenggam kembali tangan perempuan yang sangat dicintainya itu. tidak terasa air matanya pun jatuh, apa ini alasan kenapa Maura pergi meninggalkan dia.
Baru kali ini, dia merasa bersalah pada dirinya sendiri padahal bukan dirinya yang membuat Maura terbaring lemah. Dia seakan merasakan sakit yang di derita perempuan yang belum mau membuka matanya lagi.
Dia menyesal sudah menjadi egois dan keras kepala. Harusnya dia tidak terus mendesak Maura untuk bercerita. Bintang menggenggam tangan Maura dengan lembut seakan takut tangan itu rapuh.
Di Negara yang berbeda, Andra baru saja selesai, dengan aktifitasnya, dia tetap tidak melupakan makan dan minum obatnya, sebelum tidur dia memeriksa handphonenya, tidak ada pesan maupun panggilan masuk yang berasal dari Muara, padahal sejak tadi pagi dirinya sudah berusaha menghubungi Maura, dia berpikir positif, mungkin Maura kelelahan dan lupa mengabarinya.
Karena lelah, Andra memutuskan untuk istirahat. Dia tidak bisa menghubungi Maura lebih dulu, karena takut mengganggu istrinya bekerja. Andra pun memasuki alam bahwa sadarnya.
Maura yang sudah sampai, di SG, segera bersiap untuk menemui seseorang yang sudah menerornya sejak 2 minggu lalu, karena terlalu sibuk mengurus ini dan itu dia lupa untuk bertemu.
Sementara itu, Andra bersiap ke luar kota, untuk meninjau tempat pembangunan perumahan baru, yang menjadi salah satu proyek terbesarnya tahun ini,
“Dra, kamu yakin, nanti siapa yang jagain kamu di sana?”
“Mah, aku udah dewasa,”
“Tapi, kamu sudah bilang Maura?”
“Justru karena Maura lagi ke SG, makanya aku pergi mah, kalau dia tahu bisa-bisa aku dimarahin, dia bawel banget kan, serem deh kalau marah,” ucap Andra sambil tersenyum, membayangkan istrinya itu marah-marah.
“Kalau kamu gak bilang, justru akan membuat dia menjadi marah,”
“Tenang aja Mah, Maura gak akan tahu, kalau Mamah gak kasih tahu,”
“Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa minum obatnya.”
Andra hanya menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke mobil dan pergi.
Sementara Maura sudah selesai dengan pertemuannya, tapi dirinya harus tetap stay di sini, sampai beberapa waktu kedepan. Ada rasa bersalah dalam hatinya, jika Andra sampai mengetahui kebohongannya ini, dirinya pasti orang pertama yang harus disalahkan.
Pagi tadi, sewaktu di pesawat Maura minum kopi, tapi sepertinya efeknya baru dirasakan sekarang. Dia sangat amat mual dan juga pusing. Secara bersamaan.
Berjalan dengan sempoyongan, sampai akhirnya dia menabrak seseorang dan pandangannya sudah kabur.