Setelah bertemu dengan Manda, akhirnya Maura bertekad untuk menyatukan mereka kembali, dengan pura-pura meyetujui memegang kasus ini, namun sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja, dia sudah bertekad, Bintang harus mendapatkan kebahagiannya, setelah sekian lama menderita karenanya, lagi pula, dirinya tidak bisa membahagiakan Bintang, mereka tidak akan pernah bisa bersama. mungkin cinta memang tidak harus selalu memiliki,
“Bintang, terima kasih untuk kadonya,”
“Hmm,”
Suasana menjadi canggung.
“Aku sudah memeriksa semua kelengkapan persyaratan untuk perceraian kamu, dan aku punya satu syarat untuk kamu,”
“Apa?”
“Kamu harus aku mediasi dulu, bersama istri kamu, bukan oleh pengadilan tapi sama aku, kita akan beretmu bertiga, selama satu bulan ini 2 sampai 3 kali, setelah kamu yakin istri kamu yakin kita kasih berkas ini ke pengadilan,”
“Memang semua orang yang mau bercerai kamu gituin?”
“Tidak juga, ini khusus untuk kamu,”
“Baiklah, atur saja jadwalnya. Aku sibuk, aku pergi dulu,” ini adalah pertemuan mereka setelah Maura menikah, sikap Bintang menjadi dingin padanya, ada beberapa bulu di sekitar dagunya dibiarkan tumbuh begitu saja, ekspresinya tidak terbaca, apa sebegitu prustasinya Bintang. Apa sekarang Maura salah lagi di sini.
Suara dering telepon membuyarkan lamunan Maura, dia segera menggangkatnya, hanya kata maaf dan baik yang dia lontarkan pada lawan bicaranya di telepon itu.
Setelahnya, Maura melempar handphonenya ke sofa, lalu duduk di kursi itu. Dia menghela nafas beberapa kali, seperti seseorang yang melupakan sesuatu hal yang penting.
Di lain tempat, Andra, bertemu dengan Sintia, setelah seminggu yang lalu, dia memutuskan perempuan ini, mereka sepakat untuk berteman, entah bagai mana bisa seorang Andra menaklukan kerasnya kepala Sintia, yang pasti mereka berdua memang sudah menjadi orang yang dewasa, karena memang, mantan yang berteman dengan mantan hanya bisa dilakukan, oleh mereka yang memang belum move on atau sama sekali tidak pernah mencintai pasangannya.
“Kamu sudah jujur Dra,”
“Belum, aku belum siap.”
“Kesempatan tidak akan datang dua kali Dra,”
“Kamu gak ngerti Sin, kamu kan gak pernah ada di posisi aku,”
“Kata siapa?” Sintia menyipitkan matanya,
“Hmm, maaf deh, mungkin kalau waktunya sudah pas, aku jujur.”
“Yaudah, aku mau pergi dulu, shoping time,”
“Butuh kartu?”
“Yang kemarin belum habis.”
“Ya emang ga akan abis, orang unlimited,”
Sintia pergi sambil terkekeh, berpura-pura tegar dihadapan sang mantan ternyata tidak semudah yang dia banyangkan, setebal apapun topeng yang dipasangnya, karakternya akan selalu terlihat menyedihkan.
Sore ini, Maura sudah sampai di Apartement lebih dulu, tidak lama, Andra pun datang.
“Hari yang melelahkan,”
“Alay, biasanya juga gila kerja,”
“Kan dulu, belum ada kamu yang nunggu aku pulang kerja, kalau sekarang sih, bawaannya pengen pulang terus tahu,”
“Yaudah, bentar aku siapin air hangat untuk kamu mandi,” Andra hanya mengangguk,
Setelah makan malam, biasanya mereka memang akan menonton tv dulu sebentar,
“Dra Akhir pekan nanti aku harus ke luar negeri,”
“Berapa hari?”
“Mungkin 2 hari aja,”
“Yaudah, pake jet pribadi aja, aku ikut,”
“Dra, aku mau kerja bukan jalan-jalan,”
“Ya kamu kerja, aku yang jalan-jalan,”
“Enggak, pokonya kamu gak harus ikut, nanti aku gak konsen,”
“Yaudah, kalau urusannya, sudah selesai, kamu langsung pulang,”
“Siap Bos,”
“Tadi kamu bertemu Bintang?” tumben Andra mau menanyakan pekerjaan Maura,
“Iya, hanya sebentar,”
“Jangan terlalu deket sama dia Ra,”
“Kenapa?” Andra yang spontan (uhuy) dengan ucapannya tadi, menjadi salah tingkah.
“Ya, takutnya nanti kalian CLBK,”
“Konyol,” Maura meninju bahu Andra, namun andra membalasnya dengan mengusap pipi Maura.
Apakah selalu seperti ini, yang diusap pipi kok yang tersentuh justru hatinya.
“Ke mall yuk, udah jarang nih pergi-pergian kita,”
“Iya, sekalian belanja bulanan,”
Di Mall, mereka melihat banyak sekali orang yang berjalan-jalan, bersama teman-temannya, pasangannya, dan yang menjadi sorotan, adalah ketika mereka sama-sama melihat, satu keluarga utuh ada ibu, ayah, dan kedua anaknya. Mata mereka terus mengamati keluarga tersebut, bagai mana anak terkecil mereka merengek dan si kakak terlihat sebal, bagai mana ibunya dan ayahnya menenangkan anak tersebut. sang kakak, yang akhirya luluh memeberikan es krim untuk adiknya. Sangat sederhana, tapi kenapa Maura tidak bisa merasakan itu.
Lain dengan pikiran Maura, Andra justru berpikir, apakah nanti, dia akan seperti seorang ayah tersebut, bisa menggendong, anak mereka, membelikan banyak mainan kesukaan anaknya, atau melihat sang anak bisa tumbuh dan berkembang.
“Kamu tuh, beruntung Dra, kamu bisa ngalamin hal kaya mereka, gak kayak aku,”
“Tapi, kamu juga akan beruntung Ra, kamu kelak akan menemani menemani anak kita,”
“Kita sama-sama tidak seberuntung itu Dra, makanya kita jodoh, biar kita bisa saling melengkapi.”
“Kamu benar, mungkin, jika aku jadi kamu, aku tidak akan setegar kamu Ra,”
“Seandainya, aku punya rahasia dan kamu gak tahu itu, kamu akan marah gak?”
“Tergantung, karena semua orang juga punya rahasia Ra, aku juga punya rahasia,”
“Yang bikin aku betah banget sahabatan sama kamu adalah ini Dra, kamu tahu kita sama-sama punya ruang kosong, untuk diisi oleh diri kita sendiri, dan tidak untuk siapa pun,”
“Kita pernah musuhan gak sih?”
“Pernah,”
“Kapan? Kok aku gak inget sih,”
“Waktu kamu marah, aku tinggal ke SG,”
“Iya, siapa coba yang gak kesel, kamu ngilang satu tahun Ra, aku sampe kelabakan cari kamu,”
“Tapi aku kan selalu kirim kamu surat dan note supaya kamu gak lupa untuk segala hal yang selalu kamu sepelekan,”
“Iya, tapi tetep aja, ketika kamu pulang, aku pengen tahu alasan kamu pergi, tapi kamu gak pernah kasih tahu itu,”
“Rahasia,”
“Baiklah,”
Mereka berpegangan, saling menguatkan satu sama lain, menyalurkan energy posistif dalam diri mereka masing-masing. Mungkin hari ini adalah salah satu hari, yang akan mereka kenang selamanya.
Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata, yang memperhatikan mereka, sebagiannya sangat kagum terhadap pesona keduanya, ada juga yang iri melihat begitu serasinya mereka. Tampan, cantik, dan kaya. Perpaduan nikmat Tuhan yang sangat luar biasa.
Karena yang kita lihat itu, hanyalah casingnya saja, jika boleh memilih, mungkin mereka akan tinggal di desa, di mana ayah dan ibunya seorang petani tapi keluarga mereka utuh dan dalam keadaan sehat.