Mereka sedang menikmati udara malam kota Bandung, walaupun tidak memakai pendingin tapi jendela yang dibiarkan terbuka, membuat angin bebas keluar masuk ruangan ini.
“Ra, aku mau tanya sama kamu, yang membuat kamu yakin memilih aku untuk jadi suami kamu apa?”
“Penting banget yah, nanya itu, setelah kita menikah. Kenapa gak nanyanya sebelum menikah?”
“Ya, kan aku takut, gimana kalau jawaban kamu itu malah buat aku goyah untuk menikahi kamu,”
“Karena aku percaya sama kamu Dra, aku percaya kamu bisa jadi orang yang sangat bertanggung jawab untuk aku,”
“Sekalipun kamu gak cinta aku? Kamu sudah mengorbankan masa depan kamu loh Ra,”
“Terus aku harus gimana Dra, gugat cerai kamu gitu,” maura memutar bola matanya, kesal dengan ucapan Andra,
“Kamu gak tanya kenapa aku seyakin ini sama kamu?”
“Kalau kamu mau cerita, mungkin aku siap mendengarkan.”
“Karena hanya kamu, yang melihat aku, memperlakukan aku, layaknya manusia normal yang sehat jiwa dan raga. Kamu pernah ngebayangin gak sih, kamu masih muda, tapi ternyata kamu punya penyakit mematikan, kamu tahu jantung, kalau jantung ini berhenti berdetak, mungkin kamu sama aku tidak akan ada di sini saat ini. aku bukan hanya sakit secara fisik, aku juga sakit secara psikis, aku selalu merasa tidak layak, aku selalu merasa ketakutan ketika tertidur, bagai mana aku bangun, ternyata aku sudah tidak dengan ragaku.”
“Dra,” ucap Maura lirih
“Mungkin selama ini, yang kamu tahu aku takut mati, tapi sebenarnya yang paling aku takutkan adalah, aku akan kehilangan kamu, orang tua aku, aku masih pengen bareng kalian, pengen bahagiain kalian, tapi itu mustahil Ra, sakitnya makin terasa, aku sering bangun malem, sesaknya sudah nyaris membuat aku gila, mungkin memang dengan adanya kamu aku sedikit terbantu, aku sedikit melupakan rasa sakit ini, tapi ketika aku terbangun dan melihat kamu tertidur lelap dengan damai, aku tahu bahwa aku sangat jahat sama kamu. Setelah aku bahagia, aku akan pergi dan meninggalkan kamu yang mungkin akan menanggung sakit yang luar biasa.” Maura meemeluk Andra
“Semua akan baik-baik saja Dra, kamu pasti akan sembuh,”
“Aku yang menolak untuk sembuh Ra, aku selalu menolak setiap orang yang ingin mendonorkan jantungnya untuk aku, kenapa aku sembuh lalu orang lain justru sakit bahkan mati. Beberapa kali mamah sama papah mencoba membeli nyawa seseorang supaya aku bisa tetap hidup Ra, tapi aku gak mau, walaupun aku tidak berguna, aku tidak boleh menyakiti siapa pun. Cukup orangtua aku dan kamu yang selalu pura-pura tegar dihadapan aku. Aku tahu itu.”
“Aku sayang kamu Dra,” ucap maura dengan suara yang bergetar, pelukannya semakin kencang, dia selalu berpikir bahwa suaminya itu tidak selemah ini, ternyata sangat rapuh. Memang tidak ada yang tahu seberapa sakitnya seseorang, jika bukan orang itu yang bicara, atau kita juga pernah merasakan hal yang sama.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, Malam itu, penyatuan mereka pun terjadi,sejenak melupakan rasa sakit yang keduanya derita, dua insan yang saling mencoba menerima semua hal baik yang mereka rasakan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka. Jangan lupakan bahwa Andra belum meminum obatnya malam ini.
Andra bangun tengah malam, untuk menunaikan ibadah malamnya, jantungnya kambuh kembali, rasa sesak dan sangat menusuk sudah biasa dia rasakan, rasanya lelah untuk bertahan lebih lama, namun dia harus bertahan, setidaknya sebelum anak itu lahir.
Paginya, sudah ada supir yang siap mengantarkan mereka untuk pulang, Maura merasa aneh, kenapa harus ada supir padahal, dia juga bisa untuk menyetir mobil itu dari Bandung ke Jakarta.
“Dra, ko ada mang Danang, kan aku juga bisa nyetir,”
“Aku gak enak badan Ra, kamu juga kan lelah, udah jangan banyak protes.”
Maura hanya mengendus, lelaki itu selalu saja semaunya sendiri.
Sepulangnya mereka dari Bandung, saat ini Maura dan Andra sudah tinggal di Apartemen, mereka menjadi lebih kompak dalam segala hal, Andra seperti punya semangat hidup yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Besok, Maura dan Andra akan kembali bekerja, segudang pekerjaan sudah menunggunya, karena ditinggal cuti 1 minggu full oleh mereka.
“Dra, besok kamu mau pakai baju yang mana?”
“Biru laut sama celana hitam aja, dasinya warna biru dongker yah,”
“Ok, sarapannya?”
“Aku makan apa yang kamu buatin,”
“Kalua aku bikin tongseng kambing, kamu makan juga,”
“Iya, karena setelahnya kamu akan ngerawat aku, karena harus masuk RS,”
“Licik,”
“Itu cerdik namanya,”
“Yaudah selamat tidur,”
“Selamat tidur kembali Istri,”
Mereka tertidur, biar esok akan menjadi misteri, akankah perasaan ini terus bertahan atau harus hilang dilekang oleh waktu.