Perempuan dengan kebaya putih itu, hanya bisa menangisi nasibnya yang begitu tragis. Terlahir dari orang tua yang susah payah membesarkan dua anak pun, seolah belum cukup, Tuhan berikan ujian hidup. Sekarang dia harus lebih menderita lagi, karena kesalahan yang akhirnya merenggut harga diri sebagai seorang perempuan. Lalu, harus berakhir di meja pernikahan dalam sebuah perjanjian. Tak mau larut mengisi hidupnya, Kinan segera menghapus air matanya. Dia ingin sekali tidak terlihat lemah di hadapan lelaki yang sudah menghancurkannya. Namun kesedihan yang ia pendam serasa menghujam dadanya, hingga menjadi sesak. "Sah!" Satu kalimat dari beberapa orang yang hadir di apartemen Alvaro itu, akhirnya mengagetkan Kinan dari lamunan panjangnya. Gadis itu menarik nafas pelan, kemudian ia mengikuti

