Playboy Vs Baby (18)

1044 Kata
Setelah semua rangkaian acara selesai, semua anak anak panti terhibur dengan kedatangan Gabriel dan Ify. Kini semua kembali ada kegiatan masing-masing. Gabriel tengah ngobrol bersama Bu Ira di dalam ruangannya, sedangkan Ify kini sedang menunggu di taman panti seraya melihat anak -anak panti itu bermain. Ada yang berlari, ada yang bermain congklak, ada yang bermain ayunan, mereka bermain tanpa beban apapun. Ify tersenyum melihatnya. "Ekhem" Ify menoleh ke arah sumber suara, dan melihat Kelvin sudah berada di samping nya. "Eh hai, kirain siapa" "Kok sendirian?" Tanya Kelvin " Hmm iya, kak Iyel lagi di dalam ruangan Bu Ira." Jawab Ify yang kini kembali memperhatikan anak anak yang sedang bermain Kelvin mengangguk dan tersenyum. "Boleh gue kenalan lagi sama lo secara pribadi ?"  Ify mengerutkan keningnya "tadi kan udah"  "Ya, tapi gue ingin lebih kenal lagi sama lo. Boleh ?" Tanya Kelvin  "Ah itu, iya boleh kok" jawab Ify lembut.  "Btw, kenapa ada disini?" Tanya Kelvin  "Gapapa, gue lagi pengen aja buat suasana baru disini dan mengubur mereka" ujar ify "Kayanya jadi mereka enak ya, mereka bisa main sepuasnya tanpa mikirin masalah yang selalu orang dewasa pikirin. Rasanya gue pengen jadi anak kecil lagi, kaya mereka bisa main tanpa masalah apapun" lanjut Ify "Iya, masa kecil memang selalu jadi impian semua orang dewasa dikala masalah selalu menimpa." "Bener hahaha, gue jadi mikir. Mereka yang lucu-lucu gitu kenapa bisa di tinggalin orangtuanya" "Itulah hidup fy, gak ada yang sempurna, gak ada yang serba enak. Kalau mau serba enak ya adanya di surga bukan di dunia" "Wih serem amat bawaannya surga. Oh ya, habis ini Lo kemana ? Pulang ? Daerah sini juga ?" Tanya Ify "Iyaaaps, gue ngekos di daerah sini. Yaaah meskipun rada jauh sih, panti ini kan sedikit menyendiri alias jauh dari pemukiman warga" "Oh iya, sorry ya buat yang tadi di dalam. Mereka masih anak kecil, belum punya pikiran apapun, jadi yaa gitu ngomongnya" lanjut Kelvin "Ah itu, santai aja lagi. Gua paham kok, dan emang mereka bener gak salah" "Ify, ayo kita pulang" Gabriel keluar dari panti dan menghampiri Ify "Udah kak? Yuk pulang" "Udah, kamu tenang aja. Eh bro kita pulang duluan ya" ujar Iyel seraya berpamitan kepada Kelvin "Oh oke, hati hati ya" "Vin, gue pulang dulu ya" pamit Ify Kelvin mengangguk dan tersenyum, "Eh fy, boleh minta nomor hp ?" Ujar Kelvin tiba-tiba. Ify tersenyum dan mengetikkan nomor hp nya di handphone milik Kelvin. Setelah itu mereka pun berpamitan dan pulang meninggalkan panti. "Cie baru aja disini udah dapet gandengan baru" goda Iyel "Apa sih ka, gandengan apaan emang nya truk gandengan" "Hahahaha, tapi fy. Ga kangen sama Rio? Sama Fika ?" Tanya Iyel "Kangen banget kak" ujar Ify lirih ¶¶¶¶ Rio kembali mencari Ify, namun tetap saja rumahnya kosong. Memang seperti tidak berpenghuni beberapa hari. Rio berjalan menuju minimarket terdekat, tenggorokannya kering, terik mentari yang begitu menyengat sungguh membuatnya dehidrasi. Rio mengambil sebotol air dingin dari lemari es yang cukup besar itu dan berjalan menuju kasir. "Eh denger denger, beberapa hari yang lalu ada yang kecelakaan di depan sana" ujar seorang perempuan yang sama mengantri "Iya, tabrak lari. Katanya korban nya cewe, rumahnya disana tuh deket. Kasian banget, kritis. Gatau deh sekarang masih hidup atau gak tertolong" Rio mendengar percakapan itu, dan bayangan Ify langsung melintas di pikirannya. "Mas, mas" panggil mba mba kasir "Eh iya, ini" "Ada tambahan lagi mas ?" Rio menggelengkan kepalanya "Pakai kresek atau engga?" "Gausah mba" Rio pun keluar dari minimarket itu, namun pikirannya masih memutar perbincangan dua orang perempuan di dalam sana. "Mba mba maaf mau nanya" ujar Rio kala melihat orang tadi keluar dari minimarket "Iya ?" "Orang yang mba bicarain tadi, kecelakaan. Apa ini orang nya?" Tanya Rio dan menunjukan foto Ify "Iya mas, wah mas nya kenal? Sekarang gimana keadaan mba nya ini?" Seketika dunia Rio hancur. Kakinya lemas dan telinganya tuli. Ia tidak bisa mendengar pasti apa yang perempuan di depannya itu bicarakan. Perempuan itu mengguncang tubuh Rio yang mematung, "mas, malah melamun" "Korbannya dibawa kemana kalau boleh tau?" "Ke rumahsakit yang ada di jalan cendrawasih itu.." belum sempat menyelesaikan omongannya namun Rio langsung meninggalkan perempuan itu, pergi memasuki mobil nya dan melesat begitu saja. "Lah malah ditinggal" perempuan itu menggelengkan kepalanya, heran dengan perlakuan Rio. ¶¶¶¶ Kini Rio telah sampai di rumahsakit yang disebutkan perempuan yang tak dikenalnya tadi di minimarket. Rio langsung menuju receptionis menanyakan keberadaan Ify. "Sus sus mau nanya, apa ada korban kecelakaan yang bernama melfy?" Tanya Rio dengan nafas yang belum stabil "Mohon tunggu sebentar, saya cek dulu" "Oh itu korban beberapa hari yang lalu, sudah dibawa keluarganya lagi keluar dari rumahsakit ini mas" " kemana?" "Untuk itu saya tidak tahu, tapi anda bisa tanya kepada Dokter Winda, yang menangani pasien tersebut" "Dokter Winda ? Dimana dia?" "Ada di ruangannya, mas tinggal lurus saja nanti masuk ke lift naik sampai lantai 5 terus belok kiri lalu lurus ruangannya ada di sebelah kanan" "Makasih sus" Rio berlari lagi sesuai arahan suster yang ada di receptionis tadi. 'tok tok tok' Begitu sampai di depan ruangannya, Rio langsung mengetuk. "Iya masuk" sahut seseorang didalam sana "Maaf dok menganggu" ujar Rio seraya masuk kedalam ruangan "Iya, ada yang bisa saya bantu?" "Saya mau nanya perihal pasien bernama mlefy" Dokter itu terdiam dan berfikir. Sedetik kemudian dokter itu menghela nafas dan mengangguk, seakan akan baru mencerna dan memahami siapa orang didepannya ini. "Iya betul" "Dia sekarang dimana ya dok? Saya calon suaminya, tolong beritahu saya" "Maaf, kondisi pasien saat itu kritis dan pihak rumahsakit tidak sanggup untuk menanganinya karena peralatan yang kurang lengkap, kondisi pasien cukup mengalami luka yang serius. Dan akhirnya pihak keluarga membawanya ke luar negeri untuk pengobatan selanjutnya" "Luar negeri? Kemana dok?" "Maaf untuk itu saya tidak bisa beritahu" "Dok dimana? Saya calon suaminya jadi tolong beritahu saya!" Ujar Rio memaksa "Maaf saya tidak tau, saya ada jadwal operasi jika tidak ada yang ingin di tanyakan lagi saya permisi" ujar dokter itu mengalihkan pembicaraan Rio terus mengejar dokter itu dan memaksanya namun dokter Winda tetep bersikeras tidak memberitahu Rio keberadaan Ify. "Fy, kamu dimana sayang" ujar Rio lirih "Apa kamu baik baik aja? Kenapa kamu ga bilang kalau kamu kecelakaan, keluarga kamu kenapa ga bilang fy" Rio terus meracau, kondisinya melemah, ia bersandar di dinding bercat putih itu. "Ify jangan tinggalin aku" sekejap semuanya gelap, semua badannya lemas, dan terakhir ambruk. ¶¶¶¶ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN