Terjebak dalam rumitnya cinta. Kala semua tali itu terhubung tanpa jelas mengikat dengan tak pasti. Sangat pas dengan dirasakan oleh gadis ini. Ify menghela nafasnya sejenak dan menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong.
Iyel memasuki kamar rawat Ify, Iyel melihat adiknya itu tengah melamun, dengan perlahan Iyel menghampirinya dan mengecup kening Ify lembut. Ify mendongak dan menatap Iyel lalu tersenyum. Iyel mengacak pelan poni Ify dengan sayang.
“Kakak,” gumam Ify
“kamu sedang apa Fy?”
“Ah, tidak! Ka, kapan kita pindah dari kota ini?"
“Kata dokter besok kamu sudah diperbolehkan pulang, jadi sebaiknya kita pindah besok.”
“baiklah,”
“Sekarang kamu makan dulu, kakak tahu kamu pasti belum makan, betul ?” gurau Iyel seraya membuka makanan yang telah dibawanya dari rumah itu
“Ko kakak tau sih?” Iyel berdecak kepada adiknya itu lalu menyodorkan sesendok nasi kepada Ify, dengan senang Ify membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Fy, kamu yakin mau pindah dari kota ini tanpa memberitahu Rio?" Tanya Gabriel sekali lagi. Ify terdiam dan tidak mampu menjawab, Gabriel pun meraih lengan Ify menguatkan adik satu satunya itu.
"Ify ga yakin ka, tapi Ify lebih ga yakin lagi kalau Ify masih ada disini. Ify gamau lebih menyusahkan Rio, Ify ga bisa jadi Ibu buat Fika dengan keadaan Ify yang sekarang" ujar Ify mengeluarkan kegundahan nya.
"Fy, Kaka yakin kok kalau Rio bisa nerima kamu" Gabriel terus membujuk Ify dan berusaha meyakinkan ify
Ify mengangguk setuju dengan perkataan Kaka nya itu. Rio memang pasti akan menerimanya namun Ify tidak yakin dirinya tidak akan minder jika bersanding dengan Rio nanti.
"Ify tau ka, sangat tau. Tapi Ify malu, Ify gamau buat Rio malu juga, apa kata orang nanti pas tau istri dia ternyata cacat" lirihnya seraya menatap jendela. Iyel menatap adiknya itu dengan iba.
"Yaudah, kamu habisin makanan nya ya jangan mikirin apa apa lagi" Ify melirik ke arah Iyel lalu tersenyum.
"Suapin sampe habis ya" pinta ify
"Iyaa adikku yang paling cantik"
Cukup. Iyel tidak mau membuat adiknya itu merasakan sedih lagi, ia tidak akan mengungkit masalah itu lagi, biarkan saja semuanya mengalir begitu saja, kalaupun memang Ify dan Rio berjodoh, mereka pasti akan di pertemukan kembali nanti.
Sekarang, hanya kebahagiaan Ify yang ada di pikirannya, jika dengan pergi membuat Ify bahagia, tentu akan ia lakukan. Apapun itu, ia berjanji.
¶¶¶¶
Keesokan hari nya, sesuai dengan rencana. Saat dokter memperbolehkan pulang, Iyel dan Ify pun pergi dari rumahsakit itu. Mereka langsung menuju kota kembang, Bandung.
Iyel memilih membawa Ify ke kota kembang karena menurutnya disana mempunyai udara yang sejuk yang mungkin akan membuat hati dan pikiran adiknya tenang.
Dimana lagi kalau bukan Lembang, daerah yang masih asri dengan pohon yang menjulang tinggi dan udara yang sangat dingin bila dibandingkan dengan Jakarta.
"Kak, udah ngasih kabar ke Mamah?" Tanya ify
"Udah, dan Mamah kaget banget pas Kaka kasih tau. Lusa mamah ke Bandung".
"Padahal mamah baru aja balik kesana"
"Gapapa fy, namanya juga orangtua"
Rumah yang akan mereka tinggali tidak sebesar rumah yang ada di Jakarta. Gabriel dan Ify masuk ke rumah, Iyel mendorong kursi roda Ify menuju kamar yang hendak Ify tempati.
"Nih kamar kamu, gimana ? Suka ga ? Ya meksipun lebih kecil dari rumah kita yang di Jakarta"
"Gapapa kan, suka kok. Makasih ya Kaka udah mau nurutin kemauan aku"
"Everything for you dear" Iyel mengecup sayang kening Ify.
"Yaudah sekarang kamu istirahat" Iyel menggendong Ify dan membaringkannya di atas kasur.
"Kakak juga ya" Iyel mengangguk lalu berjalan keluar kamar.
Ify menatap kepergian kakaknya, Ify kembali duduk. Ify menatap cermin yang ada di depannya, Ify menatap ke arah kakinya yang tak ada. Lalu menangis lagi.
Ify membuka tas nya dan membawa gunting. Memang di dalam tas nya, Ify selalu membawa gunting sebagai bentuk jaga-jaga.
"Semuanya udah berubah, gak ada lagi Ify yang dulu" ujarnya
Ify memotong rambutnya, kalau menurut orang jaman dulu memotong rambut sama saja dengan membuang kesialan, Ify berharap dengan memotong rambutnya itu akan membuang semua kesialannya.
"Gue tau lu suka sama rambut panjang gue Yo, tapi maaf karena sekarang gue membuangnya"
Gabriel tidak benar benar pergi dari kamar adiknya, ia mengintip di balik pintu dan melihat apa yang dilakukan Ify, ia juga mendengar apa yang diucapkan adiknya. Gabriel menarik nafasnya, hatinya teriris melihat sang asik yang seperti itu. Seumur umur Ify tidak mau memotong rambut panjang nya. Tapi sekarang ? Adiknya itu mengikhlaskan rambut panjang hitam legam nya. Adiknya ikhlas menghilangkan sebagian mahkota di kepalanya. Sehancur itu kah perasaan adiknya?
"Apa yang harus Kaka lakuin fy untuk buat kamu bahagia dan bangkit lagi?" Ujar Gabriel lirih
Gabriel pun akhirnya benar benar meninggalkan kamar Ify.