Jantung Daisha sedari tadi tidak berhentik bedetak kencang. Seolah ingin keluar dari tubuhnya. Keringat juga sudah mengucur disela-sela pelipis wanita itu, membuatnya harus mengelap dengan ujung seragamnya. Kini ia berada didepan parkiran sekolah, menunggu Daffa karena ada sesuatu yang ingin diungkapkannya. Daisha menikmati ini, ada rasa bahagia dan takut bercampur menjadi satu seolah menciptakan letusan-letusan kegembiraan tersendiri bagi Daisha. Ia cemas, pasti. Karena ini adalah yang pertama kalinya untuk Daisha mengungkapkan perasaannya pada lelaki. Daisha tak memikirkan pendapat orang lain, yang jelas ia sudah berani untuk mengungkapkan apa yang dia rasa saat bersama lelaki itu. Dari kejauhan, Daisha sudah melihat Daffa yang berjalan menuju kemari. Hal itu semakin membuat Daisha ke

