DPD-3

1139 Kata
Keadaan hening selalu tercipta di taman sekolah. Jarang sekali siswa-siswi yang kedapatan duduk dibangku taman. Tapi bagi pelajar yang menyukai kesunyian tempat inilah yang akan menjadi tujuan mereka. Memang terkadang manusia haruslah menyendiri hanya ditemani sepi untuk kembali berpikir menemukan jalan suatu masalah. Yakinlah, jika membuat keputusan dalam keadaan emosional, maka bersiap-siaplah akan menyesal. "Sumpah, gue nggak bisa! Cari yang lain aja deh," sahut seorang perempuan pada lelaki yang berada disampingnya. Sang lelaki hanya menghendikan kedua bahunya. "Tapi lo yang disuruh, buk Sarti. Jadi lo nggak bisa nolak," balas pria itu. Mendengar perkataan itu sontak membuat bibir perempuan itu mengerucut sebal. "Daffa, gue itu nggak pernah ikut yang beginian. Jadi sekretaris kelas aja, gue ngundurin. Padahal baru 3 jam, diangkat jadi sekretaris," ucap Daisha sambil meringgis. Perempuan tadi yang mengerucut sebal, ialah Daisha. Sedangkan lelaki tadi adalah Daffa yang setia mendengarkan ketidak terimaan Daisha yang akan menjadi sekretaris Osis, menggantikan Dinda yang berhalangan. "Pikir dulu deh, siapa tahu dengan lo ikut berkontribusi untuk sekolah nama lo bisa bersih." "Ya, kali bersih. Pake rinso deh biar bersih dan cemerlang," canda Daisha. Sedangkan Daffa hanya mendangi Daisha dengan tatapan datarnya. "Gue serius kali." "Lo mau serius? Seserius hubungan kita?" goda Daisha lagi. Kali ini ia menjawil centil dagu Daffa membuat lelaki itu salah tingkah. Daffa membuang mukanya. "Apaan nih! Pegang-pegang, ganjen bener lo!" ketus Daffa. Membuat Daisha yang tadinya tertawa kini mengatupkan bibirnya. "Eleh lo! Bilang aj salting kan," goda Daisha lagi. Ternyata perempuan itu masih belum jerah untuk menggoda Daffa. Ia mengikuti kemana arah muka Daffa, agar dapat melihat muka Daffa yang memerah. "Pokoknya lo harus mau jadi Sekretaris gue selama 6 bulan. Titik!" putus Daffa yang mulai jengah dengan godaan-godaan Daisha. Daisha ingin membantah tapi dengan cepat jari telunjuk Daffa berada dibibirnya. "Nggak ada penolakan atau gue laporin lo ke buk Sartiana," ancam Daffa dengan seringai kecil dibibirnya. Dia yakin, Daisha akan mau menerima perintahnya. "Oke! Gue mau." Daisha pasrah. Ia tak bisa lagi menolak perintah Daffa jika lelaki itu memgancamnya akan dilaporkan pada Buk Sartiana. "Sekarang tugas pertama lo!" "Apaan pake tugas pertama? Lo kira gue Ajudan negara?" "Sssst! Diam, nggak usah banyak protes," perintah Daffa. "Sekarang lo!" Tunjuk Daffa pada Daisha. "Ikutin kemana pun, gue pergi!" ucap Daffa bak titah raja. Daisha hanya bisa menghela nafas pasrah mengikuti kemana pun Daffa pergi. "Siap Boss!" ***** Ibarat seorang majikan dan pembantu jika berjalan bersama, maka sang tuan lah yang berada didepan memimpin jalan sedangkan sang pesuruh berjalan dibelakang mengikuti kemana arah tuannya. Inilah yang dialami Daisha sekarang, ia harus rela mengikuti kemana pun Daffa pergi. "Kemana lagi Daf? Gue udah capek. Dari tadi keliling mulu, pegel nih betis." Entah berapa kali keluhan itu muncul dari mulut cantik Daisha membuat Daffa harus memberhentikan langkahnya. "Kantin aja dulu," usul Daffa tak tega melihat Daisha yang kin sedang duduk beselonjor diatas lantai sekolah. Bagai menemukan air di padang pasir yang gersang, Daisha sontak terpikik riang mendengar jawaban Daffa. Ia lantas bangun dari duduk cantiknya, membersihkan buntutnya dengan tangannya akibat duduk di lantai tadi. Memang sedari tadi Daffa dan Daisha mengelilingi sekolah untuk memberi tahukan bahwa sebentar lagi akan diadakan Bulan Bahasa. Sebenarnya hanya Daffa yang masuk kedalam kelas yang disambut kehebohan para wanita kelas itu, sedangkan Daisha hanya menunggu didepan kelas. Dia tidak mau dianggap keganjenan mendekati Daffa, ia tahu bahwa dirinya memang cantik jadi banyak iri padanya. Biarlah kali ini dia mengalah. Sekarang giliran Daisha untuk mengisi tenaga, ia memborong tiga mangkok bakso ukuran jumbo untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Dengan sepenuh hati dan sehikmat jiwa Daisha melahap pentol-pentol bakso yang seakan memanggil Daisha untuk segera memakannya. Daffa yang melihatnya hanya bisa meringis pelan dan merasa bersalah telah membuat perempuan dihadapannya kelaparan. Dengan inisiatif ia memberikan dua pentol bakso saat Daisha menghabiskan pentol bakso terakhir miliknya. Dahi Daisha mengerut saat bola-bola daging yang ditusukan dengan garpu tersebut bukan mampir kemangkonya, tapi malah mengarah kemulutnya. Sontak saja Daisha mengeleng saat Daffa ingin menyuapinya. "Aaa... Buka mulut lo," ujar Daffa dengan tangan memegang garpu yang ditusuk pentol bakso. "Nggak mau ah! Malu kali dilihat orang. Dikira nanti gue pacar lo." Daisha menggeleng, tak mau menerima suapan itu. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah memblokade jalan masuk bakso tersebut. "Ngapain malu, biarin deh. Lagi pula kita cocok kali." Pipi Daisha bersemu merah tak kala mendengar perkataan Daffa tadi. Daisha menganguk,sekarang dengan mudah Daffa memasukan pentol bakso itu kedalam mulut Daisha. Daisha hanya bisa menyengir lebar, hingga bakso terakhir tandas dilahap Daisha. Sedangka Daffa sedang membeli minuman disalah satu penjual minuman. "Nih, minum. Entar keselek." Daffa memberikan minuman botol berasa jeruk kepada Daisha yang disambut semangat oleh perempuan itu. Setelah puas meminum hingga tetes terkahir, Daisha berdehem meminta izin untuk ke kamar mandi. "Daf, gue ketoilet dulu ya!" pamit Daisha yang diangguki oleh Daffa. Daisha berkata ingin ketoilet, tapi arah jalannya menuju lapangan sepak bola. Hingga akhirnya punggung Daisha menghilang ditelan tembok. Sudah sekitar 15 menit Daffa menunggu Daisha pulang dari toilet. Sebenarnya Daffa bisa saja pergi dari situ sejak tadi, tapi masalahnya Daisha belum membayar bakso yang ia pesan tadi. Daffa merutuki dirinya karena termakan tipuaan dari Daisha. Dengan terpaksa ia membayarnya, padahal itu adalah uang jajan Daffa untuk dua hari kedepan. Ingatkan Daffa untuk meminta gantinya pada Daisha. Sekarang tujuan Daffa adalah mencari Daisha, meminta pertanggung jawaban perempuan itu. Kakinya melangkah menuju lapangan, mungkin saja Daisha sedang bersembunyi disuatu tempat. Saat berada dipinggir lapangan, Daffa melihat seorang wanita dengan rambut dicepol keatas sedangkan tangannya melantunkan bola basket yang sedang dimainkannya. Tidak ada orang selain wanita itu, karena cuaca yang terik luar biasa membuat orang lain hanya melintas. Daffa mendekat, mencoba melihat wanita itu lebih jelas. Matanya membulat melihat Daisha dengan seragam yang acak-acakan dan bulir-bulir keringat yang memenuhi wajahnya. "Astaga, dragon! Lo ngapain ditengah lapangan bigini, panas kali!" teriak Daffa. "Main kelereng! b**o lo, udah tahu lagi main basket," sahut santai Daisha tangannya tetep melantukan bola bewarna orange tersebut. "Mau main nggak?" tawar Daisha. Daffa menghiraukan tawaran wanita itu, ia berlari meniggalkan Daisha sendiri. Wanita itu hanya mengedihkan bahunya acuh, ia yakin Daffa tak mau bermain dengannya. Lihatlah sekarang dirinya begitu berantakan dan cuaca yang begitu terik pasti membuat pria berkulit putih itu tidak mau bermain dengannya. Daisha tetap memainkan bola basketnya. Walaupun cuaca yang begitu terik, tak membuat wanita itu berlari kepinggir lapangan. Saat hendak melompat dan memasukan kedalam ring, Daisha terkejut mendengar teriakan Daffa yang membuatnya menghentikan lompatannya. "Daisha!!" teriak Daffa. Lelaki itu berlari dengan tangan kiri yang membawa sebuah jaket bewarna biru dongker. Daisha hanya bisa mengerutkan dahinya, saat Daffa memasangkan jaket itu pada tubuhnya. Daisha begitu risih dengan jaket ini ketika bersentuhan dengan keringatnya, apalagi cuaca yang begitu terik membuat wanita itu tak tahan memakainya lama-lama. "Panas Daffa, ngapain pake jaket, sih!" protes Daisha. Perempuan itu hendak membukanya, tapi tangannya ditahan oleh Daffa. "Jangan dibuka! Kerena keringat lo banjir, baju lo tembus." "k****g lo warna hitam, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN