DPD-4

1126 Kata
Cuaca siang ini begitu terik, panasnya membuat sebagian orang-orang enggan untuk keluar rumah. Apalagi asap-asap kendaraan yang begitu tebal dan hitam membuat banyak sekali pejalan kaki yang terbatuk-batuk. Belum lagi macet yang menimbulkan polusi suara karena sahut-sahutan bunyi klakson antar pengemudi manambah kepenatan para pengguna trotoar. Tak terkecuali Daisha, peluh keringat memenuhi pori-pori wajahnya. Untunglah dia memakai jaket biru dongker milik Daffa, jika tidak mungkin sekarang wanita itu begitu kepanasan. Daisha menutupi jaket itu pada bagian wajahnya, menghirup dalam-dalam wangi jaket Daffa. Pandangan Daisha yang semula menatap jalanan yang tampak ramai, teralihkan saat melihat sebuah motor besar yang baru keluar dari sekolah. Astaga! Itu laki-laki yang Daisha sukai, lelaki yang baru pagi tadi ia lihat di lapangan sekolah bermain bola basket. Daisha membulatkan mulutnya saat melihat sepasang tangan melingkar erat dipunggung pria itu. Oh, ternyata Daisha melupakan sesosok mahluk cantik yang berada dibelakangnya. Jika diibaratakn Daisha dan perempuan itu, sangat jauh. Butuh berkilo-kilo meter untuk menyamainnya. Nasib. Daisha memang tidak selalu beruntung dalam percintaan. Hari ini saja, ia harus menjadi sekretaris atau kasarnya b***k Daffa. Laki-laki yang membuatnya ingin menenggelamkan diri di lautan. Tinn..tinn Pandangan Daisha kembali tertuju ke arah jalan raya. Ia menoleh kekiri dan kanannya, ada seorang pengemudi sepada motor melambaikan tangan kearahnya. Tapi nihil, tidak ada satu orang pun yang berada disekitar situ, selain Daisha. Ia mendekati ke arah pengemudi sepeda motor itu, mungkin saja pria yang menggunakan helm full face itu salah orang. "Nyariin siapa, Mas?" tanya Daisha. "Mas-mas, pala lo ikan mas," sahut jutek pria itu. Daisha mengerutkan keningnya, sopan banget nih, orang! Gue tanya baik-baik malah ngejawab jutek- batin Daisha. "Cepetan naik!" perintah pria itu. Dia memberikan sebuah helm bogo bewarna coklat pada Daisha. "Ahaa! Lo pasti mau nyulik gue kan, nggak elite banget. Masa naik motor, dikasih helm pula." "Pake mobil kek, nyekepin gue dari belakang. Terus gue pingsan, lo bawa kemobil. Terus lagi...-" "Berharap banget diculik." Daisha melongo, ternyata pria itu Daffa. Padahal tadi Daisha mengira Manu Rios lah yang menjemputnya. Tapi lagi-lagi Daisha menggerutu dalah hatinya, kenapa bisa ketemu lagi sama Daffa?! Setelah insiden, Daffa yang melihat baju Daisha tembus akibat keringatnya yang membajiri sekujur tubuhnya. Belum lagi, ia kedapatan menciumi baju jaket Daffa tadi dan jangan bilang Daffa melihatnya patah hati. Sungguh Daisha ingin pergi ke Korea Selatan bertemu Oppa-oppa tampan agar bisa menjauhi Daffa. "Cepetan naik!!" ulang Daffa lagi. Kali ini lelaki itu langsung memasangkan helm bewarna coklat ke kepala Daisha. Helm itu sangat cocok di kepala Daisha, terlihat manis tidak percuma Daffa menghabiskan duitnya untuk membeli helm itu. "Lo yang maksa ya," sahut Daisha ketus. Tetapi tetap saja gadis itu menaiki sepeda motor Daffa. Daffa tak menjawab, dia langsung melajukan sepeda motornya. Membuat Daisha yang belum siap, langsung terjangkit kaget dan reflek memeluk Daffa erat. Ia menutup matanya takut-takut saat Daffa mulai memacu sepeda motornya lebih cepat lagi. Jalan sudah lumayan lancar, Daffa sudah mengurangi kecepatan sepeda motornya. Tapi, pelukan dari lengan Daisha belum juga terlepas dari tubuhnya. Daffa berdecak dalam hati, ia ingin meminta Daisha melepaskannya tapi dirinya yang lain tak rela pelukan Daisha terlepas. Jujur, Daffa merindukan pelukan yang Daisha berikan saat ini. Menurutnya, pelukan Daisha berbeda. Lebih tulus dari sebuah pelukan, membuatnya tak ingin segera melepasakannya. Perjalanan mereka pun berjalan lancar, Daisha pun tak kebaratan selama perjalanan ia tetap memeluk erat pinggang Daffa. "Ehh, Daff!! Gue berhenti disini!" teriak Daisha seraya memukul-mukul helm Daffa. Membuat pria itu segera memberhentikan motornya didepan sebuah pintu masuk apertemen. Daffa membuka helmnya. "Kok berhenti disini?" tanya pria itu. Dia melihat lagi kearah apertemen itu, rasanya hanya tempat itu hanya cukup untuk dua atau tiga orang, bukan untuk satu keluarga. "Emang gue tinggal disini," jawab Daisha. Ia segara turun dan melepaskan helm, tak lupa mengembalikannya pada Daffa. "Lo tinggal sendirian gitu?" tanya Daffa penasaran dan sedikit kekhawatiran. "Gue tinggal sama Kakak gue diisini, orang tua gue dilain kota," jawab Daisha berusaha menghilangkan penasaran Daffa. Walau ia harus sedikit berbobong. Daffa menganguk-anguk sebagai jawaban. Kini tatapannya beralih pada Daisha, membuat wanita itu mengerinyitkan dahinya. "Ngapain lo?" "Nggak, cuman ada yang ditunggu." "Oohhh, lo minta bayaran?" tanya Daisha sok paham. Perempuan itu mengeluarkan selembar uang bewarna hijau dari kantongnya. "Cukupkan untuk beli bensin." Daisha menyodorkan uang tersebut untuk Daffa, membuat satu alis pria itu terangkat. "Nggak, kalo itu mah gue punya banyak," jawab santai Daffa. "Jadi lo nunggu apa lagi?" tanya Daisha kesal. "Ternyata lo memang nggak peka," ucap Daffa lagi. Tanpa babinu lagi, ia segera melajukan sepeda motonya, meninggalkan Daisha yang mematung bingung. Gue kurang peka apa ya?- batin Daisha. ***** Daisha segera menghempaskan tubuhnya diatas kasur, masih dengan seragam sekolah yang melekat ditubuhnya. Suhu kamar sudah ia setel menjadi sedingin-dinginya untuk mengatasi kepanasan yang melanda tubuhnya. "Kayra sama Rista lama banget, sih!" ucap Daisha kesal. Pasalnya, kedua teman Daisha itu sedang menggunakan mobil Daisha untuk pergi. Sepulang sekolah tadi kedua perempuan itu meminjam mobil Daisha untuk mengunjungi sebuah toko buku, sebenarnya Daisha juga diajak. Tapi kerena tak terlalu suka dengan namanya buku, apalagi novel yang penuh drama membuatnya enggan untuk sekedar melirik sebuah novel. Hidup gue udah penuh drama, jadi untuk apa ditambahin lagi! Daisha menghela nafas, sekarang ia bingung untuk melakukan apa. Keadaan apartemennya terlalu sepi, tapi berulang kali ia mencoba mehanan diri agar keputusan yang diambil bukanlah hal yang salah. Tukk..tukk Ketukan dipintu membuat Daisha harus rela bangkit dari tidurnya, untung saja Daisha tidak mengeluarkan sumpah serapahnya kerena tamu itu telah mengganggu Daisha yang hampir saja terlelap dalam kantuk. "Siapa?" tanya Daisha malas-malasan. Matanya setengah terbuka, jika kedua temannya yang datang maka Daisha akan mengusirnya. Daisha terlalu lelah mendegar bacot-bacot yang dikeluarkan kedua temannya. "Daffa." Glegerrr.. Daisha sontak membulatkan kedua matanya, menutup mulutnya yang menganga lebar. Buru-buru Daisha merapikan rambutnya yang sudah kacau balau dan memastikan keadaan apartnya dalam kondisi layak menerima tamu. Daisha membuka pintu dan langsung mendapatkan muka Daffa yang tersenyum lebar menantinya. Tapi, setelah Daffa mengamati Daisha dari atas hingga bawah membuat muka pria itu memerah dan langsung membalikan badanya. Daisha yang mengamati itu pun mengerutkan keningnya. "Kenapa Daf?" tanya Daisha bingung. Ia segera mengecek jika ada iler yang tertempel dimukanya. "Kancing baju lo kebuka," jawab Daffa pelan. "Eh, gue kesini cuman mau ngingetin besok pagi gue jemput. Kita ada acara di SMA Nusantara." "Gue cabut dulu, byee!" Daffa langsung kabur meninggalkan Daisha yang melongo didepan pintu, segera saja perempuan itu menutup pintunya rapat-rapat. "Argggh! Malu banget!!" teriak Daisha. Ia berteriak sejadi-jadinya, merutuki kebodohannya yang lupa mengancingkan seragamnya. Ternyata dua kancing atas seragammya terbuka, membuat kedua bukit kembar Daisha sedikit nampak. Niatan awalnya, ia ingin angin lebih cepat mengademkan tubuhnya. Kini ia meringis, betapa malunya dirinya jika bertemu dengan Daffa lagi. Pasti Daffa mengiranya dirinya bukan cewek baik-baik yang sengaja memamerkan tubuhnya. Sumpah demi apapun Daisha tidak ada niatan seperti itu, mungkin nanti jika ia bertemu dengan Daffa ia akan meluruskannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN