11. Fakta Lain

1117 Kata
Setelah selesai makan, lalu mengisi waktu untuk mengaji bersama, anak-anak terlihat bermain di halaman depan panti. Maira berada di antara anak-anak itu, tapi dia sedang menemai Aisya bermain ayunan. Wiliam masih berada di dalam panti bersama Ustadz Romi dan umi, mereka sedang berbincang-bincang seperti biasanya. "Kak Maira nggak mau ya jadi mama Aisya?" tanya gadis kecil itu, yang sedang berayun dengan frekuensi sedang. Maira yang mendorong ayunan itu, menggerakkannya dengan sangat hati-hati. "Bukan seperti itu Aisya cantik, Kak Maira kan harus jagain anak-anak di sini," ucap Maira beralasan. Karena sebenarnya itu bukan kewajibannya, Maira hanya berusaha untuk membantu umi di sana. Lagipun dia juga hanya menumpang di panti itu. "Aisya juga kan mau dijagain Kak Maira," sahut Aisya. Maira bergeming. Dia bingung harus bagaimana. Melihat dan mendengarkan ucapan Aisya, membuat Maira tidak tega pada gadis kecil itu. Namun, dia sendiri belum kepikiran untuk menikah lagi. Selain itu, Maira juga belum memiliki surat cerai dari Lian, suaminya, yang tidak tahu seperti apa keadaannya sekarang. "Aisya, yuk pulang." Suara Wiliam membuat Aisya dan Maira menoleh. "Papa udah selesai?" Pertanyaan retorik itu keluar dari bibir Aisya. Maira hanya diam di tempatnya. "Makasih ya udah jagain Aisya," ucap Wiliam pada gadis itu. Maira mengangguk. "Sama-sama, Pak," jawabnya sopan. Aisya turun dari ayunan yang menggantung di pohon itu. "Papa, kalau setiap sore Aisya ngajinya sama Kak Maira boleh nggak? Aisya mau belajar ngaji di sini saja sama temen-temen," pinta gadis kecil Pak Wiliam. Maira meneguk air mulutnya. Aisya memang anak yang aktif dan ceria, tapi permintaannya barusan membuat Maira merasa telah menarik perhatian gadis kecil itu. Padahal tidak sama sekali. Maira hanya berusaha membantu Aisya belajar. Putri kecil Pak Wiliam juga sudah hampir pandai membaca huruf-huruf Al-Qur'an, padahal Maira baru mengajarinya. Ini pasti sebab Aisya selalu mengaji sebelumnya. "Apa Aisya benar-benar ingin mengaji?" tanya Wiliam serius pada putrinya. Pria itu berjongkok di hadapan gadis kecil itu. Aisya mengangguk penuh keyakinan. Terdapat semangat yang membara dalam anggukannya. "Boleh kan, Pa?" ucap Aisya, mendesak Sang Papa untuk menjawab iya. Wiliam menoleh pada Maira. Gadis itu masih berdiri dengan segala kecanggungan di dalam hati. Maira hanya mengulas senyum kecil untuk menanggapi tatapan Wiliam. Dia tetap harus sopan pada papanya Aisya. "Memangnya Kakak Mairanya mau?" tanya Wiliam pada putrinya, yang tentu saja pertanyaan itu bisa didengar oleh Maira sebab gadis itu berdiri tak jauh dari mereka. "Mau pastinya. Iya kan Kak Maira?" Aisya menoleh pada gadis itu. Maira melempar senyum lagi. "Iya Aisya," jawab gadis itu. "Tuh, Pa." Wiliam mengusap pucuk kepala putrinya. "Kalau Aisya mau dan Kak Maira bersedia, nggak papa kok, Papa izinkan pastinya," ucap Wiliam. Maira semakin terpaku di tempatnya. Ingin rasanya dia lari saja, tapi atas dasar apa? Entah mengapa dia terbayang pertanyaan Aisya yang memintanya untuk menjadi mamanya. Maira merasa kondisinya sedang tidak stabil sekarang. Padahal hanya mendengar Wiliam mengizinkan Aisya mengaji bersamanya. "Horeee!" seru Aisya dengan sangat riang. Dia berpindah ke hadapan Maira. "Jadi besok Aisya datang ke mari buat ngaji sama Kak Maira dan teman-teman," kata gadis kecil itu memberitahu Maira. "Iya, Aisya. Berarti sekarang Aisya harus pulang dulu, besok ke sini lagi," jawab Maira. Bukan bermaksud mengusir, Maira hanya khawatir jika Wiliam sudah ingin membawa Aisya pulang. Aisya mengangguk, lalu meraih tangan Maira untuk bersaliman. Dia juga menyempatkan diri untuk mencium pipi Maira ketika gadis itu berjongkok di hadapannya. Seketika wajah Maira memerah, bagaikan kepiting rebus yang mendidih. Apalagi ketika menyadari bahwa barusan Wiliam melihatnya. "Dadah Kak Maira," ucap Aisya. Dia kembali menghampiri papanya, lalu meraih tangan pria itu. "Makasih ya Maira. Assalamualaikum," ucap Wiliam sebelum melangkah menuju mobilnya yang terparkir di dekat pohon. "Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh," jawab Maira. Sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisi hatinya. Maira menutup pagar panti asuhan setelah mobil Wiliam keluar, dan Aisya menongolkan kepalanya sambil melambaikan tangan dari jendela mobil. Gadis itu hendak melangkah masuk. Namun tersendat sebab candaan dan ledekan beberapa anak panti. "Cieee." Ungkapan itu lebih banyak berasal dari mereka yang berusia menengah. Namun tak jarang anak SD yang juga meledeknya, di antaranya adalah Ika dan kawan-kawannya. "Kalian ini apa-apaan ya," geram Maira dengan wajah merahnya sebab malu. "Wajah Kak Maira merah tuh, pasti karena hatinya sedang berbunga-bunga," sahut Cia dengan tawa kecilnya, membuat yang lain ikut-ikutan tertawa. "Bunga-bunga cinta ini~" "Mengalir seperti ini~" Maira mengangkat kedua tangannya yang siap mencubit pipi anak-anak itu. "Cia...! Ika...! Alka...!" Alhasil, Maira malah jadi kejar-kejaran dengan anak-anak itu. Sekalian mengisi waktu luang untuk bermain bersama mereka. Maira sudah cukup senang jika bisa membuat anak-anak itu terhibur. *** Hari ini Harley tidak melihat wanita beliannya mengunjungi warung es cendol yang kemarin dia hampiri. Padahal pria itu sudah menunggunya sejak tadi. Hal itu membuat Harley kesal, dia memukul stir mobilnya. Dia berniat mencari gadis itu. Namun dia tidak memiliki info apa pun tentang keberadaannya. Harley menjalankan mobilnya. Di tengah-tengah perasaan kesal mencari Maira, terbesit dalam benaknya tentang seseorang. Harley memutuskan untuk mengunjungi wanita itu saja. Di sebuah rumah gedung dengan kondisi bangunan yang tak terurus. Ada seorang wanita yang disekap di dalamnya. Dengan hanya berbekal makanan yang ada, wanita itu dia biarkan hidup. Harley memarkirkan mobilnya. Dengan langkah tegap dia membuka pintu rumah itu, lalu menutupnya kembali. Pria itu berjalan menuju ruang khusus yang menyimpan wanitanya. Sebuah ruang kamar lengkap dengan toilet dan dapur. Namun pintunya selalu terkunci. Membuat wanita itu tidak bisa keluar kalau Harley tidak membukakan pintunya. Tampak seorang wanita dengan rambut panjang yang awut-awutan, sedang meringkuk di pojokan kasur. Tubuhnya bergetar takut ketika melihat Harley melangkah mendekat ke arahnya. Wanita itu menyembunyikan wajah ketika Harley mengulurkan tangan, hendak mengusap kepala wanita itu. "Kau tidak mandi lagi hari ini?" tanya Harley sebab mencium bau tidak enak dari wanita di depannya, yang tidak mau mengurus tubuhnya. "Kenapa, Sayang? Tidak mungkin air di toiletmu mati, kan?" ucap Harley. Ruang kamar itu cukup luas. Dengan kasur berukuran besar yang masih nyaman ditempati, juga ruang toilet, dan dapur sekaligus. Seharusnya bisa membuat kehidupan di dalamnya tenang. Namun tidak bagi Nessa. Harley sudah mengurungnya hampir setahun lamanya. Hal itu sebab kesalahannya dahulu, yang ketahuan berselingkuh di belakang suaminya. Seharusnya dia tidak pernah melakukan hal itu. Hal yang membuat Harley murka padanya. Nessa sudah pernah meminta maaf. Namun Harley masih menyimpan sakit hati yang mendalam. Setelah menyadari bahwa anak yang telah dia urus bersama Nessa ternyata bukanlah anak kandungnya, membuat Harley menutup hati dan pikirannya. Semenjak itu dia menjadikan Nessa b***k cinta. Nessa menyingkirkan tangan Harley dari kepalanya. Dia tidak ingin merasakan kehadiran pria kejam itu. "Kau hampir membuatku marah sebab menyingkirkan tanganku. Aku sudah bersikap baik padamu, tapi kau malah mengkhianatinya!" "Keluarkan aku dari sini!" teriak wanita itu. "Tidak mungkin!" seru Harley. "Tempatmu di sini! Sampai mati pun kau akan tetap berada di sini! Jalang!" Harley keluar dari kamar itu, lalu kembali mengunci pintunya. Gembok berlapis itu menggantung kokoh di depan pintu. Harley berjalan tanpa niat, wanita itu membuat perasaannya semakin dipenuhi amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN