Harley mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, membelah jalanan lengang di bagian barat kota Jakarta. Sinar orange yang terbentang hangat menghiasi langit tak cukup untuk membuat suasa hati Harley membaik. Dia terus menginjak pedal gasnya.
Halaman panti asuhan Ar-Rayyan masih ramai oleh anak-anak yang bermain. Maira masih asyik bersenda gurau, kejar-kejaran, dan bergelak tawa bersama mereka. Gadis itu tampak bersemangat meladeni adik-adik pantinya.
"Aduh, capek. Kakak istirahat dulu, deh," ucap Maira sambil menyeka keringat di dahinya. Sejenak mereka berhenti.
"Haha, Kak Maira kalah."
"Cemen, haha, wlek."
Anak-anak yang masih bersemangat itu mencibir ke arah Maira. "Huh, awas, ya...!" ucap Maira dengan nada sedikit mengancam. Dia akan menangkap anak-anak itu lagi setelah melepas penat.
Gadis itu duduk di samping Julian yang sedang mencoret-coret tanah menggunakan lidi. Dia mengajak bocah murung itu berbicara, "Lian nggak mau ikut kami main?" tanya Maira.
Bocah laki-laki itu menggeleng.
"Kenapa?" tanya Maira lagi.
"Mama nggak suka kalau liat aku main terus," ucap Julian, yang tidak disangka-sangka oleh Maira.
Gadis itu seolah mendapat sedikit gambaran tentang bocah ini. Maira melanjutkan pertanyaannya. "Mama Lian di mana?"
"Dikurung," jawab bocah itu, membuat Maira mengerutkan kening bingung.
"Dikurung?" Gadis itu membeo, dia pikir Julian sedang bercanda. "Kok bisa? dikurung sama siapa?" tanya Maira masih dengan nadanya yang tidak percaya.
"Sama papa." Julian menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Dia terlihat seperti menangis.
Semula Maira berpikir Julian hanyalah bercanda, tapi sekarang, setelah melihat reaksi bocah itu, Maira menjadi berpikir banyak tentangnya. Apa yang dikatakan bocah itu benar? Raut wajah Maira berubah serius. Tidak mungkin bocah seusianya bisa berkata seperti itu kalau tidak pernah melihat kejadiannya secara langsung.
Baru Maira sadari penyebab bocah ini murung sepanjang hari. Ternyata Julian berasal dari keluarga yang menurut Maira kurang baik perhatiannya. Gadis itu berpikir tentang Julian yang tersandung status broken home. Kasihan sekali, seharusnya anak seusianya bisa merasakan hangatnya keluarga, batin Maira.
Maira mengusap-usap punggung Julian. "Lian nggak perlu sedih. Di sini Lian nggak perlu takut kena marah. Kak Maira nggak akan marahin Lian kalau Lian main, umi juga," papar Maira, menenangkan bocah itu.
Ika menghampiri mereka. "Kak Maira, Lian kenapa?" tanya gadis kecil itu dengan napas sedikit tersegal sebab habis main lari-lari.
"Lian lagi sedih. Kalian ajak main, gih. Kasihan, nih," ucap Maira pada anak-anak lainnya yang baru berdatangan di sebelah Ika.
"Eh, Lian, kamu kenapa?" tanya Alka setelah berjongkok di depan Julian.
"Kamu nangis gara-gara nggak diajak main?" celetuk Mili.
"Mili...! Jangan ngomong kayak gitu, dong. Nanti dia tambah nangis," protes Alka pada bocah itu.
"Lagian Lian cengeng banget," tudung Mili.
"Eh, Mili, nggak boleh ngomong kayak gitu. Nanti dimarahin umi, loh." Kali ini Ika yang melerai.
Mili menutup mulutnya, bibirnya maju beberapa senti, dia cemberut. Maira menghembuskan napas halus setelah menyaksikan tingkah laku anak-anak itu. Mereka memang memiki karakter yang berbeda-beda.
"Ya sudah yuk kita main lagi. Lian mau ikutan?" ajak Maira.
Meski memerlukan sedikit lebih banyak waktu, akhirnya Lian mengangguk juga. Bocah itu pun mau bermain bersama teman-temannya. Maira menjadi penengah di antara mereka dalam permainan itu.
Ketika sedang asyik-asyiknya bermain, entah apa yang membuat Alka dan Lian berlari ke arah jalan, keluar dari pagar panti asuhan. Dua anak itu terlalu bersemangat dengan gelak tawa. Maira tidak tahu jika dua anak itu sudah berlari ke jalan raya, dia terlalu fokus dengan Ika, Mili, dan beberapa anak lain.
Sampai akhirnya terdengar suara klakson panjang. Hal itu membuat siapa saja yang mendengarnya langsung menoleh. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah Julian dan Alka.
Kedua bola mata Maira membesar. Dia dan anak-anak di sana berteriak memanggil dua bocah laki-laki itu. "Liaan!! Alkaa!!"
Tiiiiiiinn.
Ckiiiitt.
Maira berlari secepat yang dia bisa, lalu menarik dua anak itu dengan gerakan kilat. Tidak bisa dia bayangkan jika dua anak itu tertabrak. Maira akan merasa sangat bersalah sebab dia lah yang bertanggung jawab atas mereka saat bermain tadi.
Mobil itu berhenti tepat di depan pagar panti asuhan. Sang sopir sempat membelokkan stir dari jalanan sebab melihat dua anak yang sedang berlari. Hal itu membuat keadaan justru tambah horor, mobil yang terlanjur membanting stir terlihat seolah mengejar Maira, Julian, dan Alka. Namun beruntung sebab mobil itu sudah dalam kondisi siap rem.
Maira berdiri dengan kaki gemetar dan napas yang naik turun di dekat pagar panti. Julian dan Alka pun terlihat sama takutnya seperti gadis itu. Umi terlihat berdiri di ambang pintu, mendengar suara klakson yang mengerikan tadi memanggilnya untuk segera keluar.
Harley menarik rem tangannya. Dia yang mengendarai mobil itu pun sama takutnya seperti korban yang hendak tertabrak. Pria itu dapat melihat seorang gadis yang dia cari-cari. Seketika, Harley dibuat bergegas. Dia segera turun dari mobilnya.
Maira yang kakinya bergetar karena takut tertabrak tadi, sekarang tambah bergetar saja sebab melihat sosok yang keluar dari mobil itu. Entah kenapa bisa menjadi seperti ini, yang pasti Maira seperti melihat malaikat pencabut nyawa.
"Liaan!" panggil Ika sebab melihat bocah itu langsung lari ke dalam panti.
Mereka semua menoleh pada sumber suara. Umi yang sedang berjalan hendak menghampiri mereka pun sempat terkejut melihat Julian yang berlari kencang sekali.
"M-maaf," ucap Maira sebelum memaksa kakinya yang bergetar untuk segera masuk.
"Tunggu!" titah Harley. Pria itu maju satu langkah lebih dekat. Namun Maira tetap berjalan masuk sambil menggiring adik-adiknya untuk masuk juga.
Kini umi lah yang berhadapan dengan pria itu. Harley masih menatap ke halaman panti, memerhatikan gadis beliannya yang terus melangkah menjauh. Dia sangat mengenali gadis itu. Meski kerudung sedikit mengubah penampilan wajahnya, Harley tidak pernah lupa dengan wajah itu.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak. Kami akan ganti rugi seandainya anak-anak kami mengganggu perjalanan, Bapak," ucap umi merendah.
Ini bukan pertama kalinya terjadi pada anak-anak didiknya. Beberapa bulan yang lalu pun pernah ada yang hampir tertabrak sebab menyebrang tidak hati-hati karena mengejar bola. Maka dari itu umi selalu berpesan agar mereka menutup pagar panti.
"Tidak, tidak ada kerusakan apa pun, Bu. Tapi, saya ingin bertemu dengan gadis itu," ucap Harley dengan maksud pada Maira.
"Oh, Maira. Mohon maaf, tapi ada perlu apa ya, Pak?" tanya umi sopan.
"Saya sudah membel ... " Ucapan Harley tertahan. Dia masih berpikir jika tidak pantas berbicara seperti itu pada orang umum. "Saya ingin menikahinya," sambung Harley.
Umi terbengong, matanya mengerjap beberapa kali. Apa pria di depannya ini serius? Pikir umi. Wanita paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Dia semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Eee... kalau masalah itu tergantung pada Maira, Pak. Jika memang Bapak serius, nanti saya coba bicara dengannya," papar umi.
"Saya mau membawanya sekarang," pinta Harley. Suaranya terdengar mendesak, tapi sebisa mungkin dia anggap normal.
Umi semakin bingung. Apa-apaan bapak ini, kenapa memaksa seperti ini, pikirnya. "Ee... hee... tidak bisa seperti itu, Pak. Ini bukan barang dagangan," ucap umi, agak frontal.
Harley kembali menatap pada panti itu. Maira sudah menghilang di balik pintu. Sedikit tidak percaya sebab dia telah menemukan gadis itu di sini. Harley mengulas senyum devilnya.
"Baiklah, saya akan datang ke mari besok, pastikan gadis itu tetap berada di sini," pinta Harley sebelum kembali ke mobilnya. Dia memundurkan mobil itu kembali ke jalan, lalu melaju setelah menekan klakson untuk umi.
Sedangkan umi masih berdiri dengan tatapan konyol. Dia menggaruk lagi kepalanya, kali ini tak gatal, dia benar-benar bingung. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya sebelum menutup rapat pagar panti, lalu masuk ke dalam.