13. Tentang Harley

1124 Kata
Maira berada di kamarnya sekarang, sedang mondar-mandir kebingungan. Gadis itu terlihat menggigiti jari-jari tangannya. Maira khawatir jika Tuan Harley mengambilnya paksa dari sini. Bagaimanapun juga Maira tahu jika pria itu sudah membayar mahal atas dirinya. Semua ini karena ulah suaminya dan pacar gelapnya. "Maira." Panggilan umi dari luar sana membuat gadis itu terlonjak. Maira segera menghampiri wanita paruh baya itu. "I-iya, Umi?" jawab Maira. "Umi mau bicara sebentar boleh?" Maira sudah takut jika umi bertanya macam-macam tentang pria itu. Tidak mungkin dia harus berbohong pada umi. Mau tidak mau Maira harus mengatakan yang sejujurnya jika ditanya. Gadis itu mengangguk meski ragu. "Iya, b-boleh umi," jawab Maira setelah menelan air mulutnya. Umi masuk ke kamar gadis itu, dia meraih tangan Maira, lalu mengajaknya duduk di pinggir ranjang. Maira tidak melepas tatapannya dari umi yang juga menatapnya. "Kamu kenal sama pria tadi?" tanya umi hati-hati. Sejenak Maira berpikir. Detik berikutnya gadis itu mengangguk penuh keraguan. "Kalian sudah saling mengenal ya. Kalau boleh tahu, apa kamu pernah memiliki hubungan dengan pria itu?" tanya umi lagi. Maira menggeleng jujur. Dia memang tidak pernah memiliki hubungan dengan Tuan Harley, hanya saja statusnya sekarang adalah wanita belian pria itu. Umi memajukan bibirnya bingung, dia sempat berpikir Maira pernah memiliki hubungan dengan Tuan Harley. "Maira tidak pernah memiliki hubungan apa-apa dengan pria itu, Mi," ucap Maira lebih jelas. "Apa benar begitu? Tapi tadi dia bilang, katanya mau nikahin kamu," ungkap umi dengan mata sedikit lebih besar. Maira terkejut mendengarnya. Gadis itu tidak akan percaya begitu saja. Dia tidak lupa dengan perlakuan Harley padanya ketika pertama kali berada di dekatnya. Pria itu memiliki aura tajam dan menyeramkan. Maira tidak habis pikir apa yang akan terjadi padanya jika tetap berada bersama pria itu. Gadis itu meraih kedua tangan umi. "Tolongin Maira, Umi. Maira tidak mau bertemu pria itu, apalagi sampai menikah dengannya," mohon Maira dengan raut sendunya. Dapat umi lihat wajah Maira yang mengharapkan iba darinya. Umi semakin bingung saja dengan dua orang ini. Di satu sisi dia melihat Harley yang tampak bersemangat ingin menikahi gadis itu, tapi di sisi lain dia melihat Maira yang menolak keras pria itu. Bahkan Maira tampak sangat menghindarinya. Maira tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak sanggup untuk menebus semua uang yang sudah Harley beri pada suaminya. Di samping itu pun dia tidak ingin menjadi b***k Tuan Harley. Maira ingin hidup tenang seperti manusia pada umumnya. Dia tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Perlahan, butiran bening lolos dari pelupuk mata Maira. Umi melihat gadis itu menangis. "Maira...." Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Maira yang tampak naik turun sebab sesegukkan. Hal itu membuat umi berpikir banyak tentangnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, umi masih belum mengetahui banyak tentangnya. Namun umi tidak ingin menanyakan semuanya sekarang. Dia tidak tega melihat air mata yang semakin banjir di wajah gadis itu. *** Harley mengendarai mobil menuju tempat kediamannya di pusat kota. Pria itu langsung masuk ke garasi setelah satpam di rumahnya membukakan pintu. Dia segera turun dari mobilnya. "Lisaa!" panggil pria itu dengan suara menggelegar. Pemilik nama itu segera muncul dari atas tangga, dia segera turun untuk menghampiri pria itu. "I-iya, ada apa Kak?" jawab gadis itu setelah sampai di depan kakaknya. "Kau bawa ke mana anak Nessa hari itu?" tanya Harley dengan tatapan nyalang. "A-aku sudah membawanya pergi jauh dari kota ini," jawab Lisa sedikit takut. Dia tidak tahu kalau Harley baru saja melihat anak itu tadi. "Bohong!" bentak Harley. Lisa membesarkan kedua bola matanya. Selama ini Harley tidak pernah membahas soal itu, tapi kenapa hari ini tiba-tiba. Pria itu menarik rambut adik kandungnya. "Jadi selama ini kau mengkhianati kakakmu? Kau lebih berpihak pada wanita jalang itu! Iya!!" bentak Harley padanya. "Aakh, ampun, Kak! Maaf, aku hanya tidak tega melihat Julian berada jauh dari ibunya," ucap Lisa sambil memegangi rambutnya yang ditarik Harley. "Tidak tega? Apa kau tega melihatku dikhianati oleh wanita jalang itu!! Oh, atau jangan-jangan kau ingin membongkar masalah ini pada orang-orang!!" "Tidak, Kak! Sungguh. Tolong jangan tarik rambutku," keluh Lisa. Harley melepaskan tangannya dari rambut gadis itu. Dia membuang wajah darinya. Pria itu benar-benar marah sekarang atas tindakan adiknya yang tidak sesuai dengan perintah. "Maafin aku, Kak," sesal gadis itu. "Julian tidak bersalah, tidak seharusnya kau pisahkan dia dari ibunya. Dan tidak seharusnya juga kau mengurung Kak Nes--" "Diam!!" perintah Harley. "Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia!" timpal pria itu. Lisa menelan suaranya dalam-dalam. Dia benar-benar merasakan perubahan yang drastis dari kakaknya. Lisa tidak pernah lagi melihat kakaknya yang hangat seperti dulu. Gadis itu menangis, dengan cepat dia kembali melangkah ke kamarnya. Harley mengendus kesal sebelum melangkah menuju kamarnya. Pria itu tidak akan pernah melupakan hal ini, dan sampai kapan pun dia tidak akan membiarkan mereka bertemu. Nessa sudah membuatnya sangat marah dan menyimpan dendam, juga sakit hati yang mendalam. Nessa membiarkan Harley mengetahui sendiri tentang hal itu. Dan Harley baru mengetahuinya setelah delapan tahun lamanya mengurus Julian dan wanita itu. Hal yang membuat Harley sangat marah, ternyata selama itu Nessa sering kali berselingkuh di belakangnya. Pria itu benar-benar muak dengannya dan Julian setelah hasil lab membuktikan bahwa Julian bukanlah anaknya. Tidak ada sedikit celah pun dalam hatinya untuk memaafkan wanita itu. Harley tidak akan membiarkan Nessa berkeliaran di seantero kota. Setelah apa yang wanita itu lakukan padanya, sekarang dia harus bertanggung jawab dengan semuanya. *** Pagi itu, Lisa sampai di kampusnya. Ini tahun terakhirnya berada di kampus. Lisa ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya, lalu segera menikah, dengan siapa pun yang mau menikahinya. Dia sudah tidak ingin lagi tinggal bersama kakaknya. "Lisa," suara panggilan seseorang memaksanya untuk berhenti. Lisa menoleh padanya. "Oh, Sieera? Ada apa?" tanya gadis itu. Lisa baru saja mengenal Sieera beberapa hari yang lalu. Wanita itu tiba-tiba saja menghampiri Lisa, lalu memperkenalkan diri dengan alasan mengenal kakaknya. Lisa sempat curiga pada wanita itu dari pertama kali bertemu. Namun Lisa tidak pernah mengatakannya pada Harley. Padahal Harley selalu berpesan pada Lisa untuk memberitahu siapa saja yang menjadikan Lisa jalan untuk mengenalnya. "Ada waktu untuk berbicara sebentar?" pinta Sieera. "Kalau kau ingin bertanya tentang kakakku lagi, maaf, aku tidak punya waktu," putus Lisa. "Tunggu, Lisa. Aku hanya ingin memastikan. Apa ada seorang wanita lain di rumahmu?" "Tidak ada," jawab Lisa singkat. Dia dipaksa untuk tutup mulut jika itu menyangkut tentang kakaknya. "Apa kau tahu jika kakakmu pernah membeli seorang gadis di prostitusi?" Lisa menatap wanita itu nyalang. Dia tidak pernah mengetahui soal itu. "Membeli?" Gadis itu membeo. "Ya, aku hanya ingin memastikan kalau wanita itu ada bersama kakakmu," ucap Sieera. Lisa memutar otaknya. Dia tidak pernah berpikir jika kakaknya membeli seorang gadis di prostitusi. Namun, Lisa tidak lekas percaya pada wanita di depannya. Dia khawatir jika Sieera hanya memancingnya, dan membuatnya keceplosan tentang Nessa yang dikurung oleh kakaknya. "Tidak ada siapa-siapa yang sedang bersama kakakku. Dan aku tidak pernah tahu tentang hal itu. Permisi," pungkas Lisa. Gadis itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sieera mengambil waktunya cukup banyak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN