14. Fitnah

1205 Kata
Lisa baru saja keluar dari kelasnya. Mata kuliahnya hari ini telah berakhir. Gadis itu berjalan menyusuri lorong kampusnya. Tiba-tiba saja pikirannya teringat tentang Julian, bocah yang beberapa bulan lalu dia titipkan di sebuah panti asuhan di ujung kota ini. Dia memutuskan untuk menjenguk anak laki-laki itu sore ini. Sebuah angkutan umum menepi di depan Lisa. Gadis itu langsung naik ke sana. Tempat itu penuh oleh penumpang, hanya tersisa satu space kosong untuknya, beberapa dari mereka tampak menggeser posisi duduk, memberi tempat untuk Lisa. Gadis itu duduk di sana untuk beberapa waktu. Tanpa Lisa sadari, sejak tadi di belakangnya seseorang telah membuntuti. Sieera menjadi mata-mata Lisa selama seharian ini. Wanita itu menurunkan rem tangannya. Baru saja dia menepi sebab menunggu mobil angkutan yang membawa Lisa jalan. Kini wanita itu kembali melaju mengikuti angkutan umum di depannya, sampai melihat Lisa turun dari sana. Beberapa menit di perjalanan, akhirnya Lisa sampai di depan sebuah panti asuhan yang menampung Julian. Gadis itu membayar biaya transportasi, kemudian kakinya melangkah menyeberangi jalan, lalu masuk ke panti itu. Dapat Lisa lihat anak-anak yang sedang bermain di halamannya. Maira yang sedang bermain dengan anak-anak itu menghentikan sejenak kegiatannya. Dia melihat seorang gadis berpakaian rapi memasuki kawasan panti. Maira bisa menebak dia memiliki keperluan. Lisa melempar senyum padanya. Maira membalas senyumnya, gadis itu menghampiri Lisa. "Ada yang bisa saya bantu, Mba?" tanya Maira padanya. "Bisa saya bertemu dengan umi?" ucap Lisa. "Oh, bisa, Mba. Mari saya antar." Maira mengajak Lisa masuk untuk bertemu umi. Sedangkan, di depan sana, Sieera menyipitkan kedua matanya dari dalam mobil. Dia menatap dua gadis itu lekat-lekat, seketika raut wajahnya berubah menyeramkan. Wanita itu tersenyum miring, Sieera yakin yang dia lihat barusan adalah mantan istri kekasihnya. Dia tidak menyangka jika akan menemukan gadis itu sebab Lisa. "Ternyata selama ini kau bersembunyi di sini, gadis jalang," ucap Sieera. "Apa Lisa mengenal gadis itu?" lanjutnya bermonolog. Sieera mengambil ponselnya. Dia membuka kamera di sana. Wanita itu menangkap beberapa gambar Maira bersama Lisa, juga beberapa gambar bangunan panti asuhan itu. Maira dan Lisa berjalan menuju pintu masuk panti. Anak-anak di sana ikut menghentikan sejenak kegiatan mainnya. Julian yang melihat Lisa segera memanggil gadis itu. "Tante Lisa?" kata Julian terkejut. Dia baru menyadari kalau gadis itu adalah tantenya, yang dulu membawanya ke sini. "Hei, Julian," balas Lisa ketika bocah laki-laki itu menghampirinya. "Gimana di sini? Betah?" tanya Lisa setelah berjongkok di depan Julian. Bocah itu tidak menjawab pertanyaan Lisa. "Kak Lisa tau? Tadi siang papa ke mari," ucap Julian begitu saja. Tanpa berpikir tentang Maira dan orang lain yang mendengarnya. Lisa bergeming. Dia menyadari Maira yang barusan mengerutkan dahi bingung. Julian berkata sebab tidak mengerti apa-apa yang disembunyikan oleh tantenya. Bocah laki-laki itu masih sangat polos, dan hanya bisa melihat kenyataan yang ada di depannya. "Papa?" Maira membeo. "Oh, Julian pasti sedang merindukan papanya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan papanya. Sampai terbawa hayalan seperti ini. Aku harap kau tidak keberatan bermain dengan Julian," papar Lisa pada Maira. Harley memang sempat datang ke panti itu tadi siang. Pria itu bertemu dengan umi, dan hendak menuntaskan keinginannya kemarin, yang hendak menikahi Maira. Namun, umi menolaknya. Sebisanya wanita paruh baya itu menasihati Harley bahwa Maira masih ingin sendiri. Umi tidak berkata tentang Maira yang menolak, umi hanya berkata tentang Maira yang belum ingin menikah. Dan Lisa tidak mengetahui tentang kedatangan kakaknya itu. Dia berpikir jika Julian hanya berangan-angan barusan. Namun, Maira dapat menangkap dengan jelas apa yang dimaksud Julian. Gadis itu telah berpikir jika Julian adalah anak dari Harley. "Apa yang dimaksud Julian barusan adalah Tuan Harley?" tanya Maira. Tatapan gadis itu seketika berubah nanar pada Lisa. Lisa terkejut mendengar Maira yang menyebut nama kakaknya. Dia menoleh lambat pada gadis yang berdiri di sampingnya. Lisa menatap lekat-lekat pada mata itu. Dia kebingungan, juga risau, dan tidak tahu harus menjawab apa. Dari mana gadis itu tahu nama kakaknya? Pikir Lisa. Jika Maira tahu dari daftar riwayat hidup Julian yang dia berikan ke panti asuhan, maka jawabannya salah. Lisa telah memalsukan nama ibu dan ayah dari Julian. Lisa juga telah memalsukan beberapa identitas bocah laki-laki itu. Jadi tidak mungkin kalau Maira tahu dari sana. Umi pun tidak tahu kebenaran tentang Julian. Lisa hanya menceritakan tentang kedua orang tua Julian yang bermasalah, yang membuat Julian bisa diterima di panti ini. "Bu-bukan," jawab Lisa. "Harley bukan nama ayah Julian," sambungnya berdusta. Maira bergeming, benaknya berpikir banyak tentang hal ini. Gadis itu bisa menerka banyak hal sebab raut wajah Lisa, yang tampak menyimpan banyak rahasia. Maira melihat ada banyak kejanggalan pada dirinya. Gadis itu hampir berpikir jika Lisa sangat mengenal Harley. Lisa bangkit dari posisi berjongkoknya setelah mengusap lengan atas Julian. Bocah kecil itu dia suruh kembali bermain dengan teman-temannya. Lisa mengalihkan fokus Maira. Dia khawatir sebab melihat wajah berpikir gadis itu. "Apa aku bisa bertemu dengan umi sekarang?" pinta Lisa. Maira melepas fokusnya. "Oh, tentu saja," jawab gadis itu. Segera mereka melanjutkan langkah, melepas alas kaki, lalu masuk ke dalam panti. Sedangkan Sieera, baru saja dia mendapatkan jepretan gambar lagi. Sebuah foto yang memperlihatkan Lisa sedang berbicara dengan Julian, dan ada Maira juga di dalamnya. Wanita itu tersenyum bangga atas penemuannya hari ini. Sieera langsung mengirimkan gambar itu pada kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Lian. Wanita itu menjalankan mobilnya. Dia segera bergegas menuju apartemen Lian. Pria itu menyuruhnya datang sekarang juga. Mereka memiliki rencana besar untuk menciduk Maira, dan mencari keuntungan atasnya sekali lagi. Sieera melaju di jalanan dengan kecepatan normal. Dia sampai di bangunan apartemen Lian ketika matahari mulai terbenam. Sieera sudah memarkirkan mobilnya di lantai bawah tanah. Sekarang gadis itu sedang berjalan menuju lift. Lalu tidak sengaja dia berpapasan dengan seorang wanita, yang tentunya sangat dia kenal. Sieera menghentikan langkah spontan sebab seorang wanita berdiri di depannya. Meswa melipat kedua tangannya di depan perut, dia melihat wanita itu dengan tampang tidak suka. "Mau ke mana?" tuding Meswa dengan suara menginterogasi. "Jangan coba-coba mendatangi putra bungsuku. Aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengannya," sambungnya dengan tatapan getir. Sieera menyembunyikan perasaan kesalnya sebab wanita tua menyebalkan di depannya. Wanita itu mengeluarkan jurus rendah dirinya yang penuh dusta. "Maaf, Tante, aku tidak pernah bermaksud mendekati anak Tante. Lian sendiri yang memintaku untuk menghampirinya," ucap Sieera dengan raut sendu. "Itulah dirimu, murahan, tidak tahu malu, dan menjijikkan. Tidak pantas seorang wanita mendatangi laki-laki yang bukan mahromnya. Kau sudah merusak rumah tangga putraku, dan sekarang jangan harap kau bisa menggantikan posisi Maira di hidupnya," ucap Meswa dengan segala kebencian pada wanita yang telah meracuni otak anaknya. Sieera menahan diri agar tidak mengumpat. Ingin rasanya dia mencabik-cabik wanita di depannya. Namun dia meredam hal itu. Dia masih memiliki rencana besar yang harus diselesaikan. "Bukan saya yang merusak hubungan Lian dengan Maira, Tante, tapi Maira sendiri. Dia yang pergi dari Lian, dan menerima laki-laki lain," ucap Sieera persis seperti rencana yang sebelumnya dia buat dengan Lian. "Seharusnya Tante kasihan pada Lian. Apa Tante tega membiarkannya dikhianati oleh istrinya sendiri. Aku hanya mencoba membantu Lian meringankan kekecewaannya." Meswa masih menatap sinis pada Sieera, meski memang sebenarnya dia sempat kecewa ketika mendengar kabar tentang Maira dari Lian. Meswa tak menyangka jika Maira benar-benar pergi bersama pria lain. Lian menunjukkan bukti foto Maira, yang bahkan telah melepas jilbab juga cadarnya, dan sedang berada digendongan seorang pria. Mereka telah berhasil membuat wanita paruh baya itu kecewa dengan Maira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN