15. Percobaan Penculikan

1105 Kata
Meski telah mendengar tentang Maira dari Sieera, Meswa tetap tidak akan mengizinkan wanita itu bertemu dengan putranya. Dia tidak akan pernah mengizinkan Lian menikahi wanita itu, apa pun alasannya. Meswa tidak suka melihat Sieera, dan dia tidak akan pernah suka dengan wanita itu.  "Lebih baik sekarang kau pulang, jangan coba-coba menghampiri putraku!" perintah Meswa. Sieera menghembuskan napas tertahan. Matanya menatap wanita itu sebal meski bibirnya masih mampu mengulas senyum. Ponselnya bergetar, dia mendapat pesan dari Lian. Wanita itu melihat layar ponselnya sebelum akhirnya menuruti perintah ibunya Lian untuk tidak menemui pria itu. "Baiklah kalau itu mau, Tante. Saya permisi. Assalamualaikum," ucap Sieera, kakinya segera melangkah kembali menuju mobilnya. Meswa memalingkan matanya tak suka. "Waalaikumussalam!" jawabnya cepat. Sieera membuka pintu mobilnya, dia masuk, lantas membanting pintu itu. Lian baru mengirim pesan padanya jika ibunya mau menginap di apartemennya malam ini. Hal itu cukup membuat Sieera sebal dan marah pada Lian. Sebuah panggilan masuk ke ponsel Sieera. Lian menghubunginya sebab wanita itu hanya membaca pesan darinya. Dengan suara ngambek Sieera menjawabnya. "Kamu tau nggak sih aku itu udah sampe sini," kata wanita itu. "Aku nggak ngerti deh kenapa mama kamu benci banget sama aku. Kalau begitu kenyataannya untuk apa kita lanjutin hubungan ini," sambungnya. Sieera tidak pernah takut berkata seperti itu. Dia tahu jika Lian sangat mencintainya, pria itu akan melakukan apa saja untuknya. Selama ini dia tahu kalau Lian selalu berpihak padanya. "Jangan gitu dong, Sayang. Aku yakin mama pasti akan menerima kamu suatu hari nanti," bujuk Lian. "Kamu percaya deh sama aku," sambung pria itu. Sieera menghela napas bosan. Wanita itu berdeham panjang. "Terus kalau mama kamu tetep nggak ngerestuin gimana? Kamu mau kawin lari sama aku?" tudingnya. "Ya nggak akan kayak gitu jadinya, Sayang. Mama aku cuma butuh waktu untuk mengenal kamu. Aku akan bujuk dia malam ini," ucap Lian. "Yasudah kalau begitu," jawab Sieera dengan suara cemberutnya. "Senyum dong, kamu pasti lagi pasang muka jelek kan sekarang. Aku bisa tau walaupun cuma denger suara kamu," kata Lian. Sieera tertawa. "Iya, iya, aku senyum, nih." "Nah, gitu, dong." Di depan apartemen Lian, Meswa baru saja menekan bel di pintu. Lian segera mengakhiri teleponnya. Sambil berjalan menuju pintu, pria itu berkata, "Nanti aku telepon lagi, mama sudah sampai." Tut. Panggilan berakhir. Lian menyimpan ponselnya di saku sebelum membukakan pintu untuk mamanya. "Kamu ganti password?" tanya Meswa langsung ketika melihat putranya muncul dari balik pintu. "Mama, baru juga sampai udah nanyain password. Ayuk masuk dulu," ajak Lian. Meswa melangkah masuk bersama putranya. Lian membuatkan air minum untuk mamanya yang kini duduk di sofa ruang TV. Pria itu sedang menyiapkan strategi untuk mengambil hati mamanya. Dia menaruh secangkir teh di atas meja. Meswa yang sedang membaca majalah yang tadi tersimpan di meja menghentikan sejenak kegiatannya. Wanita itu menatap ke arah putranya. Masih ada sedikit kesal dalam hatinya sebab bertemu dengan Sieera di lobi tadi. "Bagaimana kabar Maira? Kamu sudah bicara padanya kalau mama ingin bertemu?" tanya Meswa. Dia memang sempat meminta Lian untuk menemukannya dengan Maira. "Dia tidak mau, Ma. Maira sudah bahagia dengan pria selingkuhannya. Dia tidak mau lagi berurusan dengan keluarga kita," papar Lian penuh dusta. "Jadi Lian mohon sama Mama, izinkan Lian bahagia juga sama wanita pilihan Lian." Meswa sedikit merasa iba mendengar permohonan putranya. Lian tampak sangat serius, dan itu membuat Meswa semakin tak tega melihatnya. Namun, dia merasa tidak ada kebaikan sedikit pun pada Sieera. Entah mengapa Meswa tidak pernah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengan wanita itu. "Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi mama mau kalian bercerai dengan cara baik-baik di kantor urusan agama. Kalau memang benar Maira tidak mau lagi berurusan dengan kita, pasti dia tidak akan keberatan untuk datang dan menandatangani surat cerai. Lagipun tidak mungkin Maira menikah dengan pria lain kalau belum ada surat cerai darimu," pinta Meswa pada akhirnya. Lian bergeming beberapa saat. Dia terpaku, otaknya berpikir cepat, memikirkan cara untuk membuat mamanya percaya, tanpa harus mendatangkan Maira. Lian tidak bisa menjamin kalau Maira bersedia menandatangani surat itu. Kalaupun mama bertemu dengan Maira, pasti semua urusannya menjadi kacau. *** Malam itu, Maira sudah hampir terlelap, bayangannya sudah ingin mencapai dunia mimpi. Namun, suara di luar sana membuat kesadaran gadis itu kembali. Dia menoleh pada Ika yang sudah tertidur pulas. Maira mendudukkan tubuhnya, matanya menyipit ke arah jendela. Gadis itu turun dari ranjangnya. Dia melangkah lambat menuju jendela. Lalu, terdengar suara yang cukup kuat di kamar itu. Seseorang berhasil membobol jendela panjang tanpa tralis di kamar Maira dan Ika. Dengan cepat, gadis itu melangkah mundur, buru-buru dia membangunkan Ika dan memakai kerudungnya. "Ika! Bangun, Sayang!" Maira mengguncangkan tubuh mungil yang tertidur di ranjang. Ika menggeliat, tapi masih merasa nyaman dengan tidurnya. Maira dapat melihat seorang pria yang mulut dan hidungnya tertutup kain bermotif army. Pria itu memakai topi dan membawa linggis di tangannya. Maira berteriak sebelum akhirnya pria itu menangkapnya dan membekap mulutnya. Gadis itu memberontak. "Ika! Lepas! Toloong!" teriak Maira samar-samar terdengar. Pria itu menarik Maira menuju jendela, hendak menariknya keluar. Ika yang mendengar suara berisik disertai teriakan segera membuka matanya. Dalam kegelapan itu, dia bisa melihat Maira yang digondol maling. "Kak Maira!!" teriak Ika. Gadis kecil itu maju untuk menyelamatkan Maira dari kukungan pencuri itu. "Diam!" gertak Sang Maling. Pria itu mendorong tubuh Ika hingga terpental jauh. Maira menggunakan tangannya untuk menahan tubuh agar tidak keluar dari jendela kamar. Pencuri itu sedang berusaha mengangkat kaki Maira. "Umph! Lepaskan!" racau Maira. Ika membuka pintu kamarnya, bocah itu segera berteriak di depan pintu, membangunkan para penghuni panti lainnya. "Toloooong!!! Kak Maira mau diculik!!!" teriak Ika sekuat tenaga. Pria itu menoleh pada Ika yang sedang berteriak di depan pintu. "Anak kurang ajar!" umpatnya. Merasa kukungan pria itu melemah, Maira langsung mengambil kesempatan. Dengan kuat dia menyikut tubuh pria itu, lalu memberontak sekuat tenaga, membuat pencuri itu terkejut. Maira tidak berhenti, diinjaknya kaki pria yang memakai sepatu di belakangnya. Berani-beraninya pencuri itu masuk menggunakan alas kaki. Menit berikutnya lampu menyala, orang-orang pada bangun akibat suara teriakan Ika. Pencuri itu mengumpat sekali lagi. Tidak ada kesempatan baginya untuk membawa Maira keluar. Pria itu menyingkirkan tubuh Maira, lalu dia keluar sendirian dari kamar itu. Dia melarikan diri ketika melihat seseorang membuka pintu depan lalu meneriakinya. Maira segera mencari perlindungan, gadis itu berlari meninggalkan kamar, sekarang dia berada di depan kamar bersama anak-anak yang terbangun. Sedangkan marbot panti sedang mengejar penculik yang berlari sangat cepat. Marbot itu kehilangan jejaknya sebab Sang Penculik langsung naik ke dalam mobil hitam yang platnya telah disembunyikan. Mereka kehilangan jejaknya sekarang. Umi menghampiri Maira yang sedang bersama anak-anak. Wanita paruh baya itu terkejut setelah mendengar ada percobaan pencurian. Hal ini pertama kalinya terjadi pada Panti Asuhan Ar-Rayyan. Sebelumnya tidak ada pencuri mana pun yang tertarik ingin membobol panti mereka. Namun sekarang apa yang terjadi. Mustahil jika umi tidak terkejut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN