16. Lamaran Pak Wiliam

1101 Kata
Brak! Suara gebrakan dari telapak tangan pada meja kayu terdengar begitu mengejutkan. Tiga orang pria berbadan besar di sana tampak menundukkan kepala. Harley bangkit dari kursinya, terlihat begitu jelas kemarahan di wajah pria itu, matanya tajam menatap setiap nyawa di depannya. "Payah! Begitu saja kalian tidak bisa! Sia-sia aku menyuruh kalian!" seru Harley pada tiga orang pria yang tertunduk di hadapannya. Mereka adalah orang yang semalam berhasil membobol panti asuhan Ar-Rayyan untuk mengambil Maira. Harley yang menugaskan mereka untuk membawa gadis itu pergi dari sana. Pria itu sudah mencoba dengan cara baik-baik, tapi gadis itu menolak begitu saja. Hal itu yang membuatnya mengeluarkan perintah ini. Apa pun yang terjadi, Harley tidak akan melepaskan gadis itu. Dia sudah membayar mahal atas dirinya. Maira akan tetap menjadi miliknya, tegas Harley dalam hatinya. "Panti asuhan itu tidak memiliki keamanan yang ketat, seharusnya kalian berhasil membawanya padaku!" Napas Harley memburu, dia sungguh kecewa dengan orang-orang suruhannya. "Aarrghh!" Pria itu meninju meja lagi, kali ini terdengar lebih kuat. "Pergi dari ruanganku!" titahnya tanpa menoleh lagi pada mereka. Lisa mengambil langkah panjang untuk pergi setelah mendengar perintah Harley yang menyuruh anak buahnya keluar. Gadis itu terpanggil untuk menguping ketika tadi mendengar suara tinggi kakaknya. Tiga pria suruhan Harley keluar dari ruangan itu, Lisa dapat melihat orang-orang itu menunduk gagal. Apa yang Lisa dengar barusan membuatnya berpikir jika Harley telah menyuruh orang untuk menangkap Julian. Gadis itu tidak bisa diam saja. Tidak mungkin dia membiarkan kakaknya itu menyakiti bocah yang tidak bersalah di sana. Lisa segera keluar setelah merasa tiga pria tadi sudah pergi. Dia akan membawa Julian pergi dari panti asuhan itu setelah pulang kuliah nanti. Gadis itu bergerak cepat. *** Di panti asuhan Ar-Rayyan, umi menyuruh orang untuk merenovasi setiap jendela di sana. Wanita paruh baya itu meminta mereka untuk memasang tralis pada jendela-jendela panjang yang berkemungkinan bisa dilalui orang. Tentu saja umi tidak mau kejadian seperti semalam terulang lagi. Pemilik panti asuhan Ar-Rayyan memang sangat peduli pada anak-anak didiknya. "Maira," panggil umi. Dia melihat gadis itu melamun dengan sebuah buku di tangannya. Maira masih memikirkan kejadian semalam. Dia tidak bisa tidur dengan tenang, benaknya selalu berpikir tentang seseorang yang masih mengincarnya. Maira tidak tahu apa lagi mau mereka. Namun, gadis itu sadar bahwa dia adalah wanita belian. Tidak mungkin Tuan Harley akan melepaskannya begitu saja. Sekarang Maira benar-benar khawatir. "Iya, Umi?" jawab Maira setelah menoleh padanya. Dapat umi lihat wajah Maira yang basah. Dia tahu, pasti gadis itu habis menangis. "Kamu tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa, Umi," jawab Maira. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, jelas dia sangat terluka atas kejadian ini. "Yang sabar ya, Sayang. Umi pastikan tidak ada lagi yang bisa membobol kamar kalian," bujuk wanita paruh baya itu. Maira mengangguk paham. "Terima kasih, Umi." "Sama-sama." Umi melebarkan senyum hangatnya, lantas membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukan. Maira melebarkan kedua tangan, menerima pelukan wanita di depannya. Tepat pukul tiga sore, Lisa sampai di panti asuhan Ar-Rayyan. Gadis itu segera menghampiri Julian untuk menanyakan kabarnya. Lisa sudah sempat bertemu dengan umi dan Maira. Mereka percaya kalau memang Lisa yang bertanggung jawab atas bocah laki-laki itu, meski gadis itu telah memalsukan data-datanya. "Julian baik-baik aja, kan?" tanya Lisa pada Julian ketika mereka berada di lorong samping panti. Bocah laki-laki itu mengangguk. Namun, Lisa masih menyimpan kekhawatiran padanya. "Tante, Julian mau ketemu sama mama," pinta bocah itu pada Lisa. Hal itu membuat Lisa tidak tega mendengarnya. Maira yang berdiri di ujung lorong menajamkan pendengaran, gadis itu sengaja mengikuti mereka diam-diam. Maira ingin tahu tentang Julian dan Harley, entah mengapa dia sangat yakin kalau bocah itu putra Tuan Harley. "Sabar ya, Sayang. Percaya sama Tante, suatu saat nanti pasti kamu bertemu lagi sama mama." Lisa mengusap lengan bocah itu. "Kapan?" tanya Julian. "Kalau Julian sudah besar," jawab Lisa. "Apa harus besar dulu baru bisa bertemu mama?" tanya Julian lagi. Lisa bergeming, sungguh dia tidak tega melihat bocah yang sangat merindukan mamanya itu. Namun, apa yang bisa Lisa lakukan. Menyelamatkan Julian dari kakaknya saja adalah hal yang sangat mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin dia bisa mempertemukannya dengan Nessa. Lisa mengusap wajahnya sebelum air mata sempat menetes. "Apa tadi malam ada yang ingin menculik Julian?" tanya Lisa padanya. Bocah polos itu menggeleng. "Tadi malam Kak Maira yang mau diculik," jawabnya. "Maira?" Lisa membeo. Gadis itu membesarkan kedua bola matanya. Seketika pikirannya ambyar, untuk apa kakaknya itu menculik Maira? Pikir Lisa. Tiba-tiba Lisa teringat tentang ucapan Sieera tempo hari. Yang mengatakan bahwa kakaknya telah membeli seorang gadis. Kini Lisa berpikir tentang Maira. "Julian tidak berbohong, kan?" tanya Lisa memastikan. "Kalau Tante nggak percaya, tanya saja sama Kak Maira," jawab bocah itu. Lisa menghela napasnya. Dia sedikit lega sebab kakaknya itu tidak mengincar Julian. Namun, kini pikirannya terbagi dua, Lisa menyimpan curiga pada Maira. "Kak Maira?" Seorang bocah perempuan yang sangat merindukan gadis itu muncul dari belakang. Maira terkejut dengan kehadirannya, Aisya mendekati gadis itu. Segera Maira membawa Aisya pergi dari sana ketika menyadari Lisa dan Julian mengetahui keberadaannya. Lisa melirik ke tempat Maira, dia baru sadar kalau ternyata gadis itu mendengarkan pembicaraan mereka dari tadi. "Kak Maira, Aisya punya hadiah buat Kakak." Gadis kecil di samping Maira itu tampak bersemangat. "Wah, benarkah?" ucap Maira dengan nada serupa. Sungguh sebenarnya ini waktu yang sulit bagi Maira untuk meladeni Aisya. Namun, gadis itu tidak mungkin mendiamkan bocah yang sedang bersemangat di sampingnya. Aisya buru-buru melepas tas punggungnya. Gadis kecil itu mencari hadiah yang dia maksud di dalam sana. Dia bergerak dengan sangat antusias, seolah dirinya sudah menantikan momen ini. "Tara!" kejut Aisya sambil mengangkat sebuah bros berbentuk pita berwarna merah muda. Maira berlutut di depan tubuh Aisya. Gadis itu meraih tangan bocah kecil itu. "Masyaallah, cantik sekali, ini untuk Kakak?" ucap Maira dengan senyum mengembang pada Aisya. Aisya mengangguk bekali-kali. "Aisya dapat hadiah di sekolah tadi, hehe," kata bocah itu. "Alhamdulillah, Aisya hebat," puji Maira. Gadis kecil itu memasangkan bross pita di sisi bahu Maira. Maira membantunya. Sungguh itu adalah pemandangan yang membuat Wiliam memejamkan kedua mata. Pria itu merasakan betapa bahagianya Aisya berada di dekat Maira. Mereka melangkah menuju tempat mengaji. Seperti biasa, Maira mengajarkan mereka dengan penuh kehangatan dan kesungguhan. Wiliam tampak sedang mengobrol dengan umi dan Ustadz Romi, dan obrolan antara mereka semakin lama terasa semakin serius. "Kalau saya boleh tahu, apa Maira gadis yatim piatu?" tanya Wiliam pada pasangan suami istri di depannya. "Iya, benar Pak Wiliam, Maira yatim piatu," jawab umi. "Berapa usianya, Mi?" tanya Ustadz Romi. "Dua puluh tahun, Bi." Wiliam tampak mengangguk di tempatnya. Pria itu tidak menyangka kalau Maira sudah dua puluh tahun. Kalau dilihat, wajah gadis itu seperti masih SMA. Hal itu membuat Wiliam tidak ingin menanyakan status pernikahannya, dia berpikir Maira benar-benar masih single. "Bagaimana kalau saya ingin memintanya menjadi ibu untuk Aisya, Pak, Bu?" tanya Wiliam pada wali Maira di depannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN