17. Situasi yang Sulit

1133 Kata
Kedua pasangan suami istri itu saling pandang sebelum akhirnya tertawa kecil merespon ucapan Wiliam, sedangkan pria itu tampak menggaruk belakang telinganya. Wiliam bergumam canggung di dalam hati, dia sedikit malu sebab telah mengungkapnya. "Kalau masalah itu, nanti Umi bantu untuk menanyakannya pada Maira," papar umi. "Em ... baiklah kalau begitu, Bu," jawab Wiliam. Setelah anak-anak selesai mengaji, Wiliam menghampiri Aisya yang masih berada bersama Maira. Aisya benar-benar terlihat sangat nyaman berada di dekat gadis itu. Bahkan Wiliam sendiri dapat merasakan Maira bisa menjadi ibu untuk Aisya. Namun, terkadang bayangan tentang Melia terlintas dalam benaknya. Wiliam memejamkan kedua mata ketika menangkap sosok Melia dalam diri Maira. Pria itu menggelengkan kepala sedikit, mengusir ilusi yang belakangan ini selalu hadir setiap kali dia mengingat Maira. Apalagi ketika Aisya selalu saja bercerita tentang gadis itu padanya, lalu memintanya untuk segera mengantar gadis kecil itu mengaji. Wiliam hampir tidak bisa berpikir akibat situasi ini. "Aisya," panggil Wiliam pada peri kecilnya. Gadis kecil itu menoleh. "Iya, Pa?" jawabnya. "Sudah selesai?" tanya Wiliam. Belum sempat Aisya menjawab, pria itu sudah berkata lagi. "Ayo pulang," ajaknya. Aisya menoleh kembali pada Maira. "Kak Maira, Aisya pulang dulu ya. Besok Aisya mau dengar cerita lagi, jadi Kak Maira harus punya cerita yang lebih bagus," kata Aisya dengan gigi yang berderet menghiasi senyumnya. "Assalamualaikum," ucapnya setelah mencium tangan Maira. Maira membalas senyum gadis kecil yang lucu itu, lalu mengusap kepalanya yang terbalut kerudung berwarna merah muda. "Waalaikumussalam," jawab Maira. "Aisya yang semangat yah ngajinya," ucap gadis itu setelahnya. "Siap, Bu Guru!" seru Aisya dengan semangat yang menggebu-gebu, bahkan gadis kecil itu sampai menggunakan tangan kanannya untuk hormat, layaknya seorang murid yang hormat kepada bendera merah putih. Maira terkekeh geli, semakin gemas saja dia melihat bocah itu. Aisya berlari menuju papanya yang berdiri agak jauh dari mereka. Wiliam menatap gadis itu. Maira baru saja berdiri dan menundukkan kepalanya seolah mengucap salam pada Wiliam. Hal itu membuat Wiliam lagi-lagi memejamkan kedua matanya sambil menggelengkan kepala. Dia segera beranjak dari sana. Kini, bapak dan anak itu sudah berada di dalam mobil. Mereka sudah melaju di jalanan menuju rumah. Sejak tadi benak Wiliam tidak bisa berhenti berpikir tentang Maira, juga tentang ucapannya tadi yang meminta agar Maira menjadi mamanya Aisya. Pria itu menghela napas panjang, satu tangannya memijat kedua pelipisnya. Dia berusaha untuk tetap fokus berkendara. Bayangan Melia dan segala ucapannya terus terngiang dalam benaknya. "Tidak perlu baby sister, aku masih mampu merawatnya, Mas. Aisya harus lebih dekat dengan orang tuanya, bukan orang lain." "Seandainya aku pergi nanti, aku harap Mas Wili segera mendapatkan pengganti untuk merawat Aisya." "Mas Wili, aku mencintaimu, tapi kuharap ada orang yang lebih kuat dariku untuk mencintaimu. Aku titip Aisya, Mas...." Wiliam menoleh pada Aisya untuk menghilangkan sejenak bayangan itu. "Aisya," panggilnya pada bocah yang duduk di sebelahnya. "Hm?" Aisya menoleh pada papanya. Gadis kecil itu tampak tersenyum menunggu papanya berbicara. Wiliam kembali melihat ke jalanan di depannya, sesekali dia melirik putri kecilnya. "Aisya ... apa Aisya mau Kak Maira jadi mama Aisya?" "Mau, Pa. Aisya udah anggap Kak Maira jadi mama Aisya," jawab bocah itu dengan polosnya. Wiliam membuang napas dengan bibir yang sedikit mengerucut. Sekarang dia khawatir tentang jawaban gadis itu. Dia tidak melihat tanda-tanda Maira ingin menjadi mama Aisya. Namun, hal itu dia lihat jelas pada putrinya. *** Malam tiba. Setelah selesai salat maghrib, Maira terduduk di lantai kamarnya, gadis itu sedang membaca Al-Qur'an. Umi yang melihat dari depan pintu melangkah masuk. Selanjutnya, wanita paruh baya itu menyentuh pudak Maira, membuat gadis yang masih mengenakan mukena menoleh ke arahnya. Maira menghentikan sejenak bacaannya, lalu menutup Al-Qur'an di depannya. "Ada apa, Mi?" tanya Maira hati-hati. "Umi mau menyampaikan amanah dari seseorang," jawab umi. Wanita paruh baya itu mengajak Maira duduk di sisi ranjang. Maira menurut, dia mendaratkan bokongnya tepat di samping umi. "Amanah apa, Mi?" tanya Maira. Umi tampak tersenyum. "Apa kamu suka melihat Aisya?" tanyanya. Maira menggerakkan kedua bola matanya ke samping. Sejenak dia berpikir tentang pembicaraan umi yang mengarah pada Aisya. "Suka kok, Mi. Aisya anak yang pintar," jawab Maira. Lagi-lagi umi tersenyum. "Bagaimana dengan papanya?" tanya umi, yang terasa tiba-tiba bagi Maira. Wajah gadis itu berkerut sempurna. Dia tidak mengerti apa yang umi inginkan. Namun, Maira bisa merasakan tentang sesuatu yang sebelumnya sempat Aisya katakan padanya. "Eee ... kenapa Umi tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" tanya Maira ragu. "Jadi gini, sebenarnya, Pak Wiliam mau melamar kamu, dia ingin kamu jadi mamanya Aisya," kata umi. "Itu artinya ...." "Maaf, Umi," potong Maira. Jantungnya langsung bergetar sangat cepat ketika ucapan itu keluar dari bibir umi. "Maira tidak bisa," sambung gadis itu. Jawaban Maira itu berhasil membuat umi memiringkan kepalanya. Kali ini dia tidak mengerti kenapa gadis itu menolak. Umi mengenal Wiliam adalah pria yang baik, tentu saja umi berpikir Maira akan menerimanya, berbeda dengan Tuan Harley waktu itu. Namun, setelah mendengar tolakan ini, umi merasa ada yang aneh padanya. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Maira menundukkan kepalanya, seketika saja pikirannya berubah kalut. Hal seperti ini terasa begitu berat baginya. Maira tidak tahu sedang berada di posisi apa. Masalah hidupnya sudah terlalu banyak, dia tidak ingin menambah masalah ini dengan menikah lagi. Cukup berada di tempat ini, dia bisa meringankan segala beban kesedihan. Terkadang bermain bersama anak-anak itu membuat Maira dapat melupakan sejenak masalah hidupnya. Berada di antara mereka, saling memberi kehangatan, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia tanpa ada hati yang tersakiti. Maira sudah berniat ingin menghabiskan waktu hidupnya di tempat ini. Mengajarkan ilmu yang dia miliki pada anak-anak, sehingga kelak hal itu bisa menjadi amal jariah untuknya. Maira tidak pernah berpikir untuk mencari kehidupan lain setelah diterima di panti asuhan itu. Dia lebih tenang berada di sana, meski sering kali perasaan was-was menghantuinya. Setidaknya Maira tidak akan menambah masalah baru. "Maira...," panggil umi sebab dia melihat wajah gadis itu tampak kalut. Umi mengusap paha Maira yang terbalut kain mukena. "Tidak apa-apa, kok, kalau kamu tidak bisa. Umi tidak akan memaksa." "Tapi, apa umi boleh tahu alasannya?" tanya umi hati-hati. Maira menelan air mulutnya. Dia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menceritakan tentang hidup yang dia jalani sebelumnya. Maira sudah berusaha untuk mengubur tentang Lian dalam-dalam, meski terkadang sulit. Dia tidak sanggup untuk menceritakannya pada siapa pun. Biarlah Allah saja yang menjadi tempatnya untuk mengaduh. Umi melihat air mata yang mengalir di pipi gadis itu. Buru-buru Maira menghapusnya. Hal itu membuat umi semakin merasa aneh padanya. Dapat dia rasakan kesedihan yang mendalam pada gadis itu. Umi mengelus-elus pundaknya. "Umi minta maaf kalau buat Maira sedih," sesal wanita paruh baya itu. "Yasudah kalau begitu, kamu istirahat ya," sambungnya. "Terima kasih, Umi," kata Maira setengah berbisik. Umi mengangguk dengan senyum hangatnya. "Kalau Maira merasa sedih, dan ingin bercerita tentang masalah apa pun, bilang saja sama umi, ya. Insyaallah, bagaimanapun masalahnya, umi akan berusaha membantu," ucap umi padanya. Wanita paruh baya itu bangkit dari duduk, lalu melangkah keluar meninggalkan kamar Maira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN