5

1422 Kata
Dia menciumiku penuh gairah di sofa publik. Aku dan dia, benar-benar menjadi dua orang yang lupa bahwa kami tidak sendirian. Lupa bahwa di sekeliling masih ada banyak orang. Tubuhnya tidak hanya mengurung tubuh mungilku, tapi juga mengurungku dari lingkungan sekitar, membuatku terhanyut dan lupa diri. Jiwaku melayang oleh kenikmatan dan nafsu duniawi. "Han... Ruihan..." Aku berusaha mengingatkannya dimana tempat kami sekarang berada, tapi sialan suaraku malah terdengar seperti rengekan serak bercampur desahan yang memancing naluri binatang buas dalam dirinya. "Aku suka kau memangil namaku, Sayang," balasnya dengan suara serak dan berat "Terus panggil namaku Dove." Dia memegang wajahku di kedua sisi sehingga aku tidak bisa menjauh dari serangan lidahnya. Aku terbuka untuk dia dan membiarkannya mengambil apa pun yang dia inginkan dariku. Ruihan Lu sangat tahu aku tidak pernah bisa menolaknya, karena tubuhku akan selalu menyerah terhadap invasinya yang liar dan kuat. Sekarang ataupun dimasa lalu, semua tetap tak berubah. "Ruihan..." Aku sudah tahu besar pengaruh dirinya terhadapku. Caranya yang dominan menandakan kepemilikannya yang cenderung kasar dan memaksa, hal yang sebenarnya benar-benar meluluhkan dan membuatku menyerah padanya. Aku tidak tahu berapa lama tapi ciuman panas Ruihan Lu perlahan melambat menjadi gigitan ringan dan kecupan sampai dia benar-benar menarik bibirnya menjauh dan aku merasakan udara dingin pada kebasahan yang ia ditinggalkan di sana. "Buka matamu, Dove," katanya. Aku terengah-engah mengangkat mataku untuk melihat wajah Ruihan Lu yang hanya sejarak satu inci, mata hitam legamnya terbakar panas dengan nafsu. "Lihatlah tubuhmu yang selalu akan menerimaku Dove. Kau pasti merasakannya, Sayang. Tubuhmu merindukan aku dan lebih jujur dari mulut kecil pembohongmu," lanjutnya. Mataku berkedip-kedip linglung saat ia membacaku, dan kemudian ia menghirup nafas. "Tidak ... Aku tidak ...." Aku mencoba menyangkal tapi Aku tahu bahwa sebenarnya aku mengalami kekacauan lembab diantara kakiku. "Tidak? Benarkah? Tapi baumu begitu harum dan seksi. Apa kau sangat basah, Sayang?" tanya Ruihan Lu menggoda dan menyingkap kebohonganku membuat aku malu dan bersalah. "Ruihan." Aku mendorong tubuh dinding bajanya dan masih tidak bisa kemana-mana. "Kau tidak akan pernah jauh dariku. Kau milikku dan akan selalu menjadi milikku." Dia mengusap leherku dengan lingkaran erotis lambat dengan ibu jari-jarinya yang bertemu di tengah tenggorokanku. "Kau menginginkan aku juga, Dove, aku tahu kau ingin, tubuhmu tidak pernah berbohong," lanjutnya mencium dan mengisap leherku. Dia membawa bibirnya ke bibirku lagi dan menciumku lembut. "Kenapa kau belum menikah, Dove?" tanya Ruihan ketika aku menstabilkan nafas dari ciuman panjang dominannya. "Kau sangat yakin aku belum menikah? Aku sudah menikah," jawabku main-main "Secara rahasia," bisikku, menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisku. Dia tersenyum tipis "Maka bercerailah," balasnya berbisik. "Tidak!" Tolakku cepat. "Tidak maka tidaklah," kata Ruihan Lu masih dengan senyum tipisnya yang sinis dan penuh ironi. "Tapi, aku tidak yakin akan mampu menahan diri untuk melakukan kekerasan pada sialan itu. Milikku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, bahkan jika orang tersebut berkeras, aku akan membuat hidupnya lebih buruk dari kematian," lanjutnya. Tubuhku kaku dan Ruihan menatapku dengan sebuah kerinduan seakan ia tidak mengucapkan ancaman menakutkan sambil mengambil tanganku, mengangkatnya, dan mencium satu persatu jariku, tapi matanya yang membara tertuju padaku, mengunci pandanganku. "Aku merindukanmu, Dove," kerinduan itu tidak hanya dimatanya, tetapi langsung Ia utarakan, seakan tindakannya belum mencapaiku. "Aku tidak peduli jika hubungan kita sebelumnya hanya kebohongan dan hanya balas dendammu. Aku tidak pernah mempedulikan walau sangat menyakitkan. Dan aku tidak peduli apakah kau menikah sekarang, atau berhubungan dengan pria manapun, aku tidak peduli," dia tertawa kecil. "Aku gila kan?, kuakui. Aku gila. Gila karenamu. Gila dengan setiap malam yang kuhabiskan dengan mengingat kenangan indah bersamamu, mengingat betapa manis dan pedulinya kau padaku. Aku selalu merindukanmu, Dove. Jangan tinggalkan aku lagi dan jangan pernah berfikir untuk menjauhkan diri dariku. Karena kau milikku. Jiwamu dan tubuhmu, aku merindukan semuanya." Aku tersesat mendengarnya, dan pertahan diriku terhadapnya benar-benar hancur. Aku juga ingin mengatakan betapa aku merindukannya, tapi kalimat itu tersangkut di tenggorokanku. Rindu, cinta, suka, atau lainnya, bukan hal yang ingin kupikirkan, juga bukan hal yang ingin kuurus, tapi bersama Ruihan Lu semuanya akan berbeda. Matanya mengerjap dengan rasa sakit yang tajam. Aku benci perasaan itu. Ruihan menggenggam tanganku yang dia baru saja cium menjadi satu dengan salah satu tangannya. Dia menyambar tasku dari sofa dengan tangannya yang bebas dan menarikku keluar, menuju lift terbuka. "Malam ini tinggal bersamaku dan kemudian kita bisa bicara tentang berbagai hal," katanya penuh bujukan dan rayuan tapi lebih mirip perintah. "Ya." Aku setuju. Sial! Sedetik kemudian aku ingin mengambil kembali ucapanku. Responku yang sangat jujur terhadapnya membuatku kewalahan. Aku sangat akrap dengan itu, sangat akrab dengan ucapannya, sangat akrab dengan dirinya, kehadiran yang penuh d******i dan hal terburuk aku benar-benar selalu menerima dia mengambil alih, lagi dan lagi. Ku akui aku pengecut terhadapnya dan selalu menyerah kepadanya. Dia mendirikan kontrolnya atas segala sesuatu, terutama diriku yang kontrol dirinya akan hancur di depannya, dan mendapatkan tepat di mana dia menginginkannya, terutama atas diriku. Menyerah padanya, menjadikanya prioritas, memikirkan bagaimana ia nyaman dan bahagia, itu adalah sebuah kebiasaan yang kubangun saat kami bersama demi keberhasilan balas dendamku. Dan kebiasaan itu benar-benar menakutkan, seperti sekarang, aku menyerah padanya lagi. Tekanan tangannya, selalu hadir di punggungku yang terbuka, mendorongku maju ke dalam lift terbuka, tangan besarnya mengantarkan kehangatan, dan boleh kukatakan agak melo dramatis, tangannya mengirimkan getaran listrik langsung ke pangkal pahaku. Begitu pintu ditutup di depan kami dia memutarku dan menempelkan bibirnya ke bibirku lagi. Ciuman ini seperti saat di sofa lagi, ciuman yang dominan dan aku merasakan pukulan dari gairah memukulku dengan keras di antara pahaku. Tangannya di seluruh tubuhku saat ini. Aku tidak melawan saat ia mendorongku ke sudut. Sentuhannya hangat dan membuatku melambung sekaligus. Dia menyeret kumis berdurinya ke bawah leherku dan mendorong tangannya untuk menangkup kelembutanku. Aku tersentak pada nuansa tangannya yang panas berkeliaran saat dia membuat langkah bertujuan untuk mengetahui setiap inci dari tubuhku. Aku melengkung ke arahnya, dadaku maju ke depan, mendorong kelembutanku lebih dekat ke tangannya. Dia menemukan puncak kelembutanku melalui gaunku dan menariknya. "Kau masih sangat lembut, Dove. Aku sangat menderita karenamu." Dia berbicara dekat leherku, napasnya menggelitik kulitku. "Bertahun-tahun." Lift berhenti dan pintu terbuka untuk pasangan lain yang menunggu untuk masuk, dan Ruihan Lu benar-benar melepaskanku, dan melangkah keluar tidak lupa menarikku. Aku tersesat mendengarnya, dan pertahan diriku terhadapnya benar-benar hancur. Aku juga ingin mengatakan betapa aku merindukannya, tapi kalimat itu tersangkut di tenggorokanku. Rindu, cinta, suka, atau lainnya, bukan hal yang ingin kupikirkan, juga bukan hal yang ingin kuurus, tapi bersama Ruihan Lu semuanya akan berbeda. Matanya mengerjap dengan rasa sakit yang tajam. Aku benci perasaan itu. Ruihan menggenggam tanganku yang dia baru saja cium menjadi satu dengan salah satu tangannya. Dia menyambar tasku dari sofa dengan tangannya yang bebas dan menarikku keluar, menuju lift terbuka. "Malam ini tinggal bersamaku dan kemudian kita bisa bicara tentang berbagai hal," katanya penuh bujukan dan rayuan tapi lebih mirip perintah. "Ya." Aku setuju. Sial! Sedetik kemudian aku ingin mengambil kembali ucapanku. Responku yang sangat jujur terhadapnya membuatku kewalahan. Aku sangat akrap dengan itu, sangat akrab dengan ucapannya, sangat akrab dengan dirinya, kehadiran yang penuh d******i dan hal terburuk aku benar-benar selalu menerima dia mengambil alih, lagi dan lagi. Ku akui aku pengecut terhadapnya dan selalu menyerah kepadanya. Dia mendirikan kontrolnya atas segala sesuatu, terutama diriku yang kontrol dirinya akan hancur di depannya, dan mendapatkan tepat di mana dia menginginkannya, terutama atas diriku. Menyerah padanya, menjadikanya prioritas, memikirkan bagaimana ia nyaman dan bahagia, itu adalah sebuah kebiasaan yang kubangun saat kami bersama demi keberhasilan balas dendamku. Dan kebiasaan itu benar-benar menakutkan, seperti sekarang, aku menyerah padanya lagi. Tekanan tangannya, selalu hadir di punggungku yang terbuka, mendorongku maju ke dalam lift terbuka, tangan besarnya mengantarkan kehangatan, dan boleh kukatakan agak melo dramatis, tangannya mengirimkan getaran listrik langsung ke pangkal pahaku. Begitu pintu ditutup di depan kami dia memutarku dan menempelkan bibirnya ke bibirku lagi. Ciuman ini seperti saat di sofa lagi, ciuman yang dominan dan aku merasakan pukulan dari gairah memukulku dengan keras di antara pahaku. Tangannya di seluruh tubuhku saat ini. Aku tidak melawan saat ia mendorongku ke sudut. Sentuhannya hangat dan membuatku melambung sekaligus. Dia menyeret kumis berdurinya ke bawah leherku dan mendorong tangannya untuk menangkup kelembutanku. Aku tersentak pada nuansa tangannya yang panas berkeliaran saat dia membuat langkah bertujuan untuk mengetahui setiap inci dari tubuhku. Aku melengkung ke arahnya, dadaku maju ke depan, mendorong kelembutanku lebih dekat ke tangannya. Dia menemukan puncak kelembutanku melalui gaunku dan menariknya. "Kau masih sangat lembut, Dove. Aku sangat menderita karenamu." Dia berbicara dekat leherku, napasnya menggelitik kulitku. "Bertahun-tahun." Lift berhenti dan pintu terbuka untuk pasangan lain yang menunggu untuk masuk, dan Ruihan Lu benar-benar melepaskanku, dan melangkah keluar tidak lupa menarikku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN