✔✔✔✔✔
Aku sudah bersiap untuk pergi. Dengan kaos oblong putih merk 3second dan celana jeans pendek. Aku sudah siap menemui calon istriku.
Aku bersiul sambil mematut diriku di depan cermin. Memiringkan kepalaku kekanan dan kekiri. Mengecek jambulku yang ku tata hanpir setengah jam lamanya. Setelah aku rasa penampilanku oke aku segera beranjak keluar kamar.
Sambil terus bersiul dan memutar-mutar kunci mobil di jari telunjukku, aku menuju meja makan yang di sana sudah siap dengan berbagai menu masakan.
Widiiiih.. tau saja kalau orang ganteng sudah lapar. Kulihat kursi masih kosong. Aku langsung menarik kursi dan duduk. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil nasi dan ayam goreng kesukaanku.
"Loh Mas Alan sudah bangun?". Tanya Mbok Pinah yang datang dari arah dapur sambil membawa jus jeruk.
"Bikinin s**u cokelat ya Mbok!". Titahku tanpa menjawab pertanyaan Mbok Pinah.
"Tumben Mas Alan sarapan. Biasanya cuman makan roti!".
"Udah Mbok cepetan bikinin!". Kataku lagi sambil menyuapkan nasi dan ayam secara bergantian. Ada berbagai macam sayur yang tertata di depanku tapi aku sama sekali tak ada niatan untuk menyentuhnya.
Mbok Pinah kembali ke dapur sambil ngedumel tak jelas. Dan 5 menit kemudian kembali ke meja makan dengan s**u cokelat di tangannya.
"Makasih Mbok!". Kataku begitu s**u pesananku ia letakkan di sebelah kiriku.
"Iya Mas sama-sama!". Jawabnya sambil masuk kembali ke dalam dapur.
Di sela-sela aktifitas makanku aku mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat.
"Loh Alan? Kamu kok....!". Bunda tak melanjutkan kata-katanya. Aku tau Bunda pasti heran melihatku sudah rapi sepagi ini dan di tambah aku sarapan nasi. Karena setiap pagi aku selalu makan roti dan minum segelas s**u. "Kamu makan?".
Hah? Keningku mengernyit heran. Aksi kunyahku juga ikut terhenti. Aku menatap Bunda yang masih berdiri sambil memegangi sandaran kursi. Menatap bingung ke arahku.
"Bukan Bun. Ini Alan lagi nyuci piring!". Sahutku lalu kembali mengunyah makananku. Bunda perlahan menarik kursi dan duduk di depanku.
"Kamu kesambet setan mana Alan? Apa jangan-jangan hantu di sekolah kamu?".
Ck. Aneh. Orang nggak makan di suruh makan. Lah sekarang aku sarapan di kiranya kesambet setan!
"Belajar buat sarapan pagi Bun!". Kataku dan menyuapkan nasi kedalam mulutku.
"Kamu nggak sakit kan, Lan? Apa perlu Bunda anterin ke Dokter?".
"Bunda udah deh...nggak usah lebay. Alan baik-baik aja!". Aku kembali memasukkan sesendok nasi dan ayam goreng ke mulutku. "Muwai sekawang..Alang mau belawar sawapang. Kasihang iswi Alang susah-susah masak tappi gak Alang makang!".
Sepertinya aku mengalami penyakit kesulitan berbicara. Ah lupakan.
"Bunda ngak ngerti kamu belajar bahasa Alien dari mana. Telen dulu baru ngomong!".
Aku susah payah menelan makananku. "Gimana. Betul kan Bun?". Tanyaku memastikan tentang perkataanku tadi.
Bunda hanya mengangkat kedua pundaknya.
"Ayah mana Bun?". Piringku sudah kosong kini aku menyeruput s**u cokekatku yang masih panas.
"Masih merem. Biasanya kan minggu gini kamu lomba sama Ayah!".
Aku mengangguk. Hari minggu memang rutinitasku lomba sama Ayah. Kalian ingin tau kira-kira apa yang sedang aku lombakan?.
Molor sampai siang. Dan siapa yang bangunnya paling siang maka dialah pemenangnya. Aku tau Ayah selalu kalah. Jam 9 Ayah sudah pasti bangun karena kelaparan. Sedangkan aku walaupun tak makan nasi aku bisa kuat sampai jam 10.
Langkah kaki terdengar lagi dan mendekati meja makan. Ayah terlihat berjalan pelan sambil sesekali menguap. Begitu sampai di meja makan Ayah terdiam. Menatapku. Ayah berkali-kali mengucek matanya. Lalu kembali menatapku.
"Ayah nggak salah liat kan?". Tanyanya lalu duduk di ujung meja. Aku kembali menyeruput susuku. Pandangan mata Ayah tertuju ke piring yang ada di depanku. "Waaaaah...buka puasa ya kamu?".
"Ayah kenapa nggak mandi dulu. Bau!". Celetuk Bunda sambil memencet hidungnya dan mengibaskan tangannya di depan mukanya.
"Ya Allah Bun...nanti juga Ayah mandi. Ayah laper banget ini!".
"Kan..nggak salah kalo anak kita ikut jorok juga. Ada pawangnya di sini!". Bunda masih menutup hidungnya. Aku kembali menyeruput susuku lalu mengambil tisue dan mengelap mulutku.
"Oke. Aku pergi dulu Bun, Yah!".
Keduanya malah melongo menatapku. Tanpa basa basi aku langsung meraih tangan mereka dan ku cium secara bergantian.
"Alan mau ke rumah calon istri. Assalamualaikum!". Jawabku sambil melenggang pergi. Aku mendengar jawaban mereka sangat lirih.
Sepertinya kali ini aku langsung ke rumah Reina. Aku sengaja tak memberitahunya terlebih dahulu tentang rencanaku kali ini yang akan mengajaknya ngedate. Aku tau ia pasti akan menolakku jika tau rencanaku.
Lagu Alan Walker Faded mengiringi perjalananku. Sesekali aku mengetukkan jariku, mengiringi irama musik.
Drrt
Drrt
Drrt
Aku menoleh ke arah dashboard. Ada panggilan masuk.
Vera calling...
Sial. Aku lupa jika hari ini ada janji jalan dengannya. Bagaimana ini? Dengan cepat aku menepikan mobilku dan mematikan suara musik. Sebelum mengangkatnya aku berdehem. Mengatur suaraku.
"Haloo..!". Sapaku dengan suara lemah yang sedikit kuvbuat-buat.
"Sayang. Kamu baru bangun?".
"Heem...!". Jawabku lagi.
"Kamu nanti jemput aku jam berapa? Jam 9 bisa kan?". Tanyanya. Aneh. Dia nanya apa nyuruh?
"Aduh gimana ya sayang. Hari ini kayaknya aku nggak bisa keluar deh---!".
"Kenapa?". Selanya.
Aku menggaruk tengkukku. "Aku...aku lagi nggak enak badan nih. Sedikit meriang. Uhuk..uhuk!". Aku menambahinya dengan akting batuk-batuk agar dia percaya.
"Yaaah kok sakitnya mendadak sih?". Selanya sambil menarik nafasnya dengan berat. "Tapi sakitnya parah nggak? Kalo nggak parah kita jalan yuuk. Aku jemput kamu deeh!".
Aduuh...pacarku yang satu ini benar-benar keras kepala. Aku memutar mataku. Mencari ide lainnya.
"Nggak usah sayang. Em...kepalaku pusing banget ini. Berat. Buat duduk aja nggak bisa. Kamu jalan sama temen kamu aja ya!".
"Yaaah...aku kan pengennya jalan sama kamu sayang!".
"Kan aku lagi sakit. Oke sama temen kamu aja ya. Nanti aku transfer ke rekening kamu buat belanja..!".
"Hah? Serius sayaaang. Ouuuh kamu itu pengertian banget sih sama aku? Oke aku tunggu ya. Gws ya sayaang. Love you..!".
"Hem..love you to!".
Dia langsung mematikan sambungan telponya. Aku kembali menatap layar hpku yang sudah mati. Tumben? Biasanya aku yang mematikan telponnya. Ya sudahlah. Aku mengangkat kedua pundakku.
Sebelum melanjutkan perjalananku. Aku menyempatkan mentransfer ke rekening Vera. Hanya 5juta dan aku rasa itu cukup. Dan aku kembali menancap gas mobilku begitu transaksi selesai.
Oh...my wife. Reinaku. Waiting for me..
✔✔✔✔✔