8 - SALAH SANGKA

1133 Kata
✔✔✔✔✔ Tok! Tok! Tok! "Masuk!". Sahutku sambil melihat ke arah pintu dari balik cermin. Aku sedang duduk sambil merias diri. Hari minggu ini aku akan kencan. Semalam Pak Kevin menelponku dan mengajakku keluar. Walaupun dia hanya mengatakan kalau ingin jalan-jalan saja tapi aku mengartikannya dengan ajakan kencan. Mama masuk dan kembali  menutup pintu. "Tuh udah di tungguin di bawah!". Kata Mama membuat mataku berbinar. Aku berbalik dan menghadap Mama. "Gimana Ma. Udah rapi kan? Cantik nggak?". Tanyaku sambil mengangkat sedikit kedua bagian samping bawah rokku. "You look so beautiful honey!". Aku mengernyit heran. Kenapa wajah Mama hari ini cerah sekali? Apa Mama setuju jika aku keluar dengan Pak Kevin? Padahal aku belum mengenalkannya. Tapi tenang saja Mamaku sayang. Sebentar lagi gadismu ini akan menjadi pacar dari seorang Direktur. Eh...ralat. Bukan pacar tapi akan menjadi istri. "Mama apaan sih pake bahasa linggis segala!". Aku kembali berbalik menghadap cermin dan mengamati diriku yang terlihat anggun. Ya...walaupun sebenarnya aku sedikit tomboy. "Apa kamu nggak terlalu formal Prill. Sebenarnya pake kaos sama celana aja cukup sayang!". Mama ikut memerhatikanku dari balik cermin. "Kan aku pengen terlihat beda di matanya Mam!". Sahutku sambil malu-malu. Tak apa yang penting nggak malu-maluin. Mama tersenyum sambil menutupi mulutnya. "Heem...kayaknya kamu mulai suka ya sama dia?". Aduuuh Mama kenapa pakai di tanya? Jelas sekali aku suka...tapi Pak Kevin suka nggak ya sama aku?. Aku memasang muka masamku saat teringat perasaan Pak Kevin. Selama ini belum ada ungkapan perasaan darinya. Atau hanya aku yang merasa kepedean?. "Kok di tekuk gitu mukanya? Udah sana keluar. Udah di tungguin dari tadi!". Aku lalu meraih tas selempangku dan mengaitkan di pundakku. Keluar kamar di ikuti Mama yang berjalan di belakangku. Aku dapat mendengar suara Papa tertawa. Sumber suara dari ruang tamu. Ya ampuuun aku senangnya setengah mati. Ternyata Papa welcome juga sama Pak Kevin. Kenapa tidak dari dulu saja aku memperkenalkan Pak Kevin sebelum perjodohan sialan itu terjadi?. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang tamu. Aku melihat Papa sedang tertawa lepas bersama dengan Alan. Hah? Alan? Bocah sinting? Anak SMA itu? Langkahku terhenti dan mataku mengerjap beberapa kali. Memastikan apakah aku benar-benar melihat makhluk itu atau hanya ilusi saja. Tepukan Mama yang mendarat di pundakku membuatku tersadar dari lamunanku. "Itu Alannya udah nungguin dari tadi!". Seru Mama lalu berjalan menghampiri keduanya. Sementara aku masih terpaku di tempatku. Kenapa dia ada di sini? Pantas saja wajah Mama terlihat sumringah. Ternyata ini alasannya? Aku melirik ke arah Alan yang tampak tertegun menatapku. Apa aku secantik itu sampai membuatnya melongo seperti itu?. Jelas saja. Aku memakai dress selutut warna hijau motif yang tampak berlubang di bagian belakang. Dan sepertinya aku menyesal. Aku salah kostum. "Kok di situ, Rei. Sini sayang!". Kata Papa. Aku mengerjapkan mataku dan menuruti perintah Papa. Berjalan sedikit canggung ke arah mereka. Sial. Kenapa Alan yang datang? Aku kan ada rencana keluar dengan Pak Kevin?. Aku duduk di sebelah Papa sementara pandangan mata Alan sepertinya tak lepas dariku. "Kayaknya ada yang belum puas ngeliatinnya. Ayo Pa kita ke belakang dulu. Jangan jadi penggangu calon pengantin baru!". Celetuk Mama membuatku mendelik ke arahnya. Mama dan Papa beranjak masuk ke dalam meninggalkan aku dan Alan di sini. Ku tatap wajahnya yang masih diam menatapku. "Ngapain lo kesini?". Tanyaku setengah berbisik. Ia menggaruk tengkuknya lalu berdehem kecil. "Ngajakin jalan lo. Nggak taunya lo udah rapi gini. Jadi gue nggak perlu nunggu lama-lama!". Jelasnya panjang lebar. Aku kesal. Ku putar bola mataku lalu ku sandarkan punggungku ke sofa. "Pulang sono. Hari minggu buat belajar. Jangan malah main!". "Kok mendadak perhatian sama gue?". "Hah? Perhatian pala lo peyang!". Aku menjawabnya tanpa melihat ke arahnya. Ku rogoh tas selempangku. Mengambil hpku. Ada pesan masuk. Dari Pak Kevin. Aku tersenyum melihatnya. Siap-siap ya. Sebentar lagi aku sampai. Kira-kira begitu isi pesannya. Aku tak membalas karena aku tau itu akan membuatnya merasa terganggu di jalan. Ku masukkan lagi hpku ke dalam tasku. "Kenapa senyum-senyum gitu? Udah siap kan? Yuk!". Alan bangkit dari sofa. Akupun ikut bangun. "Lo pulang aja. Gue mau jalan sama....!". Aku menghentikan kalimatku. Aduh sama siapa ya? Masa aku bilang kalau jalan sama bosku?. "Sama siapa?". Tanyanya cepat. "Harus gitu gue kasih tau lo?". Tanyaku balik. "Wajib. Gue calon suami lo!". Jawabannya sungguh membuatku kesal. Aku berjalan menghampirinya dan berdiri tepat di depannya. "Kalo gue bilang mau jalan sama cowok pilihan gue...lo mau apa?". Tantangku. Aku menatap tajam matanya dan dia berbalik menatapku. Sial. Kenapa mata hitamnya begitu mempesona? Apalagi bulu matanya yang lentik. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku dan menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku. "Pulang sana. Gue udah ada janji sama dia!". Aku kembali berbalik dan mengambil tas selempangku yang masih tergeletak di sofa. "Ma, Pa. Aku keluar dulu!". Teriakku sambil berjalan meninggalkan Alan. Langkahku terhenti saat sebuah mobil jazz merah masuk ke halaman parkir rumahku. Mataku menyipit. Pak Kevin turun dari mobil. Mataku membelalak melihatnya berjalan menghampiriku. Hanya dengan memakai kaos kerah dan celana kain hitam panjang saja ia sudah membuatku terpana. Apalagi di tambah seikat bunga mawar di tangannya. Sebenarnya aku sama sekali tak menyukai bunga tapi kalau Pak Kevin yang membawanya maka akan aku simpan. Tunggu bunga mawar? Artinya apa ya? Apa arti cinta? Ah tak mungkin secepat itu. Mungkin saja di toko bunga hanya tinggal mawar merah saja. "Hai...sudah siap, Rei??". Tanyanya begitu berdiri di depanku. "Ah..iya Pak. Sudah!". Jawabku kikuk. "Hari minggu kantor libur. Jadi aku bukan atasan kamu. Inget itu!". Katanya lagi lalu menyodorkan bunga itu kepadaku. "Ini untuk kamu yang terlihat cantik hari ini!". Pujinya. Aku meraihnya pelan. Aku melihatnya tanpa menciumnya seperti apa yang di lakukan di sinetron-sinetron. Aku hanya takut jika di dalam bunga itu ada serangga lalu tanpa sengaja masuk ke dalam hidungku. Hiii...aku bergidik ngeri membayangkannya. "Kenapa? Nggak suka?". Tanya Pak Kevin begitu melihat ekspresi wajahku yang sedikit menegang. "Ah..en-enggak Pak...eh maksud saya Vin. Suka kok!". Jawabku sambil tersenyum cerah ke arahnya. Secerah hatiku saat ini. Tapi mendadak senyumku hilang saat Alan sudah berdiri di disebelahku dan merebut bunga mawar di tanganku. "Dia bggak suka bunga. Dia sukanya upin ipin. Masa gitu aja nggak tau?". Jawabnya sambil menatap bunga mawar yang kini sudah pindah ke tangannya. "Eh apaan sih lo. Nyaut aja kayak antena!". Protesku sambil mencoba merebut bunga dari tangannya. "Siniin bunganya!" Tapi dengan cekatan ia membawa bunga itu ke balik punggungnya. Aku tak berhasil meraihnya. Ku hentakkan kakiku ke lantai layaknya anak kecil yang merengek meminta es krim. "Ya udah makan tuh bunga!". Seruku lalu menarik lengan Pak Kevin dan mengajaknya segera pergi meninggalkan makhluk aneh itu. Aku duduk di kursi penumpang sementara Pak Kevin duduk di sebelahku. Belakang kemudinya. Dep! Suara pintu tertutup di bagian belakang membuatku menoleh. Pak Kevin juga ikut menoleh. Alan sudah duduk manis di belakang. "Eh bocah ngapain lo disini?". "Ikut!". Jawabnya enteng tanpa menatapku, sambil memainkan bunga mawar pemberian Pak Kevin. "Ikut? Siapa yang nyuruh lo ikut?". "Gue nggak bisa jamin lo nggak di apa-apain sama dia!". Sahutnya. Kini matanya beralih menatapku dan Pak Kevin bergantian. "Pikiran lo jauh. Masih bocah tapi mikirnya udah aneh-aneh!". Sangkalku. Sebenarnya dalam hati aku sedikit berharap nanti Pak Kevin akan menciumku atau memelukku. Tapi rasanya impianku sirna saat bocah sinting ini nangkring di dalam mobil Pak Kevin dan akan memata-matai aku. "Lagian apa urusan lo kalo semisal gue--!". "Inget. Kalian bukan muhrim!". ✔✔✔✔✔
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN