9 - PERUSAK SUASANA

1454 Kata
✔✔✔✔✔ Sumpah. Rasanya saat ini juga aku ingin menendangnya dan kalau bisa mendaratnya di puncak Himalaya saja. Alan. Satu nama yang akhir-akhir ini membuatku gila. Aku melirik ke arah Alan yang kini duduk di kursi kosong sudut ruangan sambil memainkan ponselnya. Sementara aku duduk berhadapan dengan Pak Kevin. Ia mengajakku makan siang di restoran favoritnya. Aku senang tapi di sisi lain aku kesal. Alan. Lagi-lagi nama itu yang mengganggu pikiranku. Berkali-kali aku melirik ke arahnya yang masih sibuk dengan ponselnya. Kalo emang niat main game kan bisa di rumah? Ngapain juga ngikutin aku kencan?. Aku berdecak kesal. "Sepertinya sepupu kamu perhatian banget ya, Rei. Sampai-sampai kita kencan saja di jagain!". Celetuk Pak Kevin membuatku langsung fokus menatap matanya. Apa? Dia barusan bilang apa? Kencan?. Aku mengusap daun telingaku. "Maaf Pak...eh Vin. Tadi anda bilang apa? Kencan?". Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku. Pak Kevin tersenyum ke arahku. Maniiiis sekali. "Nggak usah terlalu formal, Rei. Cukup aku-kamu aja ya!". Aku mengangguk kikuk sambil mengaduk minumanku. "Em...apa salah jika aku menyebutnya kencan?". "Uhuk uhuk uhuk!". Rasanya hidungku terasa panas. Minuman yang aku minum hampir saja tersembur keluar. Buru-buru aku mengambil tisue dan mengusap mulutku yang sedikit basah. "Are you okay?". Tanya Pak Kevin cemas sambil meraih jemariku dan mengusap punggung tanganku. Aku mengangguk tanpa bisa mengeluarkan suara. "Em...boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?". DEG! Firasatku mengatakan Pak Kevin akan menyatakan cintanya. Karena biasanya di sinetron-sinetron orang kalau berbicara seperti ini sudah pasti akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Aku mengangguk sebagai jawaban iya atas pertanyaannya. Jantungku semakin berdetak kencang menunggu pernyataan cintanya. "Aku sebenarnya...!". Drrt Drrt Drrt Kata-kata Pak Kevin teputus karena bunyi hpku yang begitu nyaring. Sial. Aku lupa membuatnya silent. Aku semakin kesal saat membaca pesan yang masuk ke hpku. From : +628571212**** Pulang. Udah siang! Nomer tak di kenal dan isinya juga singkat dan jelas. Aku menautkan kedua alisku. Papa tak mungkin. Mama apalagi. Kalau mereka sudah pasti namanya akan terlihat. Ini siapa?. Aku lalu mengalihkan pandanganku dan menatap ke arah Alan yang ternyata sudah menatap balik ke arahku. Jadi benar dia? Dasar sinting. Dengan cepat aku membalas pesannya. To : +628571212**** Pulang aja sono. Ganggu orang pacaran aja Aku tersenyum puas saat sms itu berhasil aku kirim. Aku kembali meletakkan hpku ke tempat semula dan kembali fokus dengan lelaki tampan yang ada di depanku. "Dari siapa? Pacar ya? Kok senyum-senyum gitu?". Tanya Pak Kevin. Spontan aku menghentikan aksi senyumku. Astagaaa aku lupa kalau Pak Kevin akan mengungkapkan perasaannya. "Bukan kok Vin. Tadi orang sinting yang sms aku!". Jawabku dengan sedikit mengeraskan suaraku agar di dengar juga oleh Alan. "Orang sinting?". Tanya Pak Kevin sedikit curiga. Aku kembali mengangguk. Sepertinya aku harus segera membuat Pak Kevin meneruskan kata-katanya yang terpotong lagi. "Oh iya Vin. Tadi mau ngomong apa ya?". Aku pura-pura polos padahal sebenarnya aku tau apa yang akan ia katakan. Pak Kevin kembali meraih jemariku. Pandangan matanya menatap lurus ke arahku. "Reina...sebenarnya aku suka sama kamu!". Apa yang di katakan Pak Kevin sama sekali tak bisa aku dengar. Kalian tau kenapa? Karena lagi dan lagi hpku berbunyi. Bahkan lebih nyaring. Shit! Cerobohnya aku. Harusnya tadi langsung aku mode silent saja. Aku jadi tak bisa mendengar apa yang Pak Kevin katakan. Aku menghela nafas berat dan melirik ke arah hpku yang masih berbunyi. +628571212**** calling... Aku menggeram dalam hati. Pasti ini ulahnya. Aku melirik sedikit ke arahnya. Sementara Alan hanya mengangkat sebelah alisnya dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Ingin aku melempar hpku ke arahnya. Tapi...sayang. Itu kan hp mahal?. Akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya dengan setengah hati. Aku sedikit memutar tubuhku ke samping dan menutup mulutku dengan telapak tanganku. "Apa lagi sih?". Seruku setengah berbisik. "Pulang atau gue yang bakalan nyamperin lo!". Sahutnya begitu dingin. "Ck. Serah lo. Gue gag peduli!". "Pulang atau dia tau kalo lo calon istri gue!!". Ancamnya lagi. Seketika aku mendelik. Ku arahkan pandanganku ke arah Pak Kevin yang menatapku dengan senyuman manis di bibirnya. Aku belum siap jika harus kehilangan Pak Kevin. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku mengalah. "Okeee..!". Kataku lemah lalu menutup telponnya. Wajahku berubah masam. Rasanya aku ingin menelan Alan hidup-hidup. Menyerap energinya dan memuntahkannya. Seperti di film-film anaconda dan aku yang akan jadi anacondanya. Aku memutar tubuhku ke tempat semula. Menghadap Pak Kevin yang tampaknya penasaran. Meletakkan hpku ke dalam tas selempangku. "Siapa, Rei?". "Em...maaf ya Vin. Sepertinya aku harus pulang. Itu tadi... Mama. Ya Mama yang nelpon aku!". Aku sengaja berbohong. Ini karena Alan. Bocah sinting itu. "Oooh aku kira itu pacar kamu!". Seru Pak Kevin terlihat sedikit lega dari raut wajahnya. Bukan Vin. Bukan pacar aku tapi calon suami aku. Aaargh...aku ingin berteriak saja. Aku hanya bisa mengatakannya dalam hati saja. Tak mungkin kan jika aku jujur sama Pak Kevin. Dia pasti akan menertawaiku dan sudah pasti akan menjauhiku. "Ayo aku antar pulang!". Aku mengangguk sambil meraih tas selempangku. Saat pandanganku tertuju ke kursi sudut ruangan itu aku tak mendapati Alan di sana. Kemana bocah sinting itu?. Ah sudahlah...bukannya lebih bagus kalau dia menghilang saja? Langkah Pak Kevin menuntunku menuju parkiran restoran. "Loh itu sepupu kamu sudah nungguin, Rei!" Seru Pak Kevin membuat langkahku terhenti. Mataku terbelalak melihatnya yang kini tengah santai bersandar di mobil Pak Kevin. "Ayo pulang!". Titahnya saat aku dan Pak Kevin berjalan mendekat ke arahnya. Bukan ke arahnya tapi lebih tepatnya menuju mobil Pak Kevin. Pak Kevin membukakan pintu penumpang untukku dan ku balas dengan ucapan terima kasih sambil melempar senyum termanisku. Aku sempat mendengar deheman Alan tapi apa peduliku? Siapa yang mengajaknya? Aku anggap saja dia tak ada. "Apa langsung pulang, Rei?". Tanya Pak Kevin memecah keheningan antara kami bertiga. "I-iya Vin pulang aja. Sebenarnya aku pengen jalan-jalan. Tapi nggak mungkin kan jika aku bawa anak kecil?". Sindirku membuat Alan kembali berdehem. Mampus. Rasain. Hampir setengah jam lebih akhirnya sampai juga di rumah. Aku langsung turun dan tak membiarkan Pak Kevin membukakan pintu untukku. "Terima kasih Vin. Maaf aku bikin kacau acara makan siang kita!". Pak Kevin tersenyum lembut. Sambil memegangi kemudinya ia hanya mengangguk. "Apa beneran aku nggak perlu anter kamu sampai dalem?". "Nggak usah. Udah ada gue. Dia tanggung jawab gue sekarang!". Sela Alan cepat. Padahal aku belum sempat mengeluarkan sepatah atau dua patah kata. Bibirku mencembik kesal. "Oke deh aku pamit dulu ya, Rei. Salam buat Papa sama Mama kamu!". Aku kembali mengangguk dan menatap kepergiannya. Aku masih berdiri di tempatku sampai mobil Pak Kevin tak terlihat. "Panas. Ayo masuk!". Suara Alan membuatku berdecak kesal. Aku menghentakkan kakiku kuat-kuat lalu masuk meninggalkannya. Sampai di ruang tamu aku melihat 2 keluarga yang sibuk dengan buku-buku di tangannya. "Assalamualaikum..!". Sapaku. "Waalaikumsalam! Udah pulang sayang? Alannya mana?". Sahut Mama antusias sambil meletakkan buku tebal itu dan menghampiriku. Aku tak menjawab pertanyaan Mama yang aku rasa sangat tidak penting. "Assalamualaikum..!". Suara Alan. Om Aldi cs dan Papa cs menjawab hampir serempak. "Naaah ini yang di tunggu-tunggu sudah datang. Ayo kalian duduk dulu!". Perintah Papa. "Aku capek Pa. Mau istirahat dulu!". Hampir saja aku melangkahkan kakiku tapi tangan Mama mencekal lenganku. "Reina. Duduk dulu!". Mama berkata pelan dan tenang. Aku mendesah dan akhirnya memilih duduk di sofa yang kosong di susul Alan yang duduk di sebelahku. Aku langsung menoleh ke arahnya dan mengernyit heran. "Nggak ada tempat lain apa sampe lo duduk di sini?". Tanyaku sarkastik. Dia hanya mengangkat bahunya acuh lalu menyandarkan punggungnya. "Mereka serasi banget sih Mbak?". Celetuk Tante Astrid tiba-tiba. Aku menjadi salah tingkah di buatnya. "Iya donk Mbak. Walaupun sering berantem tapi itu tanda kalau mereka sebenarnya saling cinta!". Sambung Mama. Huweeek. Aku membuang muka ke arah lain sambil pura-pura ingin memuntahkan isi perutku. "Lagi ngapain sih Ma?". Aku sedikit penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Mereka berempat tampak sibuk membolak-balikkan halaman buku yang lumayan besar dan tebal. "Ini loh, Rei. Mama sama Tante Astrid lagi milih-milih model undangan!". "Undangan??". Tanyaku bingung. "Undangan apa Ma?". "Undangan nikahan kamu donk sayaang. Masa undangan nikahannya Mama?". Sahut Mama sambil terkekeh. Aku menepuk jidatku pelan. Tante Astrid hanya tersenyum sebentar ke arahku lalu kembali fokus dengan bukunya. "Ini juga bagus Mbak!". Seru Tante Astrid sambil menunjukkan sebuah gambar ke Mama. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Bapak-bapak yang juga tampak sibuk. "Papa liatin apaan sih? Seru banget?". Penyakit kepoku sedikit kambuh. "Oooh ini sayang. Papa sama Om Aldi lagi pilih-pilih gedung yang cocok buat nikahan kamu nanti!". Jawab Papa tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. "Hah?". Mulutku menganga lebar. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Mencoba mencerna perkataan mereka. Ku lirik Alan yang duduk di sebelahku dengan sebuah hp di tangannya. Ia tampak serius dengan hpnya sambil sesekali berteriak kecil. Dasar bocah sinting. Gamer sejati. Aku ikut menyandarkan punggungku di sofa. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. 5menit 10menit 30menit Aku mulai bosan. Mereka sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ku tarik tubuhku dari sandaran sofa. "Kapan selesainya. Aku capek Maaaa!!". Rengekku. "Ini Mama sama Tante Astrid udah nentuin pilihannya sayang. Semoga kalian suka ya!". "Whatever lah!". Aku beranjak dari tempat dudukku. Aku malas berada di sini. Lebih baik aku beristirahat. Di kamar sepertinya nyaman apalagi sekarang aku mulai mengantuk. "Eh tunggu dulu. Kamu mau kemana sayang?". Cegah Mama yang menyadari sikapku. "Tidur!". Jawabku asal tanpa menoleh ke arahnya. "Ya udah kalo kamu ngantuk. Istirahat sana!". Huuft. Kenapa nggak bilang dari tadi sih Mamaku sayaaaang???. "Tapi nanti malam kita keluar ya...!". Seru Mama lagi. Membuat langkahku terhenti dan memutar badanku menatap Mama. "Fitting baju buat nikahan kamu! Kan seminggu lagi kamu bakalan nikah sama Alan!". ✔✔✔✔✔
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN