BAB 20. Fall for You

1972 Kata
10 tahun yang lalu... Dari semua rasa sakit yang Juda rasakan, ia paling benci saat datang bulan. Di hari pertama datang bulan, Juda tidak pernah tidak merasakan nyeri di perut yang membuatnya selalu ingin berguling-guling di lantai untuk sedikit menyamarkan rasa sakitnya. Namun, terkadang waktunya sangat tidak tepat. Seperti hari ini. Juda menahan rasa sakit yang awalnya belum seberapa itu saat berangkat ke sekolah tadi pagi hingga rasa sakitnya naik ke level yang cukup parah saat memasuki jam istirahat kedua. Ia sudah mengomel sejak tadi karena selain rasa sakit yang ia rasakan. Mood-nya yang mudah berubah itu juga berantakan, atau malah bisa dibilang amat sangat parah. Bawaannya ingin marah-marah kepada siapa pun dan kepada apa pun—Juda hampir mematahkan pensil hanya karena benda itu jatuh ke lantai dan ia harus susah payah mengambilnya dengan menahan rasa sakit di perutnya, kemudian yang terjadi berikutnya, kepalanya terantuk pinggiran meja dengan cukup keras hingga berdenyut nyeri sampai sekarang. "Lemes banget gue, Em. Gue balik aja kali ya?" desis Juda yang sesekali merintih karena rasa nyeri yang tak hilang-hilang. Kepalanya terkulai lemas di atas meja. Tangannya mencengkeram perutnya dengan kuat hingga seragamnya tampak lecek. "Tanggung kalo balik jam segini," jawab Ema yang dengan baik hati mengusap punggung Juda. Beberapa saat lalu ia sudah menyodorkan minyak kayu putih yang pada akhirnya hanya digenggam Juda saja. "Nunggu gue pingsan dulu gitu?" "Mending kita ke UKS aja. Sambil cuci mata. Biasanya jam istirahat kedua gini kan Pandu cs lagi main basket," kata Ema. Ia mengedipkan mata dengan genit. "Lo pasti bakal langsung sembuh kalau lihat pujaan hati lo." "Gue nggak kuat jalan," rengek Juda. Ia menarik tas yang tadinya tergantung di kursi dan menggunakannya sebagai bantal. "Gue panggilin pacar lo biar dia gendong lo ke UKS, gimana?" tawar Ema. Juda berdecak malas dengan suara teredam. "Lo lupa ya? Gue sama Edgar udah putus dua minggu yang lalu gara-gara mantan sialannya yang ngelabrak gue ke sini dan mempermalukan gue di depan banyak orang." Bukannya prihatin, Ema malah tertawa. "Oh iya, lo sekarang kan nggak punya pacar." Lalu Ema menarik paksa tas yang digunakan Juda sebagai bantal, membuat Juda mendongak dan memelototi Ema dengan kesal. "Yakin nggak mau ke UKS? Nggak mau nonton Pandu Dewanata pujaan kaum hawa main basket? Yakin?" pancingnya sambil mengedip-ngedipkan mata. Juda mendengkus malas, namun tidak lagi menolak. "Kalau Pandu nggak main basket hari ini, lo harus gendong gue balik ke kelas," ancam Juda sambil susah payah berdiri dengan agak dramatis. "Tenang aja. Pandu pasti lagi main." Ema mengiakan sambil lalu. Kemudian menggandeng lengan Juda yang susah payah berjalan dengan tegak. Mereka meninggalkan ruang kelas yang nyaris kosong untuk menuju ke UKS seraya melanjutkan obrolan tentang Pandu. Pandu adalah mantan ketua tim basket SMA mereka yang terkenal sangat tampan. Lupakan Nicholas Saputra yang tampannya paripurna yang tak pernah gagal membuat dirinya terpana. Lupakan artis-artis mancanegara yang memiliki ketampanan tanpa cela yang seringkali membuat Juda jejeritan. Karena saat melihat Pandu, yang lain tidak penting lagi. Bahkan meski ia sedang naksir dengan seseorang atau sedang berpacaran dengan seseorang, Pandu tetap selalu menjadi idolanya, yang tak akan pernah bisa ia miliki. Karena Pandu sudah punya pacar dan menjadi b***k cinta! Sesampainya di UKS yang siang itu tidak ada siapa-siapa—biasanya paling tidak ada satu atau dua orang yang berada di sana, entah karena benar-benar sakit atau hanya pura-pura sakit agar bisa absen dari kelas dan tidur di sana—Juda langsung menyibak gorden putih yang menutupi jendela, seolah langsung melupakan rasa sakit di perutnya begitu saja. Di balik jendela, terhampar lapangan basket yang seperti biasa cukup ramai saat jam istirahat kedua. Ada sepuluh siswa yang tumpah di sana, berlarian ke sana kemari. Pandu ada di sana bersama teman-temannya. Sedang saling berebut bola dengan lincah. Juda tersenyum. "Ganteng banget, astaga. Kapan sih Pandu nggak ganteng?" gumamnya pelan. "Menurut lo, Pandu sering mengagumi wajah dia sendiri nggak sih? Kayak misal waktu dia ngaca di spion motornya. Atau waktu dia abis mandi?" "Lo jangan berimajinasi kejauhan, woy! Dosa!" Ema menggeplak belakang kepala Juda. Juda mengerang. Ia melirik Ema dengan kesal sebelum kembali memakukan tatapannya ke arah Pandu, yang baru saja memasukkan bola ke ring lawan dengan lompatan yang sangat keren. "Gue pengen jadi bolanya," gumam Juda lagi. "Emangnya lo mau dilempar-lempar sana sini sama dia?" "Setidaknya gue bisa ngerasain tangan Pandu meluk gue. Kapan lagi bisa sedekat itu sama dia, kan? Gila, beruntung banget itu bola!" Ema bergeser menjauh dari Juda dan dengan dramatis berucap, "Astaghfirullah, temen gue kerasukan setan UKS kayaknya. Sinting!" "Em, lo pernah nggak sih berdoa biar crush yang lo taksir putus sama pacarnya?" tanya Juda beberapa saat kemudian yang sepertinya sudah lupa caranya berkedip karena terlalu terpaku pada sosok Pandu yang sekarang sedang berusaha mempertahankan bola dari lawan mainnya. Dari jarak beberapa meter, Juda masih bisa dengan cukup jelas melihat kucuran keringat di wajah Pandu, membuat laki-laki itu terlihat semakin tampan. Ema tertawa. "Lo pasti pernah ngedoain Pandu biar putus dari Amanda, ya?" "Gue nggak ngedoain. Gue cuma berharap punya kesempatan pacaran sama Pandu," kata Juda setengah bercanda. "Sama aja kali!" Kali ini Ema menoyor kepala Juda dengan gemas. Juda tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari Pandu yang bergerak lincah ke sana kemari membawa bola, melemparkannya kepada temannya, merebut bola dari lawan mainnya, memasukkan bola ke dalam ring dengan geralan sempurna, semua itu tidak dilewatkan Juda. Hingga tiba-tiba terjadi kecelakaan yang membuat Juda terlonjak kaget. Pandu bertabrakan dengan salah satu teman mainnya hingga keduanya jatuh. Kedua laki-laki itu terjengkang ke arah yang berlawanan. "Astaga, Pandu!" jerit Juda tanpa sadar. Ia mencengkeram pinggiran jendela. Di seberang sana, Pandu tidak langsung berdiri, begitu juga dengan teman mainnya. Mereka berdua langsung dikerubungi teman-temannya. Memblokir area pandang Juda dari Pandu yang tadinya terlihat sedang kesakitan. "Minggir woy! Kalian nutupin gue!" kesal Juda yang masih terlihat panik. "Apa gue samperin ke sana aja? Gue harus—" "Lo mau jadi pahlawan kesiangan? Mau jadi pusat perhatian lagi? Nggak lihat noh, di seberang sono banyak yang nonton." Ema menunjuk kantin yang berada di sisi yang berseberangan dengan UKS. Lapangan basket berada di tengah-tengahnya. "Gue yakin fans-fansnya Pandu selain elo juga pengen langsung berhamburan kayak zombie buat nerkam si Pandu." Juda mendengus. "Pandu abis jatoh, Em. Gimana kalo cedera parah? Gue harus nolongin dia." "Lo cuma merhatiin Pandu doang? Temennya juga jatoh tuh." Ems menunjuk dengan mengangkat dagu. "Ya kan gue kenalnya sama Pandu doang," Juda beralasan. "Gue yang kenal sama Pandu karena pernah sekelas, sedangkan lo nggak kenal dia," koreksi Ema sambil memutar bola matanya dengan malas. "Dan lo bakal dianggap cari muka doang kalau lo tiba-tiba nongol di sana dan cuma nolongin si Pandu. Etikanya kan lo harus nolongin yang paling parah dulu. Nolongin orang nggak boleh pandang bulu, paham kan, Calon Dokter?" "Gue udah nggak minat jadi dokter." Juda mencibir dengan kesal karena Ema benar. Tidak ada gunanya ia sok-sokan menjadi pahlawan. "Santai, sih. Gue yakin mereka nggak kenapa-kenapa," ujar Ema. Beberapa saat kemudian, saat Juda masih berdebat dengan Ema, kerumunan di tengah lapangan basket itu membuka. Pandu kini sudah berdiri, memegangi lengan sambil sesekali mengernyit menahan sakit. Samar-samar Juda mendengar beberapa orang dengan setengah berteriak menyebut-nyebut agar mereka dibawa ke UKS. Juda langsung kalang kabut. "Mereka mau ke sini, Em! Pandu mau ke sini!" Ema geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang terlalu berlebihan. "Mereka mau ke UKS. Bukan mau datang ke rumah lo buat lamaran." Saat Pandu dan teman-temannya akhirnya sampai di UKS—yang mendadak jadi sangat ramai—Juda benar-benar sudah sepenuhnya lupa akan rasa sakit di perutnya. Ia sibuk memikirkan Pandu yang ia khawatirkan akan terluka cukup parah. Juda, meski dikenal galak, adalah salah satu anggota PMR terbaik di angkatannya yang dimiliki sekolah mereka. Sehingga sebelum mereka sampai, sambil bergerak dengan panik, Juda mengecek kotak P3K. Memastikan bahwa ada cukup obat dan perlengkapan yang lainnya. Juda langsung hilang harapan untuk mengobati Pandu saat melihat laki-laki itu dirangkul oleh Amanda—kekasih Pandu yang juga anggota PMR—memasuki UKS. "Eh, Juju! Syukurlah lo di sini! Mereka abis jatuh, tabrakan waktu main basket!" seru Amanda sambil memapah Panda bersama salah satu teman dan mendudukkannya di salah satu brangkar yang ada di sana. Karena Pandu sudah pasti diurus oleh Amanda, Juda pun langsung mambantu teman Pandu—dari name tag yang menempel di seragamnya namanya Daniswara. Dengan telaten, Juda memasangkan gips di lengan tangan laki-laki berperawakan cukup tinggi dan agak kurus itu. "Pulang dari sekolah harus langsung periksa ke rumah sakit," kata Juda. "Takutnya kalau ada yang retak atau patah." "Nggak bisa sekarang aja?" Suara serak yang terdengar merdu itu menyapa telinga Juda. Juda yang duduk di kursi dan posisinya lebih rendah dari laki-laki itu pun mendongak sekilas. "Bisa sih. Nanti bisa gue mintain surat izin ke kantor BK. Kalau perlu biar dianter sama Pak Suga sekalian," jawab Juda. Pak Suga—namanya dipelesetkan dari Agus yang dibalik menjadi Suga karena terlalu banyak guru bernama Agus di sekolahnya—adalah salah satu guru BK yang menjadi favorit para siswa karena dikenal ramah dan baik. Biasanya beliau yang selalu diandalkan para siswa dan para guru jika ada emergency seperti sekarang. Laki-laki itu meringis, sepertinya menahan nyeri saat Juda mengencangkan bebatan di tangan kirinya. "Kalau sama Pak Suga nanti harus balik ke sekolah lagi, mending nggak usah kalo gitu." Sepertinya laki-laki itu tadinya berniat bercanda—terlihat dari raut wajahnya yang jenaka, tetapi Juda yang tidak peka malah menanggapi dengan kalimat, "Ya udah, lo di sini aja sampai jam pulang sekolah." Juda selesai membebat tangan laki-laki itu, kemudian merapikan kotak P3K. "Thank you ...," ucap laki-laki itu menggantung. "Juju. Gue biasa dipanggil Juju," kata Juda. "Hai, Juju. Gue Danis." Laki-laki itu tersenyum seraya menyodorkan tangan kanannya. "Sekali lagi makasih udah ngobatin gue." "Udah tugas gue sebagai anak PMR," jawab Juda dengan sedikit ketus. Tanpa sadar menunjukkan sisi dirinya yang tidak begitu disukai orang-orang. Alih-alih melunturkan senyum karena jawaban itu, senyum Danis malah semakin lebar. "Oke, Juju. Jadi, apa anak PMR diajarin buat menolak ajakan jabat tangan sebagai tanda perkenalan?" Juda menoleh dan langsung bertatapan dengan mata jernih Danis. "Mau sampai kapan lo anggurin tangan gue? Pegel nih," canda Danis. Mata Juda melebar sepersekian detik. Kemudian menyambut tangan Danis. "Kita seangkatan kan?" "Kalau lo seangkatan sama Pandu, berarti kita seangkatan," jawab Juda sambil melirik Pandu yang terlihat sedang bercanda ria dengan Amanda. "Well, kita seangkatan. Gue sekelas sama Pandu dari kelas dua." Sebenarnya Juda tidak benar-benar mau tahu soal informasi yang dirasa tidak terlalu penting baginya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Dan setelahnya, Juda kembali merapikan kotak P3K. "Menurut perkiraan gue, Pandu sama Amanda nggak akan terpisahkan. Mereka udah kenal dari orok. Sahabatan dari TK. Selalu sekolah di tempat yang sama—" "Gue nggak nanya," sela Juda. "Well, cewek-cewek selalu pengen tahu tentang sejarah kedekatan mereka," jelas Danis. Juda menatap Danis dengan lirikan tajam. "Gue enggak." "Tapi mata lo bilang sebaliknya. Lo berharap bisa ada di posisi Amanda." Juda ingin marah. Namun, entah kenapa ia hanya menatap Danis dengan menahan emosi. Mendadak rasa sakit di perutnya kembali menyerang. "Lo sakit ya?" "Nggak usah sok tahu." "Gue nanya. Bukan sok tahu." "Ngapain lo nanya-nanya?" Danis tersenyum geli. "Lo barusan ngobatin gue. Masa gue nggak boleh nanya keadaan penolong gue sih?" "Itu bukan urusan lo." "Mungkin emang bukan urusan gue. Tapi gue nggak boleh nanya? Karena lo sekarang kelihatan banget kalau lagi nggak baik-baik aja." Tiba-tiba saja tubuh Juda tersentak karena tangannya ditarik oleh Danis. Dengan sedikit memaksa, mendorong Juda ke atas brangkar. Sementara laki-laki itu kemudian berdiri. "LO APA-APAAN SIH?!" Juda menampik tangan Danis dengan kasar. Ia tampak sangat marah sekarang. Seruannya membuat berpasang-pasang mata memandangnya dengan kaget sekaligus ingin tahu. "Lo yang lebih butuh tiduran di sini," sahut Danis dengan santai. Tidak memedulikan tatapan orang-orang. "Kurang ajar," desis Juda. "Gue nggak mau disalahin kalau lo tiba-tiba pingsan di depan gue." Danis tersenyum. Yang baru benar-benar diperhatikan oleh Juda. Senyum yang entah kenapa menyalurkan kedamaian dan memberangus kemarahan Juda begitu saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN