"Kamu... kamu bilang apa barusan?" Juda terbata. Sesungguhnya Judaa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Danis. Juda hanya merasa bahwa perkataan Danis terdengar lebih gila ketimbang ajakan spontan Juda untuk menikah.
Danis mengulang ucapannya, "Aku bisa pertimbangkan untuk kembali ke Indonesia—"
"Kamu nggak akan melakukan itu," sela Juda.
"—atau kamu bisa ikut aku ke Belanda."
Jika memang pada akhirnya disuruh memilih karena mereka kembali bersama, pilihan kedua terdengar jauh lebih masuk akal. Walaupun Juda tidak tahu apa pekerjaan Danis, mengingat laki-laki itu sempat berkata bahwa belum berencana untuk pindah, Juda bisa menyimpulkan bahwa kehidupan Danis di Belanda cukup makmur. Tentu saja tidak semudah itu untuk pindah begitu saja. Jika laki-laki itu kembali ke Indonesia, itu artinya Danis mau tidak mau harus meninggalkan pekerjaan potensialnya di Belanda. Dan Juda sangat tidak yakin Danis akan mau melakukan itu dengan suka rela. Selain itu, kenyataan bahwa Juda pernah menolak seseorang yang mengajaknya menikah dan tinggal di luar negeri, membuat Juda dengan mudah menyimpulkan bahwa dua pilihan itu sama sekali tidak ada yang benar-benar bisa digunakan sebagai pertimbangan. Juda tidak akan memilih salah satu dari dua pilihan itu. Karena tidak ada jalan keluar yang tepat untuk mereka kecuali menghentikan segala kegilaan yang sudah terlanjur terjadi. Mereka harus berhenti sekarang juga.
"Ju, gimana?" tanya Danis setelah cukup lama mereka terdiam.
Juda memandang Danis lurus. "Seperti yang aku bilang tadi, Danis, aku ke sini karena mau menuntaskan hal-hal yang belum selesai di antara kita, bukan untuk membahas ini. Jadi, kita hentikan semuanya sampai di sini."
"Bagaimana kamu akan menyikapi masalah ini di hadapan keluarga kamu? Kamu siap menghadapi mereka sendiri?"
Sejujurnya, Juda sama sekali belum memikirkan sampai sejauh itu. Kepalanya sudah cukup pusing memikirkan bagaimana agar masalahnya dengan Danis beres dulu sebelum ia menghadapi keluarga dan orang-orang terdekatnya yang membutuhkan penjelasan atas apa yang telah terjadi. Tetapi karena Danis sudah menyinggungnya, mau tak mau membuat Juda berpikir keras. Terutama saat ia harus menghadapi kedua kakaknya yang bisa mendadak menjadi sangat protektif dan menyebalkan saat Juda terlibat masalah.
"Let's do this together," Danis kembali bersuara.
"Aku bisa pikirkan itu nanti," ujar Juda cepat-cepat. "Dan sebelumnya, aku minta maaf karena membuat kamu terlibat dalam masalahku dan membuat kamu harus menjelaskan ini ke keluarga kamu. Tapi, menurut aku, kita emang lebih baik kita selesaikan aja sampai di sini."
Danis memainkan sebatang rokok yang masih utuh sambil menatap Juda dan menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan. "Kenapa kamu sama sekali nggak mau kasih kita kesempatan, Ju?"
Mendapat pertanyaan itu membuat Juda gentar, tetapi ia tetap harus terlihat teguh agar bisa meyakinkan Danis untuk tidak semakin mendesaknya. "Karena aku nggak mau kegilaan sementara ini menyetir masa depanku ke arah yang nggak bisa aku bayangkan. Bukan ini yang aku inginkan."
"Kamu bisa tetap membayangkan apa yang kamu inginkan, dan kita bisa mewujudkannya seperti yang kamu—"
Juda mengangkat tangan. Memaksa Danis agar berhenti bicara melantur. "Danis, please. Aku udah cukup stres karena wajah kita sekarang tersebar di mana-mana. Aku bisa semakin gila kalau kita nggak berhenti sekarang."
"Kamu yang melibatkan aku begitu aja tanpa persetujuanku, Ju. Dan aku seharusnya juga boleh melakukan apa pun tanpa persetujuan kamu. Iya, kan?" desak Danis. Ia mulai terlihat gusar. "Tapi aku nggak melakukannya. Kenapa? Karena aku nggak mau jadi egois. Aku nggak mau memutuskan apa pun sendirian karena aku tahu hasilnya nggak akan baik. Makanya, ayo kita usahakan ini sama-sama! Kalau bisa jalan berdua, kenapa harus jalan dan menyelesaikan masalah ini sendiri-sendiri? Aku tahu, masalah nggak akan jadi lebih mudah walaupun kita memutuskan untuk kembali bersama. Tapi setidaknya kita bisa saling support satu sama lain. Kita punya satu sama lain untuk bersandar."
Rasanya seperti tidak nyata. Baru beberapa waktu yang lalu Juda mencoba untuk 'terhubung' kembali dengan Danis sampai memaksa Ema untuk menanyakan nomor ponsel Danis kepada teman dekat laki-laki itu. Hasilnya? Tidak ada. Danis tidak terlihat ingin kembali berhubungan dengan siapa-siapa yang ada di masa lalunya, kecuali teman dekatnya itu yang menjadi penghubung, yang Juda yakin tahu segalanya tentang Danis sejak laki-laki itu melanjutkan studi ke Belanda. Sehingga Juda sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadikan Danis sebagai kambing hitam saat hubungannya dengan orang lain gagal. Tetapi, kenapa Danis harus muncul sekarang dan malah ia libatkan dalam kegilaannya?
"Danis, ini gila. Kamu sendiri tahu itu, kan?" Juda tidak lagi menahan diri. "Aku nggak kenal kamu lagi, Danis. Kamu bukan Danis yang pernah begitu dekat denganku dulu. Kamu orang lain. Kamu orang asing yang nggak bisa gitu aja kembali masuk ke hidupku. Dan aku juga orang asing yang nggak berniat buat kembali bersama kamu."
Danis terperangah dan kemudian memundurkan kursi. Seolah ingin menjauh dari Juda. Seolah berada di dekat Juda tidak cukup aman baginya. Dan berikutnya, ia berkata dengan tajam, "Kamu yang membuat aku berada di sini, Juda. Kamu yang memaksa aku untuk berada di sini dan aku nggak bisa pergi gitu aja."
Juda tersentak. Nada suara Danis memang tajam. Namun, bukan itu yang membuat Juda merasa takut. Pasalnya, ini pertama kalinya Danis menyebut nama aslinya setelah mereka mengenal lebih dekat dulu. Semarah apa pun Danis dulu—Juda sama sekali tidak ingat apakah Danis pernah marah kepadanya, sepertinya tidak pernah. Sekecewa dan sekesal apa pun laki-laki itu kepadanya dulu. Bahkan saat mereka putus, Danis masih terus memanggil dirinya Juju. Dan Juda seketika tahu, bahwa Danis sudah sampai di ambang batas kesabarannya.
"Hubungan apa pun yang kita punya, aku nggak yakin akan berhasil," kata Juda dengan hati-hati.
"Berhasil atau enggak, kita nggak akan pernah tahu. Orang-orang di luar sana memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang bukan karena mereka udah tahu hasilnya."
"Tapi mereka saling percaya kalau akhirnya akan baik," sahut Juda.
Danis terlihat semakin kesal sekarang. "Dan kamu nggak mau kita mencoba untuk saling percaya?"
Juda ingin berteriak saking frustrasinya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Danis begitu ingin mereka berdua melanjutkan kegilaan itu. Juda benar-benar serius saat mengatakan bahwa mereka berdua hanya orang asing yang tidak lagi mengenal satu sama lain. Dan Bagi Juda, rasanya akan jauh lebih mudah jika ia harus memulai suatu hubungan dengan orang yang benar-benar baru ketimbang harus memaksa diri untuk kembali berhubungan dengan sosok di masa lalu yang sekarang terlihat begitu berbeda. Juda dan Danis pernah gagal dan itu membuat semuanya menjadi semakin buruk. Juda merasa bahwa ia tidak akan siap menanggung konsekuensinya jika ia dan Danis kembali gagal.
"Kalau kamu khawatir soal kita yang dulu pernah gagal, ini saatnya buat kita memperbaiki apa yang membuat kita dulu pada akhirnya berpisah."
Juda takut melihat harapan yang dulu telah terkubur itu kembali mencuat ke permukaan. Saat mereka berpisah, harapan itu sudah gugur. Juda tidak pernah berharap apa-apa lagi tentang kemungkinan untuk bisa meraih apa yang mereka berdua cita-citakan. Juda tidak ingin membayangkan sesuatu yang begitu kabur dan membuatnya gelisah sepanjang waktu.
Juda mendesah lirih. Ia menunduk. Lelah dengan segala beban dan pikiran yang membuat energinya dengan mudah terkuras. "Kenapa kamu harus seserius ini menanggapi kegilaan aku, Danis? Ini nggak ada gunanya. Kamu cuma akan membuang-buang waktu."
"Nggak ada yang namanya buang-buang waktu."
Juda tidak tahu lagi harus berkata apa. Danis benar-benar tidak melepaskannya dengan mudah.
"Dan aku harap kamu bisa berhenti kabur. Kita berdua udah sama-sama dewasa. Percaya sama aku, kita bisa lebih baik lagi melewati ini. Asal kamu nggak kabur lagi," sambung Danis membuat Juda semakin tertunduk lesu.
Ini benar-benar membuat Juda gila. Mereka tidak bertemu selama bertahun-tahun lamanya, bahkan tidak bertemu atau saling mencoba menghubungi satu sama lain. Mereka berdua benar-benar sudah putus kontak dan telah melanjutkan hidup masing-masing. Oleh karena itu, rasanya sangat aneh karena bisa terlibat dalam obrolan yang begitu panjang dan melelahkan sejak semalam. Mereka tidka terlihat seperti telah terpisah selama itu. Mereka lebih terlihat seperti pasangan yang sedang ribut dengan sangat serius hingga terus menemui jalan buntu karena perbedaan prinsip. Dan meski mereka berdua asing untuk satu sama lain karena waktu yang telah mendewasakan mereka, Juda juga merasa cukup akrab dengan atmosfer yang mengelilingi mereka berdua.
Entah kenapa, rasanya cukup melegakan. Juda mengira ia akan canggung seperti saat ia bertemu dengan mantan-mantannya yang lain. Itulah kenapa sejak dulu Juda selalu mencoba sebisa mungkin untuk memutus semua akses yang menghubungkan dirinya dengan para mantannya. Juda memilih untuk tidak pergi ke tempat-tempat yang pernah ia datangi dengan mantan-mantannya. Tetapi, dengan Danis, Juda malah memangsakan diri. Benar kata Danis. Bahwa ia yang dengan sadar mendekat dan menarik Danis kembali masuk ke dalam hidupnya. Bahwa ia yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang telah ia mulai. Bukannya malah kabur dan menimpakan ini kepada Danis hingga laki-laki itu yang kemudian malah mengusahakan agar mereka bisa benar-benar kembali bersama.
"Kamu benar-benar kukuh rupanya," ucap Danis yang langsung mengembalikan fokus Juda kepada laki-laki itu. "Fine. Let's end everything here. Aku nggak seharusnya memaksa kamu untuk sesuatu yang nggak benar-benar—"
"Nggak, Danis. Kita benar. Kita bisa mencoba," sela Juda.
Danis kembali memajukan kursinya. "Kamu serius?"
"Kamu bilang aku nggak boleh kabur lagi, kan?" Dan baru sekarang Juda merasa canggung. "Aku juga nggak mau jadi pecundang yang cuma bisa menciptakan masalah tanpa menyelesaikannya."
Danis menyunggingkan senyum. "Berarti kita resmi balikan?"
Juda tidak sedang makan atau minum apa pun, tetapi ia mendadak tersedak. Pertanyaan itu membuat jantung Juda salto. Tetapi yang lebih mematikan adalah senyum Danis. Juda baru sadar bahwa ini pertama kalinya melihat Danis tersenyum sejak mereka bertemu lagi. Ini pertama kalinya Juda melihat senyum menawan Danis—yang membuat dirinya jatuh hati—setelah bertahun-tahun lamanya. Dan dari semua hal yang tampak telah berubah di diri Danis, yang satu ini tidak berubah. Senyum itu berhasil memunculkan rasa yang dulu pernah bersarang di hatinya. Juda sepeti kembali ke masa di mana ia masih begitu belia dan bisa dengan mudahnya meletakkan hatinya di tangan seorang laki-laki hanya karena disuguhi senyum menawan yang memporak-porandakan pertahanan.
"Ini benar-benar gila. Aku nggak pernah kebayang bakal balikan sama kamu," erang Juda. Mencoba menutupi rasa gugup yang mendadak muncul.
Dan hal itu sama sekali tidak membantu. Karena Danis kembali menyunggingkan senyumnya dengan mudah. Seolah-olah laki-laki itu sudah menahannya cukup lama.
***