BAB 18. Hubungan Orang Dewasa

2103 Kata
Juda sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk kembali bertemu dengan Danis setelah kegilaannya semalam. Tidak hanya karena apa yang terjadi saat mereka berada di dalan ballroom hotel, tapi juga saat mereka berdua kabur dari acara reuni dan bicara di luar. Saat di dalam ballroom, Juda bisa paham kenapa Danis tidak terang-terangan menolaknya saja saat ia bertindak seenak jidatnya, itu karena Danis tidak ingin membuat dirinya semakin malu. Yang tidak Juda mengerti adalah kekeraskepalaan dan keseriusan Danis menanggapi tingkahnya. Dan Juda tidak paham kenapa Danis semarah itu kepadanya karena dirinya sangat plin-plan. Juda sama sekali tidak mengerti kenapa Danis kukuh ingin melanjutkan kegilaan Juda yang sudah sepatutnya disudahi setelah mereka keluar dari ballroom hotel semalam. Padahal, jika Danis waras, laki-laki itu seharusnya tahu bahwa Juda hanya sedang gila sesaat—kegilaan pertama yang sampai viral ke mana-mana. "Ah, teknologi sialan," rutuk Juda untuk yang ke sekian kalinya. Ia sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan Danis dan jalanan sedang macet sehingga agar tidak terlalu bosan berada di dalam taksi Juda memilih berselancar di sosial media dan kemudian mendapati salah satu akun yang mengunggah potongan videonya dengan jumlah retweet dan likes sampai ribuan dan juga ratusan reply. Kalau ini terjadi sepuluh tahun lalu, saat tradisi rekam merekam—memviralkan segala hal yang menurut mereka menarik—masih belum menjamur seperti era sekarang ini, Juda yakin jika ia dan Danis hanya akan menjadi perbincangan di antara teman-teman seangkatannya. Yang akan menjadi 'legenda' seperti saat ia tak sengaja menyatakan rasa sukanya di hadapan teman-temannya dan masih menjadi topik seru saat mereka kembali bertemu. Sayangnya, zaman sudah berubah. Sedikit saja seseorang bertingkah gila, sangat mudah untuk menjadi viral. Juda terkejut-kejut karena banyak yang mengatainya 'ngebet viral', 'menyedihkan', 'tidak tahu malu', dan banyak lagi yang lebih parah dari itu. Sebagian lagi menganggap Juda berani dan keren. Juda masih sibuk membaca satu demi satu komentar saat tiba-tiba ada panggilan masuk dari 'Sang Mantan'—Juda menyimpan nomor ponsel Danis dengan nama itu. "Di mana, Ju?" tanya Danis tanpa basa-basi. Terdengar nada tidak sabaran dalam suaranya. Juda menjawab dengan jujur, "Masih di jalan. Ini lagi agak macet. Sorry, kamu udah sampai ya?" "Macet beneran atau kamu sengaja pakai alasan itu biar bisa datang terlambat?" Balasan itu membuat Juda berjengit. Padahal ia sudah cukup merasa bersalah karena terlambat datang, tetapi Danis malah menganggapinya dengan sinis. Membuat mood Juda yang sudah jelek menjadi semakin buruk saja. "Kenapa kamu dari semalam sinis banget sih, Danis?" Juda menyerang balik dengan kesal. "Kamu mau kita ketemu biar kita bisa bicara baik-baik soal semalam, iya kan? So please, jangan mancing-mancing aku. Aku udah cukup stres gara-gara bertingkah gila yang malah memancing kegilaan kamu juga, jadi tolong nggak usah kamu tambah-tambahin." "Kamu udah telat lebih dari setengah jam, Ju," sahut Danis. "Aku cuma mau memastikan kalau kamu nggak mangkir dari janji temu kita." Juda sudah hampir membuang ponselnya ke luar jendela—karena telinganya mendadak perih mendengar suara Danis yang terdengar sangat menyebalkan—jika ia tidak ingat kalau itu satu-satunya ponselnya yang ia punya. "Aku nggak akan mangkir. Karena aku mau memastikan semuanya selesai hari ini dan kita nggak perlu ketemu lagi," ujar Juda dengan kemarahan yang tertahan. Sama sekali tidak pernah Juda bayangkan jika seorang Danis akan menjadi sosok yang sangat sinis kepadanya—lebih parah dari kejudesan dan kegalakan Juda selama ini. Juda merasa seperti sedang mendapatkan karma yang didatangkan Tuhan melalui sosok Danis. Taksi yang ditumpangi Juda sampai di tempat ia membuat janji dengan Danis sekitar dua puluh menit kemudian. Yang itu artinya Juda terlambat hampir satu jam. Meski masih kesal kepada Danis, Juda tetap merasa sangat bersalah karena membuat Danis menunggu lama. Juda masuk cepat-cepat ke dalam kafe yang terlihat cukup ramai. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe yang banyak tersebar meja kursi yang beberapa di antaranya sudah terisi. Danis tidak ada. Kemudian Juda melangkahkan kaki ke area luar di belakang kafe dan langsung melihat Danis berada di salah satu kursi yang berada di ujung. Laki-laki itu sedang sibuk mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Juda sempat membeku sesaat di tempat. Tidak pernah tahu jika Danis merokok. Semalam, saat Juda mencium bibir Danis, ia memang mengecap rasa pahit, tetapi tidak Juda sangka itu karena rokok. Sekali lagi Juda mengedarkan pandangan. Dan ia mendapati beberapa orang yang juga sedang merokok. Juda mendesah. Tampaknya Danis sengaja memilih tempat duduk di area khusus merokok karena ingin membuat Juda kesal. Karena sejak dulu Juda tidak menyukai asap rokok dna Danis tahu betul akan hal itu. *** Juda kembali masuk ke dalam kafe untuk memesan minuman dan makanan terlebih dahulu sebelum kemudian berjalan mendekat ke arah Danis dan duduk di kursi yang berseberangan dengan laki-laki itu tanpa berkata-kata. Danis yang menyadari kedatangan Juda langsung mematikan rokoknya, yang sepertinya baru saja disulut karena terlihat masih cukup panjang. Kemudian mendongak, menatap Juda dengan sorot mata tajam seperti elang. Juda sudah lupa jika Danis pernah memiliki tatapan itu. Karena seingat Juda, dulu Danis memiliki tatapan lembut yang membuat Juda betah memandangi mata laki-laki itu. Membuat Juda tak ingin berpaling. Membuat Juda ingin tenggelam di sana. Tatapan yang juga membuat Juda jatuh hati, hanya barawal dari tatap itu. Cukup lama mereka hanya saling berpandangan. Hingga salah satu dari mereka mulai jengah dan memecah kebisuan di antara mereka. "Kita persingkat aja. Kita berdua nggak ada di kondisi yang harmonis buat melanjutkan apa yang kamu putuskan semalam," ujar Juda tanpa basa-basi. Danis memandang Juda dengan lekat. Seolah bisa menembus kepalanya dan bisa dengan jelas melihat ke dalam benaknya. "Kita bisa usahakan biar bisa jadi pasangan yang harmonis kalau itu yang kamu inginkan." Juda spontan mendengkus. "Danis, please. Kita nggak benar-benar akan melakukan itu." "Aku dikasih tahu Martin kalau ada yang nyebarin video kita di sosial media sampai viral," kata Danis seolah tidak mendengar nada kesal dalam suara Juda. "Terus kenapa kalau viral?" Juda membalas dengan ketus. "Nggak akan butuh waktu lama untuk sampai ke keluarga kita masing-masing. Aku yakin kamu juga udah mikir sampai situ," Danis menjawab dengan sangat serius. "Aku nggak mau membuat kamu menanggung ini sendirian, Ju." Juda terhenyak. Tidak menyangka dengan jawaban yang dilontarkan Danis. Ia menahan napas selama beberapa detik sebelum menyahut, "Maksud kamu, kamu mau nikahin aku cuma karena kejadian semalam jadi viral?" "Sebelum semuanya jadi nggak terkendali kayak sekarang, aku udah memutuskan kalau nggak ada salahnya kita mencoba." Pupil mata Juda melebar. Ia benar-benar tidak siap menghadapi Danis yang bersikap seperti ini. "Nikah bukan buat ajang coba-coba, Danis. Gila ya kamu?" Danis memundurkan badan dan bersandar dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. "Kamu pikir ngelamar aku di depan banyak orang itu bukan coba-coba? Bukannya setiap hal yang kita putuskan itu semuanya coba-coba? Karena kita nggak tahu gimana ending yang akan kita dapat." Juda snagat tidak setuju dengan pernyataan itu. "Kita memutuskan sesuatu karena kita punya tujuan yang jelas. Walaupun kita nggak tahu gimana ending-nya, selama kita punya pegangan yang setidaknya bisa mengantarkan kita mendekati tujuan. Kalau kita cuma coba-coba, kita cuma akan berakhir saling menyakiti dan menjadi pecundang." "Fine, kalau kamu bisa ngomong gitu, berarti kita udah bisa lebih serius membahas gimana kelanjutan hubungan kita." "Danis—" "Kita punya tujuan, Juju. Kita akan mewujudkan harapan kita dulu menjadi kenyataan. Menjadi pasangan hidup, remember?" "Semalam aku lagi nggak waras karena minum alkohol." Ujung bibir Danis tertarik ke atas, membentuk senyum yang entah kenapa tidak enak dilihat. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Semalam nggak disediain alkohol. Aku yakin kamu juga nggak nyimpen alkohol sendiri di rumah. Nggak usah nambah-nambah alasan cuma buat mendepak aku lagi setelah kamu dengan sadar menarik aku kembali ke arah kamu." Jantung Juda bertalu-talu karena jawaban itu. Semakin dewasa, Danis menjadi sangat mahir bicara dan mendebat kata-katanya. Sesuatu yang sangat merepotkan. "Danis, kamu harusnya bisa mikir lebih dewasa buat menyikapi kegilaan aku semalam. Bukan malah kayak gini." Danis seolah tak mendengar setiap kata yang diucapkan Juda. "Kamu tenang aja, aku nggak akan langsung nemuin keluarga kamu untuk melamar kamu secara resmi. Untuk satu bulan ke depan kita adaptasi dulu." "Adaptasi buat apa?" Juda semakin panik dibuatnya. "Bukannya kita udah resmi balikan sejak semalam? Kita udah sepuluh tahun nggak ketemu, jadi aku rasa kita butuh penyesuaian. Kita manfaatin waktu sebulan buat saling mengenal lagi satu sama lain." "Nggak bisa, Danis. Kita nggak akan melakukan itu." Juda diserang rasa panik. Juda pikir Danis akan lebih 'waras' setelah semalam mereka berpisah tanpa penyelesaian yang jelas. "Aku nggak mau balikan," tukas Juda kemudian dengan sungguh-sungguh. Danis tidak terlihat marah atau tersinggung karena penolakan itu—yang sudah Juda lontarkan sejak semalam. Ekspresi di wajah Danis terlalu datar saat berkata, "Ju, kalau kamu nggak mau balikan sama aku, kalau kamu nggak mau terlibat dalam hidupku, kamu nggak akan tiba-tiba nyamperin aku kayak semalam. Hal gila apa pun yang orang lakukan, itu pasti karena ada dorongan dari hati. Dan aku yakin, kamu juga melakukan tindakan gila kamu itu karena sesuatu yang kamu rasakan buat aku, yang mendorong kamu untuk menanggalkan kewarasan dan membuat semuanya jadi serumit sekarang." Danis tidak salah. Juda melakukan kegilaannya semalam karena ada dorongan di hatinya, tetapi ia tidak sempat memikirkan kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. "Aku harus melakukan apa supaya kita nggak harus melakukan ini?" Juda bertanya dengan setengah putus asa. "Boleh aku tahu kenapa kamu nggak mau balikan sama aku?" tanya Danis balik. "Kita baru ketemu lagi semalam setelah bertahun-tahun lost contact, Danis. Kita belum sempat ngobrol. Dan aku yakin kamu juga nggak berniat ngobrol sama mantan kamu. Iya, kan?" Juda bergerak gusar tempatnya duduk. "Kamu nggak akan balikan sama mantan kamu gitu aja." "Makanya itu ayo kita kasih kesempatan buat kita berdua untuk saling mengenal lagi," jawab Danis tegas. Juda ketakutan karena keseriusan Danis. Ia tidak bisa mengimbangi Danis dalam hal ini. Sesaat kemudian, Juda merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Bersamaan dengan itu, pesanannya datang. Juda mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Setelah pelayan itu pergi, Juda cepat-cepat menyeruput minuman dingin yang ia pesan untuk melegakan tenggorokannya yang mendadak kering. "Kenapa kamu begini, Danis? Emangnya kamu nggak punya pacar? Karena aku nggak yakin kamu masih sendiri." "Seharusnya kamu bisa tanya dulu sebelum kamu ngajak aku balikan, cium bibir aku, terus ngelamar aku di satu waktu." Juda frustrasi karena Danis terus-menerus membalikkan kata-katanya. "Kenapa kamu nggak punya pacar?" Danis terlihat menahan senyum. "Kenapa kamu nggak punya pacar?" Juda mengerang kesal. "Bisa nggak sih kamu berhenti balikin pertanyaan aku?" "Menurut kamu, aku tipe yang mau dekat dengan orang lain saat punya hubungan dengan seseorang?" "Bukannya itu yang kamu lakukan dulu dengan Laras?" Danis geleng-geleng kepala. Kali ini ia terlihat geli. "Kamu yakin kita mau bahas lagi soal Laras? Bukannya kamu bilang kalau itu cuma masa lalu dan nggak ada hubungannya sama kita sekarang?" Juda kalah argumen. Dengan sabar, ia kembali bertanya, "Kamu benar-benar nggak lagi berhubungan dengan siapa-siapa?" Danis tidak menjawab. Ia hanya memandang Juda dengan lekat, membuat Juda jengah. Juda menyugar rambutnya. Kemudian menyelipkan anak rambut yang menjuntai jatuh ke wajah ke belakang telinga. "Aku mungkin memang gila karena bertindak tanpa berpikir, Danis. Tapi aku nggak bisa menggunakan kegilaan aku untuk sesuatu yang seserius ini. Kalau aku memutuskan untuk berhubungan serius dengan seseorang, itu artinya aku memang mau ke arah sana. Bukan hanya karena aku gila," ujar Juda serius. "Kita bisa mulai dengan adaptasi dalam sebulan, seperti yang aku bilang tadi. Kita bisa mulai dengan jalan bareng, ngobrol banyak soal hidup masing-masing selama sepuluh tahun terakhir. Kita bisa putuskan lagi akan berlanjut ke mana setelah itu. Gimana?" "Bukannya lebih gampang kalau kita nggak usah ke mana-mana?" Juda tidak melepaskan tatapan dari Danis meski ia sudah tidak kuat ditatap dengan begitu lekat oleh mata tajam laki-laki itu. "Waktu aku berangkat ke sini, aku udah memutuskan kalau ini akan jadi yang terakhir kita ketemu. Aku cuma mau menyelesaikan semua yang aku rasa belum terselesaikan sejak kita putus. Sebenarnya, itu juga yang semalam mau aku lakukan." Danis masih tetap teguh meski sejenak ada kelebat di mata yang menggoyahkan pertahanannya. "Cuma satu bulan, Ju. Kita cuma perlu satu bulan paling lama." "Sekarang aku jadi penasaran. Kenapa kamu kukuh banget mau kita melakukan ini dalam sebulan? Karena setelah itu kamu akan balik ke Belanda? Jadi kalau pada akhirnya hubungan coba-coba ini nggak berhasil, kamu bisa kabur dan menghilang lagi?" "Aku nggak pernah menghilang. Kamu yang membuang aku," sergah Danis. "Tapi itu nggak penting lagi. Bukan itu yang jadi pokok pembicaraan kita sekarang." Danis mengela napas sebelum melanjutkan, "Memang benar, Ju, aku di Indonesia cuma sebulan, karena aku lagi cuti dan setelah itu aku akan balik ke Belanda karena kerjaan aku memang di sana, dan sejujurnya aku belum berencana pindah. Tapi kalau kita bisa mengusahakan hubungan kita, aku bisa pertimbangkan untuk pindah ke sini, atau mungkin kamu bisa ikut aku ke Belanda." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN